Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Tugas


__ADS_3

Pengadilan Tinggi digelar kembali.


Yi Hua berada dalam posisi yang sama seperti sebelumnya. Ia berada di tengah-tengah Pengadilan Tinggi. Kali ini kakinya ditekuk dan dipaksa duduk tiba-tiba. Dan, Yi Hua benar-benar mengutuk keberuntungan dirinya sendiri.


Lihatlah! Baru saja aku terbebas, kini aku harus dihadapkan lagi dengan Raja ini!


Namun pada dasarnya, Yi Hua tak begitu yakin jika dirinya akan terkena hukuman karena ini. Bagaimana pun dia tak sendirian di Lembah Debu. Dia bersama dengan An, dan An ...


Dimana pria itu?


Yi Hua menyadari bahwa dia ditinggal sendiri di sini. Walau entah mengapa dia tak berpikir bahwa An menumbalkan dirinya. Bagaimana pun An bukanlah tipe yang seperti itu.


"Tuan Yi, aku tak berpikir bahwa apa yang kau ramalkan mulai terlihat."


Yi Hua menatap ke arah suara, dan yang berbicara adalah seseorang pejabat tua yang sama sekali tak Yi Hua kenal. Pada akhirnya, Yi Hua hanya membuang wajahnya dengan ekspresi kesal yang sedikit aneh. Seolah anak ini tak punya kebencian, hanya sekadar kesal semata terhadap sesuatu. Layaknya seperti kaki yang tersandung pada meja, dan tak berniat untuk menarik dendam padanya.


Hal itu membuat pejabat tua itu mengerutkan keningnya.


Setahu mereka, Peramal Yi Hua adalah orang pendendam yang pernah ada. Pria(?) itu akan selalu menimbulkan kesalahan orang lain hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sekarang seharusnya Yi Hua ini mengatakan banyak omong kosong di hadapan mereka. Apalagi jika sesuatu terjadi sesuai dengan ucapannya, ramalannya.


Namun orang yang tersenyum dengan wajah aneh di depan mereka ini seperti bukanlah Yi Hua. Lagipula, mengapa dia tersenyum seperti orang yang kurang bahan seperti itu?


"Saya lebih penasaran dengan kehadiran saya di sini. Sebenarnya saya melepaskan tikus saya untuk mengelilingi lapangan kandang sapi tadi pagi, sehingga saya tidak bisa berlama-lama di tempat ini," ucap Yi Hua yang sebenarnya berniat bercanda.


Akan tetapi, ucapan Yi Hua dibalas kerutan kening oleh yang lainnya. Terutama Liu Xingsheng yang sejak tadi menggigiti jarinya karena kalut. Bagaimana pun meski ia bersama Yi Hua, tetapi dia tak bersama ke dalam Lembah Debu. Sedangkan Huan Ran terlihat cukup sederhana dan santai dengan pakaian serba hitamnya.


"Yang Mulia datang!"


Yi Hua secara refleks nyaris menoleh ke belakang kala itu. Akan tetapi, sebuah tangan menahannya dan membantunya untuk menunduk. Walau tak melihatnya, Yi Hua tahu siapa yang baru datang di sebelahnya.


Setidaknya Yi Hua tak sendirian.


"Kesejahteraan menyertai Raja Li. Semoga panjang umur." Seruan itu menggema di sepanjang aula Pengadilan Tinggi Kerajaan Li.


"Bukankah aku sering mengatakan padamu, HuaHua tentang ini? Jaga sikapmu yang seperti sapi itu!" Xiao sebagai pelatih kepribadian Yi Hua merasa letih. Bukankah sikap anak ini lama-lama mirip seseorang?


Yi Hua hanya bisa terkekeh tak sengaja, dan itu membuat An yang berjongkok di sebelahnya menepuk bahu Yi Hua. Entah untuk mengingatkan, atau hanya memastikan bahwa Yi Hua sedang kerasukan atau tidak. Entahlah.


"An, dimana benda itu?" Suara Raja Li terdengar cukup datar. Hal yang cukup membuktikan jika persoalan yang mereka bahas sangat serius.


Yi Hua menyadari An yang berada di sebelahnya terlihat meletakkan sesuatu di meja kecil. Itu adalah pecahan dari Lingkaran Mawar. Baru-baru ini Yi Hua mengetahui tentang Lingkaran Mawar.


Kata orang-orang terdahulu, Lingkaran Mawar adalah senjata yang dibuat Li Wei ketika ia terkurung di dalam penjara. Ia memupuk semua kebenciannya, dendamnya, dan melepaskannya pada kenyataan dunia. Padahal kenyataannya, Li Wei tak pernah dijatuhkan hukuman eksekusi. Hal itu untuk mengingat bahwa Li Wei adalah seorang Puteri Kerajaan Li.


Yang dihukum adalah orang lain yang juga ternyata ikut dalam aksi pemberontakan Li Wei. Tak ada yang tahu pasti siapa orang itu, sebab orang itu tak penting. Dengan mempertahankan hak asasi seorang Puteri Kerajaan, Li Wei tak dihukum, dan hukumannya beralih pada yang lain.


Meski begitu, saat hari dimana orang tak dikenal itu dieksekusi, Li Wei datang dengan pedangnya.



Gadis itu meletakkan pedang pada lehernya sendiri. Tanpa bisa dicegah, dia menghamburkan darahnya di aula Pengadilan Tinggi. Banyak yang mengatakan bahwa itu adalah penebusan Li Wei atas dosanya selama ini.


Saat itulah, Lingkaran Mawar terjatuh bersama darah Li Wei. Katanya, Li Wei berencana mengubah dunia dengan menghidupkan senjata terkutuk itu. Senjata yang dia hidupkan dengan darahnya sendiri. Walau tak ada yang tahu apa bahaya dari senjata ini.


Lalu, semuanya terlupakan begitu saja seiring berjalannya waktu.


Kerajaan Li kembali membaik, walau masih harus dibantu dengan dua Perdana Menteri. Perekonomiannya membaik, dan mereka sekarang tidak memiliki kesialan seperti mereka dibenci oleh Dewi Keberuntungan. Intinya seperti itu yang dijelaskan oleh Xiao pada Yi Hua sebelumnya.

__ADS_1


Jika Xiao berdusta, maka dosanya sendiri.


Sampai ramalan Yi Hua menyerang.


Dengan anehnya, seseorang yang lahir di generasi berbeda meramalkan sesuatu yang bahkan pendahulunya tak berani menyebutnya. Hal itu yang membuatnya sekarang menghadapi penderitaan sebagai orang yang dianggap gila.


Lalu, di tengah itu semua. Lingkaran Mawar, yang mereka yakin lebur bersama darah Li Wei saat kematiannya ditemukan serpihannya. Kabar anehnya ialah yang menemukannya ialah orang yang meramalkannya.


Sebenarnya bukan aku yang meramalkannya! Mana aku tahu apa yang dipikirkan Yi Hua asli ketika melihat ramalan itu.


Yi Hua jelas tak setuju jika dia harus menanggung hal yang tak dia ketahui pangkalnya dimana. Ini unik sekaligus menjengkelkan.


Semua pemikiran Yi Hua langsung terberai seperti bulu sapi yang tertiup angin ketika mendengar langkah kaki lain yang masuk. Kala itu Yi Hua mendongakkan kepalanya hanya untuk melihat seseorang yang baru datang. Dan, itu nyaris membuat rahang Yi Hua terjatuh begitu saja.


Pasalnya pria yang masuk ialah seorang Penatua yang ditemui oleh Yi Hua pertama kali di dunia ini.


Tentu saja. Di penjara.


Namun pria tua ini tak lagi terlihat lusuh atau seperti manusia kurang perawatan. Dia malah terlihat seperti paman-paman di usia keemasannya. Apalagi dengan pakaiannya yang bisa Yi Hua pindai sebagai seorang Penasihat Kerajaan.



...Wang Zeming...


Lalu, untuk apa dia berada di dalam penjara? Jika ada tempat berlibur yang paling baik, pasti penjara bukanlah pilihan yang luar biasa bukan?


"Apakah aku lupa memberitahumu lagi, HuaHua?" tanya Xiao dengan nada yang hampa.


Apa sistem busuk ini perlu bertanya lagi? Jelas-jelas dia tak mencerminkan navigator yang baik.


***


Abaikan tentang Yi Hua yang masih berdebat dengan Xiao dari batin ke batin.


An yang menyaksikan Yi Hua bertingkah aneh langsung mencubit kecil pinggang Yi Hua. Hal itu membuat Yi Hua menghentikan perdebatan ekslusifnya bersama Xiao. Dan, lebih peka pada keadaan di sekitarnya.


Inti dari segalanya, dia adalah Wang Zeming. Penasihat Kerajaan. Walau sampai sekarang dia masih tak mengerti mengapa dia bisa bertemu Wang Zeming pertama kali di penjara, tetapi Yi Hua hanya bisa diam saja.


Sebab, dia tak mungkin bertanya tentang keperluan Wang Zeming ketika memutuskan menginap di penjara, bukan?


"Puteri Li Wei tak mungkin bangkit. Itu adalah hal yang mustahil di dunia ini, Yang Mulia. Jika pun dia bangkit, dia hanya bisa menjadi cangkang manusia. Akan tetapi, tubuh Li Wei sudah lama lenyap dari dunia ini." Apa yang dikatakan oleh Wang Zeming terdengar sangat masuk akal.


Namun bagi Yi Hua yang mengalami kehidupan kembali seperti sekarang, dia akan memberikan nol besar untuk jawaban Wang Zeming. Jelas saja itu adalah rahasia dunia yang begitu luas ini. Tak ada yang tahu tentang kehidupan, terutama ketika manusia hanya partikel kecil layaknya serpihan dandelion di antara padang mawar.


Itu tak dipungkiri.


"Jika ada yang bisa menebarkan bencana dan kejahatan, maka itu jelas berasal dari pohon iblis," cetus salah satu Pejabat Tinggi yang ada di dekat Yi Hua.


Hal itu membuat Yi Hua menoleh dengan wajah tak percaya. Bagaimana bisa ini langsung dihubungkan dengan pohon iblis. Yang bahkan mereka tak tahu apakah pohon iblis ini benar-benar ada atau tidak. Itu hanyalah apa yang diceritakan tentang kekuatan Hua Yifeng.


Banyak yang mengatakan bahwa Hua Yifeng memiliki kekuatan yang besar karena dia bisa mengolah kekuatan yang ada di pohon iblis. Itu sama seperti tungku iblis di dalam diri Yi Hua. Bedanya, Yi Hua tak bisa mengendalikannya, sedangkan Hua Yifeng bisa.


Namun sejak awal Hua Yifeng tak ada di Lembah Debu.


"Maaf, Pejabat Mu. Biarkan saya menyela, tetapi Anda tak bisa mengarahkan ini pada Hua Yifeng. Ini berkaitan dengan Shen Qibo," ucap Yi Hua langsung.


"Saya Pejabat Jiang, Tuan Yi. Hanya Hua Yifeng yang bisa menciptakan kejahatan besar, meski hanya menjentikkan satu tetes darahnya," balas Pejabat Tinggi itu dengan wajah sebal.

__ADS_1


"Iya, maksud saya begitu, Pejabat Ji. Saya ada di sana dan saya bertemu dengan Shen Qibo, beserta mayat-mayat yang berserakan di sana. Bukankah ini lebih berkaitan dengan Shen Qibo?" jelas Yi Hua lebih lanjut.


"Saya Pejabat Jiang, Tuan Yi. Kami percaya bahwa Shen Qibo hanya bidak yang dimainkan oleh Hua Yifeng," balasnya lebih keras. Entah dia emosi karena namanya yang salah disebut atau dia emosi pada apa yang mereka bicarakan.


"Berdasar pada apa, Pejabat Biang memutuskan hal seperti itu? Pecahan ini sudah ada di Lembah Debu, dan menciptakan Lembah Debu. Waktunya sudah lama ada di sana. Itu juga bertepatan dengan waktu pembantaian yang dilakukan oleh Shen Qibo!" bantah Yi Hua berapi-api. Bahkan jika tak ditahan oleh An, mungkin Yi Hua akan menerjang Pejabat Jiang atau melemparnya dengan pecahan keramat yang ada di depannya.


Ternyata Yi Hua jauh tak terkendali daripada apa yang mereka pikir.


"Cukup."


Suara tenang itu menghentikan kedua orang yang berdebat dari situasi baku hantam. Bagaimana pun jika mereka terus berdebat, yang lainnya akan melihat kekerasan terjadi di sini. Terutama Yi Hua yang sekarang terlihat lebih lincah daripada biasanya.


"Persoalan ini memang jelas tak bisa dihubungkan begitu saja dengan Pemilik Gunung Hua. Sehingga Tuan Yi benar," ucap Raja Li dengan tenang.


Akan tetapi, tangannya terlihat berada di pelipisnya. Entah karena dia pusing atau kurang tidur, bisa juga karena banyaknya persoalan kerajaan yang datang. Mungkin Raja Li Shen perlu 'makan daging' setelah ini bersama salah satu selirnya. Sebab, katanya hal tersebut bisa mengurangi setres dan sakit kepala yang berlarut-larut.


^^^*makan daging, istilah yang bisa kalian bayangkan sendiri -_-. ^^^


"Hamba meminta waktu ..."


"Diamlah!" Raja Li Shen langsung membentak pada Pejabat Jiang yang ingin berbicara. Bagaimana pun dia tak ingin disela.


"Akan tetapi, saat melawan Hua Yifeng di gunung Hua, kau bisa selamat, Tuan Yi. Itu membuktikan bahwa kau memiliki kemampuan," lanjut Raja Li Shen sambil menatap Yi Hua tajam.


Yi Hua menatap Raja Li Shen tak mengerti. Bahkan dia lupa bahwa dia tak memiliki wewenang untuk menatap seorang raja. Sehingga mereka hanya berdoa semoga kepala Yi Hua tak lepas begitu saja.


Akan tetapi, bukankah orang yang gemar menebas kepala sedang berada di sisi Yi Hua?


Itu adalah An. Dan, pria itu entah sejak kapan lengket pada Yi Hua. Sehingga mereka jelas merasa Yi Hua tak akan mengalami apa-apa.


"Daripada mengatasi bencana yang tak kita ketahui dimana munculnya, lebih baik mengatasi bencana yang nyata. Hua Yifeng tetap dalam sumpahnya untuk menghancurkan Kerajaan Li," lanjut Raja Li Shen sambil menyunggingkan senyum yang mencurigakan.


Lalu?


"Yi Hua, jika kau bisa membunuh Hua Yifeng, maka aku bisa memberi piring emas untukmu."


Piring emas.


Sebuah simbol bahwa seseorang yang diberi akan menjadi kebal hukum. Dia tak akan mendapat hukuman mati, dan melupakan jejak-jejak kriminalnya. Hal itu jelas apa yang diinginkan oleh Yi Hua.


Akan tetapi, ....


Membunuh Hua Yifeng?


Ini seperti menebang pohon dengan secarik kertas!


Lagipula, Yi Hua ....


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Maaf ya jarang banget up, karena aku benar-benar sibuk. Entah kenapa urusanku jadi berbelit-belit dari orang lain. Ujung-ujungnya aku jatuh sakit karena pusing sendiri. Ya sudahlah, daripada curhat panjang-panjang ...


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2