Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Sebuah Bunga 6: Keluarga Liu


__ADS_3

Selir Qian mengusap kepala Raja Li Shen yang masih berada di perutnya. Meski begitu, wajahnya masih datar seperti biasanya. Ia mengeluarkan kipas berwarna hijau yang akhir-akhir ini selalu ia bawa.


Mengapa?


Itu karena adiknya, Liu Xingsheng seringkali membawa benda ini. Dan sekarang Liu Xingsheng tidak ada di mana-mana. Oleh karena itu, Selir Qian pasti akan menemukan di mana Liu Xingsheng berada.


"Qian ... Menurutmu apa yang terjadi dengan Perdana Menteri Liu?" tanya Li Shen pada akhirnya.


Ia selalu bertanya-tanya tentang ini. Akan tetapi, Liu Xinqian tidak pernah mengatakan dengan jelas. Ia hanya berkata bahwa Liu Xingsheng memiliki penyakit, dan sering kambuh jika pada masanya. Tentu saja pengobatan belum berkembang sehingga tak aneh jika ada penyakit yang tidak diketahui obatnya.


"Anak itu sekarang sama seperti dirinya yang dahulu," ucap Selir Qian dengan suara yang datar. Seolah tidak ada kekhawatiran di sana.


Padahal siapa yang tak tahu jika Selir Qian adalah orang yang paling pusing di sini.


"Sejak kecil Liu Xingsheng tidak pernah tumbuh sehat seperti anak lainnya. Ayah berkata bahwa di Kerajaan Li mungkin ada tabib yang hebat dan bisa mengobati Xingsheng. Sehingga ayah datang ke Kerajaan Li dan tak pernah kembali. Sedangkan ibu lebih suka bermain dengan pria lain saat itu. Mungkin ibu mereka menikah dengan ayahnya karena ayahnya seorang Jenderal," ucap Selir Qian dengan suara yang masih sangat sinis.


Yah, Jenderal dari Kerajaan yang sudah hancur. Sehingga kerajaan mereka sudah tak ada lagi.


"Benar. Aku melihat ayahmu di saat terakhirnya," jawab Li Shen dengan angkuh.


SRET!


Tangan Selir Qian menuju ke tenggorokan Li Shen. Kukunya nyaris menggores tenggorokan Li Shen, tetapi Li Shen tak bergerak dari perut Selir Qian. Dan, tepat sebelum kuku Selir Qian merobek tenggorokan Li Shen, tangan Selir Qian berhenti bergerak. Itu adalah gerakan spontan.


"Kenapa kau tak menghindar?" tanya Selir Qian yang masih mengarahkan kukunya di bawah tenggorokan Li Shen.


"Ayahmu ... Dia mati dengan cara yang mengerikan," ejek Li Shen masih dengan keangkuhan dan dendamnya.


CKKKK ...


Li Shen mendengar suara gigi yang beradu. Pertanda Selir Qian menahan semua amarahnya. Lalu, Li Shen dengan cara yang angkuh mengambil jemari Selir Qian dan mencium kukunya.


"Kenapa kau tak membunuhku?" tanya Li Shen yang menantang Selir Qian.


Ia mendengar semua kebencian Selir Qian sepanjang waktu, tetapi ia masih hidup.


Selir Qian menarik jemarinya, "Mengapa Yang Mulia tidak membunuh hamba? Padahal hamba adalah putri Liu Shang."


Yah, nyatanya mereka berdua sama saja.


Dan ...


Liu Shang.


Dalam sejarah Kerajaan Li namanya disebut ketika penyerangan Kerajaan Xin dahulu.


Akan tetapi, paling sering disebut lagi dalam sejarah kehancuran Kerajaan Xin. Di mana Liu Shang yang tak berguna hingga Kerajaan Xin tak bisa bertahan. Yah, sejarah memang seperti itu.


Mereka akan menyalahkan satu orang yang terlihat 'tak mampu', padahal mana kontribusi sebenarnya dari orang yang mengkritik ini.


"Bersama dengan kerajaan yang membunuh ayahmu pasti lebih menyakitkan dibanding mati. Ditambah lagi kau pasti tak ingin mati dengan cepat, bukan?" tanya Li Shen lemah.


Ia kembali memeluk Selir Qian tanpa ada kecanggungan sedikit pun. Bahkan saat Selir Qian sudah beraura siap menebasnya sekalipun.


Lebih dari segalanya ... Hanya pada wanita ini Li Shen merasa ingin melakukan apapun yang tak sesuai dengan dirinya di muka umum. Ia merasa menjadi dirinya sepenuhnya. Itu aneh.


Walau Li Shen tahu alasan mengapa wanita ini bertahan di sisinya ialah karena satu alasan.


Liu Xingsheng.


Selir Qian akan terus mencari cara untuk mengobati Liu Xingsheng.


"Suatu saat Yang Mulia akan menyesal karena membiarkan hamba hidup."


Entah apa yang dimaksud oleh Liu Xinqian ini. Hanya saja ...


Yah, suatu saat nanti ya biarkan suatu saat. Yang penting adalah sekarang.


***


Kerajaan Bawah ...


Sebut saja seperti itu.


Sebuah kerajaan yang dibuat tanpa ada peresmian. Meski disebut kerajaan, di sana tak ada Raja. Tidak ada hukum. Tidak ada segala macam anggota pengadilan tinggi. Tidak ada yang bisa mengatur tindakan orang lain.

__ADS_1


Kriminalitas tak hentinya terjadi, tetapi hari terus berjalan seolah itu adalah kebiasaan. Saat melihat tubuh yang terkapar di jalan, mereka lebih perduli pada masalah kebersihan dibanding masalah kemanusiaan. Kebanyakan orang Kerajaan Bawah adalah penjahat yang melarikan diri, atau pun penduduk dari kerajaan yang kalah perang. Mereka memilih mencari tempat aman dibanding tunduk di bawah kaki kerajaan yang baru.


Segelintir orang di sana berpandangan bahwa ada hukum maupun tidak, kriminalitas tetap terjadi. Meski begitu, pasti ada beberapa orang yang ditakuti di sana. Orang-orang itu memiliki wilayah kekuasan tersendiri. Sehingga mereka bisa mengendalikan pihak lain yang ada di bawah sana.


Sebenarnya sistem di Kerajaan Bawah tak terlalu berbeda dengan kerajaan lain. Hanya saja pihak 'atas' ini terlihat keji karena mereka tak main otak seperti di kerajaan lainnya. Mereka lebih main fisik, sehingga terlihat seperti bandit dibandingkan 'bandit politik'.


Itulah cerita singkat tentang Kerajaan Bawah.


Di sana ada sebuah pelelangan yang sama sekali tidak mewah. Di sana pelelangan dilaksanakan di dalam gua buatan. Akan tetapi, benda yang dijual di sana merupakan benda yang berharga. Seperti benda terkutuk yang dijual mahal di pelelangan Kerajaan Bawah, dan harganya pasti sama dengan sepuluh ekor sapi ditambah rumah sebagai mas kawin.


Pemilik pelelangan itu menyebut mereka sebagai Phoenix. Baru-baru ini mereka menambahkan menjadi Kerajaan Phoenix, seolah-olah mereka menetapkan bahwa pemimpin Phoenix juga adalah pemimpin Kerajaan Bawah. Walau begitu setiap tindakan masih saja tak diawasi oleh seorang raja.


Pelelangan dilakukan dua hari lagi. Itu adalah acara yang besar, dan hanya tertentu yang bisa masuk ke gua buatan. Akan tetapi, ada tempat di mana kau bisa melihatnya tanpa perlu izin masuk. Ada sebuah arena yang dibuat layaknya kandang sapi. Di mana ada kayu dan papan yang dibentuk segi empat. Di sana kau akan bertanding layaknya binatang buas.


Tidak ada yang bisa menghentikan lawan ketika memukulimu. Yang bisa hanyalah anggota tim. Itu pun jika anggota tim tidak melarikan diri ketika melihat dirimu sudah babak belur.


Lalu, ...


"Hidup manusia memang seperti itu. Jika Anda tak mau dikelilingi oleh masalah jangan jadi manusia. Jadilah gula supaya Anda hanya dikelilingi semut," ucap seorang 'pria' dengan penutup kepalanya.


Ia duduk minum teh di salah satu kedai dengan beberapa orang kerabat. Katanya, mereka dari sebuah desa yang datang ke Kerajaan Bawah untuk mencari mata pencaharian. Dan ... Yah, anggapan orang lain, bahwa orang-orang ini cukup tak masuk akal.


Paman yang berwajah seperti seorang bandit segera menanggapi pria berparas halus seperti perempuan itu. "Saudara ini memang cukup masuk akal. Tapi tarung bebas bisa dihindari, dan saudara tak perlu mencari masalah."


Katakanlah hidup memang punya masalah. Akan tetapi, kelompok orang-orang di depan mereka sekarang malah 'mencari' masalah. Mata pencaharian yang dimaksud oleh kelompok ini adalah pertarungan di arena Kerajaan Bawah. Ibaratnya yang yang dijanjikan di sana memang banyak, tapi apa itu setara dengan hidup manusia?


Kebanyakan penduduk Kerajaan Bawah lebih suka menonton dibanding ikut. Sisanya ikut adalah mereka yang memiliki nyali besar dan pastinya mampu bertarung. Itulah mengapa tak aneh jika kau melihat kebanyakan orang-orang yang berkeliaran di sana berparas kasar seperti papan pencucian. Sehingga orang-orang ini (merujuk pada Yi Hua dan kelompoknya), mereka terlihat seperti makhluk kesayangan dewa kecantikan dibandingkan petarung.


Apalagi 'pria' kecil yang berbicara lincah di depan mereka ini. Ia terlihat terlalu cantik untuk seorang pria, tetapi tak terlihat gemulai juga seperti perempuan. Akan tetapi, dari gaya berpakaian dan tingkahnya orang-orang melihatnya sebagai pria. Sehingga dengan itu semua, kita bisa menyebutnya seorang pria. Belum lagi dengan seorang gadis yang duduk dekat dengannya.


Tentu saja dia Jia Yu, gadis yang mereka selamatkan dari Tuan Qiu.


SRET!


"Apa kau pikir ini akan berhasil?" tanya Yue Yan yang menahan kepala ular-ular kecilnya di dalam jubah.


Pasti akan sangat aneh jika ada seorang makhluk yang dikelilingi oleh ular seperti Yue Yan. Sayangnya, ular-ular Yue Yan itu sudah sangat manja seperti kucing peliharaan. Mereka sangat suka mengelilingi Yue Yan layaknya bantal guling. Jika ada seseorang yang takut pada ular mungkin akan pingsan jika melihat keadaan Yue Yan sekarang.



Ia mendengar Yue Yan mendecih untuk menanggapinya.


Yi Hua mengangkat sebelah kakinya di atas bangku. Hal tersebut tentu saja menuai pandangan tajam dari Huan Ran. Meski begitu, pria itu tak mengatakan apa-apa, dan hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Saudara jangan meremehkan batang kecil yang tampak dari atas gunung. Siapa tahu batang itu sebenarnya ialah pohon yang besar," ucap Yi Hua berfilosofi.


Sayangnya, Xiao menanggapi sarkas seperti biasanya. "Kenapa kau berputar-putar seperti sapi mengejar ekor? Apa kau tak lihat pria tua di depanmu ini semakin tak mengerti apa-apa."


Ini sama seperti kau berbicara sangat cerdas dan penuh teori tentang warna merah, tetapi sayang kau berbicara itu pada orang yang buta warna. Mereka akan mendengar dan memahami, tetapi bukan berarti mereka tahu. Itu sangat konyol.


"Kami mengalahkan kelompok pedagang sebelum datang kemari. Mereka adalah kelompok dari Selatan, dan saudara tau Tuan Qiu ..."


Belum sempat Yi Hua selesai bicara, pria di depannya itu sudah berbalik untuk menyiapkan pesanan bagi pelanggan yang lainnya lagi. Ia jelas tak bisa mendengarkan cerita panjang lebar Yi Hua. Hal tersebut membuat Yi Hua menyadari jika Kerajaan Bawah tidak memiliki orang-orang yang tetap.


Mereka yang berdatangan, meski sehebat apapun atau sekaya apapun, mereka tak akan mengingatnya. Terlalu banyak orang dan mereka tak memiliki kewajiban untuk mengingat itu. Selama mereka bisa menghasilkan uang, maka mereka tak perduli pada nama.


Salah-salah mereka di sini juga tak pernah melihat raja di wilayah lain.


Ini tak berhasil.


Bagaimana pun mereka harus membuat keributan agar ada 'dendam' dalam arena. Saat ada dendam itu, dan para penonton mendengarnya, mereka akan semangat mengadu petarung di arena.


SRET!


TAK!


Pria tua sebelumnya mendadak berhenti menjauh. Terutama saat Huan Ran melemparkan sekantong uang di atas meja. Itu adalah uang yang mereka dapatkan dari Tuan Qiu kemarin!


Apa yang dilakukan oleh pria ini?! Itu adalah uang untuk bertahan hidup.


Akan tetapi, pria tua pemilik kedai itu tanpa disangka menurut seperti keledai. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil kantong berisi uang itu. Dan sebelum pria itu berhasil menggenggamnya, Huan Ran berkata pelan tetapi tajam.


"Sebarkan tentang tantangan kami pada siapa saja yang bertarung di arena," ucap Huan Ran yang tampak memainkan mata pedangnya.


Entah sejak kapan Huan Ran mengeluarkan pedangnya. Itu jelas menimbulkan suasana yang agak mencekam. Apalagi Huan Ran tampak siap menebas siapapun yang ada di sini. Sehingga beberapa pelanggan yang juga duduk untuk meminum teh juga memperhatikan tindakan Huan Ran.

__ADS_1


Ini bukan lagi tantangan secara pribadi pada Tuan Qiu!


Huan Ran seperti orang yang punya sembilan nyawa, dan berniat menantang siapa saja dengan sinting di arena. Seolah Huan Ran bisa membanting sapi dan memenjarakan iblis di telapak tangannya. Mendadak Yi Hua berkeringat dingin, walau ia tahu yang bertarung bukanlah dia. Masalahnya dia di tim yang sama dengan Huan Ran!


Jika orang ini dipukuli karena sombong, Yi Hua juga akan ikut-ikutan.


Yi Hua menoleh pada Yue Yan, tetapi makhluk ular itu sudah pura-pura memanggil burung di udara. Seolah burung juga paham dengan ucapannya.


"Kau itu pawang ular, bukannya burung!" desis Yi Hua yang meminta Yue Yan untuk fokus.


Yue Yan menyahut. Membalas dengan bisikan. "Itu bagus! Artinya dengan siapa saja kita bisa bertarung"


Yah, masuk akal!


Orang yang merasa ingin membantai mereka pun akan dengan semangat memasang taruhan untuk kekalahan tim Huan Ran. Mereka akan memasang uang sebanyak-banyaknya. Dan, poin utama ialah mereka harus memenangkan semua pertandingan yang ada di arena.


Ini sial tapi menggiurkan juga.


"Hey, Tuan ... Kalian dari mana?" tanya seorang pria yang duduk di bagian ujung.


Tampilannya seperti orang yang tak bersisir sepanjang hidupnya. Belum lagi dengan matanya yang tajam dan melotot. Ada bekas luka di pipi kirinya. Itu pasti bekas dari pedang, sekaligus menjadi bukti bahwa dia petarung. Mungkin bekas luka itu bisa menjadi tanda bahwa dia 'kuat'.


Yah, entahlah.


"Hanya pejalan kaki biasa," balas Huan Ran sambil merapikan barang-barangnya kembali.


Tangan Huan Ran meraih bahu Liu Xingsheng yang tetap tegak diam seperti biasa. Hanya saja Liu Xingsheng memiliki penutup kepala hingga tak ada yang bisa melihat wajahnya. Dan, Huan Ran bangkit dari duduknya, bersamaan dengan Liu Xingsheng. Rupanya tubuh Liu Xingsheng benar-benar bertingkah seperti 'biasa'.


Saat diarahkan untuk berjalan, dia akan berjalan. Jika diarahkan untuk duduk, maka Liu Xingsheng akan duduk.


Itulah mengapa sampai sekarang Yi Hua masih tak mengerti apa yang sebenarnya dialami oleh Liu Xingsheng.


Tapi ...


"Lawan saja Perdana Menteri yang pendiam itu! Kau tahu saja, meski penampilannya seperti pelajar naif, tetapi dia satu golongan dengan Hua Yifeng," ucap Yi Hua yang menatap sombong. Iya. Yi Hua ikut-ikutan sombong karena itu memang kebiasaannya.


Xiao melanjutkan kritiknya seperti biasa. "Jika mereka di sini memutuskan untuk mengepung kalian, jangan salahkan aku karena tak mengingatkan."


Yi Hua ingat jika kebiasaan Huan Ran ialah berdebat dengan An, yang notabenenya adalah Hua Yifeng. Walau Yi Hua tak yakin jika Huan Ran ini tahu siapa yang sering dirinya ajak ribut itu.


SRET!


Pria tua, pemilik kedai ini, mengambil kantung yang itu dengan senyum kudanya. Tentu saja Yi Hua merasa ingin mengoceh di sana. Apalagi bayaran untuk pria ini terlalu mahal, tetapi Yi Hua tak berani membantah Huan Ran.


"Tuan, kami di sini juga menyediakan tempat tinggal," ucap Paman itu yang terbuai akan jumlah uang yang dilemparkan oleh Huan Ran.


Huan Ran hanya mengangguk dan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh paman itu bersama Liu Xingsheng. Yi Hua memerhatikan orang-orang berpenampilan kasar di sekitar mereka. Semua menatap pada Yi Hua dan yang lainnya. Bahkan Jia Yu merapatkan tubuhnya pada Yi Hua. Merasa takut karena tatapan mereka seperti siap menguliti punggung mereka satu persatu.


Yah, harusnya Yi Hua sudah biasa dijadikan musuh oleh orang-orang.


Yue Yan berbisik pada Yi Hua. "Di sini berhati-hati lah," ucap Yue Yan.


Bagaimana pun tempat ini sejak awal bukanlah tempat yang baik. Pusat kejahatan dan tidak ada yang bisa mengatur mereka. Tak ada yang aneh jika malam ini mendatangi mereka di tempat menginap untuk merampok uang. Apalagi dengan kayanya Huan Ran melempar sekantong uang.


Xiao, kau berjaga nanti malam. Beritahu aku jika ada yang mendekati ruangan!


"Berisik sekali! Tidak tidur di malam hari itu bisa merusak kulit," balas Xiao dengan suara cemprengnya.


Sialan. Memangnya dia memiliki kulit?


Entahlah.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Hufff ... Hari yang sibuk ya teman-teman. Maaf baru up kembali. Itu karena aku kekurangan ide yang entah mengapa menipis. Tapi yah ... semoga masih ada yang menunggu cerita ini up 😭


Dan ...


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


***


__ADS_2