Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Seorang Wei 4: Serangan Hantu Air


__ADS_3

Jenderal Wei menunjuk dengan bingung pada pria muda di belakang Yi Hua. Ditambah lagi Jenderal Wei sangat ingat siapa saja yang ia bawa masuk. Sebab, yah ... Jenderal ini agak polos dan belum menyadari jika pemakaman ini sangat mudah untuk diterobos.


"Saya masuk mengikuti Kakak Hua karena penasaran. Maafkan kelancangan saya," ujar pria muda berwajah polos itu.


Percayalah ...


Ini entah perasaan Jenderal Wei atau apa. Akan tetapi, ekspresi pria muda ini tak terlihat seperti ucapannya. Dia tak terlihat berwajah bersalah ketika menyebut maaf. Bahkan terbilang wajah pria muda ini tak ada terlihat kurang nyaman sedikit pun.


Pada akhirnya Jenderal hanya menatap pada Yi Hua untuk memastikan. Dan wajah jengkel Yi Hua terlihat di sana. Meski begitu, Yi Hua menjawab dengan cara yang luar biasa seperti biasanya.


"Dia adalah anak Paman dari tetangga yang tinggal di samping tetangga di sebelah kanan Pusat Kota. Tidak tahu mengapa Paman itu melepaskan makhluk ini untuk ikut bersama saya," jelas Yi Hua yang terlihat mengeringkan pakaiannya sembarangan.


Jenderal Wei yang melihat Yi Hua basah dan hendak melepaskan jubah bagian luarnya. Akan tetapi, gerakannya terhenti ketika pria muda itu mendadak menatapnya dengan tajam. Hal itu membuat Jenderal Wei mau tak mau curiga.


"Kau tahu bukan jika tempat ini bukanlah tempat yang bisa dimasuki sembarangan?" tanya Jenderal Wei dengan tegas di depan Hua Yifeng. Jelas saja Jenderal Wei curiga, apalagi dia adalah orang yang sangat terlatih dan peka.


Adanya orang yang bergabung begitu saja dalam rombongan jelas membuatnya curiga. Apalagi dengan seseorang yang beraura berbahaya seperti pemuda itu. Rasanya seperti kau tahu jika bunga di depanmu sebenarnya beracun. Bagaimana pun terlihat baik atau 'hanya' bunga, tetapi kau tahu itu berbahaya. Itulah kesan Jenderal Wei ketika melihat pria muda di belakang Yi Hua.


Yi Hua yang menyadari segera berdiri di depan Hua Yifeng. Dia tentu saja melakukan hal itu tanpa disengaja. Harusnya jika Hua Yifeng ketahuan pun itu bukanlah urusan Yi Hua. Lagipula, Hua Yifeng juga bisa mengatasi masalah ini dengan sangat mudah.


Namun ...


SRET!


Yi Hua menengok ke belakang ketika Hua Yifeng meletakkan jubah hitamnya di bahu Yi Hua. "Saya melihat dua Paman tua membawa Kakak Hua. Sehingga saya pikir bisa bermain, Paman."


Meski ucapannya polos, tetapi Hua Yifeng tak terlihat polos seperti ucapannya. Jenderal Wei saja terlihat seperti ingin mencekik Hua Yifeng. Apalagi ketika pria itu disebut Paman oleh pria muda ini.


"Kakak Hua, aku takut," ucap Hua Yifeng sambil memeluk lengan Yi Hua.


Percayalah, meski ucapannya terdengar polos, tetapi wajah licik Hua Yifeng ini membuat Yi Hua geram sendiri. Dari segi mananya pria ini terlihat takut?


Lama-lama anak ini aku titipkan ke pasar. Siapa tahu bisa dijual.


"Bisakah kita melanjutkan perjalanan, Jenderal Wei? Anak ini biar saya yang mengurusnya," ujar Yi Hua yang pasrah.


Tangan Yi Hua mencubit perut Hua Yifeng. Hal itu membuat Hua Yifeng agak menjauh sedikit dari Yi Hua. Sangat sulit jika Yi Hua dalam mode marah-marahnya.


Yi Hua menoleh ke arah air, dan menghela napasnya. Setidaknya hantu air tak lagi ada di dalam air. Akan sangat berbahaya untuk mengatasi pandangan dari semua orang di kelompok ini. Percayalah tak semua orang mampu untuk keluar dari ilusi.


Yah, setidaknya dengan adanya Hua Yifeng di sini akan sedikit membantu. Pria ini meski usil dan kadang terlihat kurang kerjaan, tetapi dia berpengetahuan. Belum lagi ... Sejauh yang Yi Hua tahu, Hua Yifeng sebenarnya sering membantunya.


Apalagi dengan keadaan makam yang sudah seperti tempat jebakan di medan perang.


KRAK!


Baru saja Yi Hua menyebut seperti itu, suara keras terdengar dari air. Hal itu membuat Yi Hua menjadi waspada. "Menjauh dari air. Jangan sampai ada yang jaraknya dekat dengan air. Di sana ..."


"AKHHHHH!" Suara teriakan itu membuat ucapan Yi Hua terhenti.


Semua itu karena salah satu prajurit yang jaraknya dekat dengan air tiba-tiba diselubungi oleh rambut hitam. Itu sangat mengerikan karena rambut hitam ini bahkan terlihat berlumut. Rupanya sejak tadi hantu air sudah menyiapkan target. Ia bahkan sudah menciptakan ilusi pada prajurit ini.


BYUR!!!


Tak hanya satu prajurit yang dililit oleh rambut, tetapi beberapa. Mereka berjatuhan ke dalam air, dan prajurit yang tak terkena berusaha menghindar dari untaian rambut. Buruknya lagi hantu air ini tidak memunculkan wajahnya, sehingga ilusi-nya tak bisa dipatahkan.


Yi Hua melihat Jenderal Wei berlari menuju ke arah prajuritnya itu. Akan tetapi, ...


"Jenderal Wei, mundur!" teriak Yi Hua ketika untaian rambut yang bergumpal kini muncul lagi.


Kali ini gumpalan rambut ini melilit pada kaki Jenderal Wei. Pria itu langsung mengambil pedangnya untuk menebas ke untaian rambut itu. Beruntung rambut ini tak begitu kuat.


SRET!


"Apa-apaan ini?" teriak Jenderal Wei yang melihat pasukannya yang porak-poranda.


Ia membawa sekitar dua puluh orang. Akan tetapi, karena serangan dari rambut aneh ini yang tersisa mungkin hanya sekitar sepuluh orang. Mereka hanya menuju ke arah pemakaman, bukannya tempat berbahaya lainnya!


"Jenderal Wei, jika ada kepala yang mengambang dari air, tatap matanya!" teriak Yi Hua memberi informasi.


Namun ... PLONG! PLONG!


Eh?


"Aku harus menatap yang mana, Yi Hua?" tanya Jenderal Wei bingung. Ia menoleh pada Yi Hua, tetapi Yi Hua sama bingungnya.

__ADS_1


Akhirnya, Yi Hua kini menatap pada Hua Yifeng yang berdiri tenang di belakang Yi Hua. Tatapan pria itu terlihat cukup tajam, tetapi ketika Yi Hua melihat padanya tatapan Hua Yifeng berubah. Terutama ketika mendengar ucapan Yi Hua.


"Ini mengapa mereka menjadi banyak?" tanya Yi Hua sambil menunjuk pada kepala-kepala yang tampak menyembul dari air.


"Sepertinya air terjun di dalam hutan ini berada di bagian hilir sungai. Sehingga benda-benda ini bisa menyangkut di sini," jelas Hua Yifeng sambil menendang helaian rambut yang menuju ke arah Yi Hua.


Jenderal Wei yang belum tahu tentang lubang di bagian bawah air terjun ini mau tak mau bertanya. "Apa maksudnya dengan bagian hilir sungai? Ini tak seperti air ini berhubungan dengan air sungai."


"Air dalam hutan ini terhubung dengan air sungai, Jenderal Wei. Memangnya bagaimana bisa air-air ini muncul dan sederas ini jika tidak ada alirannya?" tanya Yi Hua untuk membuka pikiran Jenderal Wei.


Yang logis saja. Bagaimana mungkin ada air sederas ini hingga menjadi air terjun? Bisa saja ada air hujan yang mengguyur di hutan ini. Namun sekarang sangat terik, sehingga pilihan itu menjadi sedikit keliru.


"Tolong ... Aku tak mau mati," teriakan itu terdengar dari seorang prajurit yang baru saja ditarik.


Meski begitu, Jenderal Wei berada di jarak yang cukup jauh. Lagipula pria itu juga sedang membebaskan prajurit lainnya lagi. Beberapa yang tak diserang oleh rambut-rambut itu segera membawa kereta berisi mayat. Ditambah lagi rambut ini tak sepanjang yang Yi Hua kira. Jika dalam jarak tertentu rambut itu tak akan bisa mengejar.


Namun ... Bagaimana dengan seseorang yang masih di terlilit dengan rambut itu? Yi Hua mengerang kesal saat banyak hal bergolak di kepalanya.


"Yi Hua, kita harus pergi," ucap Hua Yifeng sambil menginjak rambut-rambut itu hingga putus. Pria ini juga terlihat terganggu dengan keadaan kacau ini. Bahkan Hua Yifeng telah memutuskan begitu banyak untaian rambut. Bukan dengan pedang, tetapi hanya dengan pukulan tangan dan tendangannya saja.


"Tolong ..."


Orang itu masih hidup!


Baru saja Hua Yifeng meminta Yi Hua untuk menjauh, peramal kecil itu malah berlari menuju ke arah air. Yi Hua menarik kertas jimatnya, dan membakar untaian rambut yang melingkupi prajurit itu. Berusaha untuk membebaskannya. Padahal prajurit itu sudah hampir masuk ke dalam air, dan ditarik lagi. Yi Hua bahkan sudah tersembab ke permukaan batu.


Seingat Yi Hua pria ini adalah pembuat makam. Pria ini jelas tak boleh mati, apalagi dia adalah orang yang tahu tentang makam ini. Apalagi dengan hal-hal janggal di dalam malam ini. Jelas pria pembuat makam ini tahu banyak hal.


"Ughhh ..."


Bisa-bisanya Yi Hua terpeleset dan membuatnya ikut tertarik oleh untaian rambut itu. Bahkan Yi Hua bisa merasakan sakit di tangan kanannya. Rambut ini melilit dengan sangat kuat. Pantas saja jika sudah terlanjur terlilit, maka sangat sulit untuk dilepas.


Ini rambut atau pecahan batu?


Yi Hua menatap heran pada tangannya yang berdarah. Rambut ini selain kuat juga tajam. Orang-orang yang dililit oleh rambut ini pasti sudah hancur tubuhnya karena tercabik. Memikirkannya saja sudah sangat mengerikan.


"Bakar," perintah Yi Hua pada kertas jimatnya.


BRUAHHH!


Api merah keluar dari kertas jimat dan membakar rambut-rambut itu. Berkat itu lilitan rambut menjadi kurang rapat. Yi Hua memanfaatkannya untuk menarik pria pembuat makam itu. Lalu, ...


JRURRTT ...


Rambut mengitari Yi Hua dan pria pembuat makam ini langsung menjauh seperti cacing terkena panas. Belum lagi dengan kepala yang mengambang itu yang pecah di dalam air. Satu kepala hantu air telah pecah, dan membuat air di sekitar menjadi hitam.


Siapa yang bisa memecahkan kepala hantu air bahkan tanpa menyentuhnya?


Hua Yifeng membantu Yi Hua berdiri. Setelah itu, Hua Yifeng menatap pada tangan Yi Hua yang masih mengalirkan darah. Tentu saja karena rambut itu sempat melilit tangannya.


"Saya tak apa," ucap Yi Hua yang sebenarnya bingung ingin mengatakan apa.


"Kita pergi." Hua Yifeng mengibaskan pedangnya yang masih diselimuti oleh kain putih.


Pedang itu sepertinya lebih efektif ketika dipegang oleh Hua Yifeng. Bahkan saat terbungkus, pedang itu masih bisa menebas. Hal itu membuat rambut-rambut yang berkeliaran itu patah. Yi Hua jelas tahu jika Hua Yifeng sangat terganggu dengan keadaan ini.


Jenderal Wei menuju ke arah pria pembuat makam itu. Memapahnya untuk berdiri dan menjauhi air. Berkat pria muda yang bersama Yi Hua itu rambut-rambut menjadi 'agak' takut. Akan tetapi, mereka harus segera menjauh karena tak ada yang tahu jika ada serangan selanjutnya.


Mereka jelas tak bisa mengatasi semuanya. Sebab, tak ada yang tahu berapa jumlah hantu air di dalam sana. Yah, belum lagi dengan ilusi dari hantu air itu. Siapa yang bisa menduga adanya ilusi di sekitar mereka.


Melihat air yang hitam itu dari kejauhan, Jenderal Wei jelas tahu apa penyebabnya. Jelas kepala hantu air ini tak akan pecah begitu saja. Pria itu menatap punggung Yi Hua yang dipapah oleh pria muda yang katanya anak dari tetangganya tetangga Yi Hua ... Yah ... Apapun itu. Pria muda itu jelas bukan orang 'biasa' terutama dengan sikap tenangnya dalam menghadapi keadaan kacau ini.


Jenderal Wei jelas mempertanyakan tentang kemampuan itu. Akan tetapi, ini bukan waktu yang tepat untuk mereka berbincang. Sehingga Jenderal Wei hanya bisa menyuruh prajuritnya yang tersisa untuk bersembunyi terlebih dahulu.


Siapa sangka akan muncul korban dari pekerjaan kali ini.


***


BRUK!


Jenderal Wei memperhatikan pada kereta yang membawa mayat-mayat yang ingin dikembalikan ke makam. Sepertinya rambut-rambut itu benar-benar bisa mendeteksi mana benda hidup, mana yang bukan. Buktinya jumlah mayat yang mereka bawa masih sama.


Namun Jenderal Wei kehilangan beberapa orang prajuritnya. Terlihat sekali jika Jenderal Wei merasa tak berguna. Akan tetapi, disesali pun tak akan berarti apa-apa. Hanya saja makam ini sangat sulit untuk dimasuki. Siapa sangka makam leluhur nya ini tak sederhana.


Itu hebat dan sial sekaligus.

__ADS_1


"Memangnya ada apa dengan makam ini?" tanya Jenderal Wei pada akhirnya.


Kau baru bertanya sekarang. Aku sudah heran sejak masuk ke dalam makam ini. Jelas-jelas ini seperti tempat pembunuhan.


"Untuk hantu air ... Ini sama sekali bukan bagian dari mekanisme makam. Hantu air ini tanpa sengaja masuk ke celah lubang dalam air," ucap Yi Hua untuk menjelaskan. Ia sedikit meringis saat sakit di tangannya mulai terasa.


Berbicara tentang itu ... Dimana Hua Yifeng?


Yi Hua juga tak bisa bertanya pada Xiao. Itu semua karena Xiao tak hadir sekarang. Mungkin menunggu beberapa saat hingga Xiao tak berguna ini muncul. Padahal jika bukan pada Xiao, Yi Hua hanya bisa mengorek informasi pada Hua Yifeng.


Yah, Xiao agak mirip dengan Hua Yifeng dalam hal ini. Keduanya memiliki satu hal yang sama. Banyak yang diketahuinya. Belum lagi dengan sikap kurang ajarnya Hua Yifeng ini yang agak mirip dengan Xiao.


HAH??!! Bisa-bisanya Yi Hua menyamakan kedua makhluk menyebalkan itu. Ini sama seperti sapi terbang dan sapi biasa. Mereka sama-sama sapi, tetapi yang satunya asli dan sisanya terserah kehendak Dewa.


Yi Hua tak tahu lagi dengan perumpamaan nya yang kacau ini.


BRUGH!


Baru saja Yi Hua menoleh ke sana-sini untuk mencari Hua Yifeng, suara keras itu terdengar.


Jenderal Wei menarik kerah pembuat makam itu. Ia tak perduli saat pembuat makam itu mengerang kesakitan. Bagaimana pun pria ini baru saja dililit oleh rambut-rambut tajam dari hantu air.


"Siapa yang menyuruhmu untuk membuat tempat seperti ini?" tanya Jenderal Wei dengan tatapan yang tajam.


Sebentar ... Bukankah suasana di sekitar mereka sangat 'berat'? Seolah bisa menghancurkan perasaan, dan membuat emosi. Entah karena apa.


"Maaf, Jenderal Wei. Pemakaman ini dibuat atas perintah mendiang kepala keluarga terdahulu," ujar pembuat makam ini dengan kalut.


Jika tak salah kepala keluarga terdahulu ialah ayahnya Jenderal Wei. Sepertinya pemikiran dari orang itu agak aneh. Mungkin dia juga agak 'sadis" dalam membuat permainan dalam makam ini.


Haaahh ... Harusnya aku menengok Liu Xingsheng saja di Istana Pengobatan. Biarpun Selir Qian agak pemarah, tetapi dia tak menyerang seperti hantu air ini.


"Yi Hua" Mendadak Yi Hua mendengar suara-suara gaib nan unik milik Perdana Menteri Liu yang sangat ia kenal.


Namun sepertinya bukan hanya Yi Hua yang melihatnya. Jenderal Wei yang awalnya rusuh ingin bertanya pada pembuat makam juga terlihat reda. Meski Liu Xingsheng agak aneh, tetapi dia tetaplah Perdana Menteri. Sehingga Jenderal Wei pun perlu menunjukkan penghormatannya.


Akan tetapi, ada yang aneh ...


Yi Hua memberi penghormatan dengan cara seorang pria pada Liu Xingsheng. "Saya tak menyangka jika Perdana Menteri datang kemari."


"Yi Hua, aku mendengar dari kakak jika kau diculik oleh dua orang aneh. Sehingga aku datang ke sini untuk menyelamatkanmu," ucap Liu Xingsheng yang datang dengan caranya yang konyol.


Senyum Yi Hua tampak bingung. Bagaimana bisa Liu Xingsheng masuk ke tempat ini?


Namun pria ini bukan hanya dilihat oleh Yi Hua. Jenderal Wei dan pasukannya juga melihat kehadiran Perdana Menteri ini. Lagipula, bagaimana mungkin Selir Qian membiarkan adik rusuhnya ini untuk keluar?


Jenderal Wei juga memberi penghormatan, "Saya hanya mendapat perintah untuk membawa Yi Hua, Perdana Menteri Liu."


Liu Xingsheng menghampiri Yi Hua seperti biasanya. Entah mengapa Liu Xingsheng memang sangat gemar merusuh jika ada Yi Hua di sana. Jelas saja Yi Hua tak masalah. Terutama saat Liu Xingsheng juga sering memberinya pekerjaan.


"Perdana Menteri Liu, Anda ..."


SRAT!


CRAT!


Yi Hua terpaku ketika darah segar memancar dari sebuah luka potong. Tepat kala itu Yi Hua melihat sebuah pedang hitam menembus ke dada Liu Xingsheng dari arah belakang. Mata Yi Hua terpaku dan dengan panik ia mengusap darah yang memercik di wajahnya.


"Apa ..." Wajah Yi Hua sudah sangat pucat.


Lalu, tubuh Liu Xingsheng limbung dan terbaring di depan Yi Hua yang nyaris tak bisa bernapas. Dan, di belakang Liu Xingsheng tampak seseorang dengan mata yang tajam, tetapi warna matanya hitam. Itu jelas Hua Yifeng yang menyamar sebagai pria muda seperti sebelumnya.


"Apa yang kau lakukan? Kau membunuh Perdana Menteri!" Jenderal Wei terlihat mengeluarkan pedangnya.


Namun wajah tenang Hua Yifeng tak berubah. Pria itu dengan tenang menatap Yi Hua yang masih kalut. Yi Hua hanya tak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi di depannya.


Yang ia tahu adalah Liu Xingsheng sudah terbaring tanpa nyawa di depannya. Semua itu terjadi dengan sangat nyata. Bahkan Yi Hua bisa merasakan basah di wajahnya akibat darah Liu Xingsheng.


"AKHHH!"


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2