Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Seorang Penari 7: Cerita dari Penari Menyedihkan


__ADS_3

Ini saatnya! Sebelum terlambat.


Yi Hua berusaha menerobos kerumunan hanya untuk mendekati mayat gadis kecil itu. Akan tetapi, karena tubuhnya yang kecil ia terseret dalam arus. Hal itu membuat Yi Hua merasa jengkel sekaligus takut.


Takut?


Yah, benar. Jika dia terlambat sedikit saja, mungkin gadis kecil itu akan benar-benar mati.


BRUK!


Yi Hua sudah berusaha menerobos kerumunan. Meski dia sudah menerobos beberapa orang, tetapi dia tetap terseret. Ia tak menyangka jika ini akan benar-benar sulit.


Harusnya jika ada kecelakaan atau apapun jangan hanya dikerumuni saja!


Tak henti-hentinya Yi Hua mengomel. Ini juga salahnya. Seharusnya ia meminta Liu Xingsheng menyiapkan pasukan yang menyamar. Itu semua untuk membuka jalan jika diperlukan.


Yi Hua hanya tak menyangka jika ini seperti dugaannya.


Fakta sebenarnya adalah anak-anak yang ditemukan itu sebenarnya tidak mati. Tepatnya hanya dibuat seperti mati suri. Lalu, seharusnya anak-anak ini diberikan penawarnya sebelum benar-benar mati. Sebuah sandiwara untuk membuat mereka seolah mati. Agar tak ada yang tahu jika anak yang sudah mati itu padahal akan diculik.


Jika mayatnya tak ditemukan, itulah laporan yang diserahkan ke kerajaan. Sebagai anak-anak yang diculik. Yi Hua bisa menyimpulkannya sekarang.


Wei Fei yang memberi racun, dan rekannya yang lain memberi penawar. Lalu, anak yang 'mati' tadi, hidup kembali tetapi dengan ingatan kosong karena otak mereka rusak. Itu semua karena racun ini. Entah siapa yang bisa meraciknya.


Kemudian, mereka akan membawa anak ini untuk ikut dalam rombongan. Itulah mengapa setiap mereka menari, anak-anak itu menggunakan topeng. Hal itu sudah terbukti dari dua korban kemarin. Yang meninggal lebih lama tak bisa hidup kembali, sedangkan yang baru meninggal bisa hidup lagi.


Lucunya, jika tak ada yang menemukan mayat anak-anak itu, maka mereka tak akan mati.


Aku tak menyangka menyelamatkan anak yang akan diculik malah bisa membuat seseorang menjadi pembunuh.


Yi Hua meminta Selir Qian membuat penawarnya kemarin. Dan, Yi Hua menyadari bahwa jika ada korban dari kasus ini ialah karena kelompok penari ini gagal menculiknya. Ini seperti salah para tentara kerajaan yang membawa mayat anak-anak itu. Sehingga para penari ini tak bisa memberi penawarnya.


Yi Hua bahkan tak mengerti lagi, mana yang benar dan mana yang salah.


Hanya saja ini masih belum selesai, karena masih ada benang yang belum tersambung. Oleh karena itu, kerajaan hanya bisa membiarkan kelompok penari ini melakukan aksinya lagi. Hanya agar mereka bisa membuktikan teori gila Yi Hua.


SRET!


Eh?


Yi Hua menoleh pada kakinya yang terbang. Bukan hanya itu, ia juga merasakan lengan seseorang melingkar di pinggangnya. Setelah itu, Yi Hua merasa seperti terbang menerobos kerumunan.


Ia melihat kuncir kuda An yang tampak dari atas. Mau tak mau Yi Hua menarik senyumnya. Entah ini disadarinya atau tidak.


"Terima kasih," ucap Yi Hua pelan.


An tak menjawab apa-apa.


Setelah Yi Hua berhasil mendarat ke dekat anak kecil yang diracuni itu, ia segera menerobos pada seseorang yang tengah memeluk anak itu. Itu adalah seorang wanita dengan bedak setebal dosa. Mungkin saja wanita ini adalah ibunya.


Namun ...


CRASH!


S*al! Kuku wanita ini bahkan lebih menyebalkan ketimbang wajahnya!


Yi Hua mengasihani lengan kurusnya yang dicakar oleh wanita bedak setebal dosa ini. Bagaimana pun dia harus memberi penawar pada anak ini lebih cepat. Sehingga Yi Hua hanya mendekati anak kecil yang sudah mulai mendingin itu.


"Apa yang kau lakukan pada anakku?" teriak wanita itu kasar.


Kerumunan semakin riuh. Bahkan jika Yi Hua tak dibantu An, maka Yi Hua akan kembali terseret arus. Yi Hua memperhatikan pada kuku wanita itu yang panjang. Lalu, ia melihat pada lengan gadis kecil yang masih 'mati' itu. Gadis kecil itu sangat kurus, dan lengannya terluka akibat cakaran.


Ia mulai mengerti mengapa Wei Fei menargetkan gadis kecil ini. Gadis kecil ini mungkin menderita karena memiliki ibu yang ringan tangan. Akan tetapi, itu hanyalah perspektif di depan saja.


Tak ada yang tahu apa yang terjadi di keluarga ini. Tak ada yang tahu penderitaan anak ini yang sebenarnya.


Apakah masuk akal jika menilai penderitaan orang lain hanya dengan penampilan luar?


SRET!


Yi Hua segera membuka mulut anak kecil itu, lalu memasukkan bubuk ramuan yang diracik oleh Selir Qian.


"Ku mohon, tolong bekerjalah," pinta Yi Hua ketika ia menutup mulut gadis kecil itu yang membiru.


"Hey kau ..." Tangan wanita itu kembali ingin meraih Yi Hua. Salah-salah jika Yi Hua tak menghindar, mungkin pipinya akan tercakar.


CKRAK!


Yi Hua menoleh pada An yang mengeluarkan pedangnya. "Jangan!"


Xiao berceloteh di telinga Yi Hua. "Aku rasa pria ini tak akan segan-segan memotong tangan wanita itu."


GREP!

__ADS_1


An berhenti tepat setelah mendengar teriakan Yi Hua. Lalu, Yi Hua dengan mudah menangkap tangan wanita itu. Sejatinya, dibandingkan dengan tangan mengerikan wanita ini, Yi Hua lebih kuat.


"AKHH ... Sakit! Apa yang kau lakukan? Lalu, kenapa kalian diam? Dia menyakiti anakku! Dia juga menyakiti aku," pekik wanita itu.


Yi Hua memutar tangan wanita itu ke belakangnya punggungnya. Hal itu menimbulkan pekikan kesakitan lagi. Meski begitu, tak ada yang berani menghentikan Yi Hua. Itu semua karena mereka tak ingin ditebas oleh pria dengan pedang hitamnya itu.


"Tak banyak orang punya kesempatan untuk hidup lagi, Nyonya," ucap Yi Hua dengan nada tenang.


Matanya menatap pada gadis kecil itu yang menggerakkan tangannya. Yi Hua tanpa sadar tersenyum. Ia tak terlambat.


Yi Hua lalu melepaskan cengkeraman tangannya pada wanita itu. Wanita itu tampak mengusap lengannya yang sakit. Ia tak menyangka jika Yi Hua akan punya tenaga sebesar itu untuk mencengkeram tangannya. Padahal tangan Yi Hua kecil dan tampak rapuh.


"Jadi, jangan membuatnya terluka lagi." Yi Hua mengatakan itu dengan tatapan tajam.


Suara keributan terdengar lagi.


"Dia hidup lagi."


"Apa yang terjadi?"


Lalu, suara lain muncul seperti orang tahu banyak hal. "Ada seorang pengembara dengan tenaga seperti sapi. Dia menyembuhkannya."


"Apa? Dimana dia?"


Sayangnya, Yi Hua telah dibawa keluar dari kerumunan. Tepatnya setelah An menyadari jika Yi Hua hampir ingin menendang kepala wanita itu. Ia tak mau jika Yi Hua akan membuat korban baru di sana.


Akibat keramaian itu, tak banyak yang menyadari jika para penari itu juga telah pergi. Tepatnya oleh tentara kerajaan. Mereka dibawa tanpa ada penolakan berarti. Seolah semua kelompok penari ini tak memiliki ketakutan untuk ditangkap.


Seperti kata Wei Fei pada Huan Ran saat Perdana Menteri itu menangkapnya. Yah ... Wei Fei akhirnya tahu identitas sebenarnya dari pria yang dikenalnya baru tadi malam. Akan tetapi, Wei Fei masih menampilkan senyum tenang.


"Bukankah kalian harus punya bukti agar bisa menangkap kami?" tanya Wei Fei dengan senyum manisnya. Gigi taringnya yang khas terus tampak ketika ia tersenyum.


Sejatinya, jika Wei Fei ditangkap, maka itu karena kasus untuk meracuni anak-anak ini saja. Sedangkan, untuk penculikan anak-anak itu kerajaan tak punya buktinya. Sebab, anak yang ikut dalam kelompok penari di Kota Zhu hanyalah beberapa saja. Itu pun juga tak tercatat sebagai anak yang hilang.


Mungkin anak-anak yang dibawa Wei Fei ke Kota Zhu ini adalah anak yang hilang beberapa tahun yang lalu. Sehingga kerajaan sudah menutup kasusnya. Oleh karena itu, mereka tak punya bukti jika Wei Fei dan kelompok tarinya adalah pelaku dari penculikan juga.


Ini masih terlihat seperti ada dua pelaku di sini.


Huan Ran menggaruk kepalanya sebal. "Sepertinya aku memerlukan bantuan dari peramal sombong itu lagi."


Setidaknya, mulut angkuh itu berguna untuk menekan mental orang lain. Mungkin saja Wei Fei akan terlepas ucapannya, dan memberitahu Yi Hua.


***


TAP!


TAP!


"Sebuah bunga akan tercium kedatangannya meski tanpa melihatnya," ucap Wei Fei yang masih memejamkan matanya.


Yi Hua membuka penutup kepalanya. Entah mengapa dia harus datang ke penjara ini lagi. Ia punya momen yang buruk saat di penjara ini.


"Menurut Anda, apa saya masih seperti bunga mawar putih?" tanya Yi Hua ketika ia duduk bersila di depan penjara.


Bunga mawar putih.


Ada banyak penafsiran tentang mawar putih ini. Namun ketika melihatnya orang-orang banyak berpikir bahwa itu adalah kesucian, kepolosan, juga kelembutan. Akan tetapi, ...


"Saya menipu Anda," lanjut Yi Hua dengan nada datar.


Wei Fei masih terlihat dengan senyum di wajahnya. "Aku pikir kau tertarik dengan tarian itu. Kau terlihat terus mengamati aku ketika menari."


Yi Hua menghela napasnya. "Sebab, permukaan tak selalu menceritakan isi di dalam, Tuan Wei. Sama seperti Anda menilai penderitaan orang lain."


Wei Fei bangkit dengan tenang. Tatapannya masih seperti biasa. Seolah mereka bukan orang yang berbeda kubu. Hanya seperti dua teman yang saling bicara.


"Apa kau ingin mendengar sebuah cerita?" tanya Wei Fei sambil menyangga dagunya dengan tangan.


"Silahkan."


"Di suatu tempat tinggallah seorang anak dengan adiknya. Walau mereka tak yakin bahwa mereka sejatinya benar-benar bersaudara. Hanya saja sejauh yang mereka ingat, mereka adalah keluarga." Wei Fei mengangkat tangannya untuk bercerita.


Yi Hua tak berniat menyela cerita Wei Fei.


"Aku mencium aura kematian lagi darinya, HuaHua," ucap Xiao di telinga Yi Hua.


Tak banyak orang yang tahu tentang kapan dirinya atau orang lain akan mati. Namun Yi Hua tahu tentang kematian pria di hadapannya ini. Cepat atau lambat, pria ini akan kehilangan nyawanya.


"Mereka makan apa yang bisa mereka makan. Mereka tidur dimana mereka bisa tidur. Mereka bernapas selagi mereka bisa bernapas," lanjut Wei Fei.


"Menyedihkan." Hanya itu yang bisa Yi Hua tanggapi.


"Ha ... Ha ... Apakah bibir cantikmu memang selalu berkata hal yang buruk?" tanya Wei Fei dengan tawanya yang terus berlanjut.

__ADS_1


Yi Hua adalah orang yang sangat jujur.


"Kala itu hujan deras, dan sang adik demam. Mereka berdua sudah berpikir bahwa ini adalah saat terakhir mereka. Namun Dewa memberikan bantuan lewat tangan seorang manusia," jelas Wei Fei yang kini mengusap matanya yang berair.


Tak ada yang tahu mengapa matanya berair. Entah karena dia tertawa atau karena matanya kemasukan debu. Bahkan Wei Fei sendiri tak mengetahuinya. Ia hanya tahu air matanya menetes.


"Seseorang datang dan menyelamatkan mereka berdua. Memberi mereka selimut yang hangat. Tempat untuk bernaung, dan bahkan makanan yang enak. Jauh lebih enak dari sampah yang pernah mereka makan."


Yi Hua mungkin harus bersyukur tentang kehidupannya yang sekarang.


Rumah tercintaku, meski agak kumuh tetapi masih bisa ditinggali.


Wei Fei menatap Yi Hua dengan matanya yang hangat. "Bukankah ini cerita yang sangat menyedihkan? Mengapa aku malah melihatmu seperti tak ingin menangis?"


"Menangis itu bukan satu-satunya cara seseorang menunjukkan kesedihan." Yi Hua menjawab dengan datar.


"Lagipula, ..." Yi Hua menggantungkan kata-katanya. "Berhutang budi bukan berati kau harus melakukan apa saja untuk membalasnya. Itu yang lebih menyedihkan dari segalanya."


"Mengapa kau tak menghiburnya, HuaHua? Hatimu sangat dingin ternyata," ejek Xiao yang entah mengapa mulai berkomentar lagi.


Wei Fei seharusnya tahu jika Yi Hua itu sangat jujur.


"Anak-anak itu ... Sebagian dari mereka dijual, bukan?" tanya Yi Hua langsung pada poinnya.


Wei Fei menatap Yi Hua lagi. Kali ini bukan dengan senyum di wajahnya. "Mereka dijual kepada orang tua yang baru. Orang tua yang jauh lebih baik dari keluarga mereka yang sebenarnya. Tuan hanya melakukan hal yang baik untuk mereka."


"Lalu, uang hasil penjualan itu perginya kemana?" tanya Yi Hua tanpa memperdulikan alasan 'kebaikan' yang melandasi tindakan kejahatan.


Wei Fei tersenyum. "Kau benar-benar tak tersentuh dengan ceritaku, Hua Yi."


Pria ini masih tak tahu nama aslinya. Namun Yi Hua tak berniat memberitahunya.


"Itu menyedihkan," tanggap Yi Hua cepat.


Yi Hua bangkit dari duduknya. "Uang itu pasti untuk adik yang Anda ceritakan. Apa adik Anda akan bahagia jika tahu darimana uang itu datang?"


"Tuan sudah tua dan tak bisa bekerja lagi. Padahal dia juga memelihara anak-anak terlantar di desa kami juga. Gadis kecil itu juga, adikku," ucap Wei Fei yang menatap tajam pada Yi Hua.


Yi Hua memakai kembali penutup kepalanya. Wajah Wei Fei tampak seperti remang di antara kain penutup kepalanya.


"Oleh karena itu, Anda setuju untuk 'bekerja' menggantikan Tuan itu. Anda bahkan dulu tak tahu apa pekerjaannya. Lalu, tetap bekerja dengan cara yang sama," balas Yi Hua.


"Semua demi mereka. Hanya agar mereka bisa hidup dengan baik. Meski aku tak bisa bertemu dengan adikku dalam waktu yang lama, tetapi aku ingin dia selalu bahagia. Walau aku yang harus melakukan semua ini." Itulah jawaban Wei Fei.


Yi Hua tak ingin menyela apa-apa.


"Maka dari itu, cukup bunuh aku saja," ucap Wei Fei dengan senyum manis di wajahnya.


Yi Hua harus pergi sekarang juga. Ia jujur tak berniat untuk menjawab ucapan Wei Fei sebelumnya. Ia malah mengucapkan hal yang lain.


"Saya harus kembali, Tuan Wei Fei. Tidurlah dengan tenang di tempat ini. Besok saya akan kembali," ucap Yi Hua sambil memberi penghormatan.


Wei Fei menarik senyumnya lagi. "Aku pasti sangat diberkati Dewa karena Hua Yi datang menemui ku lagi."


"Sayangnya, teman-teman Anda di kelompok penari yang tak diberkati Dewa. Sebab, Anda tak akan bertemu dengan mereka lagi. Termasuk mereka yang Anda berikan uang dari jauh." Itu adalah ancaman yang diucapkan Yi Hua dengan nada manis.


Yi Hua tak mengatakan apa-apa lagi. Ia berjalan dengan tenang. Meninggalkan Wei Fei yang terpaku di sana. Sejatinya, Yi Hua tahu Wei Fei tak akan melarikan diri jika itu tentang dirinya saja. Bahkan jika dia harus tenggelam ke dalam lubang, maka itu hanya dirinya seorang. Namun Wei Fei tak akan membiarkan orang lain akan ikut tenggelam di dalamnya.


"Apakah kau memang berhati dingin, Hua Yi? Mengapa tak ada kebaikan sedikit pun di sana?" tanya Wei Fei dari dalam dinginnya penjara.


Yi Hua tak menjawab.


Mungkin karena aku memang bukan orang yang baik.


Dalam hening perjalanan Yi Hua, tak ada siapapun di sana. Itu berarti tak ada yang akan melihat air matanya.


"HuaHua," tegur Xiao di telinga Yi Hua.


Yi Hua tertawa pelan dengan air mata yang dibiarkannya mengering begitu saja. "Aku memang harus menjadi Yi Hua yang selalu penuh omong kosong, bukan?"


Ia berbohong lagi.


Hanya saja ... Wei Fei pasti akan menemui 'Tuan' itu untuk menyelamatkannya. Itulah yang diinginkan kerajaan.


Baik atau buruknya niat mereka. Yi Hua hanya melakukan tugas.


Itu saja.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2