
UGHH ... Aku pikir diriku sudah menjadi warga di langit, dan siap-siap untuk bereinkarnasi.
Li Wei berusaha bangkit ketika ia mengenali tempatnya bangun. Ini adalah ruang tidurnya di Pelatihan Awan. Setidaknya ia sudah kembali ke alamnya sekarang, bukan di tempat yang sangat kasar seperti di Labirin Batu.
Namun kala itu ... Ia juga teringat tentang apa yang terjadi sebelumnya, dan "Hua!" teriak Li Wei yang ingat jika Hua berada di bagian terdepan dari ledakan pedang terkutuk.
STAK!
Akan tetapi, sentilan keras terasa di dahinya hingga Li Wei terbaring kembali. Ia menoleh protes ke arah Permaisuri, tepatnya ibunya sendiri. Percayalah ibunya adalah makhluk terhebat di zaman ini bagi Li Wei. Hal tersebut membuat Li Wei nyaris ingin bergulung ke dalam selimut.
Permaisuri Jiang Ning, ibu kandung Li Wei, yang terkadang lebih kejam dibanding pembunuh bayaran. Lihat saja saat Li Wei terluka parah, Permaisuri itu malah melipat kedua lengannya di dada. Menatap kesal pada Li Wei seolah siap membuang anaknya ini ke jurang.
"Bergerak lagi, maka kau akan kehilangan kakimu," tegur Permaisuri Jiang pada Li Wei.
Li Wei menutupi setengah wajahnya dengan selimut, "Ibu ... "
SRET!
Li Wei segera memperbaiki panggilannya, "Maksudnya Permaisuri Ning. Hamba sedang kesakitan sekarang, dan kenapa Anda sudah seperti tukang jagal di pasar."
Apakah benar wanita ini adalah orang yang melahirkan aku?
Jatuhnya Li Wei sekarang seperti punya ibu tiri yang sebenarnya ibu kandungnya sendiri. Lama-lama Li Wei ingin menulis syair sendiri untuk mencurahkan isi hatinya tentang ibu kandung yang berkedok ibu tiri ini. Padahal anaknya baru saja berbelok dari perjalanan menuju kematian, tetapi dia sudah menindas Li Wei.
"Sudah aku bilang jika ingin bunuh diri itu yang elit. Bagaimana bisa kau malah ikut dalam Perburuan Malam?" omel Permaisuri Ning sambil duduk di kasur Li Wei.
Hal tersebut membuat Li Wei menghela napasnya. "Bu ... Maksud hamba Permaisuri. Terkadang kita juga harus belajar melindungi diri sendiri."
"Cihh ... Melindungi diri sendiri katamu?! Apa kau tak tahu jika pria berwajah tampan seperti patung giok itu dikeluarkan dari Pelatihan Awan karena mu," ucap Permaisuri Ning sambil mengupas buah apel dengan pisau kecil.
Saat ini mereka sedang berduaan saja. Sehingga keduanya jelas tak berniat menjaga sikap dan sebagainya. Lagipula, Li Wei sudah tahu sifat ibunya dari sejak lahir. Bahkan ibunya itu sudah pernah menggulung-gulung Li Wei kecil dengan kain dan menggantungnya di pintu karena ia nakal dahulu. Jika Li Wei kurang bisa berpikir jernih, maka salahkan ibunya ini.
Namun bukan decihan ibunya itu yang membuat Li Wei terkejut. Jelas sekali hal sekasar itu tak seharusnya dilakukan oleh Permaisuri Agung Jiang ini. Akan tetapi, yang membuatnya lebih terkejut adalah tentang Pelatihan Awan. Apa maksudnya pria ... Baiklah ... Tidak usah disebut perumpamaan ibunya untuk Hua, tetapi Hua dikeluarkan?
Apa yang terjadi?
"Ibu ... Bagaimana bisa Hua dikeluarkan?" tanya Li Wei yang berusaha bangkit.
Tatapan tajam ibunya membuat Li Wei berbaring lagi. Apalagi ibunya ini sedang menggenggam pisau. Ditambah lagi, Li Wei sangat ingat jika kakinya terluka parah. Bahkan ia juga terkena racun bubuk mayat.
Sekilas Li Wei lihat cap tangan dari bubuk mayat sudah menghilang. Mungkin sudah diobati oleh Li Chen atau tabib lainnya. Li Wei pernah membaca tentang obat tradisional, dimana orang-orang akan menggunakan beras atau beras ketan untuk menghilangkan memar bubuk mayat. Entah bagaimana bisa, tetapi memang benar beras bisa menghilangkan racun itu.
Akan tetapi, bekas memar dan kakinya yang nyaris patah jelas tak akan sembuh dalam satu hari.
"Kau tahu peraturan di Pelatihan Awan yang dibuat adalah harus. Bukankah sudah peraturannya jika panah milik orang lain tak boleh digunakan?" tanya Permaisuri Jiang yang sudah memotong buah menjadi kecil-kecil.
"Tapi bukankah Perburuan Malam sudah selesai? Lagipula, kami dalam keadaan genting sehingga senjata yang tersisa adalah panah milik Hua," jelas Li Wei tak terima.
"Jaga bicaramu. Mana ada gadis yang bicara dengan wajah jelek seperti itu. Perbaiki!" perintah Permaisuri Jiang sambil menjentik pelan pada hidung putrinya.
Li Wei mengusap hidungnya sebal, "Jelek pun aku mendapatnya dari dirimu," ucap Li Wei dengan suara yang kecil.
Namun makhluk terkuat sejagat raya ini jelas bisa mendengar ucapannya. "Apa katamu? Bukankah aku sudah bilang padamu berkali-kali tentang belajar menjadi gadis yang baik? Bagaimana jika nanti Yang Mulia sudah mencarikan suami untukmu, dan kau membuatnya takut?"
Ini lagi ... Kau pikir anakmu ini kurang 'gadis' apa? Padahal aku sudah lemah lembut dan tak banyak bicara.
"Yang Mulia Permaisuri Jiang, jangan mengalihkan pembicaraan. Di sini hamba sedang bertanya tentang Hua. Sekarang dimana Hua?" tanya Li Wei sambil mengguncang bahu ibunya yang kejam itu.
Permaisuri Jiang menggigit sisa setengah apel yang belum sempat dipotongnya ke dalam piring, "Dia besok akan kembali ke kediaman Ling. Mungkin dia diharuskan mengulang pelatihan di sini tahun depan. Itu pun jika ia masih ingin masuk ke dalam tonggak kekuasaan Yang Mulia Raja dan menjadi pejabat. Jika dia tak ikut dalam pelatihan, maka kau akan melihat dia berkeliaran tanpa kekuasaan di Kerajaan Li."
Hey, bukankah ini sedikit keterlaluan?
"Permaisuri, jika seperti itu mengapa hamba juga tidak diberi hukuman? Hamba adalah orang yang menggunakan panah milik orang lain," ucap Li Wei dengan nada kecewa.
Apa lagi-lagi ia diistimewakan karena statusnya sebagai Putri dari seorang Raja?
"Pria itu melanggar banyak aturan. Ia menyerang prajurit pribadi Pangeran Li Jun untuk masuk ke dalam Labirin Batu tanpa izin. Pria itu juga membawa pedang, dan itu sudah melanggar ketentuan. Harusnya sejak awal pria tampan itu tak boleh mengikuti Perburuan Malam," jelas Permaisuri Jiang sambil meletakkan buah yang sudah ia potong sebelumnya.
Li Wei juga tak terlihat sedang berminat untuk memakan buah. Sehingga ia yang sudah tahu bagaimana putrinya sendiri, mau tak mau mengalah. Memberitahu apa yang putri keras kepalanya ini ingin ketahui.
Dari sana Li Wei tahu jika dikeluarkannya Hua ini merupakan campur tangan dari Li Jun. Seperti yang Li Jun katakan pada Li Wei bahwa Li Jun akan menghalangi Hua untuk ikut dalam Perburuan Malam. Dan, Li Jun memutar balikkan fakta bahwa Hua yang membuat keributan. Itulah ciri khas Li Jun. Ia pandai menggunakan kekuasaannya.
__ADS_1
"Jika begitu hamba akan keluar juga. Maka itu akan menjadi adil," ucap Li Wei memantapkan dirinya sendiri.
SRET!
Awalnya Li Wei mengira jika ibunya itu akan memukul kepalanya. Sehingga Li Wei dengan cepat memejamkan mata. Akan tetapi, muncul suara berisik di bagian bantal ia berbaring.
Akhirnya, Li Wei membuka matanya, dan Li Wei terkejut ketika Permaisuri mendadak duduk di bagian atas kasurnya. Lalu, membawa kepala Li Wei untuk berbaring di pangkuannya. Li Wei tentu saja tak keberatan, dan langsung memeluk perut ibunya. Seperti ingin mengadu keresahan hatinya.
Sebab, jika lain kali mungkin ibunya ini akan dalam jurus ibu tiri lagi.
"Apa Hua menginginkanmu melakukan hal itu?" tanya ibunya retoris. Ini seperti membuka pemikiran anaknya yang terkadang naif.
Tak semua hal di dunia ini bisa berjalan seperti yang diinginkan. Jika pun ada, mungkin itu hanyalah bagian dari takdir. Atau, kau hanya beruntung semata. Namun terkadang Dewa hanya punya cerita sendiri untuk dirimu. Tergantung bagaimana kau menjalaninya.
"Permaisuri, tetapi apa yang terjadi di Labirin Batu itu bukanlah keinginan Hua. Dia melindungi hamba, dan jika tidak ada Hua, maka Permaisuri akan kehilangan putri secantik hamba ini," ucap Li Wei yang memeluk Permaisuri erat. Hal tersebut membuat Permaisuri Jiang tertawa.
Gadis kecilnya ini hanya ada satu di dunia. Jika hilang, maka tak ada gantinya.
"Kau tahu ada kalanya kau hanya perlu mengamati. Tak semua masalah orang lain bisa menjadi masalahmu. Termasuk tentang pria itu, yang bahkan kau sebenarnya tak tahu apapun tentangnya." Li Wei menyadari jika ibunya mengatakan hal yang sama seperti Wei Wuxie.
Seperti mereka secara halus ingin Li Wei menjauh dari Hua.
"Dari apa yang terdengar di rumor kerajaan, semua hal yang berhubungan dengan pria itu tak pernah berakhir baik. Bahkan Peramal Ling sekarang mendapat reputasi buruk," lanjut ibunya lagi.
Li Wei menatap pada jarinya sendiri untuk berpikir. "Hamba hanya ingin berterima kasih."
Apakah ia benar-benar salah saat berusaha untuk mengerti Hua? Ini tak seperti Li Wei menginginkan sesuatu dari Hua. Ia hanya penasaran dengan pria itu yang terlihat sunyi, tetapi tidaklah sepi. Jelas ... Sunyi dan kesepian itu berbeda.
Hua itu sunyi. Ia sangat tenang dan tak berbicara banyak. Akan tetapi, Hua tak terlihat kesepian. Seolah dia sudah terbiasa dengan sepi itu.
Entahlah.
"Jangan mengusik Pangeran Li Jun, Xiao Wei*. Kau tahu keluarga Wen tak akan diam dan menyusahkan keluarga Jiang lagi," jelas Permaisuri Jiang yang sebenarnya menyebut hal yang utama.
^^^*Xiao\=kecil. Biasanya panggilan Xiao diperuntukkan untuk 'memanggil' seorang yang lebih muda dengan panggilan sayang.^^^
Keluarga Wen merupakan keluarga yang cukup berpengaruh di Kerajaan Li. Terutama saat Selir Wen** melahirkan Pangeran Pertama untuk kerajaan, yaitu Li Jun. Akan tetapi, Raja Li lebih memilih gadis dari keluarga Jiang untuk dijadikan Permaisuri. Mungkin karena Raja Li memang sudah mengenal Permaisuri Jiang Ning sejak mereka masih kecil. Itulah apa yang Li Wei dengar tentang ayah dan ibunya itu.
"Ibu, bukankah aku tak bersaing untuk menjadi pewaris tahta? Mengapa kita perlu bertentangan dengan keluarga Wen?" tanya Li Wei yang memanggil Jiang Ning dengan cara yang alami. Dia hanyalah seorang anak yang bercerita pada ibunya.
"Dari apa yang aku takutkan bukan kau yang haus akan kekuasaan. Melainkan aku takut dengan perintah Dewa dalam ramalan," ucap Permaisuri Jiang Ning sambil mengusap kepala Li Wei yang bersarang di perutnya.
Li Wei mengingat kejadian yang dialaminya di dalam Labirin Batu. "Apakah ada yang menduga jika ramalan Dewa akan ditunjukkan padaku kelak?" tanya Li Wei tepat sasaran.
Terutama saat Permaisuri tak mengatakan apa-apa.
Jika seperti itu, Li Wei tersenyum kelu, "Apakah itu berarti alasan mengapa Yang Mulia membiarkan aku ikut dalam Perburuan Malam untuk mengetahui tentang ini? Itu karena ada dugaan bahwa aku akan dicelakai karena tak ingin diriku menjadi Raja kelak."
"Xiao Wei ..."
"Tak apa, Ibu. Bagaimana pun Yang Mulia adalah seorang pemimpin Kerajaan Li. Tak ada yang bisa membiarkan adanya pemberontakan dalam kerajaan," jelas Li Wei yang entah mengapa tak merasa begitu kecewa.
Apa yang ditakuti oleh Jiang Ning adalah Li Wei menjadi seorang Raja. Bukan persoalan tentang memegang tahta tertinggi atau kekuasaan tertinggi. Ini lebih pada tanggung jawab dan kebebasan Li Wei. Jiang Ning tak ingin Li Wei kehilangan kebebasannya karena terikat.
Di satu sisi dunia politik bukanlah sesuatu yang sederhana seperti menyebut sapi dalam sebuah syair.
Jiang Niang hanya menghela napas. "Xiao Wei, apapun yang terjadi, ingatlah bahwa ibu selalu ada di sisimu."
Entah Li Wei mendengarnya atau tidak. Namun gadis kecil milik Permaisuri itu sudah terlelap dengan nyaman.
Mungkin besok aku harus menemui Hua untuk berterima kasih dan meminta maaf.
Dua kata itu jelas bukan hal yang sama untuk diucapkan dalam satu momen.
***
TING!
Li Wei menatap pada lonceng angin yang dipasang di depan gedung pelatihan. Ia akhirnya datang ke tempat ini lagi.
Sayangnya, Li Wei terlalu banyak tidur di siang harinya sehingga malamnya Li Wei tak bisa tertidur. Pada akhirnya, Li Wei melanggar jam malam lagi, dan menyusuri koridor Pelatihan Awan yang sunyi. Biasanya para prajurit akan berjaga di sana secara bergantian. Namun Li Wei yang sudah pernah menyelinap sekali jelas sudah mengetahui jalan aman untuk keluar.
__ADS_1
Dengan jubah besarnya yang menutupi Li Wei menyusuri malam hanya dengan lilin di tangannya. Kakinya masih pincang, tetapi berkat beras ketan yang bubuhkan di atas memar, Li Wei bisa berjalan sendiri. Mungkin penyebab Li Wei tak bisa berjalan cepat di Labirin Batu adalah racun dari bubuk mayat.
Tanpa terasa Li Wei berjalan hingga menuju ke Tembok Batu Permohonan. Ia berniat untuk menulis permohonan agar kakinya cepat sembuh. Lalu, ia bisa menggelinding sebanyak yang ia inginkan. Atau, ia bisa berlari-lari lagi besok untuk mendatangi Zhang Yuwen dan Wei Wuxie yang katanya sedang dirawat.
Zhang Yuwen terkena racun bubuk mayat karena tangan mayat yang mencengkram bahunya. Lalu, Wei Wuxie mendapatkan luka di kepala karena terhempas saat terjadi longsoran. Sehingga Li Wei tahu mereka bertiga masih bisa disebut sekarat.
"Kau tak perlu mengantar."
Suara tenang itu membuat Li Wei segera bersembunyi di balik pagar bambu. Dari jarak ini cukup jauh dari Tembok Batu Permohonan, tetapi telinga Li Wei terbiasa untuk menguping pembicaraan. Dulu Li Wei sering menguping jika ada rumor-rumor hangat di kalangan para pelayan. Siapa sangka jika sekarang bakat ini berguna.
Sepertinya ada yang juga menyelinap keluar. Li Wei segera mematikan lilin di tangannya dan membiarkan cahaya obor di beberapa sudut menerangi. Setidaknya Li Wei tak benar-benar kegelapan. Ia duduk bersila di lantai sambil mengintip dari celah pagar bambu.
"Apa kau tak ingin menjelaskan apapun padaku?" Li Wei mengenal suara ini. Dan, pemilik suara itu adalah Ling Xiao. Gurunya di Pelatihan Awan.
Sedangkan yang satunya lagi adalah Hua. Pria ini sepertinya sedang diberi pencahayaan oleh ayah angkatnya, yang bahkan terlihat seperti menolah penuaan. Dari pertama kali Li Wei menyadari jika Ling Xiao sama sekali tak terlihat seperti seorang ayah. Yah, meskipun hanya ayah angkat dari Hua ini.
Ling Xiao yang melihat Hua tak berniat menjawabnya segera menggelengkan kepala. "Sudahlah. Kau hanya melakukan apa yang kau inginkan. Aku tak akan menghalangi dirimu."
Sejatinya Ling Xiao hanya memberi Hua status. Sisanya hanya Hua yang memanfaatkan. Sayangnya, Hua sama sekali tak memanfaatkan itu. Pria ini tak ingin terikat pada apapun, bahkan pada kebaikan dari Ling Xiao.
"Setelah kau menghancurkan pedang itu, sekarang dinding Labirin Batu telah hancur seperti digiling hingga menjadi debu. Permukaan tanah berubah menjadi seperti berpasir. Aku tak mengerti mengapa, tetapi kau menghancurkan pedang terkutuk," jelas Ling Xiao yang memperhatikan apa yang Hua perhatikan.
Pria ini memandang pada Tembok Batu Permohonan. Namun Li Wei bahkan tahu jika Hua tak berniat untuk menuliskan keinginannya di sana. Tak sekalipun.
Akan tetapi, sekarang Labirin Batu sudah hancur. Mungkin hanya segelintir orang yang tahu jika pedang terkutuk telah hancur. Semua orang berpikir jika dinding batu di sana hancur karena terkena badai. Hanya seperti itu yang disebarkan oleh kerajaan.
Bagaimana pun pedang Pangeran Penduka membawa cerita kelam untuk Kerajaan Li. Sehingga jangan sampai ada yang menyebut tentang kehancuran pedang itu. Atau, semuanya akan panik dan menyalahkan Hua yang telah menghancurkan pedang itu.
"Bagaimana dengan Yang Mulia?" Mendadak Hua bertanya.
Ling Xiao mengangkat bahunya. "Yang Mulia sedang menyelidiki beberapa kesalahan saat pelatihan. Atau, kau ingin bertanya tentang putrinya?"
DEG!
Mendadak Li Wei mendengar jantungnya berdegup kencang. Ini tak seperti Hua akan memikirkannya.
"Kau tahu ... Mengapa bunga dandelion melepaskan kelopaknya untuk pergi dari tangkai?" tanya Ling Xiao sambil menatap pada Tembok Batu Permohonan.
Akibat mitos tentang keajaiban dimana semua permohonan terkabul jika kau menulisnya di Tembok Batu Permohonan, tulisan di sana sudah begitu banyak. Seperti menggerakkan Dewa untuk mendengar permintaan hati. Dahulu untuk Hua itu sama seperti meminta sesuatu yang tak mungkin terjadi.
Sekarang ... Entah mengapa Hua menatap tulisan-tulisan di dinding ini.
Di kala itu Li Wei berpikir mengapa kedua orang ini membicarakan tentang bunga dandelion? Maaf Li Wei agak bodoh untuk menerjemahkan segala sesuatu yang agak puitis. Sehingga ia hanya bisa mendengarkan.
"Itu karena tangkai tahu jika butiran dandelion yang pergi akan menciptakan keindahan baru. Keindahan yang sangat suci dan menyebar. Oleh karena itu, tangkainya merelakan butiran dandelion yang dahulu berada di genggamannya untuk pergi," ucap Ling Xiao sambil menepuk bahu Hua sebelum pria itu melirik pada tempat Li Wei bersembunyi.
Dengan sangat rusuh Li Wei menunduk untuk menyembunyikan kepalanya sendiri.
Ling Xiao tersenyum singkat, "Juga, apa yang kau bawa dari tempat itu adalah sesuatu yang tak baik. Lebih baik kau membuangnya."
Huh? Bukankah Ling Xiao ini sering berbicara dengan bunga kata, atau multi makna? Seperti kau tahu dia mengucapkan apa, tetapi kau tak begitu tahu apa maknanya. Ini Li Wei yang kurang pendidikan sastra, atau memang kedua orang ini sangat pandai menggunakan bahasa rahasia dalam berbincang.
Ketika Ling Xiao pergi, Hua menoleh ke arah Li Wei. Tepatnya ke arah Li Wei yang tengah bersembunyi. Lalu, pria itu berkata, "Kau harus kembali untuk istirahat, atau tubuh kecilmu itu nanti sangat kecil dan bisa terbawa angin."
Sejak tadi Hua tahu keberadaannya.
Li Wei berusaha bangkit dengan bertumpu pada pagar bambu. Kemudian, ia menatap pada punggung Hua yang masih memandang pada Tembok Batu Permohonan.
"Apa Tuan Hua ingat janji sebelum kita memulai Perburuan Malam?" tanya Li Wei yang ingat jika dia kekeh untuk menagih pria ini.
"Tidak."
Apa di mata Hua Li Wei hanyalah seorang pengganggu?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~