Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Yang Melihat Masa Depan


__ADS_3

CTEK!


Yi Hua berhasil membuka pintu penjara bawah tanah. Di depannya ada sekitar tiga orang penjaga yang sudah tidak sadarkan diri. Tentu saja Yi Hua tidak melukainya.


"Kembali," perintah Yi Hua pada kertas jimatnya.


Kertas jimatnya yang menyerang para penjaga itu membawa bubuk obat. Yi Hua hanya membuat mereka tertidur sejenak. Ia melangkah dengan cepat untuk mengawasi ke sekitar.


Ini adalah penjara bawah tanah. Tempat di mana ia terbangun pertama kali. Mustahil jika tidak ada sesuatu di sini. Dengan keadaan penjara yang kotor dan berlumut, jelas tak ada orang yang berpikir untuk memeriksanya. Sehingga jika ada yang tertinggal di sana, tak ada yang akan menyadarinya.


SREK!


"Di mana Xiao?" tanya Yi Hua agak jengkel.


Bagaimana pun ia sejak tadi bergerak menuruti arahan Xiao. Namun sistem ini malah mengarahkannya ke mana-mana.


"Aku sudah bilang, berjalan dari tahanan tempat kau di kurung. Itu sekitar dua puluh lima langkah ke arah Utara. Langkahnya jangan terlalu lebar, dan hitungannya harus tepat," saran Xiao karena Yi Hua masih belum menemukan 'sesuatu' yang bisa mengeluarkan energi di sana.


"CK ... Merepotkan. Apa kau hanya mempermainkan aku?"


Yi Hua mengomel sambil kembali ke tempat ia dikurung. Ia benar-benar memastikan jika kakinya menginjak tepat di pintu tahanan. Dengan memperhitungkan arah mata angin dengan benar, Yi Hua berjalan ke arah Utara.


SET!


Yi Hua menunduk untuk memeriksa tempat kakinya berdiri. Nyatanya di sana masih di tempat yang sama seperti yang ia dapatkan sebelumnya. Bahkan dengan rajinnya Yi Hua membersihkan jerami kering di atasnya. Tapi tidak ada benda apapun di sana.


Atau ... Memang bukan benda.


Ia berjongkok lebih rendah lagi untuk memperhatikan lantai.


Ada noda hitam di lantai ini. Yang membuat noda hitam ini menarik perhatian Yi Hua ialah karena lebih bersih dibanding lantai lainnya. Seolah tumpukkan lumutnya berbeda dengan di bagian lagi.


Dan ... Berbentuk lingkaran. Seperti segel sihir!


"Aku berada di penjara ini sekitar enam bulan yang lalu. Jika itu air, maka tak akan membekas di lantai. Apa ini tinta?"


Yi Hua mengusapnya dengan jari telunjuk. Noda itu menempel di tangannya, dan tinta di kerajaan adalah yang terbaik. Jika sudah melekat di kertas atau kanvas, tidak akan menempel di tangan.


"Itu darahmu."


Ia sangat memahami ucapan dari Xiao. Sekarang ini tubuhnya adalah tubuh Yi Hua, dan ini darahnya. Tungku Iblis membuat darah Yi Hua memiliki kekuatan, karena kekuatan Dewa Phoenix.


Darah Yi Hua bisa membuat iblis rendahan naik tingkat. Bahkan jika ada iblis yang sekarat, dan menyerap energi darah Yi Hua, dia akan semakin kuat. Itulah mengapa Yi Hua ini, meski luka parah seperti apapun, selama kepalanya masih melekat, dia akan tetap hidup.


Karena jika kepala hilang, manusia mana yang bisa hidup. Phoenix akan tetap hidup, dan lahir kembali dari api jika intinya masih ada. Tidak ada makhluk yang bisa hidup kembali dari kematian. Itu bukanlah kuasa dari makhluk ciptaan.


Yi Hua mengingat kembali kejadian saat ia terbangun dari penjara. Kala itu memang dirinya punya banyak luka. Tapi ia mengira itu karena dirinya mendapatkan siksaan dari penjaga penjara. Itulah mengapa ia tak begitu memikirkannya.


Apalagi menurut dari ayah Yi Hua, Shi Heng, Yi Hua asli saat itu sudah meninggal. Berarti Shi Heng tidak berbohong. Shi Heng memang ingin menyelamatkan anaknya, tetapi saat dia datang anaknya sudah mati.


Dan seseorang menggunakan darah dan energi Dewa Phoenix di dalam tubuh Yi Hua.


Menyerap energi di Tungku Iblis hingga habis, untuk ...


"Menarik jiwa Li Wei hidup kembali," bisiknya dengan nada hampa.


Xiao hanya diam. Yi Hua juga diam.


Memang sejak awal Hua Yifeng adalah sasaran empuk untuk dijadikan kambing hitam. Itu karena dia memiliki kekuatan yang luar biasa. Pohon Iblis tunduk padanya, dan itu jelas membuat takut siapa saja.


Namun tak banyak yang tahu jika ada kekuatan besar lainnya yang lebih suci. Kekuatan yang bisa memberi energi pada makhluk lain. Jadi, seseorang menggunakannya untuk melanggar hukum dunia.


Menghidupkan seseorang, walau dengan pertukaran jiwa.


Hal sialan apa ini!


"Apakah ini ada hubungannya dengan Yi Hua yang memberikan ramalan, bahwa "Putri Li Wei akan terlahir kembali saat Lingkaran Mawar terkumpul"? Bukankah itu seperti berarti sesuatu yang lain?"


"Mungkin Yi Hua asli tidak bodoh. Dia sudah tahu dirinya diincar oleh sesuatu. Maka dari itu dia mengatakan tentang ramalan palsu, yang sebenarnya hanya sebuah pesan," balas Xiao.


"Jika itu pesan. Pesan untuk siapa? Apa menurutmu itu pesan agar seseorang menyelamatkannya?" tanya Yi Hua pada Xiao.


Ia masih berusaha mengorek-orek di sekitar tetesan darah itu. Dan ia menyadari jika memang ada garis lingkaran sihir yang dibentuk dari darah. Walau sebagian coretan darah itu sudah tertutup oleh debu dan kotoran lainnya.


Yi Hua pernah belajar selama dirinya bekerja menjadi peramal. Ia pernah belajar tentang segel sihir. Ada banyak fungsinya, tetapi segel sihir yang digunakan di istana hanya segel yang bersih. Bukan segel yang menggunakan darah.


Jika menggunakan darah itu akan masuk dalam segel terlarang. Tidak boleh digunakan.


"Apa untuk Shi Heng?" tanya Yi Hua lagi.

__ADS_1


Xiao berdecak. "Dasar bodoh! Itu untuk Hua Yifeng."


HAH?


"Memangnya Yi Hua asli kenal pada Hua Yifeng?"


"Dia tidak mengenalnya, tapi berita tentang Putri Li Wei merupakan kekasih Hua Yifeng itu diketahui oleh banyak orang. Jika Hua Yifeng mendengar ramalan itu, ia akan berpikir bahwa kekasihnya akan hidup kembali. Maka ia akan menemui Si Yi Hua asli. Dan di sana Hua Yifeng akan tahu kebenarannya, saat mereka bertemu," ujar Xiao menjelaskan pada otak sapi Yi Hua. Bagaimana bisa mereka selalu terpaku pada Hua Yifeng?


Dunia ini luas, di atas langit ada langit lagi. Di atas langit yang sama juga tak hanya ada satu makhluk. Semua bisa terjadi.


"Menurut apa yang terjadi, mungkin Hua Yifeng juga terlambat seperti Shi Heng."


Faktanya Yi Hua asli terbunuh karena energinya dikuras habis. Sekaligus menutupi jejak kejahatannya.


"Sejak awal ini juga aneh. Aku rasa kerajaan tak begitu ceroboh menghukum mati seseorang hanya karena ramalan. Juga, bagaimana Yi Hua diatur secara baik sebagai seorang tahanan. Sehingga kematiannya lebih mudah ditutupi. Jika Yi Hua asli mati di tahanan, maka yang terdengar mungkin bunuh diri dan sebagainya," ucap Yi Hua berpikir.


Ia sedang menerbangkan kertas jimat untuk memeriksa keadaan di luar penjara. Hanya untuk mengatasi dirinya yang ketahuan. Sekarang dirinya kembali lagi pada situasi Yi Hua asli. Seorang tahanan.


"Jika sosok ini gagal, maka kejahatan tetap tertutupi. Dan jika dia berhasil ... Maka, ..." Xiao memberi pertanyaan bergantung untuk membuka pikiran Yi Hua.


Bagaimanapun mereka sudah memahami ini semua. Hanya takut diungkapkan saja.


"Li Wei yang terlahir kembali akan menjalani kehidupan Yi Hua. Dan dituntun menuju 'apa' yang diinginkan oleh pelaku," ucap Yi Hua yang menyadari jika ia seperti diarahkan pada situasi yang sama.


Dimulai dari ... Bagaimana bisa Pangeran Li Quon kebetulan sakit tepat pada saat Yi Hua masih di penjara?Padahal anak itu sangat sehat sebelumnya. Itu berarti seseorang yang mengendalikannya bukanlah orang biasa.


Seseorang di pihak Kerajaan!


Hanya orang yang punya kuasa di kerajaan yang bisa memprediksi tindakan, sekaligus menggunakan kekuasaannya agar pihak tersebut bertindak sesuai prediksinya. Sengaja membuat banyak masalah di sekitar Yi Hua, agar Lingkaran Mawar terkumpul. Sebuah benda yang disebut memiliki kutukan yang besar. Penyebab bencana besar dahulu, dimana ada penyakit batu yang aneh.


Mendadak Yi Hua tertawa tak jelas. "Jangan-jangan yang disebut Bencana Besar Berikutnya ialah ... Aku?" tanya Yi Hua lagi.


Dengan alur yang sama. Lalu, ada pemberontakan. Yi Hua yakin setelah pemberontak ini, akan ada perang. Setelah itu, seseorang akan membantai banyak orang dengan Lingkaran Mawar.


Ditambah lagi dirinya sekarang merupakan keturunan Yi Xia, Dewa Phoenix.


"Tapi kenapa harus aku? Kenapa harus Li Wei?" tanya Yi Hua histeris.


Ini tak seperti Li Wei ingin hidup dengan kekuatan yang besar.


Xiao memiliki dugaan tersendiri. "Kau ingat tidak saat kau dahulu dituduh sebagai Pewaris Tahta Kerajaan Li dalam ramalan."


"Itu berasal dari ucapan Xin Wantang bahwa Pewaris Tahta Kerajaan Li dalam ramalan ialah aku. Padahal Ling Xiao berkata jika pewaris tahta itu ialah ..."


Yi Hua tercekat. Siapa yang ingin disebutnya? Siapa yang diramalkan sebagai Pewaris Tahta Kerajaan Li yang sebenarnya? Mengapa dia seperti tahu tentang itu?


"Intinya ialah tentang cerita Pewaris Tahta yang Salah. Sekitar seratus tahun yang lalu, Pangeran Penduka adalah Pewaris Tahta dalam ramalan. Sayangnya, kakaknya terlalu tamak hingga membuat Pewaris itu hilang. Sehingga mau tak mau tahta jatuh padanya. Membuat skenario hingga Pangeran Penduka dikorbankan untuk 'kepentingan orang banyak' katanya. Ceritamu agak mirip dengannya, bukan?" tanya Xiao yang ikut berpikir.


Li Wei dahulu disebut Pewaris Tahta, dan dia mati karena berkorban untuk orang banyak. Jika Li Wei benar-benar reinkarnasi Pangeran Penduka, maka Pohon Iblis akan tunduk padanya.


"Ha ... Ha ... Ini sedikit lucu, tetapi aku pikir. Pelakunya salah paham," ucap Yi Hua yang tak tahu harus tertawa atau miris.


Karena mungkin pelaku ini salah sasaran! Dia ingin membuat kekuatan Pangeran Penduka terkumpul, tetapi Li Wei merusaknya. Li Wei berkorban untuk disebut sebagai Pewaris Tahta dalam ramalan.


Untuk itu alurnya jadi berbeda. Jika sejak awal Li Wei tidak berkorban, dan alih-alih yang berkorban adalah reinkarnasi Pangeran Penduka, maka alurnya akan sama seperti sejarah.


Dan setahunya Pangeran Penduka itu adalah Hua Yifeng.


Jadi, dahulu Li Wei berkorban untuk Hua Yifeng? Itu yang membuat orang ini terkecoh, dan menargetkan Li Wei sebagai Pangeran Penduka.


TAP!


TAP!


"Bukankah aku benar? Jika Li Wei bersama Hua Yifeng, Salah satu dari kalian akan menjadi penyebab kehancuran pihak yang lainnya."


Tubuh Yi Hua bergetar ketika mendengar suara itu di dekatnya. Kertas jimatnya diterbangkan di udara sebagai perisai. Berusaha menyerang pada sosok yang baru datang.


TAPS!


Namun kertas jimat yang lain menangkis kertas jimatnya. Lalu, sosok dengan pakaian serba putihnya datang. Itu adalah Ling Xiao.


"Kau dahulu hancur karena melindungi Hua Yifeng," ucap Ling Xiao dengan nada sendu.


"Apa Anda yang melakukan semua ini?"


Mendadak kekuatan Yi Hua seperti ditekan oleh sesuatu. Ia tak menyangka jika Ling Xiao akan menggunakan kertas jimat untuk menekan titik geraknya. Yi Hua terduduk di lantai yang kotor.


Tatapannya mengarah pada Ling Xiao yang berjalan mendekati Yi Hua.

__ADS_1


"Aku melihat melihat masa depan, sehingga aku terkadang merasa bersedih karena mengingatnya. Aku berharap jika anugerah ini tidak ada padaku. Hidup ini menjadi tidak menarik, karena kau tahu apa yang terjadi."


Xiao berucap pada Yi Hua untuk tenang. Yi Hua tak boleh terpancing hingga mengeluarkan kekuatan Tungku Iblis. Atau Bencana Besar akan terjadi. Eh? Tapi Li Wei itu bukan Pangeran Penduka.


Jika bukan Pangeran Penduka, maka Bencana Besar tak akan terjadi.


Ia mendadak mengerti sesuatu. Tapi ia tak bisa berkata apa-apa saat Ling Xiao mengusap kepalanya dengan sayang.


"Tapi, Li Wei membuat perubahan besar dengan mengorbankan dirinya sendiri. Mengubah Pangeran Penduka untuk tidak berduka lagi. Menghilangkan dendam yang ada di Hua Yifeng. Sehingga Kehancuran Besar tidak terjadi dahulu. Untuk pertama kalinya ramalan yang aku lihat tidak terjadi, Li Wei."


Yi Hua mengangkat kepalanya, dan melihat tetesan air mata di pipi Ling Xiao. "Terima kasih dan maafkan aku, Li Wei."


Tapi seseorang ingin Bencana Besar terjadi sekarang. Itu berarti ...


Ling Xiao tersenyum tenang. "Bagaimana pun Hua Yifeng adalah anak yang aku besarkan, Li Wei."


***


BLAM!


Liu Xingsheng terdiam saat dirinya mendadak berada di dalam perisai aneh. Ia mengalihkan pandangannya dan mendapati Zhang Yuwen yang berdiri di sampingnya. Pria Bercadar, Wei Wuxie berada di belakangnya.


Mereka saling memunggungi untuk melindungi punggung yang lainnya.


Sayangnya, mayat berjalan ini semakin banyak lagi.


"Wei Wuxie, kau tahu tulang-belulang keluargamu ini sangat merepotkan!" omel dari Zhang Yuwen saat menebas tengkorak dengan pakaian yang paling mewah pada zamannya.


"Kau pikir aku ingin menebas mendiang leluhurku sendiri?" balas suara itu dingin.


Liu Xingsheng menoleh terkejut saat mendengarnya. Setahunya Wei Wuxie, kakak dari Jenderal Wei Qionglin sudah tiada. Lalu, orang ini ...


"Jangan melamun!" bentak Zhang Yuwen pada Liu Xingsheng.


"Sekarang kita harus bagaimana?" Liu Xingsheng jelas tak pernah berada dalam pertarungan yang besar. Tentu saja dia panik sekarang.


Zhang Yuwen menarik kerah pakaian Liu Xingsheng. "Ikuti aku!"


Tirai Berdarah itu membuka jalan dengan pedangnya. Ia juga menggigit ujung ibu jarinya. Menebarkan darahnya sendiri untuk menakuti energi buruk. Meski tak sekuat darah Hua Yifeng, tetapi energi yang lemah akan takut padanya.


"Ada seseorang yang mengendalikannya."


Liu Xingsheng mau tak mau menjadi pucat. Sebab, Huan Ran atau yah ... Bao Jiazhen bisa mengendalikan para mayat. Meski begitu, Liu Xingsheng belum meminta maaf secara langsung pada Huan Ran.


"Apa yang kau tunggu? Melompat." tanya Zhang Yuwen jengkel.


Saat itulah Liu Xingsheng sadar jika dirinya sekarang di ujung jurang. Mereka akan melompat?


"Tapi ..."


"Tuan Iblis Kehancuran akan menggunakan kekuatan Pohon Iblis, kita akan terluka apabila terkena." Suara Wei Wuxie lebih lembut ketimbang bentakan kasar Zhang Yuwen.


Hua Yifeng ada di sini? Lalu, bagaimana dengan Yi Hua?


Liu Xingsheng merasa tangan besar Zhang Yuwen yang mendorongnya. Hal tersebut membuat tubuh Liu Xingsheng limbung ke jurang dan .... AKKHHH!


Liu Xingsheng terjatuh ke dalam jurang yang dalam itu.


Ini gila! Aku pasti mati saat mendarat di dasar jurang!


Liu Xingsheng bahkan membayangkan bagaimana tubuhnya membusuk. Burung pemakan daging yang memakan tubuhnya. Padahal Liu Xingsheng belum banyak berbuat baik selama ini.


"HUWAAAAA!!!"


BRUK!


***


HEHE ... GANTUNG LAGI NIH YA?


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Nah ... Ling Xiao yang datang tuh. Kayak Ling Xiao tahu semua ya. Apa dia benar-benar dalangnya?


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2