Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Sebuah Bunga 7: Hari Sebelum Pertandingan


__ADS_3

"Tuan ... Ada keributan di peserta tarung bebas besok." Seorang pria dengan penampilan kasar, dengan tangannya yang kekar seolah bisa menggendong sapi, berdiri di depan ruangan yang agak gelap.


Jika dilihat secara jeli, kau bisa melihat ada sedikit celah di pintu. Di sana tampak punggung seseorang yang membelakangi pintu. Di tangannya tampak memainkan kalung dengan permata berbentuk burung Phoenix.


"Keributan memang selalu ada di sana."


Lalu, apa yang istimewa?


Ini tak seperti tempat mereka merupakan tempat yang memiliki tata krama tinggi. Di sini lebih sering merusak dibanding memperbaiki. Dan, sedikit memuakkan saat bawahannya harus melaporkan hal yang monoton.


"Salah seorang dari mereka adalah Perdana Menteri Kanan Kerajaan Li," jelas bawahan itu yang dengan mudah mendapatkan informasi.


Huan Ran terlalu terkenal untuk disembunyikan. Lagipula, tak aneh jika kau melihat pejabat kerajaan berkeliaran di Kerajaan Bawah. Dan, tak akan ada yang melaporkan itu ke kerajaan. Sebab, jika salah satu dari mereka ketahuan, yang lain juga akan ketahuan. Sehingga rumor biasanya hanya akan berhenti di kawasan Kerajaan Bawah.


Yang artinya ... Setelah mereka keluar dari wilayah Kerajaan Bawah, mereka masih menjadi orang 'bersih'. Meski seburuk apapun kelakuan mereka di Kerajaan Bawah.


Namun ... Ini pertama kalinya Perdana Menteri baru.


Yah, Kerajaan Li memang kerajaan yang cukup tua di muka bumi. Akan tetapi, anggota di dalamnya benar-benar baru. Raja yang baru, sistem yang baru, Perdana Menteri yang baru, dan hanya ada sedikit orang yang benar-benar mengalami sejarah panjang di Kerajaan Li. Bahkan Raja Li sendiri, meski punya kalung keanggotaan, tetapi tak pernah datang ke Kerajaan Bawah.


Lalu, ini Perdana Menteri Kanannya, Huan Ran, yang tampak teduh dan dingin seperti musim salju.


"Ohh ... Apa yang dilakukan orang terhormat itu di Kerajaan kita yang busuk ini?" tanya orang yang berada di dalam ruangan.


Sudah lama rasanya...


"Perdana Menteri Huan bersama beberapa orang. Salah satunya adalah seorang gadis, dan sisanya tak begitu dikenal. Apalagi dengan seseorang yang tak pernah bicara di antara mereka," jelas bawahannya lagi.


Hmmm ... sebuah kelompok yang tak biasa. Mengapa Huan Ran tak membawa prajuritnya yang banyak itu?


"Yah, peserta adalah peserta ... Siapapun mereka, ya mereka harus bertarung. Selama mereka bisa membuat orang-orang tertarik dengan pertarungan," jelas orang itu sambil berdiri dari duduknya.


Bawahan itu menundukkan kepalanya. "Selain siap bertarung, mereka juga siap menantang siapa saja, Tuan."


Oh? Apa yang terjadi sebenarnya?


Orang yang ada di dalam mengangguk. "Buat berita itu semakin besar. Kita harus memanfaatkan ini dengan baik."


"Baik, Tuan ..."


Setelah itu, bawahannya pergi dan meninggalkan sosok itu sendirian. Kala itu sosok tersebut berjalan dengan santai menuju ke arah dinding. Di sana ia menatap pada pajangan berbentuk burung Phoenix, dan itu sangat lama, seolah matanya benar-benar tertancap ke dinding.


"Kerajaan Li, ya?" bisiknya lemah.


Setelah sekian lama ia menjauh dari Kerajaan Li, tetapi kini semuanya muncul kembali. Sebuah kenangan yang ingin dirinya lupakan, tetapi tak bisa. Ingatannya tertuju pada kenangan masa lalu yang selalu menghantuinya.


Sebuah penyesalan.


"Yi Hua ..."


Seandainya ia tak terlambat, mungkin ...


***


"Hachimmm ..."


Inilah susahnya menjadi orang terkenal. Gemar dibicarakan.


Xiao seperti biasa. Dengan rajin mengomentari setiap ucapan di batin Yi Hua. "Mungkin kau orang yang akan masuk surga di jalur ini. Kau akan dapat banyak pahala karena dibicarakan orang lain terus-menerus."


Apakah hal itu harus dibanggakan?


Yi Hua mengusap hidungnya yang berair. Hari sudah malam, dan Yi Hua harus berjaga di luar penginapan yang sama sekali tak bisa disebut penginapan. Di kerajaan bawah ini, sebuah tempat seperti kandang sapi saja disajikan untuk tamu. Tidak tikar tidur yang baik. Hanya ada ilalang kering yang ditumpuk untuk menjadi tempat tidur. Pemiliknya hanya menyediakan teko air, dan sisanya bagaimana kau menyesuaikan diri dengan keadaan.


Pada akhirnya, Yi Hua tak punya pilihan lain selain duduk bersandar di dinding. Dan ...


"Harusnya kau tak dekat-dekat denganku. Kau tahu bersin yang seperti itu biasanya menularkan penyakit," omel Yue Yan sebal.


Harusnya Yi Hua tak lupa jika ada makhluk ular ini yang ikut-ikutan duduk di luar.


Yi Hua dengan kurang ajarnya bertindak seperti ingin bersin lagi, dan Yue Yan langsung memerintahkan ularnya untuk mematuk Yi Hua. Dan, dengan mudah Yi Hua mengirimkan kertas jimatnya untuk menggulung ular seperti bola. Mengerjai Yue Yan sepertinya sudah biasa untuk Yi Hua.


"Aku tak sengaja, wahai makhluk bernama manusia. Sepertinya ada yang sedang membicarakan aku," ucap Yi Hua sambil menyentuh dagunya.


Wajah Yue Yan terlihat semakin jengkel. "Mungkin mereka memikirkan bagaimana cara membunuhmu."


Yi Hua mengabaikan ucapan Yue Yan, ia lebih memilih untuk menjentikkan jari di permata merah di telinga kirinya. Menganggu Xiao. Karena yah ... Sistem sialan itu bertingkah seolah-olah dia tengah tidur. Yi Hua bahkan bisa mendengar dengkurannya yang mengganggu.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada gadis itu?" tanya Yue Yan.


Yi Hua menatap Yue Yan tak mengerti. "Apa maksudmu dengan 'apa yang kau lakukan'?"


"Ketika kau mengambil dia dari Tuan Qiu, maka kau seperti menjadi tempatnya bergantung," jelas Yue Yan masuk akal.


Bagaimana pun ... Setelah semua yang terjadi, selama ini Jia Yu selalu berada di bawah 'naungan' Tuan Qiu. Tentu saja mengabaikan tentang kenyamanannya. Akan tetapi, saat mereka membebaskan Jia Yu, maka Jia Yu tak punya tempat untuk kembali.


Kehidupan Jia Yu ... Mungkin lebih buruk lagi jika dirinya hidup sendirian. Dirinya hanyalah gadis kecil yang tak memiliki kemampuan apa-apa. Tidak punya keluarga lagi yang bisa menampungnya. Setidaknya 'mendewasakan' dirinya sendiri hingga mampu hidup mandiri.

__ADS_1


Jia Yu jelas berbeda dengan Yi Hua.


Meski Yi Hua sendirian, tetapi secara 'kasar', ia masih punya keluarga ayahnya. Walau mereka sejatinya tak perduli.


Juga, ... Yi Hua punya pekerjaan yang setidaknya bisa membantunya mendapatkan makan.


"Mungkin aku bisa meminta bantuan dari orang istana. Siapa tahu mereka memerlukan pelayan," ucap Yi Hua sambil mengangkat bahunya.


Wajah Yue Yan tampak tak yakin. "Apa kau tak mengerti?" tanya Yue Yan yang kali ini dengan nada yg agak menuntut.


Apanya?


"Sudahlah. Dari wajahmu yg seperti gadis itu setidaknya aku percaya jika kau tak berniat buruk pada gadis kecil itu," jelas Yue Yan malas.


Yi Hua menggelengkan kepalanya. "Tak semua orang yang otaknya seperti itu."


"Yah, tak semua memang, tapi bukan berarti sulit ditemukan," ucap Yue Yan yang menyandarkan kepalanya ke dinding.


Kala itu, Yue Yan memejamkan mata, tetapi hanya dalam hitungan detik, Yue Yan membuka matanya lagi. Kali ini dengan tatapan yang agak tajam.


SRET!


Yi Hua yang ingin bersin lagi langsung berhenti. Hal tersebut membuat hidungnya terasa gatal. Ia hanya bisa mengutuk hal tersebut, tetapi yang lebih penting di antara segalanya ialah ... Mereka sedang diawasi.


Yue Yan mengangguk dengan mata tertutup. Bagaimana pun Yue Yan sudah menebar ular-ularnya di sekitar, sehingga ia bisa mendengar 'suara' dari ularnya. Dan, seperti dugaan mereka, di kerajaan bawah ini mereka terlihat memiliki uang. Sehingga mereka adalah sasaran empuk bagi para perampok.


SRAT!


Kertas jimat Yi Hua melayang dan bergerak tajam seperti pedang. Melintas dan memukul keras ke kegelapan. Itu bukan seperti jimat tersebut memukul angin, tetapi seseorang yang menyamarkan dirinya di sana.


BUGH!


Yue Yan bergerak cepat untuk memerintahkan ularnya mengepung.


SRAT!


BLAM!


Obor di depan penginapan mereka mendadak hidup. Tentu saja bukan karena keberuntungan atau api yang jatuh dari langit. Itu adalah kertas jimat Yi Hua yang membakar obor-obor dengan ganggang bambu yang berbaris di depan mereka.


"Siapa kalian?" tanya Yi Hua pada beberapa orang dengan penutup wajah mereka.


Di sekeliling mereka dikelilingi oleh ular-ular yang mendesis. Sehingga mereka tak berani melangkah lebih lanjut.


"HIIAAA ...," teriak salah seorang dari mereka yang mengambil obor di samping mereka. Mereka masing-masing membawa pisau dan pedang yang tebal.


Tujuan mereka jelas tak baik.


Xiao dengan nada mengantuk menjawab. "Tak banyak. Hanya sekitar dua puluh orang."


Tak banyak katanya ... Yah, tak banyak jika mereka tak punya kemampuan bertarung.


Salah satu dari kelompok penjahat tersebut memainkan obor untuk menakuti para ular. Dan, ular-ular milik Yue Yan memang menghindar. Akan tetapi, beberapa di antara ular itu melompat ke tubuh orang-orang jahat itu. Membelit leher mereka, dan mematuk. Yang berhasil lolos dari serbuan ular menuju ke arah Yi Hua dan Yue Yan yang berdiri tegak.


BUGH!


Baru saja mereka berlari sambil mengacungkan pisau mereka ke depan, tetapi dalam hitungan detik mereka terpeleset dengan aneh.


"Dasar Bodoh! Bagaimana bisa kalian terpeleset?" tanya salah seorang dari mereka.


Mungkin dia adalah pemimpin dari orang-orang ini. Dibuktikan dengan keberaniannya berteriak keras memarahi.


"Bukan terpeleset, kakak! Ada yang memukulku dari belakang!" teriak salah seorang yang baru bangkit dengan perasaan was-was.


Masalahnya tak ada orang atau benda mati yang menuju ke arah mereka. Yang ada mereka seperti terpukul dari belakang begitu saja. Dan, tatapan mereka mendadak takut.


Ini sudah malam hari, sehingga tak aneh jika ada hantu yang mengerjai mereka.


Yi Hua tersenyum tipis. "Ikat!"


SRAT!!!


Tak lama kertas jimat kecil, yang awalnya kecil seperti bulu sapi, kini memanjang seperti tali pinggang. Jimat itu berputar dan melilit orang-orang jahat itu secara bergantian hingga mereka tak bisa bergerak. Mereka duduk di tanah dengan ikatan kuat dari kertas jimat.


"HuaHua ..."


Yi Hua bisa mendengar suara tak percaya dari Xiao. Dan, yang lebih membuat Yi Hua terpaku ialah ketika Xiao melanjutkan ucapannya.


"Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya Xiao dengan keras.


Oh iya ... Mengapa dia bisa menggunakan kekuatan di dalam tubuhnya dengan leluasa?


Karena tubuh Yi Hua yang lemah. Ditambah lagi dengan sensitifnya jiwa Yi Hua, seharusnya Yi Hua tak akan bisa mengendalikan kekuatan. Ia tak bisa seperti Ling Xiao yang bisa bertarung dengan tenaga dalam. Juga, secara fisik Yi Hua tak bisa bela diri.


Dan, bela diri ... Mari kita kesampingkan itu, karena semenjak Li Wei hidup sebagai Yi Hua, gadis itu sudah sekuat sapi.


Akan tetapi, ini tentang tenaga dalam. Seperti kekuatan dari inti emas dalam kultivasi. Yi Hua seharusnya tak bisa menggunakannya. Ia tak bisa memaksa, karena di dalam dirinya ada tungku iblis. Jika menggunakan tenaga dalam, maka yang keluar bukanlah tenaga yang baik. Itu adalah kekuatan Iblis, dan pastinya sangat merusak tubuh.

__ADS_1


TES!


"Hua!" teriak Xiao mendadak. Dan itu membuat Yi Hua pusing dan penging.


Bukaaaann ...


SRAT!


Yue Yan menarik tangan Yi Hua untuk melihat lebih dekat. "Kau berdarah!"


Apakah ini pertanda jika tungku iblis semakin kuat?


Dalam hal ini ... Satu-satunya hal yang membuat Yi Hua bisa hidup dengan normal ialah karena Hua Yifeng menyerap kekuatan tungku iblis yang meluap. Akan tetapi, lama kelamaan, metode itu tak akan berguna juga. Sebanyak apapun kau menimba air di perahu, tetapi kau tak bisa menahan lumut yang memakan kekuatan perahu.


Itu akan hancur juga pada akhirnya.


Ini seperti setitik air yang menetes dari atap yang bocor. Ambil contoh tungku iblis ini adalah sebuah guci. Ketika kau menaruh sebuah guci air di sana, maka sedikit demi sedikit, air itu akan memenuhi guci. Harus ada waktu di mana kau memindahkan air itu agar tak penuh.


Masalahnya air ini bukanlah air yang baik. Tetapi air yang memiliki batu tajam di dalamnya. Sehingga akan melukai guci secara perlahan. Sedikit demi sedikit.


Itulah mengapa Xiao pernah berkata, suatu saat Yi Hua tetap akan mati. Meski tanpa kepalanya terpotong atau apa, tetapi karena tungku iblis yang meledak. Itu akan mematikan jantung dan seluruh sel darah Yi Hua. Pendarahan parah di setiap pori-pori kulit Yi Hua.


Kematian yang mengerikan.


Mimisan ini adalah tandanya.


Yi Hua mengusap bawah hidungnya pelan. Akan tetapi, itu sedikit terlambat karena darah itu memenuhi bibir atas Yi Hua. Sehingga rasa karat menyentuh giginya.


"Aku tak apa. Mungkin angin malam tak baik untuk kesehatanku," ucap Yi Hua tenang.


Ia menunjuk ke arah orang-orang yang masih terikat oleh jimat buatan Yi Hua.


"Kau urus saja mereka. Periksa saku mereka, siapa tahu ada uang di sana. Lumayan untuk hidup dan menambah uang kita," ucap Yi Hua yang berjalan menuju ke dalam ruangan.


Meninggalkan Yue Yan yang masih terpaku.


Masalahnya adalah ...


"Aku mendengar ularku berkata tentang mau kematian di dalam dirimu, Yi Hua," ucap Yue Yan tajam.


Tak ada yang tahu. Sebenarnya Yi Hua sekarat, dan tungku iblis seperti waktu kematiannya.


Yah, setidaknya tugasnya sekarang sudah selesai. Ia sudah mengumpulkan semua ingatannya. Seperti misi dari sistem Xiao. Wajar saja kematian akan datang padanya. Walau ia tak mengerti apa fungsi dari sistem ini.


Secara garis besar ... Ia telah menyelesaikan misi.


Ia hanya berpikir sistem ini ada untuk menebus dosanya. Walau sekarang ia terus menambah dosa. Ia juga sudah cukup lama hidup sebagai Yi Hua. Dirinya juga sudah melepaskan Yi Hua ini dari hukuman mati. Wah ... Dirinya berjasa sekali.


"Xiao, mengapa kau tak menghinaku seperti biasa?" tanya Yi Hua dengan lemah.


Mengapa Xiao tak berkata dengan sinis seperti biasanya. Dasar tak lucu. Katakanlah sesuatu agar rasa sedih ini tak muncul. Katakan sesuatu yang mengesalkan agar tak ada rasa 'takut' akan kematian.


Xiao ... Mengapa aku tak rela meninggalkan kehidupan ini? Lucu sekali.


Ini bukanlah hidupnya. Ini adalah hidup Yi Hua. Dan, Yi Hua tak bisa tertawa karena leluconnya sendiri.


Mungkin dirinya tak sempat mencari penyebab kematian Yi Hua asli sebagai ucapan terima kasih atas tubuhnya yang dipakainya ini.


SRET!


"Tuan Yi ..."


Baru saja Yi Hua membuka pintu, ia sudah disuguhi wajah cerah Jia Yu. Seolah dia melihat ada uang di wajah Yi Hua. Mau tak mau Yi Hua tersenyum. Hanya untuk keramahan.


"Anda belum tidur, Nona Jia?" tanya Yi Hua berbasa-basi.


Pasti Jia Yu tak merasa nyaman karena ada Huan Ran di ruangan yang sama. Meski Huan Ran juga tak perduli dengan ada atau tidaknya gadis ini. Yang diperdulikan oleh Huan Ran hanyalah Liu Xingsheng.


Sudahlah.


"Saya menunggu Tuan Yi. Anda pasti lelah dan perlu istirahat," ucap Jia Yu yang terlihat khawatir.


Akan tetapi, Yi Hua menganggukkan kepalanya dengan singkat. Tentu saja Yi Hua tak menyadari tatapan Jia Yu yang agak kecewa. Bagaimana pun Jia Yu mungkin ingin berbicara agak panjang.


"Tidurlah. Besok adalah hari yang panjang," ucap Yi Hua yang ingat jika esok hari adalah hari pertandingan.


Sudahlah.


Hiduplah sampai nanti mati dengan sendirinya.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Maaf karena ini benar-benar telat. Itu karena yah ... Aku kehilangan mood untuk menulis. Mungkin karena banyak hal, atau karena lika-liku hidupku yang dituntut untuk ini dan itu.


Sudahlah. Mengapa kata 'sudahlah' sering aku sebut di sini?

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


A**dios


__ADS_2