Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Esensi Kecantikan 5: Sebelum Menuju Pengantin Pria Palsu


__ADS_3

Yi Hua menatap An dengan lekat. Bagaimana pun An sudah sangat menangkap mata secara penampilan. Ditambah lagi dengan apa yang pria itu bicarakan. Sejujurnya, Yi Hua tak menyangka tentang apa yang dikatakan oleh An padanya hari ini.


"Mengapa itu semua bisa terjadi?" tanya Yi Hua yang sebenarnya bingung harus mengatakan hal apa.


"Sesuatu yang indah tak selalu bisa dimiliki oleh yang terbawah. Bukan hal yang aneh."


Bukankah jawaban ini sedikit relevan?


Pada nyatanya, setiap saat, suatu saat, dan bisa saja saat ini, semua memiliki ukuran. Terlepas dari bagaimana seseorang mengatakan cinta adalah cinta, tetapi yang realita ialah materi. Sulit dipercaya, namun itu lebih relevan.


Bagaimana pun semuanya berkenaan dengan apa yang 'menarik' mata. Itu adalah materi.


"Yang ketiga, dia adalah Tirai Berdarah. Itu adalah makhluk paling berantakan yang pernah ada. Dia menculik manusia, dan memakannya setelah mengeringkannya. Dia Zhang Yuwen," lanjut An dengan nada datar.


Yi Hua menatap bingung pada An. "Mengapa Hua Yifeng yang paling ditakuti, padahal Zhang Yuwen lebih brutal? Apalagi berkenaan dengan kasus para kecantikan yang menghilang. Bisa saja itu perbuatan Si Tirai Berdarah ini."


Sebenarnya itu masuk akal.


"Bukankah aku bilang Zhang S*alan ini adalah makhluk berantakan? Untuk meningkatkan kekuatan, dia mengambil umur manusia. Akan tetapi, ciri khas dari Zhang Yuwen ini tidak sulit dilihat."


Terdengar keluhan dari Xiao ketika mendengarkan penjelasan dari An. Bagaimana pun lima pendosa ini adalah sangat meresahkan hidup dunia manusia. Sehingga gelar itu didapatkan bukannya hanya karena persoalan yang sepele.


"Dia benar. Zhang Yuwen ini selalu meninggalkan bekas paling mencolok dari perbuatannya. Lagipula, dia bukanlah tipe yang pemilih," tanggap Xiao masuk akal.


Jika Zhang Yuwen pelakunya, maka dia tak akan memilih antara perempuan atau seorang laki-laki. Dia hanya perlu orang yang sial, dan menjadi korbannya.


"Makhluk menjijikkan itu akan makan dengan berantakan. Dia juga tak menghilangkan jejak perbuatannya. Sehingga ketika dia 'makan', esoknya kau akan menemukan orang yang sudah mengering di tempat ketinggian. Seperti pohon atau pun di bibir jurang."


Yi Hua sedikit mendengar tentang Zhang Yuwen ini. Di Kerajaan Li punya peraturan yang sedikit aneh. Yakni, kau tidak boleh melewati gerbang keluar dari Kerajaan Li saat senja. Anehnya hanya seperti itu.


Setelah senja atau sebelum senja tak akan terjadi apa-apa. Jika kau melewati gerbang keluar Kerajaan Li di saat senja, maka kau akan mengering. Itu adalah rumor yang dipercayai oleh banyak orang. Terutama saat memang ada beberapa pedagang asing yang kebetulan melewati Kerajaan Li, dan mereka tak tahu tentang rumor itu.


Sehingga mereka akan ditemukan tak bernyawa keesokan harinya dengan keadaan mengering. Lalu, akan ada banyak tetesan darah di sekitarnya, dan orang-orang melihatnya seperti genangan air dari hujan yang deras.


Tentu saja itu bukan hujan yang sebenar-benarnya hujan. Itu adalah tetesan dari dari orang yang tergantung. Lalu, mereka membayangkan bagaimana darah-darah yang berjatuhan dan membentuk tirai.


Oleh karena itu, Zhang Yuwen disebut sebagai Tirai Berdarah.


"Dia sebenarnya hanya orang gila yang berantakan. Zhang S*alan itu melakukannya karena ingin memiliki julukan," balas An yang semakin terlihat malas menjelaskannya.


Hanya pria ini yang membicarakan lima pendosa seperti membicarakan lima sapi.


Yi Hua melihat ekspresi An yang terlihat tidak takut dengan apa yang telah dikatakannya sendiri. Oleh karena itu, Yi Hua hanya bisa tertawa tak jelas. Dan, An menarik senyummya lagi untuk memberikan penjelasan lagi.


"Apakah kau masih ingin mendengar tentang kedua yang terakhir?" tanya An dengan nada yang hangat.

__ADS_1


Pada akhirnya, Yi Hua hanya menganggukkan kepalanya. Seolah dia ingin mendengar, walau nyatanya otaknya tak bisa menampung begitu banyak informasi. Namun dengan Xiao, yang memiliki perkumpulan informasi sesuai ingatan Yi Hua asli, Yi Hua pikir dia bisa memanfaatkannya. Semua itu hanya agar otaknya tak begitu payah dalam mengingat perihal yang mungkin penting nantinya.


"HuaHua, berani sekali kau memanfaatkan aku!" protes Xiao yang memang sejak awal memang sensitif jika dibicarakan.


"Lalu, ada Tengkorak Putih, Bao Jiazhen. Tak ada yang tahu rupanya. Dia hanyalah iblis yang menguasai bagian dari laut barat. Itu bukan wilayah yang begitu banyak dihuni oleh penduduk Kerajaan Li. Sebenarnya Bao Jiazhen lebih individual daripada yang dipikirkan. Asalkan tidak mengganggu wilayahnya, maka semuanya baik-baik saja," lanjut An yang kini melipat tangannya di dada. Tatapannya masih sama, dan tertuju pada Yi Hua.


Entah mengapa mereka berdua menghabiskan waktu menunggu ini dengan membicarakan lima pendosa. Padahal Yi Hua sudah berpikir bahwa akan ada jangkrik dimana-mana saat dia hanya berdua dengan An. Lagipula, ini tidak seperti mereka saling mengenal.


"Mengganggu wilayah? Seperti?"


An menyisir rambutnya ke belakang saat melihat dahi Yi Hua yang berkerut. Entah mengapa tangan An terlihat bergerak sedikit aneh. Dia seperti mencengkeram lengannya sendiri dengan erat saat melipatnya di dada. Seolah menahan sesuatu.


Yi Hua mulai berpikir bahwa An sedikit bosan dengan pembicaraan mereka saat ini.


Aku pasti sangat mengganggu waktunya yang sibuk. Bahkan aku dengan anehnya bertanya pada An. Tidak banyak lagi ^__^.


"Kau tidak begitu padaku, Yi Hua. Harusnya kau merasa segan ketika merepotkan aku juga." Hidup ini tak akan begitu menyebalkan bagi Yi Hua jika tak ada komentar Xiao di dalamnya. Entah mengapa suara menyebalkan ini selalu terdengar saat momen-momen yang krusial.


Dasar tidak tahu situasi!


"Seperti memasuki wilayahnya. Dia adalah seseorang yang tak begitu pandai menerima tamu. Selebihnya tak ada yang begitu mengerikan darinya. Yah, selain fakta bahwa dia bisa memberi kutukan."


Yi Hua memperhatikan An yang memejamkan matanya. Pria itu terlihat sangat lelah karena menjawab setiap rasa penasarannya. Mungkin Yi Hua terlalu banyak bertanya. Meski begitu, An masih menjawabnya juga.


"Dia bisa mengutuk manusia agar menjadi tengkorak putih. Ketika dikutuk, manusia itu lama-kelamaan akan terus kehilangan bobot tubuhnya. Terus-menerus tanpa bisa dihentikan, hingga dia menjadi tengkorak. Yang lebih buruknya lagi, manusia itu tidak mati, dia masih hidup dan menyaksikan tubuhnya sendiri yang rontok. Itulah asal-usul dari kutukan Tengkorak Putih."


An memperhatikan Yi Hua yang menganggukkan kepalanya mengerti. Bagaimana pun Bao Jiazhen, meski kutukannya terlihat agak kejam, tetapi masih bisa dihindari perjumpaannya. Selain karena laut barat itu agak jauh dari Kerajaan Li, juga karena Yi Hua tak berkenan untuk bertamu di sana.


"Apa kau benar-benar mengerti, atau, aku perlu mengulangnya kembali?"


Yi Hua menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis di wajahnya. Sungguh perilaku yang agak tak biasa. An bahkan tak begitu terkejut lagi dengan fakta bahwa peramal sombong itu telah berubah sedemikian rupa.


Tangan An perlahan menuju ke bagian sudut ruangan. Pria itu mengulurkan tangannya dan menarik penutup wajah berwarna merah yang biasanya digunakan oleh pengantin. Bagaimana pun ini sudah waktunya untuk pengantin datang.


"Yang terakhir sebenarnya hanya cerita lama. Hanya orang-orang di masanya yang melihat tindakannya. Sehingga tak ada yang begitu takut tentang hal tersebut."


Walau An menjelaskan, tetapi gerakannya sangat halus untuk meletakkan penutup kepala untuk Yi Hua. Hal itu membuat Yi Hua tanpa sadar mendongakkan kepalanya.


Mata An melirik tipis pada Yi Hua, sebelum ia menutup wajah cantik Yi Hua dengan jubah itu. Sekaligus memutuskan pandangan di antara mereka berdua. Pada akhirnya, An hanya menatap Yi Hua di balik penutup kepala merah khusus pengantin itu.


Sebuah tatapan yang tak pernah Yi Hua ketahui dan lihat.


"Seorang Pendeta Buta, Shen Qibo. Dia adalah seorang pendeta gila yang membantai satu desa karena dia buta. Sekitar seribu orang mati begitu saja. Bahkan sekarang desa itu tak bisa dihuni lagi karena begitu banyak dendam dan kesakitan. Tak ada yang mengerti alasannya, tetapi orang lain tahu kejahatannya. Namun itu terjadi sekitar lima atau enam tahun yang lalu," jelas An sebelum melepaskan tangannya dari penutup kepala itu dengan tak rela.


Yi Hua mulai mengerti alasan mengapa mereka disebut lima pendosa. Mereka hanyalah orang-orang dengan segelintir prahara dalam hidupnya sendiri. Meski begitu, seperti yang orang lain pikirkan, Yi Hua juga sama.

__ADS_1


Satu-satunya yang sangat meresahkan bagi Kerajaan Li ialah Hua Yifeng. Selain karena dia memiliki kekuatan yang begitu besar, tetapi juga karena kau bisa bertemu Hua Yifeng kapan saja. Tidak seperti pendosa lainnya. Sehingga tak aneh jika Yi Hua bertemu dengan Hua Yifeng dimana pun dia berada.


Oleh karena itu, banyak praduga yang menunjuk perbuatan penculikan ini pada Hua Yifeng. Selain karena terlihat sangat 'bersih', tetapi juga karena Gunung Hua menyimpan segudang misteri. Tak ada yang tahu apa saja yang disimpan oleh Hua Yifeng di dalam Kerajaan Hantunya.


Tempat perjudiannya saja sudah sangat tersohor hingga memiliki banyak pengunjung. Bahkan dari Kerajaan Li yang notabenenya begitu takut akan kehadiran Hua Yifeng.


Namun Yi Hua tak berada di pihak itu. Menurutnya, Hua Yifeng tidak memiliki sangkut paut atas kasus ini. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Hua Yifeng bukanlah orang yang perlu menculik jika dia ingin. Dia bahkan bisa mendapatkan kecantikan melalui perjudiannya di Gunung Hua.


Semua orang bisa mempertaruhkan apa saja di sana hingga semuanya terasa sangat meresahkan.


"Apakah kau siap untuk menemui pengantin pria-mu?" tanya An dengan nada yang agak dalam.


Sudah waktunya!


Yi Hua tak begitu bisa melihat ekspresi pria itu. Meski begitu, dia malah ingin memukul kepalanya sendiri karena harus terlibat dalam hal ini lagi. Padahal dia seharusnya tidak begitu sering menggunakan pakaian perempuan.


Bagaimana jika dia terlihat begitu jelas, dan orang-orang akan menyadari bahwa dia lebih cocok menjadi perempuan. Lalu, timbul rumor dan Yi Hua akan dipaksa untuk mengungkapkan identitasnya secara publik. Kemudian, ...


"Ayo, jelaskan padaku alasan dimana anggapan bahwa kau bisa 'terlihat' begitu perempuan?" tanya Xiao yang semakin jengkel dengan pikiran negatif Yi Hua.


Berisik!


"Tuan An, apakah ini akan berhasil?" tanya Yi Hua yang mendongakkan kepalanya.


Ia tak melihat An secara langsung, tetapi ia yakin wajah An ada di sana. Anehnya, kedua orang ini bisa saling menatap di antara penutup kepala merah itu. Tentu saja Yi Hua tak pernah tahu bagaimana ekspresi An ketika menatapnya.


Hanya Xiao yang tahu, dan karena itu makhluk itu menghela napasnya. Entah bagaimana caranya. Anggap saja dia memang bisa bernapas seperti yang sudah dikatakan.


An menarik senyumnya diam-diam. Tangannya melayang dan nyaris menepuk kepala Yi Hua. Namun hanya beberapa detik sebelum sampai di sana, An menariknya kembali. Kemudian, pria itu menjauhkan tubuhnya sebelum menjawab dengan mudah.


"Yi Hua bisa melakukannya."


Setelah itu, An melihat pintu yang terbuka dengan seperangkat pelayan yang datang untuk mengiringi Yi Hua. Sepertinya upacara pernikahan akan segera dilaksanakan. Sehingga saat acara dilaksanankan, maka misi mereka juga akan berjalan.


Yi Hua hanya berharap penculik ini memakan umpan yang sudah ditebar.


***


Selamat membaca.


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik lagi untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2