Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Api Phoenix 4: Dewa Penjaga Desa Yi


__ADS_3

Yi Hua membakar kertas-kertas jimat di udara sebagai penerangan. Ia menatap pada akar-akar di depannya dengan waspada. Bagaimana pun mana dia tahu kapan akar-akar ini akan menyerangnya.


"Dia bukanlah Yi Xia,"cetus mereka, dan menuju ke arah Yi Hua lagi untuk menyerang.


Meski begitu, Yi Hua melemparkan jimatnya lagi ke arah mereka, tetapi tidak melukai. Hanya sekadar menjauhkan mereka dari Yi Hua.


"Aku datang ke sini untuk mencari Yi Xia ... Maksudku, ibuku ... Aku tidak berniat untuk melukai kalian," ucap Yi Hua sambil memberikan penghormatan.


Mulut Yi Hua mendadak aneh saat dia menyebut ibu. Dia bukanlah Yi Hua yang asli.


Lagipula, biasanya penghormatan itu hanya dilakukan oleh para manusia. Akan tetapi, Yi Hua merasa jika dirinya akan lebih aman jika berdamai dengan para akar ini. Lagipula, dia ke mari juga ingin tahu perkara bencana kekeringan yang melanda Desa Yi.


Lebih baik jika ia bertanya pada Pohon Phoenix yang katanya penyebab dari kekeringan ini, bukan?


SRAHH!


Oh ya ampun! Mereka ini akar atau ular? Mengapa bisa mendesis seperti itu?


Sebenarnya Yi Hua ingin segera melarikan diri.


Yi Hua yakin bahwa dia tak memiliki rasa takut berlebihan pada ular. Tetapi, fenomena di depannya cukup ganjil hingga itu menakutkan.


Dan, dia juga sangat sadar bahwa dia belum memiliki rencana apa-apa untuk melarikan diri.


"Anak Yi Xia? Bagaimana mungkin bisa?" Lalu, terdengar kehebohan di mana-mana.


Jika Yi Hua tahu dia akan menjawabnya. Masalahnya dia juga tak pernah menyangka jika Yi Hua asli adalah anak dari manusia dan Dewa Phoenix. Pantas saja Shi Heng di tak pernah mengatakan apapun tentang ibu Yi Hua. Tentu saja karena itu adalah hal yang akan membuat orang lain berpikir jika Shi Heng gila. Walau tak ada yang tak mungkin di dunia ini.


Shi Heng memilih bungkam karena itu juga sangat berbahaya. Juga, Yi Hua tak begitu tahu bagaimana cerita percintaan Shi Heng ini. Bisa jadi ini mungkin seperti cerita Perayaan Qixi. Dan, Shi Heng entah mengapa hanya bisa menemui Yi Xia setiap setahun sekali dengan membawa Yi Hua.


Sebab, sejak awal Dewa dan manusia itu berbeda.


Apalagi Phoenix.


Menurut kepercayaan, Phoenix itu datang membawa angin, dan itu bisa menjadi keberkahan, yaitu bisa membuat hujan. Akan tetapi, para akar ini mencari Yi Xia, dan itu berarti Yi Xia yang seharusnya bertugas membawa angin ke Desa Yi tidak ada. Dia adalah Dewa pelindung di Desa Yi. Itulah yang membuat kekeringan ini muncul.


Sampai di sini Yi Hua mengerti, tetapi sisanya tidak. Sebab, di mana sebenarnya Yi Xia?


Beberapa bulan ini Desa Yi mulai kekeringan. Mungkin itu periode di mana Yi Xia menghilang. Sosok itu juga sangat mirip dengan Yi Hua, walau dalam versi lebih tenang dan hangat. Apalagi dengan Yi Hua yang terlahir sebagai anak Phoenix, dia juga memiliki api Phoenix di dalam tubuhnya.


Yi Hua hanya setengah Phoenix, sehingga itu yang membuat Yi Hua malah menjadi wadah untuk tungku iblis.


Juga, Yi Xia ...


Apa dia benar-benar menghilang? Maksudnya menghilang begitu saja karena kekuatannya memudar?


Xiao menjawab, "Itu sangat masuk akal, HuaHua. Apa kau pernah berpikir apa yang ditanggung Yi Xia karena melahirkan Yi Hua? Terutama saat Dewa itu suci, HuaHua."


"Lalu, mengapa Yi Hua asli tak pernah bertemu dengan ibunya? Bukankah Ming Fan mengatakan bahwa Yi Hua dan ayahnya selalu pergi ke Desa Yi setiap setahun sekali?" ujar Yi Hua dalam hati.


Eh?


Setiap setahun sekali. Dan, Yi Hua tak pernah bertemu dengan ibunya, padahal dia datang ke Desa Yi.


Yi Hua menatap pada akar yang seperti sangat waspada padanya. Apalagi mendengar dari ucapan akar-akar ini, mereka mungkin kurang menyukai manusia. Yi Hua harus berhati-hati agar tidak menyinggung mereka.


"Di mana ibuku?" tanya Yi Hua pelan.


Akar-akar itu mendesis lagi hingga membuat Yi Hua menambah jumlah jimat untuk penerangan. Ia harus memastikan mereka tak menyerangnya dari belakang. Dan, akar-akar ini seperti takut pada api. Mereka menghindar semakin jauh ketika Yi Hua menyalakan kertas jimat di udara.

__ADS_1


Yi Hua mengirim kertas jimatnya semakin dekat. "Aku tanya di mana ibuku? Bukankah dia berada di Pohon Phoenix selama ini?" ujar Yi Hua yang agak memaksa.


Yang ditakuti Yi Hua adalah ... Sejak awal Yi Xia memang menghilang sejak lama.


"Bagi para siluman akar ini waktu berjalan sangat cepat, sehingga mereka tak berpikir Yi Xia pergi begitu lama. Namun untuk waktu manusia, itu sangatlah lama. Mungkin belasan tahun, atau sejak Yi Hua lahir di dunia ini, Yi Xia memang sudah tiada," terang Xiao pada akhirnya. Seperti yang sudah sering terjadi, Xiao memang bertugas untuk membantunya selama hidup sebagai Yi Hua.


Ia mulai mengerti sesuatu.


Alasan mengapa Shi Heng selalu membawa Yi Hua datang ke Desa Yi bukan untuk menemui ibunya. Itu semua hanya karena Yi Hua adalah orang yang bisa menggantikan tugas dari ibunya. Memberi energi pada pohon Phoenix agar membawa angin ke Desa Yi.


Namun saat ayah Yi Hua meninggal, tak ada yang tahu tentang kegiatannya itu. Yi Hua sendiri juga tak mengetahuinya. Sehingga Pohon Phoenix kehilangan kekuatannya. Itu semua karena Pohon Phoenix kehilangan Dewa-nya.


Akar-akar itu segera menjawab. Suara mereka terdengar bersamaan sehingga tak bisa terlalu Yi Hua cerna. Setelah agak lama, ia berhasil memahami apa yang mereka bicarakan.


"Manusia itu yang membawanya. Yi Xia yang malang, dia malah mengikuti manusia yang bisa menyerap habis kehidupannya," ujar akar-akar itu dengan suara tangisan.


Bukan.


Seperti yang Yi Hua duga. Ini semua karena seorang Dewa yang mulai memudar akibat kesalahannya. Mencemari Ke-dewa-annya dengan hidup bersama manusia.


Yi Hua memperhatikan ke sekelilingnya. Ini jelas adalah gua bawah tanah. Namun secara gaib gua ini tak akan bisa ditemukan oleh manusia biasa. Sehingga jika Yi Hua tak menyelesaikan masalah Yanga dan di tempat ini, maka dia tak akan bisa kembali.


"Aku akan membantu kalian untuk tetap hidup, dan sebagai gantinya ..."


Yi Hua tersenyum tipis, "Tolong terus ingat ibuku. Suatu saat ketika kekuatannya kembali, dia akan ada di sini."


Ibunya adalah seorang Dewa Phoenix. Suatu saat ibunya akan kembali. Selama orang-orang masih mempercayainya. Orang-orang mengingat tentangnya, maka ibunya akan kembali.


Xiao mendadak bersuara. "Yi Hua, ada energi aneh dari luar."


Tak lama setelah Xiao berkata seperti itu, di sekelilingnya bergetar keras. Akar-akar menjadi panik, dan seluruh jimat yang Yi Hua hidupkan telah padam.


Xiao mendadak ingin berdecak karena sebal. "Bukan. Bisakah kau mengatasi pria pemarah itu? Dia akan segera menghancurkan gua ini!"


Aku lupa jika An pasti akan berbuat sesuatu.


***


Judul cerita : Phoenix Memancing Manusia di Sungai


"Hey, ada manusia yang mengambang di sungai." Suara itu terdengar sangat lembut oleh para tumbuhan di sekitarnya.


Meski begitu, mereka tetap mengabaikan apa yang mereka lihat. Bagaimana pun urusan manusia bukanlah apa yang bisa mereka sentuh. Terutama untuk seorang Dewa sepertinya. Dia hanya bertugas memberi kemakmuran dan kesejahteraan pada cuaca.


Ini sama sekali bukanlah urusanku.


Namun ...


CRIT! CRIT!


Dewa itu merasa agak geram dengan burung-burung yang dengan santainya bertengger di punggung manusia yang hanyut itu. Bagaimana mungkin mereka tak takut pada manusia. Eh, atau manusia itu memang sudah tak bernyawa lagi.


SRET!


Heh?


Kaki dari manusia itu bergerak pelan pertanda makhluk di sana sebenarnya masih hidup. Hal itu yang membuat Sang Dewa semakin bingung. Jika dia masih hidup dan mengambang seperti itu, mengapa harus membiarkan dirinya hanyut begitu saja?


Sebentar ...

__ADS_1


Bukankah setelah bagian sungai ini itu adalah batuan? Jika manusia ini terus hanyut dengan kecepatan rata-rata, maka dia akan segera mendarat di batuan. Paling buruknya dengan arus sederas ini, dia mungkin tak akan selamat lagi dan tak akan bisa bertingkah konyol.


Ini sama sekali bukan urusannya. Jika manusia ini mati, maka dia hanya perlu naik ke langit. Itu adalah apa yang diputuskan oleh Dewa itu. Bahkan ia memilih bergantung pada batang kayu dan membiarkan kepalanya hampir bertemu dengan tanah.


"Aku tak perduli. Manusia ini yang mati. Bukan urusanku! Bukan urusanku!" ucap Dewa itu sambil terus bergelantungan seperti cicak yang tersangkut ekornya.


SRET! SRET!


CRAK!


Bahkan manusia mengambang itu masih sempat-sempatnya menggaruk punggungnya. Dia pasti merasa gatal saat burung-burung itu hinggap di punggungnya. Lagipula, jika ingin bunuh diri mengapa harus di sungai Desa Yi ini!


Langsung saja gantung diri di pohon teh!


Dasar manusia menyebalkan!


Dewa yang sebenarnya lebih jengkel ketimbang kasihan, memilih untuk terbang mendekat. Lalu, ia mendekat pada manusia yang mengambang di sungai itu. Kemudian, ia menariknya untuk naik ke pinggir sungai.


"BRUHH!"


Dewa itu mundur dengan cepat saat manusia itu menyemburkan air ke udara. Beruntung dia tak berada di jarak yang begitu dekat dengannya. Itu sangat menyebalkan hingga Dewa itu berniat menjadi Dewa Pencabut Nyawa.


Di mana rekannya Si Pencabut Nyawa itu? Dia ingin memerintahkan rekannya agar mencabut nyawa manusia menyebalkan ini.


Sudah diberi hidup malah memilih ingin mengakhirinya terlebih dahulu.


"Apa aku sudah di surga?" tanya manusia itu yang menatap ke sekelilingnya.


Si Dewa jelas tak perlu bersembunyi karena manusia memang tak akan bisa melihatnya. Sehingga ia tetap berdiri dengan pisau bayangan yang diciptakannya. Jika dia sebal dengan manusia ini, dia hanya perlu menusuknya!


Dan, pandangan manusia itu terhenti pada sosok cantik dari Sang Dewa.


Pakaiannya yang seperti bunga plum membuat pria itu semakin terpaku.


PLOK!


Pria itu menepuk tangannya dengan bangga. "Aku pasti sudah di surga. Buktinya ada bidadari bersamaku."


Tunggu dulu.


Dewa itu mendekat pada seonggok manusia yang nyaris jadi mayat karena kekonyolannya.


"Apakah kau bisa melihatku, Manusia?"


"TAMAT," ujar Xiao yang malas-malasan bercerita.


Yi Hua ingat Xiao pernah bercerita tentang itu juga saat Yi Hua tak bisa tidur. Awalnya ia berpikir Xiao hanya mengarang cerita. Sebab, Xiao selalu seperti itu, dan tak pernah serius. Lagipula, bukankah cerita itu juga berirama seperti dongeng sebelum tidur.


Akan tetapi, sekarang ia mengerti. Itu adalah awalan dari cerita dari masalah ini sebenarnya.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2