Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Daerah Kekuasaan


__ADS_3

"Baiklah, HuaHua ... Begini ..."


Yi Hua menunggu hingga Xiao melanjutkan ucapannya. Akan tetapi, sistem itu tak melanjutkan ucapannya yang mengambang itu. Bahkan Yi Hua sudah sempat menahan napas apabila Xiao mengatakan sesuatu yang aneh. Dan, Yi Hua telah melakukan hal yang sia-sia.


"Jika kau takut pada Hua Yifeng harusnya kau memberitahu aku dari kejauhan!" omel Yi Hua yang kali ini menarik perhatian sekelilingnya. Suaranya tetap bernada tinggi dan seimbang, dan itu membuatnya sangat mencolok. Apalagi dia tengah berbicara sendirian.


Yah, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh orang-orang.


Pasalnya Yi Hua baru saja mencapai Pusat Kota saat malam tiba. Dan, Xiao busuk ini baru muncul kembali setelah Yi Hua sempat tidur siang di dalam kereta. Bayangkan betapa tak berguna sistem ini!


Yi Hua melirik ke sekelilingnya, dan segera tahu jika dia tengah diperhatikan banyak orang. Hal itu membuat Yi Hua tersenyum lebar demi kesopanan. Akan tetapi, orang yang diberi senyum oleh Yi Hua malah pura-pura sibuk. Yi Hua terkadang geram sekali ingin menendang kepala orang yang seperti itu.


Namun yah ... Ini sudah takdir alam jika dia hidup dengan kendali sistem.


"Aku sudah bilang, HuaHua! Beberapa saat yang lalu aku tak bisa mengingatnya. Ini seperti ada sesuatu yang menghalangi kendali sistem," ujar Xiao dengan semangat. Seolah sistem ini tak ingin disalahkan begitu saja.


Tentu masih menjadi misteri mengapa Xiao tak bisa berfungsi saat Hua Yifeng di sekitar Yi Hua. Bahkan Xiao tak bisa mendeteksi kedatangan Hua Yifeng. Apakah itu karena aura iblis Hua Yifeng yang membuat Xiao lemah? Bahkan tungku iblis di dalam diri Yi Hua bereaksi ketika Hua Yifeng menyentuh Yi Hua di bagian jantung. Seperti tumpukan api yang ditambahkan kayu bakar yang sangat kering.


Yi Hua memutuskan untuk tidak perduli pada orang di sekelilingnya. Ia sudah biasa disebut sebagai sampah, pendosa, peramal busuk, dan sebagainya. Jika ditambah lagi dengan gelar 'orang gila' itu tak akan berarti apa-apa.


Sebenarnya menjadi apapun dirimu, kau memang selalu memiliki orang-orang yang pandai menilai dirimu. Sebaik apapun, sempurna seperti apapun, pihak membenci dan menyukai akan selalu ada. Sehingga Yi Hua tak perlu lagi mempermasalahkannya.


Yi Hua berjalan lambat sambil menyaksikan lentera-lentera jalan yang baru saja dinyalakan. Tak lama lagi malam datang, dan jalan masih padat dengan orang-orang yang berlalu lalang. Akan tetapi, itu tak akan berlangsung lama, sebab ketika malam semakin tua orang-orang akan kembali ke rumah.


Ingatlah ... Kehidupan mereka bersinggungan dengan hal-hal yang menakutkan. Lebih baik untuk berada di rumah saat malam datang.


"Akan tetapi, jika kau tak mengarang cerita, maka kau adalah orang yang paling beruntung, HuaHua," cetus Xiao lagi.


Beruntung? Kau tak lihat betapa sialnya aku selama ini?!


Mendadak Yi Hua ingin berseru histeris untuk menanggapi ucapan Xiao.


"Maksudku adalah kau satu-satunya orang yang kembali dalam keadaan utuh dan hidup setelah menyinggung Hua Yifeng," jelas Xiao dengan takjub. Yi Hua bahkan bisa mendengar tepuk tangan dari Xiao yang notabenenya tak jelas bentuknya. Entah darimana arah dari suara tepuk tangan itu muncul.


Dunia begitu rupa-rupa keajaibannya.


"Jadi, ... Ini hanya cerita yang pernah beredar di Kerajaan Li. Yi Hua asli juga mengetahuinya. Namun kau tahu di antara lima pendosa, hanya Puteri Li Wei yang sudah dianggap tiada. Gadis itu hanya bagian dari sejarah, tetapi keempat pendosa lainnya masih ada di dunia ini," jelas Xiao seperti mendongeng.


Yi Hua menggaruk kepalanya yang memang gatal. Ia seharian berada di luar rumah, bahkan berkeringat begitu banyak. Seharusnya ia segera pulang dan membersihkan diri sekarang.


"Bisakah kau langsung mengatakan poin dimana aku beruntung? Sebab, kau tahu jika aku merasa sangat kesal saat bertemu dengan Hua Yifeng ini!" ucap Yi Hua pelan. Ia tentu belajar dari pengalaman lama, dan tak ingin berteriak aneh.


Di mata orang lain, Yi Hua sekarang sendirian. Hanya dirinya yang tahu tentang sistem busuk bernama Xiao ini.


"Dengarkan dulu, manusia! Aku ingin kau lebih tahu tentang tingkatan bahaya di dunia ini. Kau tahu ... Dahulu Zhang Yuwen, Si Tirai Darah, pernah digantung terbalik oleh Hua Yifeng? Kau tahu penyebabnya karena apa? Hanya karena Zhang Yuwen terlihat oleh mata Hua Yifeng," ucap Xiao histeris.


Tentu saja Yi Hua tahu tentang Zhang Yuwen. Itu adalah salah satu pendosa yang punya wilayah berburu tersendiri. Zhang Yuwen terkenal dengan gaya membunuhnya, yaitu mayat terbalik.


Kau pasti pernah mendengar tentang mayat terbalik sebelumnya. Itu karena cerita ini telah melegenda. Katanya, jika kau masuk ke hutan malam hari, maka kau akan mendengar syair terlarang dari Zhang Yuwen. Lalu, kau akan mengikuti ke arah suara dan esoknya kau tak akan tergantung di pepohonan untuk dikeringkan oleh Zhang Yuwen.


Jika kau punya jumlah kesialan yang banyak, lebih baik berdoa agar tak bertemu dengan Zhang Yuwen.

__ADS_1


Namun inti dari yang diceritakan oleh Xiao adalah Zhang Yuwen pun takut pada Hua Yifeng. Dan Iblis Kehancuran, Hua Yifeng ini bahkan menggantung Zhang Yuwen seperti mayat tergantung lainnya? Alasan yang paling konyol adalah itu karena Zhang Yuwen 'hanya' terlihat di depan mata Hua Yifeng!


Ini bahkan bukan salah Zhang Yuwen, tetapi dia digantung oleh Hua Yifeng. Untung saja dia iblis, sehingga tak akan mudah mati. Setahu Yi Hua masing-masing iblis punya kelemahan, dan biasanya tak semua orang tahu kelemahannya. Jelas sekali para iblis menyembunyikan kelemahannya, bukan?


Namun, dari cerita ini saja Yi Hua tahu jika Hua Yifeng benar-benar tak bisa ditebak. Dia kejam, tak masuk akal, dan juga tak takut pada apapun. Dan, Yi Hua mulai menyadari bahwa dia mungkin agak beruntung hari ini.


"Tetapi, aku hanya berusaha melarikan diri, Xiao. Makanya aku beberapa kali menyerangnya," bela Yi Hua.


Xiao mengeluh lagi. "Beberapa kali katamu! Itulah yang sangat aneh. Jika orang lain, maka tak ada beberapa kali lagi. Sekali saja dia sudah naik ke langit dan disebut mendiang," tegas Xiao yang mengasihani kebodohan Yi Hua.


Belum lagi dengan cerita tentang Hua Yifeng dan pedang Li Wei-nya yang menakutkan. Pemilik Gunung Hua itu memiliki banyak reputasi yang buruk dalam masalah kemanusiaan. Lalu, Yi Hua mengatakan bahwa dia sebelumnya berdebat dengan Hua Yifeng.


"Mungkin Hua Yifeng tahu bahwa hidupku susah, makanya dia mengasihani ku. Sudahlah, Xiao. Tak perlu berpikir terlalu jauh," ucap Yi Hua yang berusaha menjauhkan pikiran aneh di kepalanya.


Bagaimana pun dirinya juga belum tahu tentang dirinya sendiri.


"Terkadang kau perlu berpikir cukup jauh Yi Hua. Dunia ini tidak berjalan biasa, dan banyak hal yang terlihat tak mungkin. Namun itu terjadi," ucap Xiao berfilosofi.


Mau tak mau Yi Hua mengangguk.


"Aku masih penasaran, mengapa kau berkata tentang para pendosa lagi? Apa ada sesuatu di antara kelima orang itu?" tanya Yi Hua penasaran.


Tentang kelima orang itu ... Yi Hua menyadari bahwa mereka adalah bagian yang dihindari di dunia ini. Ada banyak rumor tentang mereka, terutama Puteri Li Wei. Hal itu karena orang-orang mengasihani takdir yang beralih dengan kejam.


Puteri Li Wei.


Dahulu Puteri Li Wei adalah Puteri Kerajaan Li yang sangat dibanggakan. Gadis itu cerdas, cantik, dan sangat berbakat. Bahkan gadis itu pernah disebut-sebut sebagai kandidat Raja selanjutnya. Yah, gelar Raja Wanita pertama mungkin hampir diraih oleh Puteri Li Wei. Semua orang menyukai gadis itu. Sehingga Puteri Li Wei menjadi lambang kecantikan di Kerajaan Li.


"Untuk masalah ancaman, kau tak perlu takut karena Puteri Li Wei hanya bagian dari sejarah Kerajaan Li. Dia adalah pendosa yang tak boleh disebut bukan karena takut pada Puteri Li Wei. Itu hanya karena kau bisa disebut pengkhianat hanya karena membelanya," jelas Xiao begitu saja. Seperti yang Yi Hua duga, Xiao tak akan menjelaskan begitu banyak.


"Lalu, tentang mereka yang lainnya? Apakah mereka bermusuhan?" tanya Yi Hua.


Contoh nyata ialah tentang cerita Hua Yifeng menggantung Zhang Yuwen. Tak ada sama sekali keakraban di sana.


"Mereka tidak bermusuhan, HuaHua. Namun tidak juga berbaikan satu sama lainnya. Selama tidak mengganggu urusan dan wilayah masing-masing, mereka tak akan bertarung," jelas Xiao dengan nada malas.


"Wilayah?" Yi Hua jelas sangat buta tentang dunia ini.


Ia terlahir dengan kosong. Tanpa ingatan, pengetahuan, dan identitas. Bahkan misi hidupnya adalah berusaha mengingat kembali tentang siapa dirinya. Dan, sekarang pun tak ada titik terang dari itu semua.


"Baiklah, abaikan tentang Puteri Li Wei. Namun kau sudah bertemu dua di antara mereka, bukan? Itu adalah Hua Yifeng tercintamu dan Shen Qibo. Hua Yifeng adalah penguasa di Gunung Hua, kau pernah ke sana. Shen Qibo juga berada di wilayah Lembah Debu, kau juga pernah ke sana," lanjut Xiao lagi.


Benar.


Yi Hua pernah bertemu dengan Shen Qibo, Pendeta Buta yang misterius itu. Lalu, Hua Yifeng ...


Yi Hua mendadak ingin menendang kepala Xiao yang menyebalkan. Bagaimana bsia dia selalu mengejeknya setiap kali membahas tentang Hua Yifeng.


"Tentang Zhang Yuwen, ... Kau pernah masuk ke hutannya dan melihat mayat tergantung. Kau cukup beruntung karena tak bertemu dengan Zhang Yuwen kala itu, dan kau bersama An. Itu cukup aneh saat Zhang Yuwen tak keluar saat kau memasuki wilayahnya," lanjut Xiao yang seperti menarik napas.


Sesungguhnya Xiao sangat benci menjelaskan. Namun ini adalah tugasnya ...

__ADS_1


"Lalu, Tengkorak Putih, Bao Jiazhen. Itu adalah iblis yang wilayah kekuasaannya cukup jauh. Bahkan itu tak masuk wilayah Kerajaan Li. Dia berada di sekitar laut lepas. Itu adalah wilayah kekuasaannya. Akan tetapi, tak ada yang tahu rupa Bao Jiazhen. Banyak yang menyebut jika Bao Jiazhen ini adalah tipe yang tak akan mengganggu jika tak diganggu. Selama kau tak masuk ke wilayahnya, maka kulitmu masih akan melekat di tulang," ujar Xiao yang menyudahi penjelasannya tentang para pendosa yang ditakuti oleh para manusia ini.


Bao Jiazhen adalah Tengkorak Putih. Jika dia mengutuk, maka seseorang hanya bisa menjadi tulang putih saja. Beberapa cerita tengang Si Tengkorak Putih ini, tetapi tak ada jaminan tentang kebenarannya. Itu semua karena Bao Jiazhen tak begitu sering muncul di kehidupan manusia. Tak juga membuat kerusuhan seperti Zhang Yuwen yang sering berburu manusia.


"Tenang saja, Xiao. Aku sekarang sedang mempelajari mantra agar tidak sial. Pasti tak akan masalah lagi, bahkan sampai berurusan lagi dengan kelima orang itu," ujar Yi Hua sambil menepuk dadanya bangga.


Ia menatap kediamannya yang sudah mulai terlihat. Yi Hua bahkan sudah membayangkan betapa tenangnya kediaman sederhana miliknya itu. Ia akan membersihkan diri, dan tidur seperti sapi. Yi Hua memang lapar, tetapi ia bisa makan di dalam mimpinya saja. Itu karena dia sudah sangat lelah.


Yi Hua bahkan berjalan dengan semangat, dan ...


SRET!


"Di sini juga kau anak sial ..." Suara menyebalkan itu membuat Yi Hua ingin menendang ke arah suara.


Bisakah aku punya hidup yang tenang? Jauh dari kesialan dan berkeliaran seperti burung di langit?


Sayangnya wajah menyebalkan Shi Qingnan, sepupunya, semakin membuat Yi Hua sebal. Meski di hidup ini, keluarga Shi adalah satu-satunya kerabat Yi Hua, tetapi mereka tak pernah benar-benar menjadi kerabat. Bahkan mereka tak begitu perduli pada Yi Hua, meski ayah Yi Hua berasal dari keluarga itu. Mereka sering menyebut ayah Yi Hua sebagai orang gagal dan sebagainya. Begitu juga dengan Yi Hua ini.


Tentang ibunya ... Yi Hua sendiri tak mengetahuinya. Mungkin ibu Yi Hua-lah yang memiliki nama keluarga 'Yi'. Oleh karena itu, dia diberi nama Yi Hua. Sedangkan ayah Yi Hua memiliki nama keluarga 'Shi'.


Dan, juga ...


Anak sial katanya ....!!


"Kau harus menikahi Ming Fan, s*alan! Bagaimana bisa kau membiarkan dia membesarkan anakmu sendirian?" cerca Shi Qingnan sambil menunjuk ke depan wajah Yi Hua.


HUH?


Yi Hua bahkan tak bisa menutup mulutnya sendiri karena dia bingung. Seandainya dia tak bingung, mungkin dia akan mematahkan jari Shi Qingnan yang teracung di depannya. Sayangnya, Yi Hua sedang bingung dengan dunia yang begitu ajaib.


"Apa ...? Ming Fan?" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Yi Hua yang tak bisa tertutup akibat keterkejutannya.


Ia tak merasa bahwa telinganya bermasalah atau apapun. Sehingga pendengarannya tak mungkin salah. Lalu, apa yang salah di sini?


"Kau tak usah pura-pura bodoh? Setelah kau menolak untuk dinikahkan dengan Ming Fan, kau malah menodainya. Yi Hua, kau adalah orang yang sangat buruk." Shi Qingnan tak henti-hentinya menghina Yi Hua.


Namun entah mengapa hinaan itu tak menyakiti hatinya. Semua itu karena dia tak merasa jika yang dibahas ini adalah dirinya. Apalagi tentang ... memiliki anak dengan seorang gadis?


Hey, ...!!!


Bagaimana caranya??


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2