
"LI WEI!"
Teriakan keras itu nyaris menulikan telinga siapa saja yang mendengar.
Semua orang tahu jika yang berteriak kehilangan rasionalitasnya.
Liu Shang yang menahan Hua Yifeng menyadari perubahan dari diri pria itu. Mendadak tubuh Hua Yifeng menjadi sangat panas seperti air yang baru mendidih. Belum lagi dengan darah hitam yang keluar dari mata Hua Yifeng.
TING!
TING!
Tombak yang dicabut Hua Yifeng dari tubuhnya sendiri terlempar ke lantai. Pria itu sudah menuju ke arah Li Wei yang dihiasi oleh darah. Tangan Hua Yifeng dengan bergetar menyentuh wajah cantik Li Wei yang pucat.
Mengapa kau hanya menutup mata cantikmu?
"Tangkap dia, Jenderal Liu!" teriak Xin Wantang sebal.
Setelah berkata itu, pria serakah itu kembali memuntahkan darah segar. Liu Shang mengikuti apa yang dikatakan oleh Xin Wantang. Akan tetapi, Hua Yifeng mendadak mengulurkan tangannya.
SRAT!
Pedang hitam yang awalnya ada di tangan Xin Wantang mendadak memberontak. Hal tersebut membuat Xin Wantang berteriak ketika mata pedang melukainya beberapa kali. Dan ...
PRAK!
Sarung pedang milik Hua Yifeng ... Atau kau bisa menyebutnya milik Li Wei. Seingat Liu Shang, Li Wei menyebut sarung pedang itu sebagai Lingkaran Mawar. Sarung pedang itu dengan sangat misterius menjadi patah beberapa bagian. Yang tersisa hanya pedang hitam Hua Yifeng yang terbang dengan aura merah yang mengelilinginya.
Apa sarung pedang ini terhubung dengan jiwa Li Wei?
GRIIIITT
Liu Shang melompat menjauh dari Hua Yifeng ketika akar-akar berwarna merah melintas dari segala penjuru. Dari mana asalnya benda itu?
Akar itu seperti memiliki cakar di setiap ujungnya. Akar itu menuju ke arah Liu Shang, dan mengikat Liu Shang dengan erat. Cakar-cakar di ujung akar menusuk tubuh Liu Shang saat akar itu melilitnya seperti ular.
"Ughh ..." Liu Shang menjerit kesakitan. Darah Liu Shang mengalir di setiap lukanya.
Xin Wantang yang melihat itu berniat untuk melarikan diri, tetapi ... Batu terus menumbuhi kakinya. Menempel seperti telah menjadi bagian dari kulitnya sendiri. Hingga ia hanya bisa merangkak.
"Kalian para pejabat ... Tolong aku!" teriak Xin Wantang pada orang-orangnya yang juga ketakutan.
Ditambah lagi sekujur tubuh mereka dipenuhi oleh batu. Sehingga mereka berusaha mengorek batu itu dari tubuh mereka. Itu menyebabkan luka-luka semakin banyak di tubuh mereka. Dari luka itu muncul batu yang lebih banyak lagi.
Tak ada yang bisa dihentikan.
SRAK!
"Tuan ... Ampu ...ni ... Kami. Tuan ... Kami tak membunuh Putri Li Wei, Raja Xin Wantang yang membunuhnya." Seorang pejabat Kerajaan Xin memohon sambil berusaha merangkak menuju ke arah Hua Yifeng.
Akan tetapi, akar-akar yang tumbuh di sekitar mereka berwarna merah darah. Akar itu melilit mereka dan melukai mereka secara bertubi-tubi. Kemudian, pedang hitam Hua Yifeng terbang ke arah mereka dan menusuk ke jantung mereka.
SLAP!
SPASH!
Percikan darah mengenai lantai ruang Pengadilan Tinggi Kerajaan Li. Orang-orang Kerajaan Xin itu mati dengan darah mereka yang menggenang di sepanjang lantai. Yang tersisa hanya Liu Shang dan Xin Wantang. Bahkan Liu Shang pun tak bisa melawan, dan terikat dengan darah yang terus mengalir akibat lukanya. Jika tak dibunuh pun Liu Shang akan tetap mati kehabisan darah. Sebab, akar-akar setajam pisau itu terus menyayat kulitnya. Sedangkan Xin Wantang berusaha menyeret tubuhnya sendiri untuk menjauh dari Hua Yifeng.
"Apakah kalian tahu kata cukup?" tanya Hua Yifeng dengan suara yang tajam.
KRAK!
"AKKHHHH!" Liu Shang semakin menjerit ketika cakar itu menyobek kulitnya dengan keras.
GRAK!
"Kau ..."
BUGH!
"UGH"
Liu Shang mendadak terlempar ke lantai oleh akar itu. Dan dililit kembali seperti mencekik keras. Di sana Liu Shang langsung melihat aura hitam yang mengelilingi Hua Yifeng. Udara di sekitar mereka juga menjadi sangat dingin.
Ada yang salah dengan pria ini
Rasa duka Hua Yifeng telah menjadi dendam yang paling besar. Hua Yifeng menenggelamkan dirinya dalam bisikan iblis. Bola matanya menjadi merah, dan simbol api di pipinya menjadi semakin merah terang. Pria ini menjadi seorang iblis dengan mudah.
Lebih dari segalanya ... Hua Yifeng telah kehilangan dirinya sebagai seorang manusia.
Namun apa makna dari 'manusia' ini sebenarnya?
Apakah dengan menjadi manusia maka kau bisa memiliki kemanusiaan?
Hua Yifeng yang dikelilingi oleh kegelapan menatap tajam pada Liu Shang. "Apakah kalian berhenti menyakiti Li Wei saat ia meminta kalian berhenti?" tanya Hua Yifeng dengan suaranya yang seperti bergema.
Xin Wantang menggelengkan kepalanya. "Aku akan memberikanmu banyak uang. Juga, tahta di Kerajaan Li ... Kau bisa menjadi Raja! Tapi ..."
SRAT!
"AKHHHHH!!" teriak Xin Wantang keras ketika pedang hitam Hua Yifeng memotong pada tangannya yang hampir menjadi batu keseluruhan.
Darah hitam mengalir dari kedua mata Hua Yifeng. Entah itu karena pendarahan atau mungkin pria itu tengah menangis. Tak ada yang tahu tentangnya.
Hanya saja ...
"Aku tak pernah ingin menjadi Raja," bisik Hua Yifeng pelan.
Ia hanya ingin melihat gadis cantiknya lagi. Melihat Li Wei berkeliling di sekitarnya dengan ceria.
__ADS_1
Seperti di Pelatihan Awan.
Gadis itu selalu mengikuti Hua Yifeng untuk diajari berbagai gerakan bertarung. Sekarang ...
Dia pergi.
Hua Yifeng tak memperdulikan Xin Wantang yang berteriak dengan keras saat tubuhnya terus kesakitan. Darahnya mengalir dari kakinya yang hilang. Belum lagi dengan batu yang terus menggerogoti tubuhnya.
"Ampunii aku ... Aku akan melakukan apapun ... Liu Shang tak berguna! Mengapa kau terikat di sana, Bodoh?! Selamatkan aku ... Ughhh ..." teriak Xin Wantang seperti orang gila.
Akan tetapi, Liu Shang juga tak bisa melakukan apa-apa.
Pedang Hua Yifeng kembali ke tangan pria itu, dan Hua Yifeng menggenggamnya.
"Jika ada yang bisa aku sesali ... Mungkin karena aku bertuan pada orang yang salah," ucap Liu Shang dengan wajah tenang.
Mengapa kau tak menyadarinya lebih awal?
Kemarahan Hua Yifeng begitu besar. Hua Yifeng berjalan ke arah Liu Shang dan ...
BUGH!
"UGH!"
Pukulan Hua Yifeng mengenai wajah Liu Shang.
BUGH!
Lagi.
Pukulan lagi.
BUGH!
"Ughh .... BLAR ..." Liu Shang memuntahkan darah ketika pukulan Hua Yifeng terus mengenai wajahnya.
GRAK!
Tombak yang awalnya tergeletak di lantai pun terbang seperti di tiup oleh angin. Melihat itu Liu Shang tersenyum lemah dengan wajah yang sudah dipukuli oleh Hua Yifeng beberapa kali. Meski begitu, mata merah Hua Yifeng membuat Liu Shang menyadari kematiannya sendiri.
Pria ini jelas bukan manusia lagi. Dia adalah iblis, dan tak akan membiarkannya hidup lagi.
SRET!
JLEB!
Tombak itu terbang dan menusuk ke perut Liu Shang. Sama seperti yang dilakukan oleh Liu Shang pada Hua Yifeng sebelumnya. Hal tersebut membuat mata Liu Shang terbelalak, dan tak menutup meski ia sudah tak bernyawa lagi.
Siapa sangka ketika kesetiaan seseorang malah menjadi hal yang buruk. Jika Liu Shang tidak setia dan tunduk pada Xin Wantang, mungkin semuanya menjadi lebih mudah.
Melihat Liu Shang yang sudah mati, Xin Wantang berteriak ketakutan. Hanya tersisa dirinya di tempat ini. Ia berusaha merangkak dengan tangannya yang berat.
Membelitnya. Lalu ...
Mata Hua Yifeng menyala pekat. "Matilah!"
Krashhhh
Tubuh Xin Wantang terpisah seperti debu dan batu kecil. Akar-akar telah menyobeknya dan menghamburkannya ke udara. Menjadi tak berarti ....
SRET!
Akibat teriakan Xin Wantang, Li Shen kecil terbangun dari pingsannya. Ketika ia bangun, dirinya telah melihat lautan darah di mana-mana. Juga ... Li Wei?
Meski gadis itu terbaring membelakangi Li Shen, tetapi Li Shen mengenalnya. Rambut panjang Li Wei dibasahi oleh darah, dan itu membuat Li Shen ketakutan.
"Kakak?" tanya Li Shen pada udara di sekitarnya.
Dengan langkah gontai Li Shen menuju ke arah Li Wei. Ketika ia menyentuh pipi Li Wei yang dingin, Li Shen berteriak dalam kesedihannya.
"Kakak ... Bangun ..."
Apa yang terjadi saat Li Shen pingsan? Ia tak tahu. Juga bagaimana dengan orang-orang yang sudah mati di sekelilingnya. Apa yang terjadi?
SRAT
Li Shen menoleh dengan ketakutan pada seseorang yang dipenuhi oleh aura merah di sekitarnya. Li Shen memeluk tubuh dingin Li Wei dengan ketakutan. Pria ini akan membunuhnya ... Bukankah dia ?? Dia Hua Yifeng ...
Ia pernah melihat Hua Yifeng di Pusat Kota saat ia berjalan-jalan dengan Li Wei (Ada di salah satu chapter. Pas Li Wei disuruh Ibunya buat bawa Li Shen jalan-jalan di Pusat Kota. Itu pertama kalinya Li Shen ketemu Hua Yifeng).
Pria ini akan membunuhnya! Li Shen juga tak akan bertanya lagi tentang siapa pembunuh di Pengadilan Berdarah ini.
SRAT!
Li Shen memejamkan matanya ketika tangan berdarah Hua Yifeng menuju ke arah wajahnya. Siap merobek wajahnya dengan keras.
Akan tetapi, tangan Hua Yifeng terhenti di udara hanya beberapa detik dari wajah Li Shen.
"Li Wei ..."
Seketika aura merah di sekitar Hua Yifeng meredup. Semua ingatan dan kekacauan di otak Hua Yifeng memudar ketika mengingat tentang gadis itu. Kesadaran Hua Yifeng kembali, dan kekuatan iblis di dalam tubuhnya dapat ditekan.
Ia bisa mengendalikan kekuatannya sendiri. Hua Yifeng bisa menahan lonjakan kekuatan Pohon Iblis dan menjadi Tuan-nya.
Lebih dari segalanya ... Hua Yifeng tak bisa membunuh Li Shen.
Ingatannya kembali ketika Li Wei mengomel padanya di Pusat Kota. Pria kecil ini, Li Shen bersembunyi di belakang Li Wei. Entah mengapa semua itu seperti sebuah mimpi.
BRUK!
__ADS_1
Li Shen terbaring di lantai ketika Hua Yifeng menekan titik tidurnya.
Li Wei menginginkan Kerajaan Li bangkit kembali. Juga ... Li Shen adalah adik yang ingin Li Wei lindungi.
***
Hua Yifeng berjalan pelan menuju ke arah Li Wei yang memejamkan matanya dengan teguh.
Gadis itu sudah pergi?
CRASH!
Hua Yifeng mengiris telapak tangannya untuk mengalirkan darah. Kala itu Hua Yifeng meminumkan Li Wei tetesan darahnya. Akan tetapi, gadis itu tetap tenang dalam tidur panjangnya.
Masih kukuh untuk terus memejamkan mata.
Li Wei mengangkat Li Wei untuk menyadarkannya, dan di sana ... Tubuh Li Wei telah mendingin. Darah yang diminumkan oleh Hua Yifeng mengalir dari sudut bibir Li Wei yang pucat.
Hua Yifeng mengusap aliran darah itu, dan mengguncang tubuh Li Wei, "Li Wei, bangunlah. Bukannya kau marah jika aku mengganggumu."
Namun gadis itu tak akan pernah bangun kembali. Ia tak akan protes dan berteriak dengan suaranya yang berisik. Ia juga tak akan berlarian seperti sapi yang lepas dari kandangnya.
Li Wei pergi.
Hua Yifeng mengecup kening Li Wei yang dingin. "Aku mencintaimu."
Meski begitu, Li Wei tak bisa mendengarnya lagi.
Ingatan Hua Yifeng kembali pada ucapan Ling Xiao. Di mana bahwa ia seharusnya tak pernah bertemu dengan Li Wei.
Jika di kehidupan ini mengenalku adalah sebab kehancuran mu, maka jika kau terlahir kembali. Lupakanlah aku ...
Hua Yifeng menarik jantungnya sendiri dari dadanya yang berlubang. Entah bagaimana ... Hua Yifeng memberi sebagian kekuatan ke dalam jantungnya pada Li Wei. Hanya agar Li Wei hidup kembali.
Dalam hal ini jantung Hua Yifeng adalah kelemahannya. Jika jantung Hua Yifeng ditusuk, maka Iblis Kehancuran itu akan mati. Itulah yang diketahui banyak orang. Akan tetapi, tak ada yang tahu jika jantung itu diberikannya pada Li Wei. Seperti Hua Yifeng memberi setengah dari kekuatannya, setengah dari hidupnya, pada Li Wei.
Akan tetapi, Hua Yifeng tak menghidupkan Li Wei seperti semula. Sebab dia bukanlah pencipta. Ia hanya membuat raga Li Wei hidup, tetapi jiwanya kosong. Seperti boneka yang bergerak tanpa jiwa.
Mungkin dari sana adalah awal dari cerita Cangkang Manusia.
Seseorang yang berusaha menghidupkan kekasihnya kembali. Akan tetapi, takdir tetap berkata sama. Hingga Hua Yifeng memutuskan untuk merelakan Li Wei pergi. Dengan tangannya sendiri ia membunuh Li Wei untuk kedua kalinya.
Ia hanya ingin Li Wei pergi dengan tenang.
Namun yang tak Hua Yifeng ketahui adalah jika seseorang melakukan pengorbanan manusia untuk memanggil jiwa Li Wei. Entah bagaimana sarung pedang milik Li Wei terberai di mana-mana. Seperti membentuk sebuah 'perjalanan'.
Perjalanan bagi Yi Hua untuk menjadi tubuh baru untuk Li Wei.
***
Pernahkah kau mendengar suatu cerita tentang benang merah?
Ada takdir yang menyatukan dua insan dengan sebuah benang merah. Sehingga ketika mereka tak bisa bersatu di kehidupan ini, ia mungkin akan bersama di kehidupan sebelumnya. Beberapa orang berpikir jika 'benang merah' ini hanya segelintir takdir yang kebenarannya masih misteri.
Akan tetapi, bagaimana jika ketika seseorang memberikan jantungnya pada seseorang yang lainnya.
Lalu, dengan jantung itu menjadi ikatan di antara mereka berdua. Sebuah ikatan baru yang hidup dalam jiwa seseorang. Hingga ketika seseorang itu terlahir kembali, ingatan masa lalunya akan kembali. Kembali melalui ikatan benang merah mereka yang 'tanpa sadar' tercipta.
Sebagian dari 'jiwa' Hua Yifeng hidup di dalam jiwa Li Wei.
Jiwa itu adalah Xiao.
Dia bukanlah sistem, tetapi jiwa Hua Yifeng yang terpecah ketika ia berusaha menghidupkan Li Wei. Itulah mengapa saat Hua Yifeng berada di dekatnya jiwa itu menyatu dengan Hua Yifeng lagi, dan tak menjadi 'individu' terpisah. Saat Hua Yifeng jauh dari Li Wei, jiwa itu menemani Li Wei.
Siapa sangka Dewa masih berbaik hati padanya dan membiarkan jiwa itu menjadi benang merah bagi pertemuannya dengan Li Wei lagi. Siapa sangka Li Wei terlahir kembali, dan Xiao menjadi bagian dari kehidupannya. Walau Xiao tak menghidupkan Li Wei, tetapi Xiao menemani Li Wei terlahir kembali.
Yah, terlahir kembali.
Sebagai seorang Yi Hua, Peramal Kerajaan Li.
"Selamat. Kau sekarang hidup dalam tubuh Yi Hua. Dia adalah peramal yang tak bisa meramal. Kau akan diminta untuk mengumpulkan kembali ingatanmu dan terus mengalami kematian untuk mengingat itu. Wah ... Itu pasti menjadi berita yang mengharukan," Suara aneh itu terdengar.
Selamat katanya?
"Siapa kau?" tanyanya saat semua dalam otaknya itu kosong.
"Kau bisa menyebutku Xiao."
Xiao. Sebuah jiwa yang terpecah dan terlahir bersama jiwa Li Wei yang tak mengingat apa-apa.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Hadeehhh ... Ternyata eh ternyata masih bersambung flashback-nya. Tapi ini beneran chapter terakhir dari kenangan Li Wei ya, di chapter depan itu udah cerita Yi Hua lagi.
Bagaimana ... Apakah ada cahaya di terowongan gelap? Makin bingung? atau mau cekik authornya karena otak menjadi oleng?
Tenang! Tinggal peluk sapi siapa tau ditendang terus otaknya beres lagi. Jadi, kayak gitulah asal usul Xiao kita yang terhormat itu. Terus seperti biasa. Author selalu menyempatkan diri untuk nyolong gambar di pinterest. Supaya ada pencerahan aja gitu tentang adegannya.
So, kalo ada yg komen 'kok mirip sama ini?' 'ini kan dari cerita ini ...". Nah aku bakalan bilang, 'palingan ada ikatan antara kami, makanya sama' gitu. Udahlah daripada ngelantur panjang lebar tak tentu arah, mari kita bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1