Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Satu Orang yang Tahu


__ADS_3

Suara tawa kecil dari Yi Hua terdengar.


"Apa yang Anda katakan, Selir Qian? Saya sungguh tidak mengerti. Apakah otot saya tidak menunjukkan bahwa saya adalah seorang pria?"


Jelas memang tidak.


Bagaimana bisa hal itu tercetus dari pikiran Yi Hua?


Dia hanya spontan mengelak karena ditanya secara terus terang oleh Selir Qian. Sehingga jawaban yang ia berikan hanya berdasar dari apa yang terlintas di otaknya. Bahkan dia segera menyesal mengucapakan hal tersebut ketika ia melihat wajah datar dari Selir Qian.


"Baiklah. Aku hanya ingin melihat apakah kau ingin mengetahui tentang reaksi Yang Mulia ketika mengetahui ini."


Tentu saja Yi Hua menyadari hal ini berkaitan dengan identitas Yi Hua. Apalagi Yi Hua sebenarnya adalah seseorang yang mencintai Raja Li Shen. Bahkan jika ia tidak salah mengingat, Yi Hua busuk ini sudah mengutarakan perasaannya pada Raja Li. Lagipula, siapa yang berani menebar kebohongan terhadap seorang Raja?


Yi Hua jelas harus memilih hari yang baik untuk mencari keluarga gadungannya hanya agar dia bisa punya orang yang menjaga abunya kelak. Lebih buruknya lagi jika Raja Li Shen memutuskan untuk menyiksanya dahulu sebelum memberi perintah eksekusi. Itu akan menjadi berita yang sangat buruk bagi Yi Hua, dan Kerajaan Li akan punya berita terbaru yang akan menggelar.


Seperti ...


Seseorang peramal pria dari Kerajaan Li ternyata menyukai Raja Li Shen. Saat diselidiki Tuan berinisial YH ini ternyata adalah seorang gadis. Jadi, Tuan yang sebenarnya Nona ini telah memalsukan identitasnya untuk memasuki jajaran pegawai kerajaan.


Membayangkan beritanya saja sudah membuat Yi Hua malas. Itu akan menjadi berita yang sangat buruk untuk ditanggung. Namanya saja sudah sangat buruk sekarang, apalagi jika berita itu sampai ke khalayak umum.


"Harusnya kau tak begitu berpikiran buruk. Itu tak baik untuk kesehatan mental. Cukup pikirkan saja bahwa kau akan mati tanpa sempat mendengar rumor itu. Sudah."


"Apakah kau masih tak ingin bicara?"


Yi Hua menghela napasnya saat ia mendengar apa yang ditanyakan oleh Selir Qian. Bagaimana pun seperti yang sudah terlihat dari ciri khas wanita ini, Yi Hua harusnya tahu bahwa dia bukan tipe orang yang berbasa-basi. Sehingga meski Yi Hua berbohong sekarang, cela di hidungnya akan ketahuan jua. Sungguh mata elang milik Selir Qian sangat berbahaya.


"Maafkan saya, Selir Qian. Seperti yang Selir Qian katakan, saya adalah seorang gadis, meski begitu saya punya alasan di balik itu semua," jelas Yi Hua yang kini memberikan penghormatan dengan cara seorang kecantikan.


Selir Qian menunjuk ke arah tangan kecil mungil Yi Hua. Bahkan tangan Selir Qian masih terlihat agak besar dibandingkan dengan Yi Hua. Bagaimana bisa Yi Hua selama bertahun-tahun tidak diketahui identitas aslinya.


"Sulit dipercaya betapa mata manusia begitu buta. Dia tak menyadari tentang pulau di depan mata," ucap Selir Qian sambil mengambil sisa obat dari atas meja kecil di samping kasur Yi Hua.


"Bukankah dia seharusnya menyebut 'gunung'*?"


^^^*Artian yang dimaksud Xiao itu adalah dalam artian salah satu hal yang dimiliki perempuan, sehingga dia berbeda dari laki-laki.^^^


Tutup mulutmu Xiao sebelum aku memutuskan untuk memberi guna-guna tanpa ada bayaran dosa pada dirimu!


SRET!


Yi Hua merasa dingin di sekitar lengannya. Itu adalah bagian yang tampak berwarna biru lebam. Luka itu sebenarnya bukanlah luka yang baru. Itu mungkin didapatnya ketika dia ditahan di dalam penjara. Lagipula, jelas sekali sebelum ditahan Yi Hua pasti akan berusaha melarikan diri.


"Aku tak akan bertanya tentang alasanmu di balik kebohongan ini. Akan tetapi, aku harus mengatakan padamu bahwa kau harus melarikan diri setelah ini, atau keluar dari istana saja."


Tatapan Yi Hua jelas sangat menentang itu semua. Bagaimana pun ada banyak hal yang masih menjadi tanda tanya di dalam hidup Yi Hua ini. Ditambah lagi dengan berada dalam kerajaan, masa depan Yi Hua akan terjamin. Dia bisa mendapatkan upah karena dia punya pekerjaan di dalam istana.


Jika di luar sana, Yi Hua yang tak bisa apa-apa ini hanya akan menjadi makhluk antah-berantah yang berkeliaran seperti sapi. Suatu saat nanti Yi Hua memang akan keluar dari istana, dan menjadi masyarakat biasa. Namun tidak sekarang.


Tidak sebelum aku punya uang!


Tidak ada orang yang bisa memberi uang jika dia tak bekerja. Lain halnya jika dia bisa makan rumput di kebun orang seperti sapi!


Sekarang yang lebih utama ialah mengumpulkan uang dan menabung untuk masa depan.


"Bisakah saya meminta Selir Qian untuk merahasiakan ini?" pinta Yi Hua dengan wajah memelas seperti kucing.


Berharap dia mendapat peruntungan dengan bertingkah seperti wanita lemah lembut bersahaja, yang seputih salju hatinya dan ramah lingkungan. Akan tetapi, dia lupa bahwa Selir Qian adalah spesies yang berbeda. Dia adalah orang yang tidak begitu perduli terhadap sesuatu. Bahkan Selir Qian kini menempel sebuah kantong berisi air hangat ke luka di sudut bibir Yi Hua.


"Hentikan wajah menyebalkan itu. Aku tak akan menyembunyikan apa-apa, Tuan ... Maksudku Nona Yi. Ini adalah saat yang tepat bagimu untuk keluar. Kau sudah berjasa untuk menyembuhkan penyakit Putera Mahkota."


Yi Hua mendadak ingat alasan dari semua keberadaannya di sini.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Pangeran?" tanya Yi Hua sambil menekan mengambil alih kantong air hangat yang sebelumnya ditekan oleh Selir Qian di sudut bibirnya.


Sepertinya keadaan Yi Hua sudah begitu buruk saat ini. Bahkan dia yakin dirinya tak akan bisa makan enak setelah ini akibat luka yang ada di dalam mulutnya. Padahal dia sudah ingin menghabiskan waktu untuk makan banyak hal setelah sempat kelaparan di dalam tahanan.


Ini seperti balas dendam!


"Dia masih tertidur di atas kasurnya. Sepertinya pelayan itu hanya meletakkan selaput sihir di atas diri Pangeran Li Quon. Terima kasih atas jasamu dalam menghilangkan energi buruk. Namun tak ku sangka pelayan itu tidak jujur."


Bagiamana menyebutnya?


Ketimbang disebut tidak jujur, Zi Si lebih bisa disebut sebagai alat yang hanya dimanfaatkan. Meski dia yang berbuat, tetapi dia dikendalikan. Sehingga akan sangat menyedihkan jika Zi Si disalahkan di sini.


Lagipula, ...


Yi Hua mengingat bagaimana Zi Si terlihat begitu perhatian dengan Putera Mahkota, Li Quon, bahkan melebihi Selir Wen yang nyatanya adalah ibu kandung dari Li Quon sendiri.


Entah itu karena pengendalinya begitu kuat dalam menyelipkan energi dalam cangkang manusia, atau memang saat menjadi Zi Si jiwa tersesat itu telah belajar menjadi manusia. Jika seperti itu, bukankah itu juga akan menyakitkan bagi Zi Si sendiri?


Itulah mengapa dia hanya menyembunyikan Li Quon dengan sihirnya, bukan dengan langsung membunuhnya. Entahlah. Yi Hua tak begitu tahu apa yang Zi Si pikirkan. Hanya saja dia tak bisa menahan untuk memberikan simpati.


Apakah aku memiliki waktu untuk bersimpati pada orang lain sekarang?


Bahkan sekarang dia harus menghadapi tekanan dari Selir Qian ini. Cara lebih baik dari segalanya ialah bertindak seperti apa yang dilakukan oleh Yi Hua asli. Peramal sombong itu seharusnya tampak sombong ketika dia telah berjasa.


"Sudah kewajiban dari saya, Selir Qian." Hanya itu yang bisa Yi Hua jawab.


Sebab, ...


Berbicara tentang energi buruk. Sebenarnya bukan Yi Hua yang menghilangkannya. Dia memang sempat menyerap energi buruk dari tangan berjalan itu, tetapi yang menghancurkan lapisan sihir itu sebenarnya adalah pria bertopeng perak.


Juga, dia masih memiliki beberapa hal yang membelenggu pikirannya.


Yi Hua yang sedang menekan bibirnya dengan kantong air hangat mendadak berhenti. Tanpa bisa ia tanggung, tangannya menjauh dari bibirnya karena enggan. Bagaimana pun hal semacam itu agak sedikit aneh untuk Yi Hua.


Ia harus mencari buku-buku yang mungkin bisa menjelaskannya. Apakah mencium seperti itu adalah bagian dari cara untuk menyerap energi?


"Dengarkan apa kata-kataku, Tuan ... Maksudku Nona Yi. Kau tak bisa terus-menerus menyembunyikan identitas dirimu. Apalagi ketika kau bergabung dalam pekerja di istana. Juga ..."


Selir Qian berdiri sambil menunjuk ke arah dada Yi Hua.


"Itu sebenarnya tak baik untuk pernapasan. Belitan kain yang kau ikat itu terlalu kencang."


"Kau sudah cukup rata, sehingga tak perlu khawatir," ucap Selir Qian tanpa memikirkan adanya panah imajiner yang menancap di kepala Yi Hua.


Sabar ... Sabar ... Jangan sampai membuat masalah lagi, Yi Hua! Jangan sampai kali ini masuk ke penjara bawah tanah hanya karena menendang kepala seorang Selir.


Itulah yang Yi Hua sebut berkali-kali dalam otaknya yang memang sedang melantur itu.


Setelah mengatakan hal jujur lagi menyakitkan itu, Selir Qian keluar dari ruangan Yi Hua begitu saja. Di luar sana ada beberapa pelayan yang menjemput Selir Qian. Tentu saja itu karena dia adalah seorang Selir, walau Selir Qian terlihat cukup mandiri tanpa perlu ada pelayan di sekitarnya.


Tak lama setelah Selir Qian yang keluar, kini adiknya yang muncul kembali.


Liu Xingsheng.


Entah mengapa pria ini menjadi begitu tertarik dengan Yi Hua. Mungkin saja seperti yang Xiao katakan, orang konyol seperti Yi Hua akan memiliki orang konyol lainnya di sekitarnya.


"Tuan Yi, bagaimana kau bisa dengan begitu hebat untuk tahu bahwa pelayan itu adalah cangkang manusia?" tanya Liu Xingsheng dengan semangat.


Jadi, ini yang membuat Liu Xingsheng begitu penasaran dengan dirinya.


"Dia menunjukkan kekakuan wajah, itu saja."


Ciri khas dari cangkang manusia ialah dia tak bisa menggerakkan wajahnya seperti manusia biasa. Terkadang cangkang manusia akan lupa menyelaraskan matanya, sehingga ketika bergerak untuk menatap ke arah yang berbeda-beda akan ada mata yang lambat bereaksi. Seperti ketika awalnya menatap ke arah kiri, lalu ketika dia berpindah untuk menatap ke arah kanan, mungkin salah satu matanya tak akan sinkron mengikuti.

__ADS_1


Namun ...


Zi Si terlihat cukup sempurna untuk menjadi cangkang manusia. Yi Hua tak melihat adanya malfungsi fisik pada Zi Si. Berarti pengendalinya adalah orang yang kuat.


Lebih tepatnya lagi dia mungkin sangat kuat


Jika seperti itu ...


"Yi Hua, mari kita rayakan kemenangan hari ini? Biar aku yang mengatasi seluruh pembayaran."


Yi Hua segera memakai jubah bagian luarnya yang ternyata tergeletak di samping kasur kecilnya. Ia menatap pada Liu Xingsheng dengan bingung. Dia sebenarnya tak begitu mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Liu Xingsheng.


"Mengapa saya harus ikut, Perdana Menteri Liu?" tanya Yi Hua dengan wajah yang sedikit menahan sakit ketika memakai jubahnya sendiri.


Liu Xingsheng dengan akrab merangkul pundaknya, "Di sana ada kecantikan yang perlu kau lihat. Yah, walaupun tak ada yang bisa melebihi kecantikan dari diriku. Meski begitu, semuanya pantas untuk dilihat."


Siapa yang memberikan orang ini kepercayaan diri begitu banyak? Yah ... Walau itu agak benar.


"Bukankah Anda punya laporan yang mesti diselesaikan?" tanya Yi Hua yang mengingat perintah dari Selir Qian sebelumnya.


Wajah Liu Xingsheng agak sedikit berubah. Sepertinya ia memang takut dengan kakaknya sendiri. Meski begitu, dia tetap saja terlihat sedikit pembangkang.


"Besok masih belum datang, Tuan Yi. Yang baik adalah hari ini."


"Yang baik adalah hari ini. Lalu, apa bedanya dengan hari-hari lain?" tanya Yi Hua yang masih bingung dengan ajakan ini.


Liu Xingsheng membuka kipasnya.


"Katanya pada hari ini gunung Hua terbuka untuk luas."


Gunung Hua? Tempat Kerajaan Hantu?


"Rumor menyebutkan bahwa Kerajaan Hantu biasanya tertutup pada hari biasanya. Namun hari ini, bulan berada pada ketinggian yang tepat. Jika kau datang ke sana, maka kau akan melihat suatu kota yang tak bisa kau lihat di hari-hari lain. Isinya tentu saja makhluk halus." Xiao sepertinya masih berbaik hati untuk menjelaskannya pada Yi Hua.


Namun yang bisa Yi Hua mengerti tentang Kerajaan Hantu ialah seperti kota yang tak kasat mata.


"Bukankah di sana ada Hua Yifeng?"


Bagaimana pun Yi Hua harus berhati-hati dengan Hua Yifeng ini. Jika dia mengetahui tentang adanya tungku dalam diri Yi Hua, maka itu akan sangat berbahaya. Bagaimana jika dia memutuskan untuk memanfaatkannya?


"Meski Kerajaan Hantu adalah milik Hua Yifeng, tetapi pria itu biasanya tak terlihat. Sehingga kau tak perlu takut," ucap Liu Xingsheng sambil menarik tangan Yi Hua.


Mengajak Yi Hua untuk mengikutinya, meski tak persetujuan dari Yi Hua.


"Lagipula, bukankah Kerajaan Li membenci adanya Hua Yifeng?"


Liu Xingsheng mendadak tersenyum licik. "Itulah yang perlu kita cari tahu, Yi Hua. Apakah benar Kerajaan Li membenci Kerajaan Hantu? Atau, mereka sebenarnya menyukai tempat tanpa batasan dosa itu."


Mendadak aku merasakan aura-aura yang buruk dari semua ini! Apakah aku bisa menendang kepala Perdana Menteri miring ini sekarang?!


Yi Hua tahu bahwa mereka ke gunung Hua bukan hanya untuk melihat-lihat. Pasti akan ada hal yang melelahkan lagi berbahaya di sana. Pasti!


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Hey, bagaimana kabarnya?


Jangan lupa untuk jaga kesehatan dan terus semangat! Adakah yang membaca Pemeran Pembantu juga?


Yap! Maaf cerita ini agak telat karena aku juga punya satu novel lagi yang perlu dikerjakan. Juga, aku punya revisian dari dosen yang cukup banyak untuk diselesaikan. Yah, begitulah.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2