
Yi Hua mendadak seperti makhluk antah berantah yang baru melihat dunia.
Nyatanya dia tanpa sadar menggandeng lengan Liu Xingsheng terus-menerus. Padahal Liu Xingsheng sekarang tak bisa berjalan secepat anak sapi, tetapi harus dibebankan pada Yi Hua yang menempel seperti tanaman pagar. Huhh!
"Kau sungguhan takut pada mereka?" tanya Liu Xingsheng ketika Yi Hua tampak melirik ke sekelilingnya dengan rasa was-was.
Seingatnya ... Yi Hua sendiri yang masuk ke wilayah Zhang Yuwen. Lalu, dengan santainya melepaskan mayat-mayat yang bergelantungan di pohon. Bahkan dengan dedikasinya, Yi Hua mengusap mata mereka yang terbelalak untuk ditutup secara damai.
Sekarang siapa yang jadi ayam penakut?
Yi Hua menggelengkan kepalanya, "Mereka hantu."
Ya terus kenapa?
Zhang Yuwen menunjuk hidungnya sendiri dengan tak mengerti. "Aku iblis, Peramal Yi."
"Ya terus kenapa?" tanya Yi Hua sengit.
Apa mereka tak tahu kalau hantu itu sering mengejutkan kalau datang!
Yi Hua bergidik ketika melihat makhluk dengan telinga seperti tikus, tetapi wajahnya tertutup rambut. Makhluk itu hanya terlihat di sekitar pepohonan. Belum lagi dengan 'manusia' yang berkeliaran di sekitar mereka. Tentu saja Yi Hua tahu mereka bukan manusia. Apalagi dengan organ tubuh mereka yang terkadang tidak lengkap. Karena mereka hantu biasa, mereka tidak bisa mengikuti wujud manusia dengan sempurna. Sehingga terkadang lupa menambahkan kulit atau bahkan mata mereka kurang. Jika pun ada mata, biasanya mata itu seperti berdarah!
Mengerikan.
Xiao di telinga Yi Hua sudah berkata, "Terserahmu. Setelah bertemu Hua Yifeng nanti pasti aku tak bisa berkomentar banyak."
"Aku masih penasaran mengapa kau dan Hua Yifeng seperti satu orang? Jika Hua Yifeng ada, kau yang tidak ada. Karena kalian satu makanya tidak bisa berada di satu tempat yang sama," tanya Yi Hua berpikir. Tentu saja dia bicara di dalam hati.
Xiao mendengus. "Sebenarnya kau pintar. Sayangnya kurang percaya diri saat menyimpulkan."
Maksudnya apa?
Mereka bertiga menyusuri jalanan yang entah mengapa semakin sepi. Yi Hua kenal jalan ini karena dulu dia menyusuri tempat ini untuk sampai ke Istana Awan. Hanya saja dia tak mengerti mengapa tempat ini mendadak jadi sepi. Biasanya wilayah ini seperti pasar malam dadakan, yang diselenggarakan oleh orang paling kaya sedunia.
"Wei ... Maksudku, Jenderal Hantu ... Dimana Iblis Kehancuran?" tanya Yi Hua yang menyadari ada suasana senyap di sekitar mereka.
Semakin jauh mereka berjalan, suasananya semakin tak nyaman. Itu bukan hanya dirasakan oleh Yi Hau, tetapi yang lain juga. Bahkan Zhang Yuwen, yang notabenenya adalah iblis pun gemetar dengan suasana ini.
"Pemilik Gunung Hua sedang berada di Istana Awan," jelas Wei Wuxie tanpa menoleh pada ketiga orang yang berjalan di belakangnya.
"Ada apa?" tanya Yi Hua pada akhirnya.
Wei Wuxie tidak menjawab pertanyaannya, melainkan berucap langsung. "Kita sudah sampai."
Istana Awan.
...(Hanya ilustrasi)...
Sebenarnya Istana Awan ini berada di bagian belakang dari tempat perjudian yang dulu Yi Hua pernah lewati. Akan tetapi, karena tujuan mereka bertemu Hua Yifeng dan ada yang mengantar, sehingga mereka tak perlu masuk ke Istana Awan melalui tempat penuh dosa itu. Yi Hua menatap Istana Awan yang terlihat sepi seperti kuburan lama.
Ada kabut awan berwarna merah terang di sekitar mereka. Namun setalah mengingat kembali masa lalunya, Yi Hua jadi ingat tentang tempat ini. Entah mengapa Istana Awan milik Hua Yifeng ini sedikit mirip dengan tempat Pelatihan Awan di Kerajaan Li. Hanya saja yah ... Tidak ada kabut awan merah aneh ini di Pelatihan Awan.
Mereka tidak berjalan lagi.
Zhang Yuwen menghampiri Wei Wuxie, "Kenapa tidak terus berjalan?" tanya Zhang Yuwen.
Mereka saat ini di depan Istana Awan dan tak masuk ke dalamnya.
Wei Wuxie menggeleng. "Aku tak tahu cara masuk ke dalam."
Huh?
Yi Hua ingat sesuatu. Dulu saat ia masuk Istana Awan, Wei Wuxie hanya mengantarnya di luar. Kemudian mendorongnya masuk ke dalam.
Begitu saja.
Liu Xingsheng menoleh pada Yi Hua, dan Yi Hua menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu.
"Sebenarnya Pemilik Gunung Hua tidak terlihat di waktu dekat ini," jelas Wei Wuxie.
"Lalu, mengapa Anda berkata jika Pemilik Gunung Hua sudah menunggu?" tanya Liu Xingsheng yang mengingat ucapan Wei Wuxie.
"Dari Peramal Ling."
Yi Hua menganggukkan kepalanya. "Jadi, Peramal Ling ada di Istana Awan?" tanya Yi Hua meminta kejelasan.
"Tidak. Peramal Ling berkata jika Pemilik Gunung Hua menunggu tamu," jawab Wei Wuxie, yang tentu saja membuat Yi Hua pusing.
Ini Ling Xiao saking hebatnya meramal sampai bisa tahu keinginan Hua Yifeng? Bahkan saat mereka tidak saling bertemu? Atau, mereka ada cara untuk berkomunikasi.
__ADS_1
"Kenapa tidak didorong saja pintunya?" tanya Zhang Yuwen jengkel.
Wei Wuxie dengan kasar menarik kerah pakaian Zhang Yuwen. Lalu, dengan ramah mendorongnya menuju pintu Istana Awan.
"AKHHH!" teriakan memilukan keluar dari bibir Zhang Yuwen.
Pasalnya, baru saja Zhang Yuwen menyentuh pintu beberapa pisau keluar dari sana. Yi Hua membentangkan kertas jimatnya untuk melindungi dirinya sendiri dan Liu Xingsheng. Sedangkan Zhang Yuwen berhasil melompat mundur untuk menghindari pisau itu.
"KAU GILA?!" teriak Zhang Yuwen setelah insiden.
Wei Wuxie mengangkat bahunya malas. "Sudah lihat sendiri, bukan?"
Tindakan berbicara lebih keras dibandingkan kata-kata.
"Sudah pasti Iblis Kehancuran susah ditemui," komentar Liu Xingsheng yang berbisik pada Yi Hua.
Tapi ... Xiao tak berucap apa-apa. Tandanya Hua Yifeng ada di jarak dekat dengan mereka sekarang.
Apa benar Hua Yifeng melemah?
Yi Hua menghela napasnya. Ketika ia ingin berbicara. Suara keributan terdengar. Dan itu berasal dari rumah perjudian yang tak jauh dari mereka.
BRUK!
Seorang pria tua terjatuh di sekitar mereka. Tak hanya pria tua itu saja, tetapi ada dua orang gadis yang kecantikannya luar biasa. Wajah mereka sangat mirip, dan Yi Hua rasa mereka kembar. Pakaian mereka sangat terbuka dan kurang bahan.
Bahu mereka tampak ketika pakaian mereka turun di sekitarnya. Sehingga kau bisa melihat ada lukisan bunga di bahu mereka yang polos. Belum lagi belahan dada mereka ... Yi Hua menyadari Liu Xingsheng membuang mukanya ketika melihat itu.
Ya Ampun ... Aku lupa jika aku dan Liu Xingsheng masih termasuk remaja di masa ini.
Namun wajah datar Wei Wuxie terus menjadi datar, meski ada dua bunga di depannya. Wei Wuxie yang sebenarnya juga merupakan tangan kanan Hua Yifeng maju untuk meminta kejelasan.
"Jenderal Hantu, dia membuat keributan," ujar salah satu dari bunga kembar itu.
Wajah mereka sangat cantik sampai Yi Hua pikir Hua Yifeng pasti bersenang-senang di Gunung Hua karena melihat dua gadis cantik ini bekerja untuknya! Mengapa Yi Hua jadi marah sekarang?
Zhang Yuwen mendadak berbisik pada Yi Hua. "Jangan terlalu lama melihat senyum mereka. Itu adalah salah satu dari iblis mawar. Jika kau melihat terlalu lama, maka sama seperti menelan afrodisiak."
Huh?
*Afrodisiak, jika kalian tidak tahu ... Itu semacam ramuan untuk meningkatkan hasrat s*ksual.
Nah ... Biawak lagi. Untung saja Wei Wuxie tidak seperti sahabat dan adiknya, Wei Qionglin. Tahu saja jika Jenderal Wei Qionglin punya otak di dalam celananya.
Terus si mawar kembar penggoda ini malah senyum-senyum.
Namun pria tua yang dibawa oleh dua mawar ini mendadak berlutut di bawah kaki Wei Wuxie. "Saya memang meminta kekayaan, tapi mengapa korbannya harus putri saya? Walau saya kaya, tetapi saya melihat putri saya mengalami penyakit mematikan itu!" teriak pria tua ini dengan air mata yang penuh.
Lagi-lagi demi harta dia rela bersekutu dengan iblis.
Wei Wuxie menggelengkan kepalanya. "Apa maksudmu?"
"Dasar iblis sialan! Tuan Hua Yifeng tidak berhati. Mengapa harus putri saya yang dikorbankan?" teriak pria tua itu kalap.
"Anda yang datang sendiri ke tempat ini," ucap Wei Wuxie dengan tenang.
Jika kau terlanjur jatuh dalam kegelepan, maka susah untuk meraih cahaya kembali.
Yi Hua tak tahu harus marah atau kasihan di sini.
"Iblis terkutuk! Dewa akan menghukum kalian. Penyakit ini sangat menular!" jerit pria tua itu saat dua mawar itu mendadak mengeluarkan kekuatannya.
Jadi, pria tua ini lebih marah pada kenyataan bahwa ia tertular penyakit anaknya. Padahal karena dirinya sendiri anaknya menjadi korban.
Duri mawar mencengkeram tubuh pria tua itu. Membuatnya menjerit walau nyatanya jeritan itu tak berguna.
Kemudian, karena duri itu menyobek lengan pakaian Si Pria Tua. Di sana Yi Hua bisa melihat luka lama. Bukan luka karena duri mawar. Di sana luka tersebut seperti diiris pisau. Jelas sekali seperti habis membersihkan kulitnya dari benjolan aneh di tubuhnya.
Jantung Yi Hua berdegup kencang.
"Berhenti!" teriak Yi Hua pada dua mawar itu.
Akan tetapi, sejak awal dua mawar itu tidak perduli pada dirinya. Sehingga meski Yi Hua memerintahkannya untuk berhenti, dua mawar itu tetap berusaha mencincang pria tua itu dengan durinya. Hal tersebut membuat Yi Hua mengeluarkan kertas jimatnya.
SRETT!
PLAK!
Salah satu dari Si Kembar itu menampar kertas jimat Yi Hua. Saat Wei Wuxie ingin ikut campur, Yi Hua sudah melompat untuk memukul ke arah mereka berdua. Yi Hua memang petarung yang agak ceroboh, dan tak perduli pada duri mawar yang dilontarkan oleh iblis mawar. Yi Hua menangkis duri yang berberai di depan matanya hanya agar dirinya tak tertusuk.
Duri itu pasti beracun.
__ADS_1
"Peramal Yi, ini adalah aturan di Gunung Hua," ujar Wei Wuxie yang sebenarnya berusaha melerai.
Hanya saja ... Wei Wuxie masih memiliki penghormatan pada Yi Hua. Tentu saja mengingat siapa Yi Hua sebenarnya. Sehingga ketika Yi Hua bertindak, Wei Wuxie tidak berani menyela.
"Bukan itu. Hentikan kedua wanita menyebalkan ini!" perintah Yi Hua ketika menyingkirkan duri yang melayang di udara.
Duri itu memercik pada salah satu dari dua mawar itu. Mengenai si Kakak yang memang penyerang.
Si Adik yang melihat kakak kembarnya terkena duri langsung marah. Ia menyerang Yi Hua juga, dan membuat Yi Hua sedikit kewalahan. Kertas jimat Yi Hua dirusak oleh duri beracun. Kemudian, melayang menuju ke arah Yi Hua hingga ...
GREP!
Baru saja kedua mawar itu merasa menang, tiba-tiba mereka terduduk di tanah. Merasa leher mereka tercekik. Yi Hua menoleh ke belakang ketika merasakan aura dingin di sana.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Hua Yifeng yang kali ini dengan pakaian serba hitamnya.
Mata pria itu tajam seperti biasanya, dengan dengan gestur jarinya ia terus mencekik dua mawar itu hingga menjadi tua. Benar. Cekikan itu seperti mematikan kekuatan mereka. Kulit dua mawar itu berkerut dengan cara mengerikan. Sehingga tampak seperti nenek tua dengan mata melotot.
"Tuan Iblis Kehancuran," sapa Liu Xingsheng yang sebenarnya merasa takut.
Yi Hua berdecak sebal. "Hentikan itu!"
SLAP!
Kedua mawar itu terlempar ke udara dan menabrak tangga Istana Awan. Darah hitam mengalir dari celah bolong di wajah mereka. Kemudian, dalam sekejap mereka kembali muda dan cantik lagi.
Mungkin kekuatan mereka yang masih ada didonasikan untuk kecantikan mereka saja.
"Apa yang kau perbuat, Yi Hua?" tanya Hua Yifeng dengan wajah marah.
Seperti yang diucapkan oleh Wei Wuxie. Jika Yi Hua ingin bersikap baik di Gunung Hua, maka itu sangat konyol. Setiap wilayah punya peraturan. Sehingga sebenarnya kedua mawar itu tidak salah saat memberi hukuman.
Yi Hua menghela napasnya. "Aku hanya menghentikan mereka."
"Mereka hanya menjalankan tugas mereka. Sejak awal pria tua itu yang mempersembahkan jiwanya untuk kegelapan," ucap Hua Yifeng dengan nada mengancam.
"Bukannya aku mengurusi aturan sialan kalian!" teriak Yi Hua yang tidak merasa ingin menyelamatkan siapapun.
Ia kasihan pada pria tua itu, tetapi dia tak ingin mencampuri urusan dunia hantu ini.
Jujur saja ia tak ingin bertengkar sekarang.
Yi Hua mendekat ke arah pria tua yang masih meringkuk kesakitan akibat duri mawar. Dengan itu Yi Hua berjongkok dan menyikap lengan penuh darah dari pria tua itu. Dan di sana Yi Hua tertegun.
"Penyakit Batu," bisik Yi Hua tak percaya.
Bukankah sejak Liu Xinqian menemukan obatnya, penyakit itu sudah tidak ada lagi?
Wei Wuxie dan Zhang Yuwen yang mendengarnya juga terpaku. Bagaimana pun mereka tahu tentang penyakit itu sekitar sepuluh tahun silam. Mereka melihat bagaimana mengerikan penyakit itu. Karena penyakit itu jugalah Bao Tian menjadi korban.
Tapi ...
Yi Hua menoleh pada Hua Yifeng, "Apakah ini disebabkan oleh kutukanmu?" tanya Yi Hua pada Hua Yifeng.
Ia ingat jika pria tua ini menyebut tentang perjanjian dan sebagainya.
Hua Yifeng menatap tajam pada bekas luka parah di lengan pria tua itu. Hanya menunggu waktu hingga pria tua itu mati.
"Aku tidak tahu, Yi Hua. Kau tahu jika penyakit itu sejak dulu tidak diketahui penyebabnya," jelas Hua Yifeng dengan tatapannya yang tajam.
Lalu, mengapa penyakit ini datang lagi?
Liu Xingsheng angkat bicara, "Dalam masa kekuasaan Raja Li Shen, tidak ada catatan mengenai penduduk yang terkena penyakit batu."
Jika penyakit ini sudah mengenai satu orang, sangat sulit untuk menahannya agar tidak menjangkit orang lain. Bencana besar lagi ...
Yi Hua mendadak pucat. "Kita harus kembali ke Pusat Kota."
Dahulu ... Bencana Besar Putri Li Wei ditandai dengan wabah aneh yang disebut Penyakit Batu.
Sekarang muncul wabah aneh ini lagi.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1