
Hua bergerak cukup cepat.
Pria itu sudah mengurus ruangan penginapan untuk mereka. Setelah mengurus semua hal, pria itu masuk ke dalam, dan di sana ia menatap datar pada Li Wei. Akan tetapi, dari wajah Li Wei pun sudah kurang nyaman.
Li Shen kala itu duduk di samping Li Wei. Pria kecil itu juga ikut menatap pada Li Wei yang bingung. Masalahnya adalah ...
Bukannya mereka hanya melakukan hal sepele?
Li Wei mencari ayam yang memiliki surat terikat di kakinya. Lalu, setelah itu, mereka menuruti petunjuk di kertas tersebut. Akan tetapi, siapa yang menyangka jika surat itu akan mengarahkan mereka menuju ke Pelatihan Awan dan mencari tahu tentang Pohon Iblis.
Dan, setelah itu ... Tak ada petunjuk lainnya.
Sekarang, ... "Apa kita memang sedang dikutuk hingga sial seperti ini?" ucap Li Wei yang pusing sendiri.
Bahkan sekarang mereka bertiga tengah menjadi buronan kerajaan. Lebih tepatnya hanya Wei Wuxie yang diketahui oleh kerajaan, karena pria itu tidak menyamar. Sedangkan Zhang Yuwen dan dirinya tidak diketahui.
Hanya saja ...
"Putri harusnya kembali ke kerajaan secepatnya. Tetap diam di sana, dan jangan sampai ada yang tahu jika Putri bersama saya," ucap Wei Wuxie dengan nada tenang.
Hal tersebut membuat Li Wei menjawab dengan tak terima. "Yang mengajak kalian ke Pelatihan Awan itu adalah aku. Lagipula, bagaimana mungkin Wei Wuxie bisa menjadi kambing hitam? Ia tak bertemu dengan Selir Mo Jiao."
Nyatanya Li Wei tak tahu jika Wei Wuxie bertemu dengan Selir Mo Jiao lagi. Seingat Li Wei, Wei Wuxie hanya pergi karena panggilan Li Jun. Jadi, bagaimana bisa Wei Wuxie dihubungkan dengan Selir Mo Jiao?
"Saya bertemu dengan Selir Mo Jiao, Putri," jawaban Wei Wuxie tentu saja mengejutkan Li Wei sekaligus Zhang Yuwen.
"Bukannya kau dipanggil Pangeran Li Jun? Lalu, mengapa kau malah berbelok menuju ke Selir-nya? Kau ini ternyata ada bakat-bakat perebut juga," ucap Zhang Yuwen sambil menepuk bahu Wei Wuxie bangga.
Sebab, ia baru tahu jika Wei Wuxie juga tertarik dengan kecantikan. Dikiranya hanya tertarik pada buku-buku, dan strategi politik.
Wei Wuxie menghela napasnya. Malas mengurusi imajinasi liar Zhang Yuwen. "Saat berjalan untuk menemui Pangeran Pertama, aku bertemu dengan Selir Mo. Kami berbincang sedikit. Aku tak tahu tentang Pangeran Li Jun, karena saat aku datang mencarinya, Pangeran tak ada. Itulah mengapa aku kembali ke perpustakaan."
Dan, setelah itu ... Keributan datang dengan sangat cepat. Bahkan Wei Wuxie harus menghindari keramaian untuk melarikan diri. Beruntung dia masih ingat jika ada dua orang yang masih tertinggal di perpustakaan. Walau pada akhirnya, mereka berdua harus panik lagi karena Li Wei yang hilang mendadak.
"Apa maksudmu bahwa kau dipanggil secara 'sengaja'? Agar menjadi kambing hitam," ucap Li Wei hati-hati.
Bagaimana pun semuanya terasa relevan?
Dimulai dari surat yang diberikan melalui ayam. Kemudian, mereka ditempatkan dalam situasi harus menyamar. Terutama ... Mengapa saat itu bertepatan dengan kedatangan Pangeran Li Jun?
Dan, setelah itu ... semua ini terjadi dengan sangat berkaitan. Seperti sudah diatur sebelumnya.
"Tapi yang memanggil Wei Wuxie itu Peramal Ling!" ucap Zhang Yuwen dengan nada tak percaya.
Bagaimana pun jika ada manusia yang dianggap paling 'tidak' memiliki dosa, maka itu adalah Ling Xiao. Pria itu adalah orang yang meletakkan semua hidupnya untuk memuja Dewa. Meski pria itu agak misterius, tetapi menjebak orang lain ... Li Wei tak berani untuk memikirkannya.
Li Wei secara mendadak menoleh pada Hua. Ling Xiao adalah orang terdekat yang dimiliki oleh Hua. Jika mereka membahas tentang ini, Hua mungkin ...
"Itu bukan Ling Xiao," ucap Hua tenang.
Yah, itu sudah sepantasnya. Hua tak akan menyetujui jika Ling Xiao dianggap menjebak. Apalagi melakukan pembunuhan terhadap Selir Mo Jiao.
Zhang Yuwen menggelengkan kepalanya. "Apa alasan kau membela Peramal Ling? Semua hal menuju ke arahnya!" ucap Zhang Yuwen membantah.
Ia sudah terlibat dalam hal ini. Zhang Yuwen sebenarnya bisa saja meninggalkan Wei Wuxie, karena hanya identitas temannya itu yang terbongkar. Akan tetapi, ... yah, Zhang Yuwen tak melakukannya.
Bagaimana mungkin orang yang dihormati seperti Wei Wuxie beralih menjadi buronan sekarang?
"Lalu, apa alasan kau menuduh Ling Xiao?"
Nah ... Itu benar.
Jika Ling Xiao sengaja menjebak Wei Wuxie, apa keuntungannya?
Justru dengan adanya Wei Wuxie sebagai salah satu murid di bawah Ling Xiao, nama Ling Xiao semakin besar. Sebab, Wei Wuxie menjadi seorang Jenderal yang hebat. Sehingga Ling Xiao tak punya alasan untuk menjebak Wei Wuxie.
"Sudah. Jangan bertengkar lagi!" ucap Li Wei berusaha menghentikan.
Li Shen juga terlihat ketakutan dengan perdebatan ketiga orang ini. Yang mereka perlukan adalah solusi.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita kembali, dan membela diri di Pengadilan Tinggi?" saran Zhang Yuwen yang berusaha mengatur emosinya.
Li Wei menggelengkan kepalanya. "Kita tak punya saksi untuk membela Wei Wuxie. Bahkan kejadian saat Wei Wuxie berbincang dengan Selir Mo Jiao saja tak ada yang tahu. Ini benar-benar seperti perselingkuhan jika dijelaskan di Pengadilan Tinggi."
"Sebenarnya ada. Kalian ingat pelayan muda yang bersama Selir Mo Jiao?" tanya Wei Wuxie yang mengingat tentang gadis muda yang menjadi pelayan pribadi Selir Mo Jiao.
Zhang Yuwen menganggukkan kepalanya. "Gadis pelayan yang tak memiliki banyak ekspresi. Meski dia tersenyum tipis saat aku menatapnya, aku tak melihat ada kerutan di wajahnya."
Mau tak mau Li Wei menatap heran pada Zhang Yuwen. Ketiga mereka bertiga, mereka hanya bertemu sekilas dengan Selir Mo Jiao beserta pelayannya. Namun mata Zhang Yuwen ternyata mengamati secara rinci.
Dasar.
Menyadari itu, Zhang Yuwen tersenyum bangga. "Mataku selalu bisa menilai sebuah kecantikan."
"Itu benar. Gadis pelayan itu aneh. Gerakannya tak lemah lembut seperti gadis biasa. Dia bahkan terlatih," jelas Wei Wuxie yang memang mencurigai pelayan itu.
"Apanya yang aneh? Jarang sekali kau bertemu orang yang tersenyum tanpa membuat kerut di matanya," ucap Zhang Yuwen.
Namun Zhang Yuwen yang berkata, pria itu juga yang termenung. Pria itu segera menarik kedua pipi Wei Wuxie untuk membentuk senyum di wajah pria itu. Akan tetapi, sedatar apapun ekspresi seseorang, kulit wajah tak akan tanpa kerutan.
"Gadis itu menggunakan topeng kulit," cetus Li Wei yang sebenarnya meminta pendapat dari yang lainnya.
Wei Wuxie, "Saya pikir Putri harus kembali ke istana hari ini. Saya akan mencari pelayan itu."
Dengan menghilangnya pelayan itu jelas menjadi bukti jelas jika gadis itu bersalah. Hanya saja ... Orang-orang tak percaya jika gadis itu yang melakukannya. Sebab, lebih mencolok tentang fakta Wei Wuxie yang menemui Selir Mo Jiao di ruangan penyimpanan.
Lalu, setelah itu ... Selir Mo Jiao ditemukan tewas.
"Lagipula, apa yang kau bicarakan dengan Selir Mo? Bahkan, di ruang penyimpanan. Adakah tempat yang lebih 'terbuka' lagi?" tanya Zhang Yuwen yang hobi menyindir.
Sayangnya, Wei Wuxie terlalu dingin untuk menanggapi apa yang dibicarakan oleh Zhang Yuwen. "Ia mengatakan aku bisa mendapatkan yang aku inginkan. Semua itu agar aku berada dalam barisan Pangeran Li Jun."
Oh tentang tahta.
"Memangnya apa yang kau inginkan?" tanya Li Wei yang sudah kelelahan sendiri. Gadis itu hanya menatap kasihan pada Li Shen yang harus ikut terlibat dalam hal ini.
Wei Wuxie menatap lembut ke arah Li Wei. "Saya berkata padanya, jika menaruh hati akan membuat semuanya menjauh, maka lebih baik tetap seperti sebelumnya."
Jika Li Wei tahu perasaannya, rasa canggung akan datang. Itu yang akan membuat Li Wei yang selalu banyak pikiran ini menjadi terbebani. Apalagi dengan tipikal Li Wei yang tak tega terhadap orang lain. Li Wei akan memaksa dirinya sendiri untuk menyenangkan hati siapa saja.
Belum lagi ... Li Wei agak bodoh tentang ini.
Zhang Yuwen mengerutkan keningnya, "Dari segala jenis bahan pembicaraan, kalian membahas tentang hal seperti itu."
Fakta yang agak sepele. Namun perasaan manusia dan rasa cinta juga bisa mengubah pemikiran banyak orang. Sehingga mungkin Selir Mo Jiao hanya memanfaatkan perasaan Wei Wuxie.
Sayangnya, Wei Wuxie tak perlu apapun. Ia hanya ingin Li Wei hidup sebagaimana yang gadis itu inginkan.
"Aku akan kembali ke istana bersama Pangeran Li Shen, aku juga akan mencari informasi tentang pihak yang dicurigai kerajaan. Lalu, kita berkumpul lagi ke ..."
BUGH!
Belum sempat Li Wei melanjutkan kalimatnya, suara itu terdengar keras dari luar. Tak lama setelah itu diikuti oleh teriakan dari luar.
"Kami akan memeriksa ke dalam." Itu adalah teriakan dari prajurit kerajaan.
Bagaimana bisa pencarian prajurit sudah sampai ke tempat ini? Mereka bahkan belum mengatur strategi apa-apa. Ditambah lagi, Li Shen juga masih bersama dengan mereka.
SRET!
Hua menggeser sedikit tirai jendela untuk mengintip ke jalan. Mereka sekarang berada di tingkat kedua dari penginapan, sehingga Hua bisa melihat banyaknya prajurit yang berkeliaran di jalan. Bukan hanya karena pencarian buronan, tetapi memang biasanya para prajurit berkeliaran di sekitar.
"Dari jendela tak bisa." Meski Hua hanya menjawab tak jelas seperti biasanya, entah mengapa kali ini Li Wei memahaminya.
GRAK!
GRAK!
"Pemeriksaan kerajaan! Harap buka pintu," teriak prajurit yang mengetuk pintu di depan.
__ADS_1
Mendadak aku ingin menyamar menjadi dinding supaya tak ada yang mengenal.
Li Wei memeluk Li Shen sambil berpikir. Masalahnya adalah ... Ia membawa orang yang bahkan lebih berharga dari emas di Kerajaan Li ini. Jika anak ini lecet, Permaisuri Jiang Ning akan menggantung Li Wei seperti lonceng angin.
Sekarang apa yang harus mereka lakukan?
Ketika itu Li Wei melihat Zhang Yuwen yang melompat ke bagian atas bingkai pintu. Pria itu dengan cekatan menempel di sana seperti cicak. Dan, tak lama menyusul Wei Wuxie yang bersembunyi di balik tirai.
Awalnya Li Wei berpikir jika Wei Wuxie kurang kreatif. Akan tetapi, dengan pakaian Wei Wuxie yang senada dengan warna tirai yang agak kecokelatan, sehingga Wei Wuxie nyaris tak terlihat di sana. Entah bagaimana Wei Wuxie bisa menyatu dengan alam sekitarnya dengan cepat.
Sekarang ia bahkan tak sempat untuk bersembunyi.
"Tuan Hua, saya ..."
Eh?
SRET!
Bukannya bersembunyi, Hua malah menggelar kasur yang ada di samping. Kemudian, pria itu memasang sekat dengan lukisan mawar yang memang disediakan oleh penginapan. Biasanya sekat itu digunakan untuk menghalangi pandangan, setiap kali tamu datang.
Orang ini bukannya bersembunyi malah ingin rebahan.
Akan tetapi, Hua segera menggendong Li Shen dengan cepat. Si Pangeran Kecil itu dengan mudahnya di bawa Hua ke dalam selimut tebal, dan juga ...
SRET!
Li Wei juga ikut ditarik oleh Hua sekalian. Dengan cepat Hua menarik pita rambut yang mengikat Li Wei dan membawa gadis itu berbaring bersamanya. Li Shen yang terjepit di antara Li Wei dan Hua adalah satu-satunya jarak di antara mereka berdua. Meski begitu, Pangeran Li Shen cukup cerdas di usianya.
Ia bahkan tahu tentang momen genting. Hingga anak kecil itu berdiam diri dengan patuh di dalam selimut. Yang kelimpungan hanyalah Li Wei. Terutama saat Hua menarik jubah bagian luar Li Wei untuk dibuka di bagian bahunya.
Bukan hanya Li Wei, Wei Wuxie yang sudah menjelma menjadi cicak dadakan pun terkejut. Pria itu jelas tak terima, dan Zhang Yuwen juga nyaris mendatangi Hua untuk menjauhkan Tuan Putri mereka dari tangan lancang Hua. Akan tetapi, ...
BRAK!
Prajurit sudah mendobrak pintu mereka. Li Wei mau tak mau membaringkan kepalanya di lengan kanan Hua. Pura-pura tidur. Padahal jantungnya sudah mengajukan protes untuk keluar dari tubuh. Suara degup jantungnya sudah sangat mengerikan.
Meski posisi mereka yang aneh ini, tetapi yang terlihat bagi orang lain hanyalah samar-samar di balik sekat kain. Hanya terlihat posisi Hua dan Li Wei seperti sepasang kekasih yang ...
Apakah harus dijelaskan?
"Ada apa?" tanya Hua dengan suaranya yang dingin.
Wajah para prajurit itu langsung kaku. Ditambah lagi mereka juga mengenali suara dingin itu. Anak angkat keluarga Ling memang sangat menakjubkan. Bukan karena prestasinya, tetapi karena catatan masalahnya.
Tentu saja semua mengingat tentang ulah buruk Hua semasa di Pelatihan Awan. Lalu, dengan perdebatan keras di Pengadilan Tinggi, karena tak menyetujui Hua menjadi guru di Pelatihan Awan. Akan tetapi, saat Hua ikut dalam Perburuan Malam (lagi), pria itu menghabisi banyak buruan. Catatan nilai Hua juga sangat meningkat setelah ia mengulang Pelatihan lagi. Hingga tak ada yang bisa menyanggah masuknya Hua di Pelatihan Awan sebagai guru.
"Tuan Hua, maaf mengganggu waktunya. Kami hanya sedang mencari Pejabat Wei Wuxie beserta rekannya. Seseorang berkata jika melihat dua orang yang mencurigakan masuk kemari," jelas prajurit itu dengan nada agak bergetar.
Jika Hua ingin memberi hukuman, Pengadilan Tinggi pun tak bisa mengatasinya. Sebab, yang melakukan kesalahan adalah mereka karena melanggar privasi.
"Jenderal Wei?" tanya Hua dengan nada datar.
Li Wei membuka matanya untuk meminta kerja sama dengan Hua. Bagaimana pun sejak mereka masuk ke penginapan ini, Hua tak pernah mengatakan bahwa ia akan tutup mulut. Namun dengan lancangnya Hua menutup mata Li Wei seperti menutup mata orang mati dengan mata terbuka.
"Aku tidak melihatnya," ucap Hua dengan nada mengejek sambil menatap penuh tantangan pada Wei Wuxie dan Zhang Yuwen.
Terutama ketika pria itu mengusap pipi Li Wei dengan ibu jarinya. Setidaknya Hua memang jelas seperti biasanya. Meningkatkan emosi orang lain hanya dengan tatapannya.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Maaf ya lagi-lagi chapter ini telat datangnya. Bukannya apa, tapi memang dunia kerja itu penuh kesibukan. Dan, sejak awal aku memang gak pandai mengatur waktu. Makanya banyak yang keteteran. Ini aja bisa upload karena mencari waktu istirahat di tengah pelatihan.
Udahlah ... Anggap aja curhatan di atas cuma untuk menambah jumlah kata.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~
***