
"Siapa yang memiliki energi sekuat ini," ujar para akar dengan gelisah.
Yi Hua memperhatikan para akar yang berisik. Dilihat dari segi apapun energi yang terpancar memang cukup kuat. Bahkan Yi Hua tak yakin jika yang datang adalah An.
Bagaimana mungkin seorang manusia memiliki kemampuan merusak sebanyak itu?
"SRAHHH!!!"
Akar-akar itu bergolak seolah mereka adalah ular-ular kecil yang berkeliaran. Bahkan kini Yi Hua hanya mengandalkan cahaya-cahaya minim yang keluar di balik dinding gua tanah yang retak. Akan tetapi, Yi Hua tak akan menjamin bahwa dirinya tak akan 'mendatar' jika terus berada di dalam gua ini.
Sapi saja jika berada dalam gua yang runtuh akan segera rata, apalagi aku yang lemah lembut dan bersahaja!
Yi Hua mengambil jimat lagi untuk ditempelkan pada salah satu dinding gua. Setidaknya dia harus membuka jalan sekarang, atau dia akan terjebak di sini.
"Xiao, di mana dinding gua yang paling tipis?" tanya Yi Hua dengan nada memerintah.
Hal itu mengundang decak kesal dari Xiao. "Kau selalu memberikan pekerjaan yang paling susah padaku."
Meski begitu, Xiao terdiam lagi. Yi Hua yakin bahwa Xiao akan tetap bekerja walau mengomel seperti orang yang ditagih hutang. Terkadang Yi Hua mulai berpikir bahwa karakter Xiao ini diciptakan agar bisa menjadi cobaan untuk orang-orang lemah lembut dan rajin menabung seperti Yi Hua.
Akan tetapi, Yi Hua harus melakukannya karena dia harus memastikan bahwa ketika dihancurkan dari dalam gua ini tak akan hancur semuanya. Itu pasti akan menjadi hal yang paling konyol, karena Yi Hua tetap akan terkubur di dalam tanah. Oleh karena itu, dia harus memastikan dengan baik.
"Dinding di sebelah kanan, HuaHua. Itu sudah agak retak dan tipis. Jika kau menghancurkannya, maka kau punya waktu sedikit untuk melarikan diri sebelum gua hancur sepenuhnya," ujar Xiao lengkap dengan penjelasannya sebagai bonus.
Yi Hua menempelkan jimat pada dinding yang Xiao maksudkan. Setelah itu, tangannya menekan pelan ke dinding.
BLAM!
GRAK!
"Aduh." Yi Hua mengusap kepalanya yang dijatuhi batu kecil.
Xiao merenggut kesal. "Terlalu kuat, HuaHua. Apa kau ingin menjadi rata seperti saku uangmu?"
Ia tak menyangka jika retakannya akan segera menyapa kepala Yi Hua. Itu berarti dinding ini sangat tipis hingga energi dari jimat terasa sangat kuat. Oleh karena itu, Yi Hua tak bisa menggunakan jimatnya untuk menghancurkan.
Ya sudah ...
Yi Hua meregangkan sedikit kaki kanannya, dan ...
BRAK!
Jika memang setipis itu, maka Yi Hua hanya perlu menendangnya. Dan benar saja di sana tercipta jalan yang agak besar. Yi Hua pikir tenaga sapinya sangat berguna dalam hal ini.
SRET!
"Eh?"
Baru saja Yi Hua ingin memanjat keluar sebuah tangan terulur ke dalam. Tanpa menunggu banyak waktu, Yi Hua sudah terangkat akibat tarikan tangan itu. Ia bahkan ditarik dengan sangat kuat dan cepat, hingga dia tak bisa menghindari tangan itu.
"Tuan An ... Saya bisa berdiri sendiri," ujar Yi Hua yang berusaha melepaskan rengkuhan An pada pinggangnya.
SRET
Hey, bagaimana bisa semakin mengeratkan pelukannya? Dia harusnya tahu bahwa ada batasan antara pria dan wanita! Dasar tak sopan.
Xiao menghela napasnya lagi. "Aku terkadang heran dengan otakmu yang kadang pintar kadang ambruk."
GRAK!
"Bagaimana dia bisa ada di sini?" ucap akar-akar itu yang terlihat sangat ketakutan.
Bukankah sekarang ini hanyalah An? Mengapa para akar ini terlihat begitu ketakutan?
Itulah yang membuat Yi Hua mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. Akan tetapi, sebelum ia mendapatkan jawaban yang tepat, sosok itu melepaskan pegangannya pada pinggang Yi Hua. Lalu, pria itu menuju ke arah para akar dengan energi aneh yang berpijar di tangannya.
"Kalian berani menyentuh sesuatu yang tak seharusnya kalian sentuh," ujar An tenang.
BRAK!
Ketika An berjalan hentakannya dapat menghancurkan batu yang ia pijak. Dan, Yi Hua tahu bahwa ini akan jadi sangat berantakan nantinya. Hal itu membuat Yi Hua segera berlari untuk mengejar gerakan An, atau An akan menghancurkan para akar ini.
Ia sudah berjanji akan membantu para akar ini untuk hidup kembali. Kembali menjadi pepohonan yang asri, dan bisa memanggil angin lagi. Bagaimana pun ini adalah hal yang selalu dilakukan oleh Ayah Yi Hua setiap kali Perayaan Qixi.
Mungkin ayahnya hanya merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Atau, dia datang hanya untuk merindukan seseorang. Entahlah.
SRET!
Tangan An berhenti di udara ketika Yi Hua berdiri di hadapannya. Dan itu membuat Yi Hua dapat melihat wajah kelam dari An. "Apa yang kau lakukan, Yi Hua?"
"Mereka tidak melakukan apapun," ujar Yi Hua sambil tetap berdiri di hadapan An.
__ADS_1
Mengapa An akhir-akhir ini menjadi mengerikan? Dia seperti sapi yang tersesat dan tak tahu jalan pulang. Sehingga menjadi pemarah dan tak ramah lingkungan.
SRET!
Yi Hua memejamkan matanya tiba-tiba saat An mengulurkan tangannya. Ia berpikir jika An akan memutar kepalanya. Akan tetapi, pria itu hanya menyentuh dahi Yi Hua yang memar. Dan, jika An tak menyentuhnya, mungkin Yi Hua tak akan tahu jika dahinya terluka.
"Shhh ..." Yi Hua hanya bisa mendesis ketika An menekan luka di dahinya.
An melirik tajam pada akar-akar itu.
"KRITTT!! KRITTT!" suara seperti tikus berdecit terdengar. Entah mengapa suara itu bisa muncul dari akar yang padahal tak memiliki mulut untuk bicara.
Mendadak akar-akar itu memekik sakit seperti dipelintir dengan keras. Belum lagi dengan rasa panas yang ditimbulkan. Bahkan Yi Hua bisa melihat asap yang bergelombang di atas akar-akar itu. Tentu saja Yi Hua panik saat melihat itu semua.
Hey, apa dia akan membakar habis para akar ini hanya karena aku lecet sedikit?
Yi Hua meraih tangan An yang terulur. Hal itu tentu saja membuat Yi Hua bisa merasakan lonjakan energi yang keluar dari tangan An. Mendadak Yi Hua berpikir energinya akan ditarik habis oleh An. Akan tetapi, ...
Pria ini bisa menghentikan aliran energi yang bocor dari Yi Hua. Bagaimana bisa?
Para akar berlarian menjauh ketika rasa sakit yang diberikan oleh An berkurang. Mereka jelas tak ingin bertemu dengan sosok mengerikan ini lagi. Bagaimana pun mereka cukup tahu siapa yang mereka hadapi.
Mata An semakin tajam, tetapi kali ini hanya mengarah pada Yi Hua. Namun Yi Hua membalas tatapan An dengan berani. "Jika Anda tidak mendengarkan saya, maka saya yang akan bertarung dengan Anda."
"Apa yang kau inginkan, Yi Hua?" ucap An dengan nada mengancam.
Xiao segera mengingatkan Yi Hua tentang menulis surat wasiat. Bagaimana pun kini Yi Hua telah menantang orang yang salah. Dan juga, pasti Yi Hua tercatat sebagai orang yang tak tahu diri dan pemberani yang kurang kerjaan. Padahal An datang kemari untuk membantunya. Akan tetapi, dia malah mengajak An untuk bertarung sekarang.
Sekali lihat saja Yi Hua tahu dia akan segera kalah saat An mengangkat tangannya.
SRET!
An melepaskan tangan Yi Hua yang masih menutupi tangannya. Hal itu membuat Yi Hua memeriksa tangannya sendiri. Ia berpikir apakah An bermasalah dengan tangannya yang dipenuhi lumpur?
Tentu saja karena Yi Hua sejak tadi bertemu akrab dengan para akar. Jelas saja dia akan kotor.
"Mereka hanya mencari ibu ... Maksud saya Dewa mereka yang telah menghilang. Sehingga kita hanya perlu mengembalikannya," ujar Yi Hua sambil menunjuk ke arah tanah-tanah Desa Yi yang kekeringan.
Bahkan jika Yi Hua menaruh sapi di sana, mungkin sapinya akan segera langsing karena kekurangan air.
An mengangkat sebelah alisnya, "Hanya perlu mengembalikan?" tanyanya dengan ekspresi yang jelas tak bisa Yi Hua baca.
Lagipula, apa yang Yi Hua katakan itu agak aneh. Sebab, mengembalikan sesuatu yang disebut Dewa di dunia ini adalah hal yang sulit. Katanya, saat Dewa naik ke langit pun harus melalui kebajikan dan pengabdian yang panjang. Tak akan semudah seperti mengangkat sapi sebagai anak sendiri.
Apalagi kenyataan tentang Yi Hua yang ternyata anak seorang Dewa Phoenix.
Eh?
Yi Hua menengok ke sana-sini hanya untuk memeriksa. Ditambah lagi dengan keadaan di sekitar mereka yang sudah agak gelap. Pasti dia menghabiskan banyak waktu di dalam gua, hingga ia lupa bahwa hari sudah hampir malam.
Dan, bukankah malam ini adalah Perayaan Qixi?
Mendadak Yi Hua punya ide.
Mari ciptakan sebuah cerita yang merujuk pada legenda. Tentang perayaan untuk sepasang kekasih yang tak bisa bertemu. Akan tetapi, diubah untuk perayaan mengembalikan kekuatan Dewa Phoenix.
Siapa yang bisa mengembalikannya?
Tentu saja Yi Hua.
Ia hanya melaksanakan apa yang dilakukan Si Ayah sebelumnya.
***
Judul Cerita: Phoenix yang Memancing Manusia di Sungai
Pria itu menepuk-nepuk pelan telinganya yang kemasukan air, "Tentu saja aku bisa melihatmu. Kau tak lihat aku punya dua mata di sini."
Heh?
Mendadak Dewa itu ingin bertanya apakah pria ini memiliki otak di kepalanya atau tidak. Akan tetapi, dia tak mengatakannya karena dia tak mau dikira antagonis. Bagaimana pun seharusnya ia tak bersinggungan dengan manusia. Apalagi manusia menyebalkan seperti orang ini.
Dewa itu perlahan menaiki pohon lagi seperti kelelawar yang bergelantungan. Itu adalah aktifitasnya sehari-hari. Tak ada yang bisa mengganggu aktifitasnya. Bergelantungan adalah jalan hidupnya.
"S*al! Ini adalah kegagalan ke seratus kali." Pria itu mendadak berbicara seolah dia memiliki teman untuk berdiskusi.
Apanya!
Dewa itu tak menghiraukannya karena tak mau dianggap satu aliran.
Akan tetapi, manusia itu menatap pada Si Dewa yang masih bergelantungan. "Hey, manusia yang bergantung. Kau benar-benar menyebalkan. Mengapa menolongku dalam cita-cita bunuh diri mulia milikku? Siapa namamu?"
Si Dewa tak menghiraukannya lagi. Jelas dia tak perlu menjawab. Karena dia bukanlah manusia. Ditambah lagi dia tak punya nama. Sehingga tak ada alasan dia ingin menjawab ucapannya.
__ADS_1
Sang pria itu merangkak seperti aligator. "Hey, kau mendengar aku atau tidak?"
"Tidak," jawab Dewa itu cepat.
Bukannya dia menjawab? Berarti dia mendengar, kan?
Pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh Sang Dewa, tetapi Dewa itu menghilangkan dirinya. Lalu, tak lama ia muncul lagi dan berdiri di sana.
"Mengapa kau ingin bunuh diri?" tanya Dewa itu langsung.
Kebanyakan manusia enggan untuk meninggalkan dunia ini. Akan tetapi, pria ini cenderung ingin memutus hidupnya. Dikiranya hidup ini diberi hanya untuk dibuang-buang.
Pria itu menghela napas. "Entah."
Entah katanya?
"Akan tetapi, kau tahu aku hanya berpikir jika apa yang aku lakukan semuanya sia-sia. Tak pernah ada yang menghargai apa yang aku putuskan," ujar pria itu lagi.
Dewa itu menyenderkan tubuhnya di batang pohon, sedangkan pria aneh itu hanya berbaring di tanah. Jelas dia hanya menanggapi sekenanya, karena sebagai Dewa ia tak boleh memihak pada manusia secara individual. Ditambah lagi itu sama sekali bukan urusannya.
"Siapa yang bisa hidup begitu lama di dunia yang mengerikan ini? Mereka saling menjatuhkan dan hanya segelintir orang yang tulus. Itupun yang tulus jumlahnya sama seperti sebutir debu di bulu sapi," jelas pria itu seperti tengah bercerita pada sahabat sejatinya.
Lalu, pria itu mengangkat lengan kanannya untuk menutupi wajahnya. "Mereka ingin membunuhku. Tapi karena mereka gagal, aku ingin membantu mereka."
Huh? Dewa itu semakin tak mengerti bagaimana otak pria ini bekerja.
Dewa itu menatap ke arah langit. "Kau tahu aku telah melihat banyak kehidupan dan kematian. Biar aku beritahu padamu bahwa ada banyak hal yang bisa kau lakukan daripada bunuh diri di sungai ini."
"Apa itu?" tanya pria itu dengan penasaran.
Sang Dewa menjawab dengan cepat. "Contohnya ialah memperbaiki isi otakmu agar tidak terlalu berkarat. Atau, kau bisa mati dengan lebih bergaya dengan membantu orang lain."
Dewa ini pasti sekarang berniat untuk menceburkan pria itu kembali ke sungai.
Namun ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia membalikkan badannya untuk menghilang. Sepertinya ia harus menyembunyikan auranya agar pria ini tak melihatnya. Walau fenomena aneh ini masih ia pertanyakan. Bagaimana bisa pria ini melihatnya?
"Hey, siapa namamu?" tanya pria itu dengan nada penasaran.
Sang Dewa berhenti sejenak. "Aku tak punya nama seingatku. Mereka hanya menyebutku Phoenix."
Pria itu yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata jelas tak begitu mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Si Dewa. Bagaimana pun ia hanya mengira jika Si Dewa hanya bercanda padanya. Oleh karena itu, ia mendadak mencetuskan sesuatu.
"Bagaimana jika kau ku panggil Yi Xia. Karena kau adalah wanita di Desa Yi dan kita bertemu saat matahari terbenam?" ucap pria itu sambil menunjuk pada matahari senja.
^^^*Xia berarti cahaya matahari saat terbit atau tenggelam. Aku juga melihatnya melalui internet. Makanya kalo ada yang salah mohon dimaafkan kesalahan diriku ini.^^^
Nama untuknya?
Sejauh yang ia ingat, dirinya terus hidup dari hari ke hari. Terus melihat matahari terbit dan terbenam entah berapa lama itu terjadi. Yang jelas ia hidup cukup lama.
Pria itu bangkit, "Malam ini Perayaan Qixi. Aku sebenarnya datang kemari untuk memberikan ramalan-ramalan untuk para gadis."
^^^*Biasanya pada Perayaan Qixi para wanita akan mencari ramalan serta memberikan doa-doa kepada pria yang dicintainya. ^^^
"Jika kau ingin mencari diriku untuk meramal, silahkan datang ke Perayaan Qixi. Di sana ada peramal terkenal bernama Shi Heng. Itu aku," ujar pria itu dengan bangga.
Tanpa menunggu balasannya, pria bernama Shi Heng itu segera berlari dengan pakaiannya yang basah. Mungkin pria itu berpikir jika dirinya bisa mengeringkan pakaian selagi berlari. Entahlah.
Namun ...
"Yi Xia."
Pohon Phoenix, itulah orang-orang menyebutnya, mereka segera menegur Sang Dewa. Mereka adalah entitas yang tak bisa bergabung dengan manusia. Itu adalah suatu kewajaran yang tak bisa dibantah.
"Kalian dengar ... Dia menyebutku Yi Xia."
Lebih dari segalanya ... Ini pertama kalinya ia memiliki nama untuk dipanggil.
Lalu, Shi Heng.
Mungkin ia juga bisa memanggil nama seseorang.
"Shi Heng," ujarnya seperti memanggil dalam lirih angin.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1