Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Hitam 3: Sebab dari Semuanya


__ADS_3

Ling Xiao masuk dengan cara yang sangat tenang. Bahkan kau tak bisa mendengar langkah kakinya. Hal tersebut mengingatkan Li Wei tentang anak angkat keluarga Ling, Hua. Mungkin yang mengajarkan Hua tentang cara ini adalah Ling Xiao.


Siapa sangka jika Ling Xiao begitu menjaga Hua?


Sebenarnya Li Wei ingin bertanya tentang Hua pada Ling Xiao. Hanya saja ia sedang tak berada dalam statusnya. Ia sedang menyamar untuk menyusup ke Perpustakaan Awan, dan sekarang mereka ketahuan.


"Saya tak menyangka jika Jenderal Wei menyukai buku itu," ucap Ling Xiao sambil menundukkan kepalanya kepada Li Wei yang mendadak menjadi jamur lagi.


Maksudnya adalah dimana Li Wei berusaha untuk memperbaiki penutup kepalanya lagi yang miring.


Wei Wuxie meletakkan buku itu kembali ke rak kayu, "Yah, seperti itulah. Tak semua cerita bisa dianggap sebagai kenyataan. Meski begitu, kita hanya bisa menikmati keindahan bahasannya."


Memang temanku ini pandai sekali untuk membalas. Lanjutkan!


"Apa yang tertulis di sana juga mungkin hanya sekadar cerita," ucap Ling Xiao.


Yah, jelas sekali itu seperti sebuah cerita yang sangat imajinatif. Apalagi dengan keberadaan Pohon Iblis yang belum tentu itu benar-benar Pohon Iblis. Walau Li Wei sudah pernah melihat seseorang yang nyaris sama dengan klan Bao, tetapi itu bukan berarti Hua berasal dari klan Bao.


"Saya hanya tahu jika Anda sangat pandai merangkai kata-kata," ucap Wei Wuxie dengan senyum ala kadarnya.


Li Wei melihat Wei Wuxie memberi isyarat. Yang dimaksud oleh Wei Wuxie yaitu Ling Xiao adalah orang yang menulis tentang Pohon Iblis ini. Hal tersebut jelas membuat pertanyaan baru tentang ini semua.


Apakah Ling Xiao hanya merangkai cerita? Atau, ini memang tentang Pohon Iblis yang sebenarnya?


Entahlah.


Ling Xiao menunjukkan wajah terkejut. Seperti pria itu tengah mengingat sesuatu.


"Jenderal Wei, saya hampir melupakan maksud kedatangan saya kemari. Pangeran Pertama memanggil Anda ke ruang pelatihan," ucap Ling Xiao.


Pangeran Li Jun?


Mungkin pria itu telah mendengar tentang kedatangan Wei Wuxie, sehingga memanggilnya sebagai kesopanan. Bagaimana pun Wei Wuxie adalah seorang Jenderal muda yang hebat. Bahkan hanya dalam waktu singkat Wei Wuxie sudah memiliki pasukan yang besar.


Ia juga sudah menggantikan ayahnya untuk menjadi kepala keluarga yang baru. Sedangkan ayah dari Wei Wuxie telah istirahat untuk menikmati masa tuanya. Keluarga Wei jelas sangat diberkahi karena memiliki penerus seperti Wei Wuxie. Belum lagi dengan adiknya Wei Wuxie, Wei Qionglin*, yang meski masih kecil sudah menunjukkan bakatnya.


^^^*Masih ingat kan siapa Wei Qionglin? Itu loh Jenderal Wei di masa Yi Hua. Nanti lupa sama dia karena lama gak muncul.^^^


Wei Wuxie melirik lagi pada Li Wei untuk memastikan, dan gadis itu membalasnya dengan anggukkan. Bagaimana pun mereka harus mengurangi kecurigaan tentang Identitas mereka. Setelah itu, Wei Wuxie kembali menatap pada Ling Xiao untuk menjawab.


"Terima kasih karena menyampaikan pesannya, Peramal Ling. Saya akan segera menemui Pangeran Li Jun," balas Wei Wuxie dengan penghormatannya di depan dada.


Ling Xiao menganggukkan kepalanya sambil membalas penghormatan Wei Wuxie, "Biarkan saya mengantar Anda, Jenderal Wei."


Saat itu Ling Xiao berjalan terlebih dahulu, dan Wei Wuxie mengikutinya. Akan tetapi, Li Wei dan Zhang Yuwen tetap berdiri sambil menundukkan kepalanya. Masih berpura-pura sebagai seorang prajurit. Hal tersebut yang membuat Ling Xiao berhenti dari langkahnya.


Ia menatap ramah ke arah Li Wei yang menundukkan kepalanya. "Apakah kedua saudara ini tidak ikut?" tanya Ling Xiao.


Li Wei langsung berpura-pura merapikan buku-buku dan gulungan yang tertata di rak. Awalnya buku-buku itu rapi, tetapi entah mengapa saat Li Wei turun tangan buku-buku di sana menjadi berantakan. Meski begitu, anggap saja sebagai kegiatan.


Ling Xiao mau tak mau tersenyum melihat tingkahnya.


Wei Wuxie menghela napasnya, "Seperti yang Peramal Ling lihat, mereka sedang sibuk merapikan kembali. Kami sedang membaca di sini sebelumnya."


Lalu, setelah itu Ling Xiao kembali berjalan. Seperti memang pria itu datang kemari hanya sekedar membawa pesan. Ketika Ling Xiao dan Wei Wuxie sudah pergi, Li Wei langsung menghela napasnya lega.


Tahukah kalian jika sedang menyamar itu rasanya gugup? Belum lagi dengan Si Mata Elang seperti Ling Xiao. Percayalah Li Wei nyaris ingin menggelinding ke tanah karena gugup.


Zhang Yuwen juga berkeringat dingin. "Tak lagi aku ikut menyamar seperti ini," omel Zhang Yuwen sambil menyeka keringatnya.


Li Wei tak memperdulikan ucapan Zhang Yuwen. Jika ia memperdulikan ucapan Zhang Yuwen, maka mereka jatuhnya akan saling berdebat. Apalagi mereka sudah lama di sini, dan jelas mereka harus segera kembali saat Wei Wuxie kembali nanti. Itu semua karena Wei Wuxie adalah 'atasan' mereka sekarang, dan pria itu pasti sudah menyelesaikan kunjungannya.


Ia malah menuju ke arah rak buku tempat Wei Wuxie sebelumnya. Zhang Yuwen juga mengikuti Li Wei. Bagaimana pun Wei Wuxie sudah meletakkan buku itu di paling ujung agar mereka dapat lanjut untuk membacanya. Dan, benar saja ... Buku itu memang di sana.

__ADS_1


Sampul depannya tak bertuliskan apa-apa. Hanya ada gambar bunga di sana, dan digambar dengan sederhana. Mungkin karena itu Wei Wuxie mengambilnya. Jelas untuk bacaan tentang kerajaan tak akan bergambar bunga seperti itu.


Akan tetapi, selain apa yang diucapkan oleh Wei Wuxie sebelumnya, tak ada lagi pembahasan yang lain. Bahkan tulisan itu berakhir dengan tulisan, ".... Klan Bao sudah habis ceritanya termakan api."


Ini aku yang kurang puitis, atau memang buku ini tidak berarti apa-apa?


Ia sudah mencari tahu seperti yang diminta dalam surat itu. Li Wei sudah menyusup ke Pelatihan Awan, dan juga ia sudah mencari tahu tentang Pohon Iblis. Nah ... Sekarang ia sudah mengetahuinya.


Lalu, setelah itu apa?


Ketika Li Wei menatap pada Zhang Yuwen, pria itu segera menggelengkan kepalanya. Menolak untuk menyimpulkan apa-apa. Sehingga Li Wei hanya bisa menghela napasnya.


"Apakah yang diinginkan oleh orang yang mengirim surat ini ialah Putri mencari Pohon Iblis?" tanya Zhang Yuwen menduga-duga.


Li Wei berpikir, "Jika seperti itu, kenapa? Ini tak seperti aku berhubungan dengan Pohon Iblis itu. Aku bahkan tahu tentang Pohon Iblis ini dari kalian."


Akan tetapi, ...


"Zhang Yuwen, apakah saat kalian datang ke kediamanku itu sangat mudah? Maksudku pengawal Permaisuri Jiang selalu berjaga di depan kediaman milikku. Apakah orang yang bersenjata seperti itu bisa dengan mudah menyusup?" tanya Li Wei yang mengingat sesuatu.


"Putri, meski orang tersebut bisa menyusup, tetapi dia akan ketahuan karena penjagaan di depan kediaman Anda. Lain halnya jika dia merayap di dalam tanah, atau menghilang seperti makhluk halus," bantah Zhang Yuwen.


Pasti akan timbul keributan di kediaman Putri Kerajaan Li ini jika ada seseorang yang masuk. Setidaknya orang tersebut tak akan dengan mudah melontarkan anak panah ke arah Li Wei. Ini seperti semua orang sadar jika ada penyusup saat panah sudah dilontarkan. Hal seperti itu ... Apa benar perbuatan manusia?


"Atau, orang itu memiliki kuasa untuk masuk ke kediamanku," ucap Li Wei yang sebenarnya tak ingin mengunduh siapapun.


Akan tetapi, orang itu pasti berada di dekat Li Wei dan punya kedudukan. Sehingga ia bisa masuk tanpa dicurigai, dan keluar dari kediaman Li Wei seperti suatu kebiasaan. Dan, yang sering mengunjungi Li Wei ialah Permaisuri Jiang Ning, Ibunya.


Para saudara Li Wei juga sering mengunjungi Li Wei, terutama Si Bungsu, Li Shen. Adik kecilnya itu cukup dekat dengan Li Wei, apalagi ibu kandung Li Shen sebenarnya sudah meninggal saat melahirkannya. Sehingga Li Shen sering ditemani oleh Li Wei atau Permaisuri Jiang agar anak kecil itu tak kesepian.


Sedangkan kedua kakaknya, Li Jun dan Li Chen, mereka memang pernah berkunjung, tetapi hanya sebatas keramah-tamahan. Semenjak kedua orang itu sibuk dengan urusan kerajaan mereka sudah jarang datang. Dan, selain orang-orang itu, Li Wei tak punya pilihan lain.


Apakah memang hanya sekedar bermain-main saja?


Pada akhirnya Li Wei tak menemukan hal penting apapun. Mungkin ia terlalu berpikir serius tentang ini semua. Rasanya semua terasa sia-sia. Namun ini tak seperti Li Wei telah menemukan jawaban yang ia cari. Sehingga ia memutuskan untuk membawa buku itu kembali.


Zhang Yuwen juga tak mengatakan apa-apa. Sebab, Li Wei selalu memiliki keputusannya sendiri.


Sekarang mereka harus menemui Wei Wuxie terlebih dahulu, dan ...


CRING


Bunyi denting perak itu lagi.


Li Wei berlari keluar untuk memeriksa, dan itu membuat Zhang Yuwen segera mengikutinya. Takut jika Putri kecil ini mengibarkan sayapnya lagi dan membuat keributan. Masalahnya adalah Zhang Yuwen sedang tak mau mencari masalah. Apalagi saat mereka masih dalam penyamaran.


SRET!


Li Wei menunjuk ke arah lain untuk Zhang Yuwen. Tepatnya Li Wei menyuruh Zhang Yuwen untuk masuk kembali ke perpustakaan. "Kau masuk kembali, dan cari buku tentang cara memelihara ayam dengan baik."


"Putri ... Jangan membuat masalah lagi. Ayo pulang dan memberi makan ayam," pinta Zhang Yuwen saat melihat Li Wei yang mulai celingak-celinguk.


Bisakah gadis kecil ini berhenti untuk menjadi penasaran?


Akan tetapi, Li Wei nyatanya jika berhadapan dengan Zhang Yuwen akan mendadak menjadi ibu tiri. Sehingga Li Wei segera mendorong Zhang Yuwen untuk masuk kembali ke perpustakaan. Ia hanya tak mau mendengar keluh-kesah Zhang Yuwen saat Li Wei mengejar ke arah suara.


Hanya melihat sedikit saja. Siapa tahu benar-benar Hua, bukan?


Setelah itu, Li Wei merapatkan penutup kepalanya sebelum berjalan mengikuti ke arah suara. Li Wei sempat mendengar suara itu sebelumnya, dan mengira tempatnya. Dan, itu mengarah pada Tembok Batu Permohonan.


Tempat itu lagi ...


Apakah Li Wei benar-benar ingin melihat Hua lagi?

__ADS_1


Entahlah.


Li Wei tak mengerti dengan rasa ingin tahunya ini. Wei Wuxie pernah mengatakan padanya untuk berhenti kasihan, karena Hua tak akan memerlukan rasa kasihan itu. Meski begitu, Li Wei hanya merasa seperti ingin melakukannya.


Ketika Li Wei berjalan ke sana, ia tak pernah berharap banyak. Hingga saat ia berhenti di sana, tepat di tempat yang sama. Beberapa tahun yang lalu ...


Katanya, jika kau menulis di Tembok Batu Permohonan, maka permohonanmu akan terjadi ketika kau telah lulus dari Pelatihan Awan.


Li Wei mungkin harus mempercayainya. Karena pria ini ... Berdiri di tempat yang sama, dan memandang ke arah yang sama. Walau pria ini telah lebih tinggi dari yang Li Wei ingat.


Berapa tahun telah berlalu ...


"Dilarang menyelinap keluar di saat pelajaran," ucap pria itu yang membalikkan tubuhnya.


CRING!


Lagi-lagi denting itu terdengar dari arah pedang pria itu. Sebuah pedang dengan ganggang hitam, tetapi hiasan di sana terlihat tak cocok dengan pedangnya. Li Wei hanya bertanya-tanya mengapa pria ini memberi hiasan yang begitu manis pada pedang yang terlihat suram itu.


Dan, lebih dari segalanya ... Li Wei baru menyadari jika pria ini adalah seorang guru?


Li Wei melihat pengenal pria ini yang tergantung di ikat pinggangnya. Tanda pengenal ini dibuat dari tembaga dan memiliki lambang dari Kerajaan Li. Tanda pengenal yang sama seperti milik Ling Xiao.


Eh ... Apa aku salah orang? Sejak kapan murid jarang masuk kelas ini menjadi guru?


"Maaf mengganggu, tetapi saya adalah prajurit yang bersama Jenderal Wei," ucap Li Wei yang masih pada penyamarannya. Li Wei menundukkan kepalanya karena tak mau penyamarannya terbongkar.


Ia hanya berniat melihat-lihat, bukan?


"Li Wei."


Akan tetapi, pria itu menyebut namanya tanpa berniat basa-basi lagi. Suara tenang pria itu tanpa ragu memanggil namanya. Seolah ia sangat yakin jika yang berdiri di depannya adalah Li Wei. Akhirnya, Li Wei mengangkat kepalanya dan bertatapan langsung dengan pria itu.


Pria itu memang Hua. Walau dengan kesan yang lebih berbeda. Ia terlihat lebih rapi dan terurus sekarang. Karena saling bertatapan itu Li Wei bisa melihat jika mata pria ini berubah.


Huh?


Dahulu matanya hitam kelam seperti adanya kesunyian, tetapi kini sepasang mata itu berubah menjadi merah gelap. Li Wei yakin itu bukan karena pengaruh cahaya matahari. Apakah mungkin bola mata seseorang bisa berubah begitu saja?


***


Wei Wuxie berniat untuk kembali ke perpustakaan. Ia telah menyapa Pangeran Li Jun untuk menunjukkan kesopanan. Jelas kunjungan kali ini tanpa pemberitahuan apapun.


TAP!


Mata Wei Wuxie menjadi waspada ketika seorang pelayan memberi penghormatan kepadanya. Sejauh yang bisa Wei Wuxie ingat, gadis pelayan ini adalah seseorang yang bersama Selir Mo Jiao. Sehingga Wei Wuxie bisa menurunkan kewaspadaannya.


"Maaf mengganggu perjalanannya, Jenderal Wei. Akan tetapi, Selir Mo Jiao mengundang Jenderal Wei untuk berbincang sejenak," ucap pelayan itu.


Hal tersebut membuat Wei Wuxie mengerutkan keningnya. Bagaimana pun ia sama sekali tak punya urusan dengan Mo Jiao ini. Namun ia tak bisa mengabaikan undangan ini. Yah, lagi-lagi demi kosopanan.


Mau tak mau Wei Wuxie menganggukkan kepalanya sambil mengikuti pelayan itu. Ia hanya berharap Li Wei dan Zhang Yuwen tak melakukan sesuatu yang akan menimbulkan keributan.


Dan, mereka berhenti di sebuah ruangan, yang Wei Wuxie sendiri tak tahu jika ruangan itu ada di sana. Bagaimana pun itu mungkin ruangan yang tak terpakai di Pelatihan Awan. Mungkin ruangan untuk meletakkan barang bekas dan sebagainya.


Dengan kata lain ... Gudang.


Hanya saja, untuk apa Selir Mo Jiao mengundang Wei Wuxie datang kemari?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2