Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Membentuk Rekan Pelarian


__ADS_3

Ini kenapa kami main tatap-tatapan ya?


SRET!


Yi Hua seperti menghabiskan batas keberaniannya hanya untuk terus berdiri di depan Selir Qian. Maksudnya, berdiam diri saat sebuah jarum yang hanya memiliki jarak sebatas bulu sapi dari lehernya. Jika Selir Qian tanpa sadar menggerakkan tangannya, maka Yi Hua sudah pindah alam.


Dan, semua ketegangan itu berakhir saat Selir Qian menarik tangannya.


"Katakan pada tetanggamu itu untuk memotong rambutnya saja," balas Selir Qian dengan tenang.


Lalu, wanita itu mengangkat sedikit lengan pakaiannya. Sehingga kau bisa melihat ada tali tipis yang terikat di pergelangan tangannya. Karena gaya berpakaian Selir Qian yang dengan lengan lebar, tak ada yang tahu jika ada jarum-jarum yang melekat di sebuah kain di sana. Jarum itu bisa Selir Qian tarik dan lontarkan dengan sangat cepat.


Itu adalah gerakan yang sangat teliti. Padahal jika tergores terkena pada lengan Selir Qian sendiri, maka Selir Qian bisa keracunan dengan konyol. Tapi yah ... Kejadian seperti itu sepertinya hanya akan berlaku pada Yi Hua.


Mengapa?


Sebab, tingkat sialnya Yi Hua itu lebih tinggi dibanding garis takdir hidup orang lain.


Yi Hua tanpa sadar melangkah satu kali. Hanya agar sedikit lebih jauh dari Selir Qian. "Yah, sepertinya itu adalah solusi paling baik. Saya akan memberitahu tetangga saya agar memotong rambutnya saja agar tak tersangkut di lemari lagi."


Entah mengapa mereka sekarang membicarakan hal yang tak penting sekarang.


"Jadi, apa ramalan busukmu sekarang sudah. bisa bekerja?" tanya Selir Qian, yang memerintahkan para pengawal di belakangnya untuk mundur.


Heh?


Mendadak Selir Qian kembali tenang dan sinis seperti biasanya. Seolah wanita ini bukanlah orang yang nyaris membunuh Yi Hua. Jika tadi Yi Hua tidak cepat menghindar, maka jarum itu akan masuk ke dalam kepala Yi Hua.


Xiao mengingatkan, "Jangan tenang dahulu, HuaHua. Ingat jika kau tampak mencurigakan di sini, maka Huan Ran akan ketahuan."


Jadi, tugas Yi Hua di sini untuk mengalihkan perhatian dari para penjaga Selir Qian.


"Sepertinya dia pergi ke arah sana," tunjuk Yi Hua, dan kala itu ia melihat Hua Ran sekilas.


Jadi, pria itu baru saja mengintip dari balik rerumputan. Hal tersebut membuat Yi Hua panik ketika Selir Qian ingin menoleh ke arah tangan Yi Hua. Sehingga Yi Hua membentangkan kertas jimatnya seperti kipas tepat di depan wajah Selir Qian. Tentu saja itu adalah gerakan yang mengejutkan, karena hidung Selir Qian nyaris terkena kertas jimat Yi Hua.


Kenapa kau tak memberitahu aku jika Huan Ran dan Liu Xingsheng masih ada di sana, Xiao?


Xiao menjawab dengan santai. "Mereka bersembunyi di balik rerumputan, HuaHua."


Ini Xiao pasti mencari ribut dengannya!


"Maksud saya ... Silahkan dipilih lagi Selir Qian. Di sini. Jimat ini akan menuntun kalian pada tempat persembunyian penculik ini," ucap Yi Hua dengan senyum lebarnya.


Selir Qian menatap sinis pada Yi Hua. "Kau membodohi aku, bukan?"


"Tentu saja tidak," balas Yi Hua cepat.


Tidak salah lagi.


"Bagaimana mungkin saya berani membodohi Selir Qian? Mohon terima pendapat saya, Selir Qian," lanjut Yi Hua dengan tatapan tegasnya.


SRET!


Selir Qian menyentuh salah satu jimat itu, dan terjadi sama seperti sebelumnya. Kertas jimat itu terbakar dan abu dari kertas itu terbang melintas ke udara. Seluruh tatapan tertuju pada abu yang melayang di udara itu.


Yi Hua berbisik pelan, "Pergilah."


Sekilas Yi Hua melirik ke arah rerumputan. Tidak ada pergerakan lagi di sana yang menandakan bahwa Huan Ran dan Liu Xingsheng sudah tak ada di sana. Sehingga ketika kertas itu pergi melintas di udara, Selir Qian memberi isyarat pada beberapa prajurit untuk mengikuti arah abu itu terbang.


Sekarang adalah melarikan diri terlebih dahulu.


Yi Hua memberi penghormatan pada Selir Qian, "Hanya ini yang bisa saya bantu, Selir Qian. Setelah ini saya harus menemui tetangga saya untuk membantunya melepaskan rambutnya yang tersangkut."


SLAP!


Baru saja Yi Hua berjalan, beberapa prajurit mendadak bergerak untuk menutup jalannya. Yi Hua menegakkan tubuhnya dan wajahnya tetap terlihat sombong seperti biasanya. Dengan wajah itu Yi Hua menoleh pada Selir Qian.


Lalu, wanita itu mendekat pada Yi Hua. Wajah Selir Qian mendekat hanya untuk berbisik di telinga Yi Hua. "Jika kau berani membohongiku ..."


SRET!


Jemari lentik Selir Qian melintas di tenggorokan Yi Hua. Membentuk sebuah garis seperti bulan sabit. Sebuah isyarat ancaman pada Yi Hua. Tangan wanita itu terasa sangat dingin di leher Yi Hua.


Yi Hua menjawab dengan tenang. "Kertas jimat itu akan mengikuti dimana arah jiwa Perdana Menteri Liu."


Di sinilah jebakan sebenarnya. Setidaknya Yi Hua tak berbohong. Ia memang memerintahkan kertas jimat itu untuk mencari di mana aura jiwa Liu Xingsheng. Akan tetapi, seperti kata Xiao sebelumnya, jiwa Liu Xingsheng tidak ada di dalam tubuhnya sendiri. Lebih tepatnya entah ke mana jiwa Liu Xingsheng berlayar.


Ini seperti dalam cerita mitos. Ketika seseorang bermimpi, maka jiwanya akan keluar menjelajah. Jika jiwa itu kembali, maka seseorang itu akan terbangun. Dan, jika tidak ... Maka jiwanya akan terus berlayar hingga raga yang ditinggalkan mati.


Cerita ini tak berarti apa-apa, tetapi mungkin bisa menjadi batas waktu bagi Liu Xingsheng. Ia takut jika raga yang ditinggalkan ini akan membusuk karena jiwanya tak kunjung kembali. Maka dari itu, Yi Hua mendukung Huan Ran untuk membantu Liu Xingsheng menemukan jiwanya kembali.


Selain itu, kertas jimat Yi Hua tak begitu kuat. Semuanya akan pudar jika abu terkena tetes air, atau bahkan mudah pecah karena angin. Jadi, poin selanjutnya ialah kertas jimat itu akan kehabisan kekuatan bahkan sebelum bisa menemukan raga Liu Xingsheng. Itu bisa menjadi batas waktu bagi Huan Ran untuk membawa Liu Xingsheng pergi.


SRET!


Wajah Selir Qian tampak sinis seperti biasanya, dan wanita itu menepuk bahu Yi Hua pelan.


"Berhati-hatilah dalam berbohong, Yi Hua," tegas Selir Qian sebelum pergi bersama pengawalnya.


Hal tersebut membuat Yi Hua berpikir dua hal.

__ADS_1


Mungkin yang dimaksud Selir Qian adalah berhati-hati tentang identitasnya. Jika ia ketahuan menyamar, mungkin dirinya akan disebut mata-mata. Karena orang kurang kerjaan mana yang ingin menyamar tanpa tujuan. Sebab, Yi Hua jelas tak bisa memberitahu alasan mengapa dirinya dibesarkan menjadi seorang pria.


Semua itu karena Shi Heng, ayahnya yang kurang asupan, itu memutuskan untuk mengelabui para iblis. Tentu saja itu agak tak masuk akal, karena aura jiwa tak bisa ditutupi. Lebih dari segalanya dirinya dahulu, Li Wei, sudah terbiasa dengan gaya berpakaian ini sehingga tak ada masalah jika dirinya harus menyamar selamanya. Ini sedikit aneh saat Yi Hua memiliki 'kemiripan' dengan dengan dirinya dahulu.


Apakah terlalu konyol jika ia berpikir bahwa diri Yi Hua ini tampak terlalu 'cocok' dengan kehidupan asli-nya sebagai Li Wei?


Apa aku terlalu curiga dan berhati-hati di sini?


Baiklah ... Kembali lagi pada Selir Qian.


Yi Hua tetap menundukkan kepalanya sebagai penghormatan, meski Selir Qian sudah berjalan cukup jauh darinya. Tatapan Yi Hua menuju ke punggung Selir Qian yang tampak sangat angkuh. Wanita ini sangat mengintimidasi dan cerdas.


Atau ... Itu adalah sebuah ancaman bagi Yi Hua?


"Berhati-hatilah dalam berbohong, bukan?" tanya Yi Hua entah pada siapa.


Ia sebenarnya tak tahu lagi, mana yang bersifat kejujuran di dalam hidupnya ini.


Bahkan dirinya pun berbohong dan hidup sebagai Yi Hua.


...***...


Yi Hua berjalan dengan tenang dan angkuh seperti biasanya. Ia melenggang seperti bebek yang panjang lehernya. Meski wajahnya yang tenang, sebenarnya Yi Hua panik sendiri. Dirinya ingin segera keluar dari wilayah kediaman Perdana Menteri ini.


Akan tetapi, wilayah kediaman Liu Xingsheng ini berada dekat dengan istana Kerajaan Li. Jika ia keluar dari kediaman Liu Xingsheng, maka ada jalan luas yang membatasi pagar kediaman Liu Xingsheng dengan sisi kiri istana.


Hanya itu batasnya.


Tanpa sadar Yi Hua berjalan dengan gerak tangan yang sama seperti kakinya. Ketika kaki kanannya terangkat, tangan kanan Yi Hua juga bergerak*. Walau begitu wajahnya tetap angkuh seperti biasanya.


^^^*Secara alami manusia biasanya ketika berjalan tangannya itu berbeda dengan kaki. Seperti ketika melangkahkan kaki kanan ke depan, tangan kiri tanpa sadar bergerak ke depan. Ini dalam kasus jika tangannya tidak sedang memegang sesuatu, atau hanya lurus di samping tubuh. Ini setahu aku yah, kalau salah kembali pada ucapan bahwa 'manusia seringkali salah dan khilaf' -_-.^^^


Beberapa pelayan menatap Yi Hua dengan sinis. Tentu saja Yi Hua memiliki jumlah musuh yang lebih banyak dibanding teman. Semua orang berpikir jika Yi Hua mengalihkan arahnya.


Maksudnya adalah ... Dahulu 'pria' Yi Hua ini menyukai Raja Li Shen, tetapi sekarang dia mulai menjilat ke arah Perdana Menteri.


Itulah rumor yang berkeliaran di sekitar mereka. Terutama saat Yi Hua bebas untuk masuk dan keluar dari kediaman Liu Xingsheng.


Yi Hua menggosok hidungnya dengan punggung tangan seperti orang paling menakjubkan di dunia. Pakaiannya juga tampak kotor dengan sangat tidak etisnya. Ia mulai merasa seperti bandit di pasar. Padahal bukan seperti itu maksudnya, Yi Hua sebenarnya hanya memeriksa jika ingusnya tak keluar. Sebab, dari tadi Yi Hua ingin menangis berguling-guling.


Sebab ...


TAP!


TAP!


Aku sedang diikuti!


Tapi ...


"Orang ini tak punya niat untuk mencekikmu, HuaHua. Mengapa kau panik seperti sapi kehilangan ekor?" tanya Xiao yang tak paham semenjak Yi Hua melompati rerumputan sebelumnya.


Memang hati yang bersalah tak bisa menutup ketakutannya.


"Jika tak punya niat seperti itu, mengapa orang ini mengikutiku?" tanya Yi Hua yang berbisik cepat.


Menurut penglihatan orang luar ialah Yi Hua seperti orang yang tengah berbicara sendiri. Kemudian, Yi Hua mendadak punya rencana sendiri. Ia memilih ke bagian istana yang agak sepi. Terutama saat sepertinya para Pejabat Istana sedang berada di Pengadilan Tinggi.


Ini Yi Hua hanya menebaknya saja.


Yi Hua berjalan dan berbelok cepat untuk bersembunyi.


"Dia mungkin ..."


Belum sempat Xiao melanjutkan ucapannya, Yi Hua dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba merangkul bahunya dari belakang. Tangan itu terlihat cukup kekar dibanding tubuh Yi Hua yang seperti kurang asupan. Padahal Yi Hua sedang bersembunyi, dan pria ini malah memutar jalan untuk menyerangnya.


Ini pasti tak ada niat baik.


Melihat itu, Yi Hua menarik lengan itu. Memutarnya, sebelum menggunakan kakinya untuk menjatuhkan sosok itu ke tanah. Seperti biasa. Teknik menjatuhkan yang entah bagaimana bisa ia kuasai.


BRUK.


SRAP!


"Ini aku, Yi Hua," teriak sosok itu panik.


Masalahnya tak sedikit yang tahu jika Yi Hua ini bertenaga seperti sapi kerasukan. Ditambah lagi Yi Hua ini terkadang memiliki 'cara' yang berbeda ketika melawan musuhnya. Sehingga sosok itu takut jika Yi Hua mendadak menggulingkan dirinya ke dalam karung dan membuangnya ke jurang seperti anak kucing terlantar.


"Jenderal Wei."


Yi Hua yang sudah menekan leher pria itu ke tanah berhenti. Tepatnya saat Jenderal Wei dengan senyum biawaknya meminta berhenti. Hal tersebut membuat Yi Hua menarik tangannya, dan berlutut memberi penghormatan.


"Aku melihatmu sedang melamun, sehingga aku berpikir untuk mengajak bicara," ucap Jenderal Wei.


Mengajak bicara katanya?! Kenapa tidak dipanggil sejak tadi, Biawak?! Aku sudah panas dingin, tahu!


"Maafkan atas kelancangan saya, Jenderal Wei. Saya siap dihukum atas ini," ucap Yi Hua cepat. Ini jelas hanya sebagai bentuk penghormatan, terutama saat Jenderal Wei Qionglin ini adalah seseorang yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya.


Namun Jenderal Wei duduk sambil meletakkan tangannya di salah satu lututnya yang terangkat. Sedangkan sebelah tangannya lagi berada di rambutnya untuk menyisirnya ke belakang. Rambut pria itu sedikit berantakan akibat ditekan Yi Hua ke tanah.


Matahari sore membuat wajah pria itu menjadi sedikit kuning dari biasannya. Yi Hua merasa jika keturunan keluarga Wei memang terjamin secara visual. Walau wajah Si adik ini cenderung lebih gagah dibanding Wuxie dahulu yang berparas lembut seperti merpati putih.

__ADS_1


Xiao berseru pelan, "Aku seperti melihat air liur di dagumu, HuaHua. Kau tidak ingat usia apa. Apalagi kau sudah punya suami!" teriak Xiao yang sepertinya pendukung setia Hua Yifeng.


S*alan, Xiao. Baru saja Yi Hua ingin cuci mata dan membersihkan hati.


Tentu saja yang dimaksud oleh Xiao tentang usia jiwa. Jika Li Wei masih hidup, mungkin sekarang Li Wei akan menjadi ibu-ibu yang sering berteriak marah pada anaknya yang berlarian di jalan. Tapi kan secara fisik, Yi Hua ini masih berusia sangat muda.


"Mau bermalam di ruanganku?" tanya Jenderal Wei sambil mengedipkan matanya.


Hal tersebut membuat Yi Hua mengerutkan keningnya tanpa sadar. Tak lama ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Mungkin itu adalah para pelayan yang bekerja di sekitar istana.


Lebih dari segalanya ...


Yi Hua berpikir jika orang ini mungkin sakit mata. Ditambah lagi ia masih tak mengerti mengapa Wei Qionglin gemar merayunya. Orang ini sebenarnya mengapa?


Jangan bilang dia memiliki ketertarikan pada seorang pria?


"Saya punya rumah sendiri untuk ditiduri. Juga, ingatlah jika saya seorang pria."


SRET!


Mendadak Yi Hua merendahkan tubuhnya pada Jenderal Wei yang masih duduk di tanah. Tangan Yi Hua meraih dagu Jenderal Wei dengan tujuan untuk membuat pria ini risih. Sejatinya Yi Hua terkenal dengan masalah 'ini', bukan?


Yi Hua tersenyum angkuh, "Lagipula, Anda tak takut jika saya melakukan sesuatu pada Anda?" tanya Yi Hua dengan berani.


Paling buruk ialah pria ini akan jera merayu Yi Hua. Kau harus tahu jika Yi Hua ini memang punya sifat yang buruk, tapi secara fisik dia kategori 'atas'.


Dahulu sebelum dirinya masuk ke raga Yi Hua, peramal itu direndahkan karena cintanya pada Raja Li Shen. Padahal tak ada yang tahu bahwa Yi Hua sebenarnya seorang gadis konyol yang mendambakan cinta. Sungguh Yi Hua yang malang.


Setidaknya sekarang ia hanya perlu memberi 'pelajaran' penting bagi orang-orang di sekitar Yi Hua. Jika ada bentuk terima kasih yang bisa dirinya berikan untuk Yi Hua asli. Maka, itu adalah membalaskan semua rasa sakit hati Yi Hua ini pada orang-orang yang seringkali merendahkannya.


Yi Hua melakukan itu tentu saja bukan karena apa, tetapi lebih untuk menjadi pertunjukan bagi para dua orang pelayan yang muncul. Seingat Yi Hua kedua orang pelayan ini merupakan orang yang bekerja di bawah salah satu Selir dari Raja Li Shen. Yi Hua sangat ingat tentang tatapan penghinaan mereka.


Setelah itu, peramal kurang kerjaan itu menegakkan tubuhnya kembali. Ia melirik pada para pelayan yang tampak terpaku karena 'kejadian' tersebut. Mau tak mau, Yi Hua tersenyum angkuh.


TAP!


TAP!


Melihat senyum angkuh Yi Hua, para pelayan itu segera menjauh dengan cepat. Ia mendengar beberapa ucapan hinaan yang dilontarkan oleh pelayan itu. Walau tak jelas apa yang diucapkannya.


Juga, ...


Hitungannya Yi Hua sekarang sudah terbebas dari kecurigaan ketika Perdana Menteri Liu benar-benar menghilang. Para pelayan ini akan menyebarkan rumor jika Yi Hua sedang merayu Jenderal Wei. Sehingga dengan berada di lokasi dekat kejadian, tak akan ada yang mengarahkan telunjuknya sebagai bagian dari hilangnya Liu Xingsheng.


Sekarang tinggal mencari Huan Ran dan Liu Xingsheng.


Yi Hua memberi penghormatan pada Jenderal Wei. "Maaf karena membuang waktu, Jenderal Wei. Saya memiliki sesuatu untuk dikerjakan. Jelas sekali saya orang sibuk yang punya pekerjaan berat seperti memikul sapi."


Lalu, Yi Hua menyudahi penghormatannya. Ia menurunkan tangannya dan berniat meninggalkan Jenderal Wei. Akan tetapi, pria itu mendadak menarik tangan Yi Hua dengan agak kuat. Sehingga Yi Hua berhenti berjalan.


Pria itu menunduk, tetapi berbicara tenang. "Sebenarnya aku tak masalah."


Apanya?!! Orang ini tahu Yi Hua adalah seorang 'pria', bukan?


Xiao berkomentar heboh. "Apa-apaan dengan cerita penuh bunga ini? Kau mau buat judul cerita apa, HuaHua? Kau tahu bahwa mematahkan hati orang lain itu ada karmanya?"


Dasar. Bukannya memberi solusi, tetapi senang mengipasi api!


Yi Hua mendadak takut jika memberi pria ini harapan palsu. Tidak lucu bukan jika Jenderal Wei benar-benar mempercayai ucapan binal-nya? Ini salah satu contoh dari akibat berpura-pura, tetapi tidak diketahui oleh lawan mainnya.


Yi Hua awalnya berniat untuk memukul kepala Jenderal Wei agar lupa ingatan, tetapi suara lain datang. Tepatnya suara itu Yi Hua kenali. Yah, itu adalah Huan Ran!


Orang ini masih belum keluar dari wilayah istana ini? Haduh ...


"Sampai kapan kalian akan berbicara omong kosong? Kereta sudah menunggu," ucap Huan Ran tenang.


Di sebelahnya ada Liu Xingsheng yang berdiri tegak dan berekspresi datar seperti boneka. Liu Xingsheng berjalan dan mengedipkan mata layaknya manusia. Namun kosong emosi di dalamnya. Huan Ran memasangkan jubah besar di tubuh Liu Xingsheng hingga tubuh pria itu tenggelam oleh pakaian.


Yi Hua menarik tangannya agak keras. Ia tak memperhatikan ekspresi Jenderal Wei. Peramal itu menghampiri Huan Ran dan Liu Xingsheng.


Juga, kereta?


Jenderal Wei yang awalnya duduk segera berdiri. Ekspresi pria itu kembali seperti biasanya. Tampan berkarisma dan agak seduktif seperti biawak.


"Aku sebenarnya menjemput Yi Hua," ucap Jenderal Wei dengan senyum nakalnya.


Sejak kapan Jenderal Wei ikut dalam rencana ini?


Jenderal Wei merangkul Yi Hua dengan akrab, tetapi Yi Hua menepisnya cepat. "Apa maksudnya menjemput? Jenderal Wei akan ikut dalam hal ini juga?"


Namun Jenderal Wei menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mengantar kalian. Kebetulan hari ini para pasukan akan mengantarkan bahan makanan ke perbatasan. Juga, pergantian penjaga, sehingga kereta barang pasukan Kerajaan akan digunakan."


Hey, ini tidak akan jadi masalah besar nantinya, bukan?


...***...


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2