Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Yi Hua yang Mengalahkan Titah Raja


__ADS_3

Raja Li diam-diam ikut merasa tercengang. Meski begitu, ia tak mengutarakan apa yang ia pikirkan. Entah mengapa ia merasa bahwa Yi Hua memiliki alasan.


Di lantai Zi Si masih menggelepar seperti akan kehabisan darah. Selir Wen juga sudah dilarikan keluar karena takut kejang-kejang, sesak napas, sariawan, sakit tenggorokan, serta susah buang air besar. Apapun itu, sedangkan seseorang menarik Yi Hua ke belakang.


Ketika ia menoleh ke belakang ia mendapati Tuan Pengawal sebelumnya. Pria itu menarik tangan Yi Hua untuk dibawa menjauh dari Zi Si. Pria itu bertindak tanpa diperintah, tetapi Raja Li Shen juga dengan anehnya tidak memberi titah.


Entah mengapa pengawal pribadinya malah mengevakuasi Yi Hua, padahal Yi Hua adalah penyerang di sini. Bukankah jika mereka tak percaya pada Yi Hua, pengawal ini bisa membekap Yi Hua sekarang juga?


Juga, mengapa tidak ada yang membantu Zi Si di lantai?


"Kau pasti punya penjelasannya, Tuan Yi?" tanya Raja Li yang memerintahkan para prajurit di sekitarnya untuk mengepung Zi Si.


Zi Si terlihat menumpahkan air matanya, "Hamba meminta keringanan hati, Yang Mulia ... Tetapi, ham ...ba tidak mengerti. Mengapa hamba diserang seperti ini?"


Sebenarnya Yi Hua juga kasihan. Akan tetapi, jika tidak seperti ini, maka semuanya akan terus berlarut-larut. Lain halnya jika Yi Hua punya waktu banyak. Dia hanya punya waktu sampai besok untuk menyelesaikan semuanya. Atau, orang-orang akan punya pajangan baru di alun-alun kota. Yaitu, kepala Yi Hua.


"Kau yakin bisa menyelesaikan ini semua?" tanya Xiao yang sepertinya sejak tadi terdiam. Entah makhluk itu tidur atau dia hanya malas bicara. Yi Hua tak bisa menebaknya.


Yi Hua tersenyum sekilas pada pengawal berwajah tenang itu. Kemudian, dengan canggung Yi Hua menarik lengannya dari tangan pria itu. Bagaimana pun dia tak bisa bertingkah malu-malu di sini. Mau malu-malu dan sebagainya, kepalanya lebih berharga dari itu semua.


"Zi Si, dimana kau menyembunyikan Putera Mahkota?" tanya Yi Hua langsung pad intinya.


Zi Si yang mulai merasa lemah tampak terkulai. Beberapa prajurit yang terbiasa dengan pertarungan di medan perang pun tak tega melihatnya. Akan tetapi, bagaimana bisa seorang peramal yang berwajah seperti perempuan ini bisa begitu tenang?


Mereka mulai mempertanyakan kejiwaan dari Peramal Yi Hua ini. Mungkin rumor bahwa Yi Hua sebenarnya dirasuki oleh iblis itu adalah benar. Mereka sudah melihat bukti nyatanya.


Katanya, penjara bawah tanah adalah tempat yang berhantu. Siapa saja yang ditempatkan di sana akan sangat menderita. Sehingga jika seorang penjahat yang ditempatkan di sana akan meminta langsung dieksekusi saja tanpa menunggu hari lagi. Jika tetap tak dieksekusi langsung, biasanya kau akan menemukan penjahat itu yang sudah bunuh diri.


Namun yang aneh di antara segalanya ialah peramal ini. Dia bisa bertahan nyaris tiga hari di dalam penjara bawah tanah kerajaan. Lalu, keluar dengan keadaan sehat. Masih cantik seperti yang dikisahkan, dan bertambah sombongnya.


Sehingga banyak yang bercerita mungkin Yi Hua telah dirasuki oleh hantu yang ada di sana. Oleh karena itu, dia bertahan hingga tiga hari, dan bahkan sekarang mereka melihat bagian kejam dan haus darahnya.


Tuan Pengawal yang berdiri di belakang Yi Hua menatap jubah peramal Yi Hua yang ternoda darah. Tak lama ia melepaskan pakaian bagian luarnya untuk diberikan pada Yi Hua. Bahkan pria itu melakukannya tanpa memperdulikan tatapan tak mengerti dari Yi Hua.


"Seorang bunga yang cantik harus tetap dibiarkan cantik," ucap pria itu sebelum ikut bergabung dengan prajurit yang mengepung Zi Si.


"Bagaimana rasanya dirayu oleh seorang pria?" tanya Xiao dengan nada menggoda.


Apakah orang itu tahu jika aku adalah seorang gadis? Atau, dia tak tahu tetapi dia ...


"Kenapa kau hanya diam saja, Tuan Yi! Tolong jelaskan apa yang terjadi di sini?" tanya Raja Li Shen yang mulai gerah dengan semua ini.


Belum lagi dengan Yi Hua yang terlihat begitu santai dan ... Tidak terlihat perduli padanya seperti dahulu. Sungguh perubahan yang sangat signifikan. Bahkan hanya dalam tiga hari.


"Hamba tak bisa melakukan apa-apa jika Zi Si tidak memberitahu kita tentang lokasi Pangeran, Yang Mulia," jelas Yi Hua apa adanya.


Zi Si menatap Yi Hua dengan penuh permohonan. Bahkan jika gadis pelayan itu bisa memohon di bawah kaki Yi Hua, dia akan melakukannya. Apa saja agar seseorang membantunya untuk membalut luka.


"Tuan Yi, berikan saya kemudahan."


Yi Hua merapatkan pakaian bagian luar dari pria pengawal sebelumnya di bahu. Kemudian, ia berjalan menuju Zi Si dan para prajurit segera membuka jalan untuknya. Termasuk pria pengawal yang selalu menangkap mata Yi Hua.


Ini sedikit aneh, padahal mereka tak pernah mengenal sebelumnya. Dari Xiao dia juga tahu bahwa Yi Hua asli juga tak mengenal pria ini. Sehingga tak akan ada benang merah di antara dia dengan pengawal itu.


Hanya saja ...


"Zi Si, kau yang menyakiti Putera Mahkota selama ini."


HUH?

__ADS_1


Semua orang merasa seperti Yi Hua berbicara dengan bahasa yang berbeda dengan mereka. Lebih tepatnya lagi mereka tak menduga jika Yi Hua akan sekonyol ini dalam menyelesaikan masalah. Mereka jelas tahu bahwa Yi Hua sedang terdesak, sehingga dia harus menyelesaikan kasus ini segera untuk menyelamatkan hidupnya.


Namun ...


Pria pengawal sebelumnya langsung menarik tangan Zi Si yang tersisa untuk ditunjukkan pada Yi Hua. Bahkan wajah tenang pria pengawal itu tidak terganggu meski ia tengah merenggut kasar tangan orang lain. Yi Hua tercengang dengan pengawal ini yang seolah sangat misterius.


"Apakah Tuan Yi berpikir bahwa kuku pendek ini bisa menggores Putera Mahkota?" tanya pria pengawal itu bukan dengan nada menuntut.


Yi Hua menggelengkan kepalanya, "Itu bukan tangannya."


Apa lagi ini?


Yi Hua langsung mengeluarkan kertas-kertas aneh dari sakunya. Ini Yi Hua dapatkan saat dia mencuri jimat pengusir tikus itu. Ia tak menyangka jika itu akan berkaitan dengan kasus ini. Sungguh keadaan yang tak terduga.


"Berapa kali pun kita memotongnya, tangan Zi Si akan muncul lagi nanti," jelas Yi Hua sambil menunjuk pada tangan berlumuran darah yang ada menempel ke dinding.


Raja Li mengangkat sebelah alisnya, "Apa kau bermaksud jika Zi Si adalah iblis, Tuan Yi? Bukankah kau memiliki mata untuk melihat dia tengah kesakitan sekarang? Aku tak melihat bahwa tangan Zi Si bertumbuh sekarang.


Zi Si berusaha bangkit dari posisi berbaringnya hanya untuk bersujud. Akan tetapi, Yi Hua dengan teganya menendang gadis pelayan itu untuk kembali berbaring. Hal itu semakin memperkuat dugaan mereka jika Yi Hua yang ini sangat berbahaya.


"Hamba tidak mengatakan bahwa Zi Si adalah iblis, Yang Mulia."


Lalu, peramal ini maunya seperti apa?


Raja Li Shen segera menuju ke arah pedangnya yang tertancap ke dinding. Tatapannya begitu dingin seolah dia telah begitu bodoh selama ini. Bagaimana bisa dia mempercayai Yi Hua?


Sejak awal tidak ada yang beres tentang peramal ini karena dia banyak membual. Berubah sedikit menjadi orang yang terlihat cerdas seharusnya tak membuat Yi Hua menjadi orang pintar sungguhan. Raja Li Shen seharusnya memberikan Yi Hua eksekusi lebih cepat.


"Bawa dia kembali ke penjara bawah tanah," ucap Raja Li Shen sambil menggenggam ganggang pedangnya.


"Jangan dicabut, Yang Mulia!" Yi Hua mendadak bergerak ke arah Raja Li Shen.


"Yi Hua mengapa kau tidak langsung menebas kepala pelayan itu agar mereka tahu siapa dia sebenarnya?"


Yi Hua berusaha berbicara. "Jangan dilepaskan sampai Zi Si mengatakan dimana Putera ... ummphh."


STAK!


Yi Hua merasa aroma karat di dalam mulutnya. Ia segera tahu bahwa mulutnya telah berdarah. Tentu saja mulutnya berdarah karena bibirnya menyentuh lantai begitu saja. Sungguh penderitaan tersendiri yang dialami oleh Yi Hua.


SRAT


CRASH


"An!" Raja Li Shen yang sudah mencabut pedangnya kini menatap geram pada pria berwajah tenang yang ada di hadapannya.


Bahkan setelah pria pengawal itu menebas pada prajurit yang menekan Yi Hua ke lantai wajahnya masih sama tenangnya. Bahkan pengawal itu hanya menarik senyum tipis untuk memberi penghormatan pada Raja Li Shen.


"Maafkan atas tindakan gegabah hamba, Yang Mulia. Akan tetapi, kita harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tuan Yi," jelas pengawal itu yang menunjukkan dukungan untuk tindakan Yi Hua.


Yi Hua berusaha bangkit dari lantai dengan aliran darah yang mengalir dari bibirnya. Itu karena ia tanpa sadar melukai bibir dan lidahnya saat ditekan ke lantai. Melihat darah yang mengalir itu, pria pengawal itu mengerutkan keningnya. Tatapannya terlihat sangat berbahaya.


Bagaimana bisa seorang pengawal memiliki tatapan seperti itu?


Bahkan Raja Li Shen pun ikut tercekat seolah dia tak percaya bahwa pria ini memiliki kemampuan untuk mengintimidasi lebih keras dibanding dirinya. Sehingga ia hanya bisa melakukan apa yang diminta oleh pria pengawal ini.


Ruangan Putera Mahkota itu entah mengapa telah menjadi seperti rumah jagal. Ada darah dimana-mana, dan bahkan mengenai kasur Putera Mahkota. Akibat dari leburan darah itu, tak ada yang menyadari bahwa potongan tangan yang terlepas dari tusukan pedang kini berjalan dengan seperti belut. Tangan itu melintasi ceceran darah dan seolah mandi di sana.


Yi Hua merasakan getaran dari kertas yang masih ia genggam. Berbicara kembali tentang apa yang ditemukan Yi Hua saat dia mengambil jimat pengusir tikus itu, dia juga tanpa sengaja mengambil jimat suci. Itu adalah jimat yang biasanya ada untuk menjadi pajangan depan rumah.

__ADS_1


Biasanya untuk menghindari energi buruk, jimat ini disebar di dinding-dinding rumah mereka. Akan tetapi, yang Yi Hua sadari ialah sejak awal di istana kerajaan Li, entah mengapa jimat ini semuanya dipatahkan.


Hanya segelintir orang yang bisa mematahkan pengaruh jimat. Yang pertama ialah yang membuatnya, itu pun jika jimatnya tak terlalu kuat. Dan, yang kedua adalah seseorang yang memiliki kekuatan besar.


Jimat yang lainnya terpatahkan, kecuali yang ada di tangan Yi Hua. Itu karena dia tidak dipasang, dan hanya dibuat. Oleh karena itu, jimat itu masih bisa merasakan getaran buruk.


"Hamba merasakan jimat ini bergerak keras semenjak hamba diantar oleh Zi Si tadi pagi," jelas Yi Hua yang mengingat seluruh keanehan yang menangkap mata.


Akan tetapi, Yi Hua masih tak memiliki bukti yang jelas. Semuanya menjadi lebih jelas ketika Putera Mahkota menghilang. Dan, itu malah mempermudah Yi Hua menyimpulkan segalanya.


"Tentu saja yang menculiknya adalah orang yang terakhir kali bersamanya. Itu sangat sederhana. Kejadian di ruang tertutup ini sudah menjadi bukti paling jelas di antara segalanya. Pelakunya tentu saja yang berada di ruangan yang sama dengan Putera Mahkota."


"Kau membuatku khawatir karena ku kira kau bodoh!"


Yi Hua merasa ingin menendang Xiao jika dia bisa. Sayang sekali makhluk itu adalah sesuatu yang abstrak. Tak bisa dijelaskan, bahkan secara teori dunia sekali pun. Kecuali jika kau menciptakan teori baru.


Mungkin Zi Si merasa jika Putera Mahkota menghilang secara ganjil, maka yang akan disalahkan adalah iblis atau energi buruk. Sayangnya, ruangan yang rapi itu bukan rapi secara alami. Namun dirapikan kembali.


Namun Raja Li Shen segera menatap pada Zi Si yang sudah terbaring dengan pucat. Gadis pelayan itu sudah mati sejak tadi, dan Yi Hua masih memberikan penjelasan dengan sombong?


Raja Li Shen tak tahu lagi bagaimana harus menanggapi semua ini.


Belum sempat Li Shen ingin mengatakan apa-apa. Suara dentuman terdengar dari dinding kediaman Putera Mahkota. Mereka semua memandang ke arah yang sama, yakni pada dinding yang jebol.


"Tangannya melarikan diri!" teriak Yi Hua pada pengawal sebelumnya. Entah mengapa dia merasa pria itu lebih kuat dari siapapun di ruangan ini.


Tanpa menunggu perintah dari Raja Li Shen, pengawal itu sudah melompat cepat menuju lubang dinding. Gerakannya cepat hingga membuat prajurit lain mendadak ingin menepuk tangannya. Namun mereka masih ingat jika Raja Li Shen masih ada di sini.


Juga, ...


Siapa yang Raja di sini? Mengapa Pengawal itu terlihat seperti hanya menuruti ucapan dari Yi Hua?


Raja Li Shen merasa dia terlalu muda untuk menghadapi seluruh fenomena dunia ini. Bagaimana bisa musuh mereka selama ini adalah sebuah tangan?


Yi Hua juga meraih pedang milik Raja Li Shen dengan cepat. Hal itu membuat para prajurit tercengang. Pasalnya mereka lupa sendiri siapa yang berkuasa di sini.


Hey, bukannya Raja kalian masih ada di sini?


Akan tetapi, kedua orang energik itu sudah melintas keluar dari lubang dinding untuk keluar dari kediaman Putera Mahkota. Meninggalkan Raja Li Shen yang menunjuk dirinya sendiri dengan gestur paling takjub sedunia.


"Raja Li masih di sini, bukan?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Sayangnya, para prajurit yang lain mendadak mengikuti Yi Hua yang sudah menghilang dari pandangan. Mereka lebih tertarik untuk berburu tangan berjalan itu daripada menunggu titah Raja.


Sungguh. Hanya karena Yi Hua yang terlihat santai padanya, dan semua orang juga ikut menjadi santai.


Mengapa pengaruh Yi Hua menjadi begitu besar?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Ini adalah cerita ketiga author di aplikasi ini. Namun yah masih kacau seperti biasanya, dan jangan sampai masih ada yang heran. Ini adalah takdir alam bahwa author adalah orang yang seperti ini.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2