
Yah, jika semua hal di dunia ini berjalan mudah, maka tak akan ada kesakitan dan dosa.
Yi Hua seharusnya tahu bahwa segala sesuatu dalam hidupnya memang sulit. Ia tak bisa berharap bahwa kasus ini mudah diselesaikan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk berhenti mengharapkan keajaiban.
"Xiao, periksa waktu kematian," ujar Yi Hua dalam hati.
Xiao tak menjawab beberapa detik. Hal itu membuat Yi Hua harus berpura-pura memeriksa keadaan tubuh yang sudah dingin itu. Tubuh anak kecil yang mereka temukan ini adalah seorang anak laki-laki.
Tidak terlihat bekas luka. Tidak ada juga bekas memar. Tidak ada juga tanda-tanda seperti anak ini baru saja disiksa. Ekspresinya sangat tenang, seolah anak ini tengah tertidur.
Tak lama Xiao menjawab. "Kemungkinan baru menjelang siang. Dia baru saja meninggal."
Ini sudah sore hari, dan pantas saja jasadnya masih terlihat baik.
Yi Hua menatap ke arah Huan Ran yang ada di seberangnya, "Dimana mayat yang satunya?"
Yang Yi Hua tanyakan adalah korban pertama kali. Jika tak salah baru saja ditemukan sekitar dua hari yang lalu. Yi Hua hanya ingin melihat benang merah di antara kedua korban ini.
SRET!
Ketika Huan Ran menyuruh seorang prajurit membuka peti yang satunya lagi, Liu Xingsheng tampak mengerutkan keningnya. Bagaimana pun dia jelas tak terbiasa dengan hal seperti ini. Sehingga Perdana Menteri paling santai itu menempel lekat pada pintu ruangan. Seolah dia dipaku di sana. Liu Xingsheng hanya berjaga-jaga jika mayat itu kembali hidup, maka dia orang pertama yang keluar.
Ketika Yi Hua melihat tubuh korban pertama, kala itu juga dia mendengar suara Xiao di telinganya. "Itu juga sama. Perkiraan, usia kematian ialah dua hari. Keduanya sama-sama baru meninggal, dan langsung ditemukan."
"Apakah ada tanda-tanda diracuni?" tanya Yi Hua lagi.
Kali ini bukan Huan Ran yang menjawab, melainkan seorang pria setengah baya. Mungkin dia adalah orang yang melakukan pemeriksaan fisik sebelumnya.
"Tidak ada, Nona. Mereka nyaris terlihat seperti seseorang yang tengah tidur. Yang membuat kita tahu mereka tak bernyawa lagi ialah karena jantung mereka tak berdetak," jawab pria itu dengan sopan.
Tapi ...
"Saya pria, Paman," ucap Yi Hua dengan nada tegas dan jantan.
"Hufftt ..." Arah tawa aneh itu pasti dari Liu Xingsheng. Akan tetapi, Yi Hua memutuskan untuk fokus pada kasus.
"Xiao, apakah ada kemungkinan ini sejenis penyakit yang membuat jantung seseorang berhenti berdetak begitu saja?" tanya Yi Hua lagi di dalam hati pada Xiao.
Seperti anak-anak meninggal begitu saja ketika mereka tengah melewati tempat itu.
Xiao menjawab dengan cepat. "Tidak ada tanda-tanda penyakit, HuaHua. Jantung mereka murni berhenti berdetak."
"Apakah ini mungkin perbuatan Zhang Yuwen, Si Tirai Darah?" tanya Yi Hua pada akhirnya.
Orang-orang di dalam ruangan itu cukup terkejut ketika Yi Hua menyebut salah satu dari lima pendosa itu. Namun ketika Yi Hua menyebutnya, mereka jadi sadar kesamaan pembunuhan ini dengan perbuatan Zhang Yuwen.
Seperti yang sering diceritakan. Zhang Yuwen adalah iblis yang meningkatkan kekuatan dengan menyerap hidup manusia. Sehingga Zhang Yuwen akan memanipulasi orang-orang yang tersesat di wilayahnya dengan syair terlarang*. Lalu, jantung manusia yang mendengar syair itu akan terhenti.
Setelah itu, Zhang Yuwen akan menebas lehernya dan menggantung mayat di pohon-pohon. Ini tetap mengerikan, meski telah diceritakan berkali-kali.
^^^*Syair terlarang pernah digunakan Zhang Yi saat dia ingin membunuh pengantin. Tapi syair itu tak berpengaruh pada Yi Hua. Buktinya tu makhluk tetap hidup, meski berpura-pura jadi pengantin.^^^
Akan tetapi, ...
Huan Ran mendengus keras. "Iblis Tirai Darah, Zhang Yuwen tak pernah melukai anak-anak. Itu adalah apa yang disebutkan dalam buku-buku, Tuan Hua Yi. Apakah Anda serius dalam kasus ini?" sindirnya langsung pada nama samaran Yi Hua yang sebenarnya sangat mencurigakan.
__ADS_1
Paman yang menjelaskan sebelumnya mengangguk, sebelum menjawab lagi. "Lagipula, jika anak-anak ini korban dari Tirai Darah, Zhang Yuwen pasti mereka tak akan ditemukan, Nona. Mereka pasti akan menghilang karena sudah ..." Wajah Paman itu agak pucat ketika ia terlihat tak ingin menjelaskan lagi.
Yi Hua menghela napasnya saat ia harus meyebutkan hal yang sama lagi hari ini. "Saya pria, Paman. Bagaimana dengan lokasi ditemukannya mayat-mayat ini?"
Lalu, Yi Hua mendengar suara tawa Liu Xingsheng lagi di belakang. Jika bukan karena Yi Hua sedang dalam mode serius, maka dia akan menendang Liu Xingsheng sekarang.
Pria ini sepertinya belum pernah merasakan jimat legendaris ku! Seandainya tak dosa, sudah aku berikan dia mantra buruk.
"Bukannya kau hanya bisa membuat jimat pengusir tikus," ucap Xiao mengingatkan.
Oh iya.
Dan, tak lama suara tawa Liu Xingsheng hilang. Tentu saja karena lirikan maut dari Huan Ran yang menjadi penyebabnya. Yah, seharusnya kedua orang memang tak dipisah.
Mengabaikan kesalahannya dalam menyebut, Paman tua itu berdehem sebelum menjawab lagi. "Lokasinya berbeda. Korban pertama ditemukan di samping toko roti. Yang baru ini ditemukan di gerbang masuk Kota Zhu."
Tempat yang sangat ramai untuk pembunuh meletakkan mayat di sana. Mustahil jika mereka cepat ditemukan, tetapi pembunuhnya tak terlihat oleh orang disekitarnya. Lagipula, pemandangan seseorang tengah meletakkan mayat pasti bukan hal yang 'biasa' di masyarakat.
Bukankah ini benar-benar tindakan meremehkan?
Pelaku membunuh dengan cara yang misterius. Tanpa terlihat luka fisik, dan tidak ada tanda diracuni. Yi Hua tak melihat adanya trauma di wajah mereka. Seperti anak-anak ini ketakutan saat akan dibunuh, maka akan membuat wajah mereka menunjukkan ekspresi itu.
Mereka sangat tenang ketika kematiannya. Mungkin mereka tak pernah menyadari bahwa mereka akan mati saat itu? Entahlah.
Lalu, kemungkinan pelaku ini tidak takut ketahuan. Sehingga ia meletakkan jasad ini di tempat yang terlihat, dan mudah untuk ditemukan.
"Apakah tak ada saksi di tempat mereka ditemukan? Ini agak aneh saat keadaan sangat damai, padahal ada mayat di sana," ucap Yi Hua yang sudah pusing sendiri.
Hey, mau mendapat upah makan malam saja sesusah ini!
Jelas sekali Huan Ran yang menyuruhnya untuk menjelaskan.
Yi Hua menggaruk kepalanya yang sudah gatal dari tadi. "Apa maksudnya dengan saksinya banyak?"
Kasus ini sangat sulit!
"Kau tahu, Yi ... Maksudku, Hua Yi. Saat ini di tengah-tengah keramaian Kota Zhu ini sedang ada pertunjukkan tarian jalanan. Orang-orang fokus untuk menonton kelompok tari itu. Sehingga saat pertunjukan selesai, salah satu dari penonton berteriak ketika melihat anak ini terbaring di tanah. Sampai sekarang tak ada yang datang untuk meminta mayatnya. Bahkan saat di kerumunan juga tak ada yang menangisi kematian anak ini. Juga, anak ini bukan salah satu dari catatan anak yang hilang," jelas Liu Xingsheng dengan cepat.
Pertunjukkan.
Bukankah pria yang menabraknya tadi di keramaian juga menawarkan untuk menonton pertunjukkan?
Huan Ran melipat kedua lengannya di dada. "Bukankah Anda yang mengatakan bahwa kejahatan tak bisa disembunyikan, Tuan Hua Yi? Apakah pembunuh ini tak bisa menyembunyikan kejahatannya di mata Anda?"
Jelas sekali Huan Ran menyindir ucapan sombong dari Yi Hua sebelumnya. Hal itu membuat Yi Hua mengangkat dagunya. Melanjutkan kesombongan yang sama.
"Lalu, apakah Perdana Menteri Huan juga menemukan titik terangnya?" tantang Yi Hua.
Huan Ran menatap tajam padanya, "Kerajaan masih akan menyelidikinya."
"Sampai kapan kata ' akan menyelidiki' ini disebut terus, Perdana Menteri? Sampai korbannya semakin banyak? Jika seperti itu, maka orang biasa pun bisa menyelidikinya. Tak perlu orang kerajaan," ucap Yi Hua agak keras.
Hal itu membuat wajah Huan Ran menghitam. "Jaga bicaramu!"
Liu Xingsheng segera menahan Huan Ran dengan cepat. Ia hanya tak mau ada pertumpahan darah di sini. Apalagi Huan Ran juga sama kejamnya seperti Selir Qian. Sehingga Liu Xingsheng hanya bisa memeluk pinggang Huan Ran erat. Takut Huan Ran mendekati Yi Hua dan mencekik peramal yang sering mendekati kematian itu.
__ADS_1
"Kakak Huan, biarkan dia menjelaskan dulu. Mungkin dia punya rencana lain," pinta Liu Xingsheng dengan wajah panik.
Yi Hua tampaknya tak perduli dengan sikap pendek hati dari Huan Ran. Bagaimana pun seperti yang Liu Xingsheng katakan, Yi Hua punya rencana. Walau dalam hati ia berharap jika ia tak salah sasaran.
"Kelompok penari itu sudah berapa lama ada di Kota Zhu?" tanya Yi Hua lagi.
Kali ini yang menjawabnya adalah seorang prajurit muda. "Sekitar dua hari yang lalu. Mereka melakukan tarian jalanan pada siang hari. Kemudian, malamnya mereka akan menari di penginapan besar di Kota Zhu," jawab pria muda itu dengan wajah bersemu.
Seperti yang Yi Hua dengar dari ajakan Liu Xingsheng, dalam kelompok penari itu terdapat banyak kecantikan. Pasti pria ini adalah penonton setia dari para penari di sana. Yi Hua hanya bisa mendecih saat melihat wajah biawak itu.
"Itu seperti perayaaan, dimana mereka akan berkeliling kota dengan para penarinya. Kelompok penari akan berpakaian cantik, dan menari sambil mengelilingi kota. Mereka sering berpindah-pindah kota juga," jelas prajurit yang lainnya.
Namun Yi Hua mulai memikirkan sebuah kemungkinan.
Yi Hua menoleh pada Huan Ran yang diam seperti biasanya. "Tolong selidiki dimana mereka melakukan pertunjukkan sebelum datang ke Kota Zhu."
"Kau memerintahku?" tanya Huan Ran sebal.
Yi Hua mengangkat bahunya. "Saya mengatakan 'tolong' sebelumnya. Dimana lagi saya bisa meminta tolong jika bukan pada yang berwenang?" sindir Yi Hua lagi.
Xiao menghela napasnya. "Meski kau hanya menjalankan misi untuk menjadi seperti Yi Hua yang asli, tetapi kau memang menyebalkan."
Aku harus melakukannya, Xiao. Huan Ran ini pasti akan menyebutku tak berguna jika aku tak menantangnya. Aku harus tetap berada pada kasus ini!
Liu Xingsheng hanya menatap Yi Hua dengan permohonan. Ia sangat tahu jika Yi Hua cukup pandai menyindir orang lain. Jelas sekali bahwa Yi Hua bukanlah tipe yang diam ketika dihina orang lain.
Yah, seharusnya mereka tak berpikir jika Yi Hua sudah berubah. Yi Hua tetap orang bermulut kasar yang pernah ada. Liu Xingsheng hanya bisa menangis dalam hati ketika melihat perang dingin antara Yi Hua dan Huan Ran.
Entah mengapa Yi Hua jadi seperti An yang pandai memancing percikan api pada Huan Ran.
Huan Ran terlihat menahan dirinya lagi kali ini. Namun dia segera memerintahkan prajurit untuk mengumpulkan informasi seperti yang Yi Hua minta.
"Lalu, apa rencana Anda setelah ini, Perdana Menteri Liu?" tanya Yi Hua pelan.
"Mungkin beristirahat ... Maksudku membantu prajurit untuk mengumpulkan informasi," jawab Liu Xingsheng panik ketika melihat tatapan Huan Ran padanya.
"Bukankah Perdana Menteri Liu mengajak saya untuk menonton pertunjukkan tari malam ini?"
Wajah Liu Xingsheng menjadi tambah pucat ketika mendengar ucapan Yi Hua. Ia tak menyangka jika Yi Hua membongkar rencana bersantai malam ini. Bahkan di depan Huan Ran yang mengerikan ini!
"Sepertinya saya bisa, Perdana Menteri Liu. Ayo kita melihat kecantikan di sana!" ajak Yi Hua dengan gestur menunjuk ke atas.
Yi Hua mengabaikan pandangan tajam dari Huan Ran. Lebih dari segalanya, Yi Hua pikir ini harus dimulai dari hal yang paling mencolok. Dalam keramaian kau pikir memang paling aman untuk melarikan diri dari orang yang menyakitimu. Itu karena dalam keramaian justru menjadi tempat paling aman untuk menyembunyikan diri.
Semua itu karena terlalu banyak yang dilihat di sana.
Dengan kata lain, pengalihan.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya..Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~