
Bukankah cerita ini benar-benar aneh?
Saat ia terbangun sebagai Yi Hua, ia menyadari bahwa dirinya lahir sebagai orang yang paling tak disukai oleh umat manusia di Kerajaan Li. Kemudian, setelah ia menjalani kehidupan sebagai Yi Hua, ia sekarang malah tahu jika dirinya adalah orang yang paling ingin dibunuh dalam sejarah Kerajaan Li. Ia sepertinya punya hidup yang sama sekali tak diberkahi oleh Dewa.
Adakah orang yang lebih sial darinya?
Sepertinya aku ini kurang beramal, makanya hidupku menjadi sulit seperti ini.
Xiao langsung berseru, "Giliran kau mendapat masalah, baru kau ingat dosa-dosa. Kau tahu seringkali manusia itu lupa tentang kata bersyukur. Lagipula, apa penting berbicara melantur seperti sapi bermimpi saat kepalamu sedang diincar oleh pria ini? Apa kau tak sayang pada bekas gigitan dari Hua Yifeng di lehermu itu? Nanti jika kepalamu terlepas, kau akan kehilangannya."
Xiao ini sepertinya lebih pandai menasihati orang lain ketimbang menjadi sistem yang baik. Entah mengapa Yi Hua seringkali diberikan sinar motivasi di setiap perbuatannya. Tentu saja juga lengkap dengan ucapan aneh dari Xiao. Ditambah lagi tentang ucapan Xiao yang selalu lebih jujur daripada orang lain.
Busuk sekali.
SRET!
"Ha ... ha ... ha. Apakah Anda ingin saya untuk memeriksa pedang Anda?" Yi Hua tertawa dengan nada yang aneh. Meski tatapannya malah menuju pada Ling Xiao.
Ling Xiao menekan ke arah leher Yi Hua. "Tuan Puteri Li Wei."
DEG!
Yi Hua menggenggam ganggang pedang milik Hua Yifeng yang masih ia sembunyikan di dalam jubahnya. Ia tentu saja tak ingin bertarung, tetapi ia tak punya pilihan lain. Yi Hua harus bisa melindungi dirinya sendiri.
"Bukankah itu tak berdasar Tuan Peramal Ling? Bagaimana bisa Anda menyebut nama pendosa itu di sini?" tanya Yi Hua yang berusaha tenang.
Padahal aku hanya ingin bertanya tentang Hua Yifeng. Sebab, di sini semuanya masih terasa aneh.
Yi Hua memang menangisi Hua Yifeng, tetapi ia tak tahu mengapa ia menangis. Rasanya hanya sangat sedih, tetapi tak tahu apa yang membuatnya sedih. Bukankah itu sama seperti kau tahu rasanya asin, tetapi kau tak tahu bagaimana bisa rasanya menjadi asin? Atau ini sama seperti kau sering menyebut tentang sapi terbang, tetapi kau tak tahu mengapa bisa itu seringkali muncul.
Tepat! Itu tak berdasar, dan Yi Hua menjadi bingung sendiri dengan pandangan hidupnya.
SRET!
Ling Xiao dengan mudahnya menarik pedang kembali. Tatapannya yang awalnya tajam malah menjadi tak perduli seperti biasanya. "Yah, mana mungkin ada orang yang bisa hidup kembali. Sepertinya aku sering mengkhayal tentang sapi yang bisa terbang sebelum tidur."
Eh?
Yi Hua mengusap lehernya dengan sayang. Bagaimana pun ia jelas adalah orang yang paling bersyukur di dunia ini. Kepalanya masih utuh, berarti dia masih memiliki waktu untuk menata hidupnya. Ditambah lagi jika dirinya memang benar Li Wei, maka dia harus menelusuri alur untuk menemukan seluruh ingatannya.
Meski yah ... Dari ceritanya saja sudah tahu betapa kacaunya sejarah akibat Li Wei ini. Mungkin fakta-fakta yang akan dilihatnya nanti akan sangat mengejutkan. Bahkan Dewa tak begitu baik padanya, dan menghadiahkan sistem yang kurang koorperatif ini.
Ling Xiao mengusap mata pedangnya dengan tatapan yang tak bisa terbaca. Yi Hua yakin Ling Xiao tak sebodoh itu untuk percaya pada kata-katanya. Meski begitu, Ling Xiao juga tak punya alasan untuk tidak mempercayai fakta itu. Apakah ada alasan yang lebih masuk akal dari berpindahnya jiwa ke dalam tubuh orang lain?
"Tentang mengapa Hua Yifeng mengikuti dirimu aku jelas-jelas tak tahu. Aku menyarankan dirimu untuk bertanya padanya. Tapi bukankah kau sudah tahu alasan mengapa dia mengikuti dirimu?" Ling Xiao melirik pada jubah yang dikenakan oleh Yi Hua.
Mungkin pria ini mengetahui tentang pedang Li Wei yang ada di tangan Yi Hua.
Ling Xiao menggulung kembali gulungan kertas lukisan itu, "Katanya, pedang Li Wei adalah senjata paling agresif yang pernah ada. Pedang itu dibuat dengan besi terkutuk yang terpendam di bawah tanah Lembah Debu. Apa kau pernah mendengar tentang cerita itu?"
Mau tak mau Yi Hua menggelengkan kepalanya. Jelas ia tak tahu tentang bahan utama dari pedang hitam Li Wei.
"Di masa mudanya, Hua Yifeng memasuki Lembah Debu. Kala itu dia masih berlatih untuk menjadi petarung. Ia masuk ke Lembah Debu dan menemukan patahan pedang yang terkubur di bawah tengkorak Lembah Debu. Dugaan ku adalah patahan pedang itu mungkin dimiliki oleh salah satu orang yang sudah menjadi tengkorak di Lembah Debu. Pedang itu telah terpendam di sana bertahun-tahun. Pedang itu memiliki banyak dendam dan aura kematian, seharusnya benda itu tak pernah ada. Hua Yifeng kemudian menempa setengahnya menjadi pedang," jelas Ling Xiao.
__ADS_1
Yi Hua mengangkat sebelah alisnya lagi. "Setengah? Lalu, dimana setengahnya lagi?"
Sebentar ...
"Apakah setengah dari besi itu digunakan untuk menempa Lingkaran Mawar?" tanya Yi Hua tak percaya.
Bahkan Li Wei memiliki setengah dari benda yang dimiliki oleh Hua Yifeng. Akan tetapi, mengapa dirinya, Yah ... dirinya saat menjadi Li Wei tak mengenal Hua Yifeng? Tak mungkin bukan jika Hua Yifeng menitipkannya melalui seseorang.
Jelas tak mungkin karena benda semacam itu sangat agresif dan tak bisa dititip-titip seperti barang biasa.
Ling Xiao tak menjawab pertanyaan Yi Hua. Ia malah berbicara lagi. "Namun semua senjata itu tak akan menjadi senjata yang hebat begitu saja. Kau tahu Hua Yifeng membunuh seluruh orang-orang kerajaan Li dengan pedang itu."
"Sulit dipercaya jika saat ini kau menyimpan pedang itu, HuaHua! Lebih aneh lagi pedang itu tak menyakiti dirimu," jelas Xiao untuk menjelaskan betapa anehnya fenomena itu.
Pantas saja pedang itu menjadi sangat mengerikan. Terlalu banyak darah yang berceceran di mata pedang itu. Semuanya menjadi sangat buruk, dan itu adalah masa lalu kelam di Kerajaan Li.
"Kau tenang saja. Tentang pedang itu, Pedang Li Wei tak akan menyakitimu. Itu semua karena pedang itu sudah mengakuimu sebagai Tuan kedua. Biasanya saat benda spiritual dibuat, maka dia akan memilih Tuan, dan Hua Yifeng jelas adalah Tuannya. Namun dia sepertinya membuat pedang ini menerima Tuan Kedua untuk pedang ini," ucap Ling Xiao sambil menunjuk kesal pada Yi Hua.
Yi Hua hanya mendengarkan tanpa berkata apa-apa. Sepertinya ia mulai mengumpulkan semua informasi. Sesuatu yang ia pahami ialah masih ada bagian-bagian yang kosong di dalam ingatannya. Jika ia ingin mengetahuinya, maka dia harus menyusuri ingatannya.
Entah bagaimana, apa yang Yi Hua inginkan sejalan dengan misi dari Xiao.
"Bukankah lebih mudah untuk terus hidup seperti ini ketimbang mengetahui masa lalu yang jelas-jelas tak bisa kau ubah, Peramal Yi? Mungkin itulah alasan mengapa Hua Yifeng tak mengatakan apa-apa padamu," jelas Ling Xiao tanpa ingin menjelaskan lebih rinci.
Itu adalah apa yang dirinya pikirkan ketika bangun sebagai Yi Hua. Akan tetapi, setelah itu ada beribu pertanyaan yang terus muncul di kepalanya. Ia merasa seperti ada hal benar yang terjadi di masa lalu.
Termasuk tentang dirinya saat menjadi Puteri Li Wei dahulu. Sejarah yang diceritakan orang-orang bukan berarti itu adalah fakta. Itu adalah sejarah yang disampaikan oleh si penyampai cerita. Bukan sejarah yang sebenarnya.
Itu benar.
"Jika aku mencari tahu tentang diriku di masa lalu, mungkin saja aku akan segera menemukan alasan mengapa aku hidup kembali menjadi Yi Hua," jelas Yi Hua di dalam hati.
Xiao bertanya lagi, "Bagaimana jika pada akhirnya kau memang pembawa bencana itu di masa lalu?"
Yi Hua menyadari bahwa ia tak bisa mengatakan apa-apa.
Yi Hua malah berbicara dengan Ling Xiao. "Peramal Ling, saya telah ... Membunuh Hua Yifeng," ucap Yi Hua pada akhirnya.
Tatapan mata Ling Xiao mendadak menjadi tajam. Ia mendekat pada Yi Hua, sehingga ia berpikir jika Ling Xiao akan menyerangnya. Pada akhirnya, Yi Hua mengeluarkan pedangnya kembali. Bukan pedangnya tetapi pedang Hua Yifeng.
SRET!
Mendadak Ling Xiao tersenyum. "Jika aku boleh mengomentarimu. Maka, aku akan mengatakan padamu. Kesalahanmu masih sama sejak dulu, yaitu kau tak bisa mengendalikan emosimu."
Ling Xiao benar. Yi Hua memang tak cukup tenang dalam mengatasi sesuatu.
Ling Xiao menghela napasnya sambil meraih bunga mawar yang merupakan hiasan di ruangan itu. Mawar itu adalah mawar kering, dan itu sudah menunjukkan berapa lama mawar itu ada di sana. Lalu, Ling Xiao menarik kuntum bunga itu agar terlepas dari tangkainya.
KRAK!
"Jika kau lebih tenang ketika mengambil keputusan, semuanya tak akan menjadi buruk. Itu semua hanya agar kau tak menyesal atas apa yang menjadi keputusanmu," ujar Ling Xiao sambil melemparkan bunga itu di udara.
Bunga-bunga itu berjatuhan di lantai, dan tak ada yang bisa dilakukan ketika bunga telah gugur dari tangkainya.
__ADS_1
"Apakah Anda tak masalah dengan apa yang saya lakukan? Saya membunuh teman Anda," tegas Yi Hua untuk mengingatkan Ling Xiao tentang apa yang ingin disampaikannya.
Ling Xiao menghela napasnya. "Aku hanya bisa mengatakan padamu bahwa kau bisa membunuhnya lagi nanti."
Apa maksud pria ini? Mengapa tak ada yang berbicara dengan kalimat yang lebih sederhana.
"Baiklah. Silahkan bertamu lain kali, Peramal Yi. Sepertinya Anda harus kembali ke Kerajaan Li karena saya jelas tak ingin orang-orang kerajaan tahu tentang kediaman saya," jelas Ling Xiao yang tanpa manis-manisnya langsung mengusir Yi Hua.
Yi Hua mau tak mau harus segera pergi. Belum lagi dengan Liu Xingsheng yang pasti akan mencarinya seperti anak hilang. Sehingga ia memilih untuk keluar setelah memberi penghormatan pada Ling Xiao.
Lalu, ...
"Semoga keberkahan Dewa selalu mengikuti dirimu, Peramal Yi. Seperti ramalan yang pernah Anda sebutkan sebelumnya, jika Lingkaran Mawar terkumpul kembali, maka Puteri Li Wei akan lahir. Itu jelas hanya ramalan, tetapi apa Lingkaran Mawar bukanlah benda yang baik, Peramal Yi. Pedang Li Wei itu bisa dikuasai oleh Hua Yifeng, tetapi Lingkaran Mawar tak ada yang bisa menahan kekuatannya," tegas Ling Xiao langsung pada Yi Hua.
Jika ada hal yang belum terselesaikan di masa lalu, Yi Hua pikir itu adalah karena dahulu dirinya tak bisa menghancurkan Lingkaran Mawar. Sebab, berbahaya jika benda yang bisa mengabulkan keinginan setiap orang ini tetap ada. Karena tak semua keinginan orang-orang itu baik, dan untuk kepentingan banyak orang.
Dahulu ... Mungkin dia benar-benar orang yang naif dan gegabah dalam mengambil keputusan. Atau, bahkan sampai sekarang pun dirinya begitu.
Yi Hua menyentuh pedang Li Wei dari luar jubahnya.
Ia baru saja ingin keluar dari kediaman Ling Xiao, mendadak ia mendengar Ling Xiao berteriak dari dalam ruangan. Sepertinya seniornya dalam dunia ramal-meramal ini masih punya hal untuk dibicarakan. Suaranya tak terlalu keras, tetapi Yi Hua bisa mendengarnya karena bantuan Xiao.
"Biasanya pria mengerikan itu sering memberi senar tipis untuk senjatanya. Hal itu agar Pedang Li Wei bisa dia ambil kembali, meski sejauh apapun. Senar itu terbuat dari kekuatan Hua Yifeng," teriak Ling Xiao keras.
Senar tipis?
Yi Hua mengambil pedang itu dari balik jubahnya. Ia mengangkatnya ke arah matahari yang baru terbit. Mata Yi Hua tak cukup baik untuk melihat benda setipis itu. Dan, ... Benar saja ... Di sana ada senar yang sangat tipis, dan bahkan lebih tipis dari rambut. Warnanya emas.
Yi Hua tak mengira jika Hua Yifeng cukup kurang kerjaan untuk mengikat Pedang Li Wei dengan senar emas. Apalagi dengan ...
Tunggu dulu ... Senar emas dibuat Hua Yifeng dari kekuatannya.
BRAK!
Ling Xiao sudah menutup keras pintu kediamannya. Hanya tersisa Yi Hua yang memikirkan kemungkinan ini. Apalagi dengan senar yang jelas-jelas terhubung secara ajaib di ganggang pedang. Lalu ujung senar yang sebelahnya entah dimana.
Akan tetapi, jika senar emas ini masih ada, berarti Hua Yifeng juga masih ada. Jelas jika ada kekuatannya, berarti orangnya juga masih ada. Dia tahu dimana ujung senar yang sebelahnya lagi berada! Itu pasti di sarung pedang Li Wei ini.
Sarung pedang itu jelas-jelas masih ada di tangan Hua Yifeng.
Aku akan menendang kepala pria ini karena membuat drama murahan kemarin!
Yi Hua merasa ia ingin segera membakar Istana Awan milik Hua Yifeng.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1