
Ketika Yi Hua berlari ke halaman luar, ia menyadari Raja Li Shen juga ada di sana.
Sepertinya bukan hanya Yi Hua yang menyadari tentang bayangan hitam itu. Raja Li Shen beserta beberapa pengawalnya juga datang. Yi Hua memanggil kertas jimatnya dan menyadari jika kertas jimat itu tidak merespon.
Xiao ...
Panggil Yi Hua dan Xiao menjawab. "HuaHua, ada lingkaran kekuatan di sini. Yang membuat kekuatanmu tak akan berguna."
Huh?
Dahulu Bao Jiazhen juga menggunakan lingkaran kekuatan, dan membuat Hua Yifeng tak bisa menggunakan kekuatan. Akan tetapi, Yi Hua masih bisa menggunakan kertas jimatnya. Dan ini baru terjadi dalam waktu dekat ini.
Karena baru saja Yi Hua menggunakan kertas jimatnya untuk mengirim surat ke Hua Yifeng.
Yi Hua kini kembali menerbangkan kertas jimatnya, dan sekali lagi ... Kertas itu hanya seperti seonggok kertas biasa.
"Peramal Yi, apa yang terjadi?" tanya Raja Li ketika melihat Yi Hua yang terdiam.
Yi Hua memberi penghormatan pada Raja Li Shen. "Mohon Yang Mulia mengirimkan pengawal untuk meminta bantuan ke para Jenderal atau peramal di istana."
^^^*Mereka saat ini ada di istana kediaman Putra Mahkota. Yang Yi Hua maksud itu istana pusat ya. Tempat di mana Pengadilan Tinggi dan ruang kerja Raja.^^^
Tanpa bertanya apa-apa Raja Li Shen memerintahkan dua pengawalnya untuk menyampaikan permintaan Yi Hua. Setelah itu, muncul keributan baru dari salah satu ruangan. Di mana Selir Wen datang dengan pakaiannya yang kusut. Ia datang dengan berurai air mata, dan menghampiri Raja Li Shen.
Yi Hua memperhatikan Selir Wen dengan lekat.
"Yang Mulia, entah sihir apa yang diberikan oleh Peramal Yi ini. Tiba-tiba ada bayangan hitam yang mengganggu ruangan hamba, Yang Mulia," adu Selir Wen.
Di belakangnya ada dua pelayan yang mengikutinya. Namun dari wajah mereka, Yi Hua tahu Selir Wen tidak berbohong. Memang ada sesuatu yang mengganggu di ruangan mereka. Dan perhatian Yi Hua terus lekat pada Selir Wen.
Hal tersebut membuat Selir Wen membentak Yi Hua. "Kenapa kau melihatku seperti itu? Tidak sopan seorang pria menatap wanita milik Raja!" bentaknya.
Ya ampun, aku tak bernafsu padamu juga!
Mendadak Yi Hua menoleh pada para pelayan yang datang. "Apakah selama saya di dalam ruangan milik Putra Mahkota, ada yang keluar ke halaman?" tanya Yi Hua.
Seseorang pasti melakukan sesuatu di tempat ini. Hal yang membuat segel penahan yang Yi Hua tebarkan terganggu. Sekaligus menutup energi yang bisa kertas jimat Yi Hua serap.
"Apa-apaan kau! Bagaimana mungkin ada yang keluar? Kami semua di dalam ruangan," ujar Selir Wen.
Yi Hua menoleh pada Raja Li Shen. "Kami juga tidak keluar, Peramal Yi."
Ya tentu saja tak ada penyusup yang mengaku.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Peramal Yi?" Bosan dengan ketidaktahuan, Raja Li Shen bertanya kali ini.
"Ampun Yang Mulia. Menurut dugaan hamba, ada seseorang yang membawa energi buruk di sini. Padahal sebelumnya tidak ada," ujar Yi Hua apa adanya.
"Bagaimana mungkin Peramal Yi? Bukankah sebelumnya orang yang masuk ke istana ini sudah di periksa? Setiap dari kami tidak ada yang boleh keluar. Juga, tak ada yang boleh masuk selain kami," jelas seorang pengawal yang diperintahkan untuk membantu Yi Hua memeriksa siapa saja yang masuk setelah Yi Hua masuk.
Selir Wen mendengus, "Lagipula, hanya kau yang memiliki kemampuan mistis, apalagi pemanggilan energi."
Jadi, sekarang Yi Hua dicurigai lagi.
Yi Hua mendadak mengambil sesuatu dari sakunya. Dan ... Yi Hua mengambil wadah kecil yang memang sengaja Yi Hua bawa dari ruangan Li Quon. Setelah itu ia memasukkan air suci yang memang sudah Yi Hua bawa. Air suci ini bukan Yi Hua yang mensucikannya, tetapi air doa dari para peramal di ruangan peramal.
Perbuatan Yi Hua tentu saja membuat heran mereka semua. Akan tetapi, mereka tetap memperhatikan Yi Hua yang mencampur air dalam botol kecil ke dalam wadah giok yang ia bawa. Wadah itu cukup besar karena itu wadah untuk mencuci wajah.
Setelah itu ...
BYUR ...
Tanpa aba-aba Yi Hua memercikkan air dengan jemarinya dari dalam wadah kecil yang ia bawa pada Raja Li Shen. Hal tersebut tentu saja membuat Raja Li Shen terkejut. Terutama saat air itu langsung mengenai wajahnya. Namun Yi Hua terlihat tak perduli, dan tetap memercikkan air itu pada yang lain.
Lalu, untuk yang paling istimewa ialah Selir Wen dan dayang-dayangnya.
Yi Hua menyiramnya langsung ke wajah mereka satu-persatu.
"Yi Hua Kep*rat! Apa yang kau lakukan sialan?" teriak Selir Wen yang lupa berlembut diri.
Ia tanpa saja mengeluarkan umpatan yang biasanya tak muncul dari seorang kecantikan.
Selir Wen ingin mengadu pada Raja Li Shen, tetapi Raja Li Shen terlihat tak perduli.
Xiao ... Apakah ada yang terlihat tak nyaman?
Yi Hua punya keterbatasan pandangan, tetapi insting Xiao tak main-main.
"HuaHua, di belakang," bisik Xiao. Entah karena apa.
Padahal hanya mereka berdua yang bisa saling berkomunikasi.
Yi Hua mendekati seorang pelayan kecil dengan wajah sederhana. Ia termasuk gadis yang cantik. Gadis pelayan itu tersenyum tipis pada Yi Hua, dan Yi Hua ...
CRAKK!!
"KYAA!!"
Raja Li Shen kini terlihat marah.
Bagaimana pun Yi Hua sudah melecehkan gadis pelayan ini. Yi Hua menarik pakaian gadis ini di bagian bahunya hingga sobek.
"Peramal Yi, kau sudah sangat keterlaluan!" bentak Selir Wen lagi.
Ia berniat menghampiri Yi Hua, tetapi Yi Hua merentangkan kelima jarinya ke belakang. Menghentikan Selir Wen berbicara. Terutama saat bahu yang awalnya tampak seperti bahu manusia biasa itu memutar.
Akibat air suci, kulit pelayan itu mengelupas dan tampak kulit penuh luka. Bahu pelayan itu memutar, sehingga lengannya seperti bisa berputar ke segala arah. Lengan itu hendak mencakar wajah Yi Hua, tetapi karena tidak kena.
Tangan itu memanjang dan hendak mencakar Selir Wen. Kaki kanan Yi Hua terentang kencang, dan menendang pinggul Selir Wen. Hingga cengkeraman tangan itu tak mengenai tubuh Selir Wen.
__ADS_1
Muncul keributan besar dan hari sudah mulai gelap.
Api-api yang sengaja di hidupkan di seluruh penjuru istana tampak ditiup oleh angin aneh. Sehingga suasana malam menjadi cukup panik. Yi Hua masih tak bisa mengeluarkan kertas jimatnya.
"Hidupkan obor cepat!" teriak Yi Hua.
Dalam remang-remang malam, entah apa yang terjadi. Sehingga mereka perlu cahaya. Di saat malam hari lonjakan energi buruk lebih banyak. Dan para pengawal dengan sigap menghidupkan api kembali.
Pelayan yang ada di depan Yi Hua ditekan di tanah oleh beberapa pengawal.
Yi Hua membantu Selir Wen yang terkejut. Tampak wanita itu ketakutan, terutama saat ia mengingat wajah cantiknya nyaris dicakar oleh tangan penuh kuku tajam. Wanita itu mendadak bergumam, "Aku tak ingin ada di halaman ini! Aku akan kembali ke istanaku!"
Tapi ...
"Selir Wen, bagaimana jika Anda terkena bubuk mayat? Anda ingin tubuh Anda membusuk secara perlahan?" tanya Yi Hua ketika menyadari jika perubahan gadis pelayan yang sebelumnya ialah karena bubuk mayat.
"HUARRRRGHH!" teriak gadis pelayan itu ketika panas oleh air suci.
Raja Li Shen menatap Yi Hua. "Lalu, bagaimana dengan Putra Mahkota?"
Bukankah sekarang mereka berkumpul di halaman dan meninggalkan Li Quon sendirian di ruangannya?
"Tidak apa. Lebih baik Putra Mahkota sendirian, dibanding bersama orang lain," ucap Yi Hua.
Mengapa sendirian?
Karena Yi Hua memang sengaja berkata, jika Yi Hua keluar dari ruangan Li Quon, maka semua pelayannya harus keluar juga. Itu meminimalisir kemungkinan jika ada yang keracunan bubuk mayat atau iblis di sana. Juga ... Sebelumnya Yi Hua sudah menaburkan air suci di sekitar kamar tidur Li Quon.
Energi buruk tak bisa melewatinya.
Bukankah sekarang kita harus percaya pada doa-doa kepada Dewa? Air suci yang digunakan untuk berdoa pasti bisa menahan energi buruk.
Namun pengawal yang menahan si gadis pelayan tak cukup kuat. Sehingga tangan penuh cakaran itu sudah berhasil memutar, dan meraup wajah dari salah satu pengawal. Hal tersebut membuat si pengawal berteriak kesakitan dengan wajah penuh darah.
Dagingnya tergores parah, bahkan matanya terkena cakaran.
Yi Hua menuju ke arah gadis pelayan dan menendang wajah gadis yang sekarang bukan manusia lagi.
Bubuk mayat membuat manusia bertindak seperti mayat berjalan. Mereka akan menyakiti setiap manusia yang ada di jangkauan tangannya. Meski sampai sekarang Yi Hua masih tak tahu ... Bagaimana bisa pelayan ini masuk ke kediaman Li Quon saat Yi Hua memasang segel penahan?
Jika seperti itu ... Mungkin ada seseorang dengan kekuatan besar yang mengendalikan ini semua.
Lalu, dengan cepat bubuk mayat yang tersebar mengenai si pengawal. Pengawal itu perlahan tak sadarkan diri dengan mata memerah. Dengan wajahnya yang sudah tergores seperti dicakar beruang, pengawal itu menghampiri pengawal lainnya.
"Jangan ada yang tersentuh dengan para mayat berjalan! Kalian akan berubah juga," teriak Yi Hua memberitahu.
Para pengawal menggunakan pedang untuk menebas dua mayat berjalan.
Yah, sekarang ada dua mayat berjalan dadakan.
Selir Wen terlihat ketakutan!
Namun Yi Hua berteriak lagi. "Tidak bisa, Selir Wen. Jika Anda keluar, bagaimana jika Anda terkena bubuk mayat? Lalu, Anda berubah menjadi mayat berjalan. Kemudian menyerang yang lainnya di luar istana ini."
"Kau menyebutku terkena bubuk mayat? Aku bersih Yi Hua!" banyak Selir Wen yang masih tak terima.
Yi Hua tak bisa menyebut Selir Wen bersih atau tidak. Masalahnya Xiao juga tak bisa mendeteksi bahaya karena terhalang kekuatan aneh di sekitar mereka. Yi Hua melihat Raja Li yang dilindungi oleh beberapa pengawal.
"Tebas kepalanya," perintah Raja Li Shen. Karena yang bisa mengentikan mayat berjalan ialah saat kepala orang tersebut rusak.
"Yang Mulia, bagaimana jika mereka masih hidup?" tanya Selir Wen tak percaya. Wanita itu sangat tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Wanita itu sangat gugup dan takut hingga tanpa sadar ia berlari mendekati Raja Li Shen. Hal tersebut mengungkapkan kaki putih miliknya dari balik ujung rok yang terangkat. Di sana Raja Li Shen bisa melihat ada garis panjang seperti cakaran.
"Kau ..." Raja Li Shen tercekat ketika melihat goresan panjang itu.
Sepertinya Selir Wen sudah tahu jika dirinya terkena cakaran. Tentu saja tanpa diketahui, karena cakaran itu seperti sudah didapat oleh Selir Wen, bahkan sebelum kejadian ini. Mungkin saat mereka berada di ruangan masing-masing sebelumnya.
Itulah mengapa Selir Wen, yang akhirnya tahu dari ucapan Yi Hua. Jika terkena cakaran maka akan menyebarkan bubuk mayat, dan Selir Wen tahu dia sudah terkena bubuk mayat. Itulah yang membuat wanita itu lebih panik lagi.
"Yang Mulia, hamba tidak terkena bubuk mayat! Tidak, Yang Mulia. Ini hanya cakaran biasa," teriak Selir Wen tak terima.
Itulah mengapa Yi Hua meminta siapa saja di dalam istana ini untuk tidak keluar. Tentu saja ini hari sial untuk Selir Wen, karena ketika dia masuk ke kediaman putranya sendiri, ia akan teracuni bubuk mayat.
Namun teriakan Selir Wen berganti ke jeritan kesakitan. Perlahan tangan lentik Selir Wen terlihat kaku dan bergerak patah-patah. Sekarang ... Perubahan akibat keracunan bubuk mayat menjadi lebih cepat. Biasanya masih akan ada waktu tiga hari untuk membuat manusia berubah jadi mayat berjalan.
Seperti dahulu ketika Liu Xingsheng terkena bubuk mayat. Yi Hua masih sempat melakukan pertolongan pertama untuknya. Mengapa menjadi seperti ini sekarang?
"Yang Mulia, jangan bunuh hamba! Hamba tak akan berubah menjadi mayat berjalan?" raung Selir Wen yang menyadari jika satu-satunya cara menghentikan mayat berjalan adalah dengan memecahkan kepalanya.
Namun apa Selir Wen bisa bertahan saat kepalanya pecah?
Meski dia bertahan pun, dirinya tak akan menjadi manusia lagi.
Situasi menjadi lebih genting saat mayat berjalan yang awalnya hanya dua menjadi bertambah. Entah darimana. Akan tetapi, ada mayat berjalan lain yang menyerang mereka. Dan Yi Hua sadar jika itu adalah dua orang pengawal yang diperintahkan Raja Li untuk mengabari Jenderal dan para peramal.
Mereka sepertinya gagal menyampaikan informasi.
Yi Hua juga tidak bisa menggunakan kertas jimatnya untuk mengirimkan kabar.
Mereka tak punya pilihan lain.
Sekarang mereka hanya bisa membunuh siapa saja yang terkena bubuk mayat, agar menyelamatkan yang tersisa. Raja Li Shen menatap bingung pada Selir Wen yang meminta di selamatkan.
Raja Li Shen memang tak memiliki perasaan pada Selir Wen. Meski begitu, ia tak bisa sembarang membunuh. Apalagi Selir Wen adalah seorang Selir, yang berasal dari keluarga bangsawan besar. Mereka tak akan terima jika Putri mereka dibunuh oleh Raja. Meski alasannya karena terkena bubuk mayat.
Mendadak Yi Hua merasa jika ini pernah terjadi dahulu.
Dahulu ia pernah diminta kakaknya, Li Jun untuk membunuhnya bukan? Karena Li Jun tak ingin mati karena terkena penyakit batu. Bedanya ... Situasi itu ada pada Li Shen sekarang.
__ADS_1
Yi Hua merasa semuanya berulang menuju alur yang sama.
Selir Wen kini sudah mulai menyerang para pelayan yang ada di sekitarnya.
Sehingga hanya tersisa beberapa orang saja di istana ini. Kebanyakan dari mereka sudah mati terkoyak karena diserang mayat berjalan. Tak lama dari mereka akan bangun dan menyerang yang tersisa.
Yi Hua mengambil Lingkaran Mawar yang ada di belakang punggungnya. Ia kemudian memukul beberapa mayat berjalan yang ada di depannya. Yi Hua memukul hingga kepala mereka pecah dan tergeletak di tanah.
Setelah itu, Yi Hua menuju ke arah Selir Wen yang masih menyerang para pelayannya sendiri.
Di sana Yi Hua berdiri dan memukul kepala Selir Wen keras. Meninggalkan wajah tak percaya dari Selir Wen yang sudah berubah. Darah hitam memercik ke pakaian putih Yi Hua. Seperti penyakit batu, dirinya juga tak mudah terkena bubuk mayat.
"Peramal Yi ... Kau ..."
Yi Hua menghela napasnya. "Hamba hanya perlu membuktikan jika ini benar-benar kecelakaan, bukan?" tanya Yi Hua.
Kini hanya tersisa 2 orang. Tiga sebenarnya, jika ditambah Li Quon yang masih tidur di dalam. Yi Hua harap setelah semua energi buruk dilenyapkan, Li Quon akan membaik.
Setelah semua korban telah berjatuhan kertas jimat muncul kembali. Sepertinya setelah semua energi buruk di lenyap, energi magis bisa kembali hidup.
Di sana ada surat dari Ling Xiao. Kertas jimat berikutnya.
Namun kali ini bukan berisi surat dari Hua Yifeng, melainkan kabar dari Ling Xiao.
Di sana Yi Hua tercekat. Tak percaya saat melihat tulisan di sana.
"Ada apa, Peramal Yi?" tanya Raja Li Shen ketika melihat wajah pucat Yi Hua.
Yi Hua menghela napasnya. "Yang Mulia, sekarang para bangsawan melakukan kudeta."
Dari segala masalah ... Sekarang ada pemberontakan?
"Sepertinya mereka sudah tak bisa diam lagi," ujar Raja Li Shen.
Sebenarnya cerita untuk mengangkat Yi Hua sebagai Perdana Menteri juga rencana Raja Li Shen. Bagaimana pun memang pemberontakan sudah ada bibitnya di para bangsawan. Mereka merasa Raja Li kurang bisa memimpin.
Namun semuanya mereka tahan saat Liu Xingsheng dan Huan Ran menjadi Perdana Menteri. Mereka tak berani menyerang. Dan sekarang ... Kekosongan di kursi Perdana Menteri. Apalagi Raja Li terlihat memilih seorang kandidat yang tidak kompeten.
Setelah itu semua ... Mereka memberontak untuk mencari Raja yang baru.
Raja yang sesuai dengan ramalan seperti di zaman dahulu. Karena Raja Li Shen tidak diangkat dari sistem ramalan. Li Shen diangkat menjadi Raja karena dia satu-satunya yang tersisa dari darah Raja sebelumnya.
Itu yang mereka ungkit-ungkit sebagai sebab dari kerajaan yang kacau.
Walau pada akhirnya, semuanya seperti serba salah.
Dahulu mereka menyebut sistem ramalan juga tak tepat. Bahkan mengorbankan Putri Li Wei agar muncul kedamaian. Sekarang pewaris tahta yang diambil dari keturunan juga tak tepat.
Ini seperti terus mengulang cerita yang sama.
Yi Hua muak. Apa sekarang Li Shen yang harus dikorbankan?
Sialan! Ia dahulu pernah berjanji untuk melindungi adiknya.
"Yang Mulia, sekarang hanya ada kita berdua," ujar Yi Hua.
Raja Li Shen menatap Yi Hua tak mengerti. Ada suara ramai di luar. Sepertinya ada beberapa pengawal yang datang, atau bala bantuan datang. Dan tak ada yang tahu jika sekarang mana yang pemberontak atau bukan.
Yi Hua menghela napasnya dan mendadak mengeluarkan kertas jimatnya.
STAK!
Tepat ketika Jenderal Wei Qionglin dan pasukannya datang, mereka dikejutkan oleh Yi Hua yang menyerang Raja Li Shen. Meski Raja Li Shen berhasil mencegah serangan itu agar tak mengenainya. Tindakan Yi Hua yang aneh ini membuat kesalahpahaman baru muncul.
"Yang Mulia harus bersih agar para bangsawan itu tidak memperbesar masalah ini," ujar Yi Hua.
Di masa kepercayaan yang goyah seperti ini, Raja Li Shen harus tetap dipercaya oleh mereka yang masih setia. Kematian Selir Wen akan memperburuk suasana. Terutama saat Yi Hua tahu, dari surat Ling Xiao, Pejabat Wen yang memimpikan kudeta.
Itu artinya ayah dari Selir Wen adalah otak dari pemberontakkan.
Yi Hua tak berani mengambil resiko jika nama Raja Li Shen buruk.
"Peramal Yi, kenapa ...?" tanya Raja Li Shen tak percaya.
Yi Hua menebarkan kertas jimatnya seperti kumpulan kupu-kupu. Kertas jimatnya mengelilingi Yi Hua hingga meninggalkan asap besar. Hal tersebut membuat Yi Hua bisa melarikan diri dari sana.
Melarikan diri dengan tuduhan. Lagi.
Namun Raja Li Shen sempat mendengar apa yang diucapkan oleh Yi Hua.
"Aku berjanji untuk selalu melindungimu dan tak akan pernah meninggalkanmu, Li Shen," bisik Yi Hua sebelum ia benar-benar pergi.
Mengingatkan Li Shen tentang janji seseorang yang tak pernah ditepati.
Karena Putri Li Wei, kakaknya dahulu meninggalkan Li Shen.
Entah mengapa janji Yi Hua membuatnya teringat kembali pada Li Wei.
Apa dia sekarang berhutang nyawa pada seorang Yi Hua?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1