
Wei Qionglin tidak bisa mengelak jika dirinya terkejut.
Terutama mata cantik itu tampak sangat dingin. Tidak seperti Yi Hua yang biasanya.
Namun hati tak bisa dibohongi, Wei Qionglin mengaku lemah jika harus berhadapan dengan Yi Hua. Akan tetapi, mendadak sosok di depannya menjadi senjata pembunuh. Prajurit yang berada di sekitar Wei Qionglin nyaris gugur setengahnya.
Apa-apaan ini!
Apa benar Yi Hua yang menjadi dalang dari ini semua? Termasuk pembantaian di kediaman Putra Mahkota.
"Yi Hua!"
SPAK!
Tendangan tinggi nyaris meretakkan dagu Wei Qionglin. Beruntung kedua tangannya dengan cepat menepis tendangan itu. Ia melompat untuk menjauh dari 'Yi Hua' ini, dan menyadari jika sosok ini lebih gesit dari biasanya.
BUKK!
Wei Qionglin membalas dengan pukulan di wajah cantik itu. Walau sebenarnya Wei Qionglin tak tega. Selama ini Wei Qionglin selalu mengakui kecantikan Yi Hua, walau dia tahu Yi Hua adalah seorang pria*.
^^^*Wei Qionglin tidak tahu kalau Yi Hua itu perempuan. Apalagi kelahiran kembali dari Li Wei. Ingat ya, yang tahu itu kakaknya, Wei Wuxie. Jangan salah nama.^^^
SRET!
Pedang tipis 'Yi Hua' tanpa ampun melukai lengan Wei Qionglin. Tanpa berkata apa-apa, 'Yi Hua' ini berlari ke dalam kabut. Setelah itu, Wei Qionglin menyusulnya dan ...
GRAHHH!
Sebuah mulut berlumuran darah nyaris mengigit leher Wei Qionglin.
Mayat berjalan.
Pedang Wei Qionglin menebas leher mayat berjalan itu. Tatapannya menuju pada 'Yi Hua' yang berlari di tengah kabut. Tak lama setelah itu, dari arah Yi Hua pergi muncul suara kepakan keras. Seperti layaknya segerombolan burung.
Dan benar saja ...
Sekelompok burung hitam menyebar dengan cepat. Membuat keadaan semakin memburuk. Wei Qionglin melindungi wajahnya sendiri yang nyaris ditabrak oleh sekelompok burung itu.
Namun sekelompok burung hitam itu hanya melintas saja.
Seperti menyembunyikan keberadaan 'Yi Hua'.
Lalu, di sekeliling mereka sudah dipenuhi oleh mayat berjalan.
Benar.
Mayat berjalan yang berasal dari kediaman Keluarga Wei.
Seseorang membangkitkan tubuh-tubuh tanpa jiwa itu lagi. Dan mengendalikan mereka untuk menyerang Wei Qionglin dan pasukannya.
"Lindungi diri kalian masing-masing!" perintah Wei Qionglin yang menebas kepala dari mayat berjalan itu.
"Baik, Jenderal!" balas prajurit di sekitar Wei Qionglin serentak.
Meski Wei Qionglin tahu ... Mayat-mayat ini adalah raga dari leluhur keluarga Wei.
Namun yang mati pasti sudah mati bukan.
Mereka hanya dikendalikan oleh energi buruk dan menjadi senjata.
BRUK!
"Kau kembali ke Pusat Kota!" Mendadak suara dingin itu terdengar.
Wei Qionglin menoleh pada sosok dengan cadar sebelumnya. Orang ini lagi.
"Apa aku bodoh mengikuti ucapanmu?" tanya Wei Qionglin sarkas.
Namun orang yang berbicara padanya itu lebih tenang. Ia menebas mayat berjalan yang hampir mencakar Wei Qionglin. Mendorong Wei Qionglin untuk mundur dari pertarungan.
"Orang hidup mengatasi kehidupan di kerajaan, dan orang mati mengatasi yang mati," ucap orang itu pelan.
Tak hanya pria bercadar itu, tetapi ada dua orang lain lagi yang mendekat ke arah mereka. Bedanya adalah ... Orang-orang ini tidak terlihat kesulitan ketika harus bertarung di dalam badai. Terkecuali pria yang terlihat lebih halus dan lembut yang ada di samping mereka.
Namun itu bukanlah beban, karena sebenarnya meski terlihat halus seperti bulu sapi, tetapi pria itu cukup tangkas. Walau tak sehebat dua rekannya yang lain.
"Kembali ke Pusat Kota dan lindungi Raja yang menjadi Tuan-mu," ucap pria dengan suara dingin itu lagi.
Wei Qionglin tak mengerti, tetapi dia merasa percaya.
"Untuk apa kau melakukan semua ini?" tanya Wei Qionglin sambil menatap mata pria dingin itu.
Ia tak begitu mengenalnya, tetapi mata itu mirip dengan seseorang. Sosok yang sejak kecil menjadi panutannya, walau ia hanya bisa menatap Wei Wuxie, kakaknya dari kejauhan. Menatap betapa hebatnya kakaknya saat menjadi Jenderal di Kerajaan Li.
Itu dahulu.
BRAK!
Pukulan keras dari sosok itu membuat tulang-belulang mayat berjalan berhambur. Menimbulkan bau busuk yang memang selalu menyertai mayat berjalan. Wei Qionglin menyadari jika jumlah mayat berjalan terlihat berkurang.
"Aku melakukannya karena perintah Tuan-ku, dan kau mengerjakan sesuai perintah Tuan-mu," ujar sosok itu. Wei Wuxie.
Mungkin ini pertama kalinya ia memberi perintah pada Wei Qionglin.
Adiknya yang sebenarnya tak pernah dekat dengannya.
Dahulu Wei Wuxie sangat dingin pada keluarganya sendiri. Karena sejatinya Wei Wuxie kurang menyukai keluarga Wei. Di mana ia selalu menjadi seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Mengikuti keinginan ayah mereka yang haus akan kekuasaan.
Dan ia melupakan jika Wei Wuxie tak lagi menjadi keluarga Wei, maka adiknya ini adalah penggantinya.
***
BYUR!
Mengapa aku merasa seperti ini sudah pernah terjadi?
__ADS_1
Yi Hua bangun seperti orang yang sempat tenggelam. Ia mencoba menarik napas sebanyak-banyaknya. Rasa dingin di sekelilingnya membuat Yi Hua tahu bahwa ia berada di tempat yang sama lagi.
Penjara bawah tanah.
"Susah-susah kau berusaha melompati tembok kematian, tetapi kau kembali lagi ke tempat ini." Dan situasi yang sama lagi. Suara Xiao yang menyebalkan.
Sekaligus mengingatkan Yi Hua jika Hua Yifeng sudah tak ada di sekitarnya.
Apa yang harus Yi Hua sesali di sini?
"Bangun Peramal sialan!" bentakan ini membuat Yi Hua ingat jika sekarang ia sudah ditangkap oleh kerajaan.
Yang Yi Hua kurang sukai ialah tindakan mereka terhadap 'penjahat'. Jika seseorang sudah ditahan, perilaku mereka akan sangat merendahkan. Padahal Pengadilan Tinggi saja belum dilaksanakan.
Biasanya para tahanan akan disiksa terlebih dahulu untuk mengaku dan sebagainya.
Sudahlah.
Yi Hua bangkit dan bersandar ke dinding yang berbau seperti tanah basah. Ia bisa merasakan lumut yang menggesek pakaiannya. Dan Yi Hua mengabaikan rasa jijik di dalam hatinya.
Pakaian putih bersihnya kini sudah lusuh, dan tangan Yi Hua terasa sakit.
Mereka mencengkeram tangan Yi Hua dengan keras ketika menyeretnya ke sini.
"Xiao, apa yang kau dapatkan?" ucap Yi Hua di dalam hati.
Katakanlah Yi Hua memang sengaja untuk ditangkap oleh pihak kerajaan. Itulah yang ingin Yi Hua katakan pada Hua Yifeng. Ia ingin datang ke kerajaan bukan hanya untuk menyerahkan diri.
Namun semua dimulai dari dirinya yang bangun di penjara ini.
"Bisakah kalian membawa baju ganti untukku?" tanya Yi Hua kesal. Sembari tangannya menerbangkan kertas jimat yang kecil seperti tangkai rumput.
Seorang penjaga penjara menggebrak kayu tahanan, "Peramal busuk sepertimu memang tak bisa dipercaya. Dia membantai banyak orang di Istana Putra Mahkota."
"Kalau tidak ada bukti tidak usah banyak bicara. Nanti malu," ucap Yi Hua yang terus meningkatkan kemampuan menyindir orang lain.
"Kau ..."
BUGH!
Aduh!
Lutut Yi Hua terasa sakit saat ia dipaksa untuk berlutut. Tak lama setelah itu seseorang menyiramkan air lagi padanya. Membuat Yi Hua tak bisa memperhatikan arah terbang jimatnya.
SRAT!
Tawa menyebalkan dari para prajurit ini membuat Yi Hua semakin kesal. Bisa-bisanya mereka menyiksa seseorang yang belum dipastikan bersalah. Lihat saja Yi Hua akan menendang kepala mereka satu-persatu nanti.
TAP!
Pandangan mereka mengarah pada sosok yang baru datang. Karena kedatangan sosok itu, para penjaga penjaga segera duduk untuk bersujud di lantai yang kotor. Yang datang adalah Raja Li Shen, dan didampingi oleh pengawal pribadinya.
"Keluar," perintah Raja Li Shen tanpa mau mendengarkan ucapan penghormatan dari para penjaga ini.
Tanpa harus diperintah dua kali mereka segera beranjak pergi.
Ketika dia mengumpat, Li Shen sudah berdiri tepat di hadapannya.
Yi Hua tak tahu harus berbuat apa.
Namun Li Shen pun nampak tak perduli dengan sikap 'sopan' Yi Hua.
"Aku kira kau pergi karena memiliki rencana," ucap Li Shen membuka pembicaraan.
Yi Hua menghela napasnya. Bagaimana mau bilangnya ya? Dirinya punya dugaan, tetapi bagaimana caranya mengawalinya, Yi Hua tak tahu.
"Tapi berkat apa yang kau lakukan, belang mereka semakin terlihat."
"Yang Mulia, apakah setiap bulannya Peramal Kerajaan selalu melakukan pembersihan energi buruk di Istana?" tanya Yi Hua langsung pada intinya.
Raja Li Shen mengangguk. "Kau Peramal Kerajaan, kenapa kau tak tahu?"
Masalahnya ... Aku ini masih bawahan mereka. Tidak akan diajak dalam pekerjaan penting.
"Yang Mulia, dari apa yang terjadi sepertinya istana sudah tercemari. Itu berarti pembersihan tidak bekerja," ucap Yi Hua sambil menyeka air di wajahnya.
"Itu tak mungkin, Peramal Yi. Mereka adalah peramal yang seringkali menyegel energi buruk. Bagaimana mungkin bisa ada keliru di dalamnya."
"Di sanalah poinnya, Yang Mulia."
Li Shen diam.
Sejak awal dia sudah tahu ada pengkhianat di antara mereka.
"Energi buruk ini tidak memaksa masuk, tetapi ada pihak yang membuka pintu," jelas Yi Hua sambil menunjukkan kertas jimatnya yang terbakar.
Energi telah berkecamuk di dalam istana. Tidak aneh jika energi buruk bisa menyentuh manusia. Bahkan merasuki tubuh manusia.
"Dan itu terjadi sudah lama sekali. Apakah Anda ingat tentang Perdana Menteri Huan? Jika segel di istana ini masih kuat atau 'ada', Huan Ran tak akan masuk dengan mudah. Meski sekuat apapun iblis, tetapi berkah berkat dari Dewa tak bisa tersentuh iblis," ucap Yi Hua.
Li Shen tak menyangka jika semua kekacauan ini berlangsung sejak lama. Bahkan sebelum Yi Hua jadi terkenal di Kerajaan Li. Jika seperti itu, Yi Hua mungkin bukanlah penyebab dari semua masalah ini.
"Lalu, aku akan membebaskanmu."
Bagaimana pun Yi Hua tidak bersalah. Ia tak seharusnya mendapat perlakuan seperti ini.
Namun Yi Hua menggelengkan kepalanya. "Terima kasih atas perhatiannya, Yang Mulia. Tapi hamba menolak."
Xiao tentu saja mengamuk di telinga Yi Hua. "Apa otakmu berpindah ke lutut, HuaHua? Kenapa kau betah di sini? Kau seharusnya tahu kalau ada sesuatu yang mengingatmu!"
Justru karena itu. Selama Yi Hua di dunia luar, maka dia akan mudah dijadikan kambing hitam. Seperti dulu ... Selir Qian berkata jika ada 'Li Wei' yang berkeliaran untuk membantai orang-orang. Padahal pada masa itu Li Wei sudah tiada.
Sekarang pun sama ... Tuduhan seolah menuju pada Yi Hua terus menerus.
Itu berarti dalang dari ini semua tahu jika dirinya adalah Li Wei. Atau, hanya kebetulan sosok ini tahu Yi Hua karena kekuatan Tungku Iblisnya. Jika seorang iblis ingin naik menjadi tingkat kehancuran, ia memerlukan kekuatan besar.
__ADS_1
Bisa jadi Yi Hua ditargetkan karena Tungku Iblis di tubuhnya.
"Saat ini kepercayaan terhadap Yang Mulia sangat rendah. Jika Yang Mulia membebaskan tahanan tanpa bukti yang jelas, kepercayaan itu akan semakin rendah lagi." Hanya itu yang bisa Yi Hua katakan.
Li Shen memahami maksud Yi Hua. "Jadi, apa yang ingin kau lakukan di sini?"
"Jika memang aku yang diinginkan, dia akan datang sendiri. Jika bukan aku targetnya, maka aku akan menunggu Pengadilan Tinggi di sini," ucap Yi Hua yakin.
Lagipula, Yue Yan meski agak miring, tetapi tetap berguna.
***
BRUK!
Ya ampun! Kenapa sejak dulu Yi Hua selalu menumbalkan aku.
Yue Yan mau tak mau terus mengomel saat ia harus menyusuri tempat ini. Bagaimana pun tempat ini bukanlah tempat yang orang biasa-biasa sepertinya kunjungi.
Ketika Yue Yan mengintip di salah satu tiang, ia bisa melihat beberapa penjaga yang berjaga di kediaman Pejabat Wen.
Yue Yan menghela napasnya sebelum mengendap-endap di bagian belakang bangunan.
"Kau mau ke mana?"
SRET!
Yue Yan langsung melompat ke belakang tanaman pagar kala itu. Ia bahkan harus merelakan lengannya tergores karena ranting. Awalnya ia berpikir dirinya sudah ketahuan, tetapi ternyata penjaga itu tengah berbicara dengan teman satu rekannya.
"Tuan Wen sedang kedatangan tamu," balas rekan penjaga yang lain.
Jika seperti itu, berarti Tuan Wen tidak ada di ruangannya.
Yue Yan merangkak di samping tanaman pagar untuk menuju ke ruang kerja Pejabat Wen. Berkat kemampuan matanya, Yue Yan bisa melihat dari jarak yang lebih jauh. Meski kekuatannya tak begitu baik lagi. Sehingga ia bisa bersembunyi lebih cepat jika dia sudah melihat penjaga dari kejauhan.
Lalu, setelah itu Yue Yan mengeluarkan ular-ularnya.
"Buat mereka menjauh dari tempat kerja Pejabat sinting itu," perintah Yue Yan pada ularnya yang lebih penurut dibanding kucing.
Ular-ular kecil sebesar ekor sapi mendesis keras. Sebelum mereka berjalan menuju ke arah para penjaga. Setelah itu, seperti yang sudah terjadi ... Para penjaga itu menjadi ricuh.
"Hey, bunuh ular-ular itu!" perintah salah satu penjaga.
"Kau saja yang bunuh. Aku geli!" jerit penjaga yang lainnya.
"Kau laki-laki, sialan!"
Suara itu semakin ricuh. "Memangnya ular pilih-pilih jika menyerang? Lagipula, laki-laki atau perempuan, kalau takut ya berarti takut."
Yue Yan berharap ular-ularnya tidak bunuh. Setelah semua penjaga terdekat sibuk mengatasi ular, Yue Yan melompati tanaman pagar yang rendah. Ia menengok ke kiri dan kanan untuk memastikan sekali lagi.
Sebelum ia benar-benar memasuki ruang kerja Pejabat Wen yang kosong. Tentu saja ia masuk bukan di ruang kerja istana, melainkan kediaman Pejabat Wen. Yue Yan menajamkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang tenang.
Sebisa mungkin ia membaca setiap dokumen yang ada di sana, tanpa menyentuh apapun yang ada di sana.
SRET!
Yue Yan menemukan apa yang diinginkannya. Ia mengambil gulungan kertas yang sengaja dibawanya. Dan menyalin semua yang ada di dalam gulungan milik Pejabat Wen. Tanpa menyentuh gulungan itu, apalagi membukanya.
"Si Tua Bangka ini ternyata serakah sekali," bisik Yue Yan ketika menulis apa yang ia 'lihat' dari gulungan itu.
Hingga ia menemukan sesuatu yang membuatnya tercekat. "Tidak mungkin, bukan?"
Bagaimana bisa ... Selama ini sudah direncanakan sejak lama. Dirusak melalui jajaran pejabat kekaisaran. Kemudian, dirusak juga melalui energi buruk dan setiap kejadian. Sehingga setelah semuanya rampung, maka 'Bencana' ini akan muncul lagi.
Terutama kematian Selir Wen. Bagaimana bisa ayahnya sendiri merupakan dalang dari kematian Selir Wen?
Ketika Yue Yan ingin melanjutkan lagi, ia mendengar bunyi langkah kaki yang mendekat. Hal tersebut membuat Yue Yan menyudahi tulisannya. Setidaknya apa yang ia dapatkan sekarang bisa menjadi bukti kecurangan Pejabat Wen.
Yang Yue Yan lakukan sekarang ialah seperti yang Yi Hua katakan.
Jangan biarkan kepercayaan masyarakat menjadi semakin rendah pada Raja Li Shen. Sebab, kerusakan internal lebih buruk dibanding serangan dari luar.
Dahulu mengapa Kerajaan Li nyaris hancur ialah karena pilarnya hancur.
Jika pilar itu tetap bertahan, maka mereka hanya perlu mencari tahu. Siapa yang memiliki rencana beruntun seperti ini. Bahkan sampai melibatkan kekuatan Pohon Iblis.
Yue Yan kembali melompati rerumputan yang sama.
Kemudian, ...
TAK!
Yue Yan berhenti seketika ketika sebuah kertas jimat menyerang ke arahnya. Yue Yan tak menyadari itu. Bagaimana mungkin? Apakah matanya sedang tak berguna lagi?
Namun kertas jimat?
Hanya Peramal Kerajaan yang bisa melakukannya.
Dan kekuatan kertas jimat sekuat itu, hanya Yi Hua dan ...
"Ling Xiao!" ucap Yue Yan sebelum pandangannya menjadi berat.
Tepat sebelum itu, ia melihat sepasang sepatu putih mendekat ke arahnya. Dari pakaian putih itu ia tahu jika dugaannya tak salah. Setelah itu, ia melihat Ling Xiao mengarahkan pedangnya tepat ke wajah Yue Yan yang nyaris tak sadarkan diri.
Dan ...
CRASHHH!!
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~