
TAP!
TAP!
Suara langkah kaki terdengar mendekat dalam temaramnya ruangan. Meski begitu, sosok yang sejak awal berada di sana masih bergeming dalam kegelapan. Satu-satunya penerang di ruangan itu hanyalah lilin di sudut ruangan. Berkat itu, kini matanya yang dingin masih menunjukkan adanya pemikiran yang kuat terus tampak.
Dan, entah mengapa dia tengah menunggu langkah kaki itu datang.
"Bukankah kau berkata itu akan berhasil?" tanya pria dalam kegelapan itu.
Ia berada dalam ruangan yang sangat minim cahaya, meski begitu sosok yang baru datang sepertinya bermata kelelawar. Atau, seperti sosok itu bukanlah sosok biasa. Terutama dengan senyum hangat di wajahnya.
"Itu nyaris berhasil," jawabnya dengan senyum yang paling manis.
Pria yang dikurung di sana, Rong Mingyu telah menghabiskan hidupnya untuk menjadi bodoh. Bagaimana pun seharusnya ia lebih rasional. Namun nyatanya ia tak bisa, karena dia adalah seseorang pria yang mencinta. Semuanya terlihat sangat berantakan kali ini.
Rong Mingyu menatap tangannya yang kini diperban. "Luo MeiYin pergi. Bahkan dia tak mengucapkan selamat tinggal untukku."
"Sayang sekali."
Sosok itu kini tampak berjalan lebih dekat pada satu-satu penerang yang ada di ruangan tersebut. Arah Rong Mingyu juga mengikuti sosok itu yang kini terlihat lebih jelas. Termasuk jubah putih yang sangat khas miliknya, dan itu membuat Rong Mingyu mengingat sosok peramal yang selalu menggunakan pakaian yang sama.
"Hanya itu yang kau katakan? Kau yang mengatakan padaku untuk mencari seseorang yang bisa menggantikan takdir Luo MeiYin. Sehingga Luo MeiYin bisa hidup di dalam raga orang itu!" jelas Rong Mingyu yang mulai kehilangan ketenangannya.
Ia melakukannya selama bertahun-tahun. Memilih seseorang yang tepat, dan banyak orang-orang yang ia bunuh hanya untuk mencari yang paling terkuat. Namun semuanya hancur hanya dengan satu malam ini. Dan, ia mendapatkan kegagalan atas semua usahanya.
"Biar saya bercerita pada Anda, Tuan Muda Rong," ucap sosok dengan jubah putih itu lembut. Kemudian ia melanjutkan, "Banyak yang bercerita tentang cinta yang paling mengerikan di dunia ini. Yaitu, cerita seorang pria yang berusaha menghidupkan kekasihnya kembali. Ia menggunakan lingkaran pemanggil untuk memanggil jiwa kekasihnya di dalam tubuh yang sudah dingin. Itu gila."
Yah, sejarah dari cangkang manusia. Itulah yang dikatakan orang-orang.
Rong Mingyu berdecak. "Jelas aku tak bisa melakukannya, karena tubuh Luo MeiYin sudah dimakamkan sejak dahulu!"
"Anda juga tetap tak bisa melakukannya, Tuan Muda," sanggah sosok putih itu.
Namun sebelum Rong Mingyu menjawab lagi, sosok itu kembali melanjutkan. "Sayangnya, jiwa yang sudah pergi tak bisa dipanggil lagi, Tuan Muda. Ketika jiwa kekasihnya dipanggil ke dalam raga, itu membuat kehancuran tersendiri bagi kekasihnya. Itu seperti memasukkan hantu ke dalam tubuh, dan seperti kerasukan. Sehingga tubuh yang sudah dirasuki hantu akan keluar dari batasannya. Itu akan mengamuk."
Kali ini Rong Mingyu tak bisa mengatakan apa-apa.
Sosok itu tampak menitikkan air matanya. "Lalu, kekasihnya menjadi sosok yang berbeda dari apa yang ia kenal. Dia tak bisa kembali seperti dahulu."
Tak ada manusia yang sempurna untuk menciptakan manusia lainnya. Tak ada karena itu hanya bisa dilakukan oleh pencipta. Semua yang dilakukan hanya melanggar batasan dunia.
"Saat energi buruk terlalu banyak memakan jiwa sang kekasih, dan kekasihnya lalu membunuh banyak orang. Sesuatu yang dahulunya tak bisa kekasihnya lakukan. Akhirnya ia menyadari bahwa ia melakukan hal yang salah," jelas sosok itu untuk menatap Rong Mingyu dalam temaram.
Kerajaan memerintahkan untuk Rong Mingyu diberikan hukuman. Namun hukum bergerak dengan sangat miring. Sehingga pria seperti Rong Mingyu hanya tak berada di penjara bawah tanah, melainkan pengasingan yang jauh. Itu semua berkat tangan emas dari ayahnya yang seorang bangsawan besar.
Akan tetapi, Rong Mingyu adalah orang yang mengetahui tentang tentara malam. Sekelompok tentara rahasia Kerajaan Li, dan seharusnya itu tetap menjadi rahasia. Rong Mingyu jelas tak berhak lagi untuk menjaga rahasia itu.
Sayang sekali.
Sosok itu menangkap cahaya lilin dengan tangannya, dan karena itu cahayanya langsung padam. Mungkin rasa panas dari lilin itu tak begitu terasa di tangannya lagi. Atau, hatinya terlalu dingin untuk merasakan kesakitan dari api kecil tersebut.
"Akhir dari cerita itu ialah dia membunuh kekasihnya sendiri dengan tangannya agar kekasihnya tak menderita lagi. Bukankah ini cerita yang sangat mengharukan?" tanya sosok itu dalam gelap.
Rong Mingyu berdecak sebal. "Sebenarnya itu agak gila. Aku sangsi bahwa cerita itu benar-benar terjadi."
Mengapa kau bisa membunuh orang yang kau cintai?
Sosok itu berjalan ke arah Rong Mingyu. Hanya karena gelap, tak ada yang tahu apa yang perbuat, dan hanya suara langkah kakinya yang terdengar. Rong Mingyu entah mengapa tahu tentang apa yang akan dia alami.
"Jadi, aku akan disingkirkan?" tanya Rong Mingyu dengan wajah yang sangat tenang. Bagaimana pun ia sangat tahu tentang hidupnya sendiri.
CRASH!
Hanya dalam waktu yang sangat singkat, Rong Mingyu yang baru bertanya langsung diberikan jawaban.
Dalam kegelapan, tak ada yang tahu tentang darah yang berderai di sana. Mungkin esok hari bangsawan besar Rong akan gila saat mendapati putera kesayangannya yang kini tak bernyawa. Mungkin pria tua itu akan segera berlari dengan menyebalkan dari kediamannya di Pusat Kota. Tentu saja dia berduka karena asetnya untuk kekuasaan telah tiada.
Lalu, sosok yang awalnya berpakaian putih itu kini memiliki corak warna paling mencolok di pakaiannya. Meski begitu, ia tetap berkata dengan tenang.
"Meski gila, tetapi cerita itu benar-benar pernah terjadi, Tuan Muda," ucapnya sebelum melangkah pergi dari ruangan gelap itu.
Lebih dari segalanya, manusia terkadang lebih tidak seperti manusia daripada makhluk lainnya.
Meksi begitu, Rong Mingyu jelas bukan orang yang tepat untuk menjadi seperti orang dalam cerita itu.
Dan, percayalah ... Ia hanya melakukan hal yang benar untuk dilakukan.
***
__ADS_1
"Baiklah. Jadi, kau menghabiskan satu hari penuh untuk tidur. Bahkan kau lupa bahwa kau punya misi yang harus dilakukan." Suara menyebalkan itu menyeruak masuk ke telinga Yi Hua.
Meski terdengar menyebalkan, tetapi berkat itu Yi Hua terbangun dari tidurnya yang sangat panjang. Yah, sangat panjang hingga ia merasa seperti melalui setengah dari hidupnya untuk menjalani sebuah kenangan. Lebih dari segalanya, ia merasa kelelahan yang luar biasa.
Juga, ia punya segelintir pertanyaan yang ingin ia sampaikan pada sosok Xiao yang menyebalkan. Meski terkadang tak berguna, tetapi Xiao itu seperti arah matahari saat tersesat. Atau, seperti sapi yang terkadang menciptakan hal paling aneh di dunia.
Entahlah. Hanya itu yang Yi Hua pikirkan tentang Xiao.
"Jadi, sebenarnya Yi Hua asli itu bisa menggunakan kekuatannya dulu?" tanya Yi Hua pada Xiao.
Bagaimana pun itu adalah poin penting yang harus Yi Hua bahas.
Xiao terdengar semakin malas di telinganya. "Tentu saja. Dengan kekuatan sebesar sapi itu, tak mungkin bisa disembunyikan. Tapi, itu tidak penting. Apakah aku harus mengingatkan dirimu lagi mengenai kepalamu? Atau, tentang batas waktu hingga tungku iblis terisi penuh di dalam tubuhmu? Atau kau akan BAM!"
Yi Hua tahu batas waktu sialnya itu. Namun ia sekarang Yi Hua, dan itu berarti dia harus tahu tentang Yi Hua. Bahkan jika itu tentang sikap anti sosial dari Yi Hua.
Dari apa yang ia lihat. Yi Hua asli enggan berdekatan dengan orang lain. Sebab, Yi Hua asli dahulu tak bisa membedakan mana yang manusia mana yang bukan. Itu membuatnya tampak seperti orang yang sangat anti sosial.
Lalu, kesendirian itu tumbuh menjadi kebiasaan bagi Yi Hua. Ia terbiasa sendiri, dan bahkan dia terlihat sombong bagi orang lain. Untuk poin ini, ia mulai mengerti dengan Yi Hua. Dia adalah orang yang terbiasa menebarkan kebohongan pada dunia. Bahkan tentang dirinya sendiri saja ia tak bisa jujur.
Jauh dari dalam diri Yi Hua mungkin gadis itu ingin hidup normal. Berpakaian cantik seperti bunga matahari, dan menggunakan pewarna bibir seindah mawar. Akan tetapi, dia tak bisa melakukannya karena dia dibesarkan sebagai seorang pria.
Terkadang kau bisa merasa tak bersyukur ketika dilahirkan menjadi siapa. Merasa 'biasa' dan tak ada menariknya menjadi diri sendiri. Lalu, mengikuti orang lain dan sebagainya.
Namun ada segelintir orang yang tak bisa menjadi dirinya sendiri. Sangat disayangkan.
"Lalu, bagaimana bisa kekuatan Yi Hua asli sekarang tersembunyi? Dia tak bisa apa-apa sekarang," tanya Yi Hua dengan bingung.
"Entahlah."
Hanya itu yang bisa Xiao katakan. Sistem ini entah mengapa tak suka menjelaskan, dan itu menambah buruk segalanya. Seolah Xiao tak akan memberi penjelasan, jika Yi Hua tak mencari titik terangnya. Jika seperti itu, ia pada dasarnya harus selalu mencari.
"Hanya saja, Yi Hua mungkin lebih bahagia jika tak ada tungku iblis di dalam tubuhnya," ucap Xiao lagi untuk menimbulkan kebingungan.
Hey, aku juga lebih bahagia jika hari-hariku tak diliputi rasa sakit kepala!
Namun sebelum menebarkan protesnya, suara lain menyela dari pembicaraan mereka.
"Sepertinya selain kau yang suka berpakaian pria, kau juga suka berbicara sendiri." Suara ketus itu cukup Yi Hua kenal.
Hal itu membuat Yi Hua bahkan bangkit duduk tanpa membuka matanya. Itu jelas menyakitkan untuk tengkuknya sendiri, karena dia harus bangkit seperti itu. Layaknya kau belum sempat meregangkan pinggang saat bangun tidur, dan kau harus langsung duduk begitu saja.
PLAK!
Dahi Yi Hua langsung dipukul dengan sebuah kain yang terasa hangat. Dan, itu membuat Yi Hua membuka matanya. Lalu, ia menyadari bahwa ia memberikan penghormatan ke dinding.
"Jangan pikirkan hal itu, bodoh. Kau harusnya banyak mengistirahatkan dirimu sendiri. Atau, kau akan jadi orang paling konyol yang pernah ada," dengus Selir Qian dengan ucapannya yang menyengat layaknya belut listrik.
Sebenarnya orang ini sangat perhatian pada umat manusia, sayangnya dia kasar sekali!
Ia terkadang berpikir bahwa Selir Qian bahkan lebih tegas ketimbang Raja Li Shen. Padahal dia hanyalah seorang Selir, tetapi kecerdasannya tak main-main. Bahkan jika Selir Qian pergi ke Pengadilan Tinggi, para pejabat tak akan berani berpendapat. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu, tepatnya saat rekayasa 'kehilangan' pengantinnya Liu Xingsheng.
Seandainya seorang kecantikan bisa masuk ke dalam urusan politik, mungkin Yi Hua tak akan takut untuk membongkar identitas terselubungnya. Lalu, ia akan menjadi pejabat tinggi, bukannya seorang peramal busuk. Ia kemudian akan punya pendapatan yang besar, dan punya rumah yang lebih baik.
Yah, seandainya ...
"Terima kasih atas kerendahan hati Selir Qian yang berkenan untuk mengobati hamba," ucap Yi Hua sambil memberi salam khas seorang pria.
Hal itu membuat Selir Qian mengerutkan keningnya. "Bagaimana bisa kau berpura-pura selama ini?"
Entahlah.
Mungkin itu karena Yi Hua yang tak punya banyak teman, dan itu sedikit menyelamatkannya. Terkadang suatu perbuatan mendapatkan dampak yang baik dan buruk sekaligus. Meski Yi Hua terlihat seperti orang sombong dan menyebalkan hingga tak ada yang ingin akrab dengannya, tetapi berkat itu dia bisa banyak melakukan kebohongan.
"Mungkin karena hamba tidak begitu mencolok," ucap Yi Hua seadanya.
Selir Qian melirik dada Yi Hua, dan langsung menjawab cepat. "Kau benar!"
Hey, Xiao! Dia sedang menilai ukuran, bukan?
Xiao menjawab dengan tak kalah menyebalkan. "Tidak. Dia hanya memastikan bahwa dadamu yang rata itu karena diikat kain atau tidak."
Sialan! Bisakah mereka lebih jujur lagi dari ini?
Selir Qian terlihat menyiapkan sebuah ramuan di dalam mangkuk obat. "Namun meski tidak terlalu nampak, kau seharusnya lebih berhati-hati. Kau itu bertubuh lemah, dan sering pingsan. Apa kau tidak takut jika seseorang bisa 'memeriksa'mu?"
Yi Hua mulai mengingat sesuatu. Bukankah sebelum ia tak sadarkan diri dirinya tengah bersama dengan An?
"Selir Qian ..."
__ADS_1
"Jika yang kau bertanya tentang pria yang sering bersamamu itu, maka dia sudah diamankan," jawab Selir Qian cepat.
Apa maksudnya sudah diamankan?
Selir Qian menyerahkan mangkuk obat ke arah Yi Hua. "Sejak dia membawa dirimu yang sekarat dan kotor seperti tikus, dia tak ingin meninggalkanmu. Minum ini hingga habis!" perintah wanita pemarah ini ketika melihat wajah menolak dari Yi Hua.
Dan, Yi Hua yang jelas tak ingin dicekik oleh Selir Qian langsung menandaskan mangkuk obat itu dengan cepat. Setelah itu, Yi Hua menutup mulutnya hanya karena ia takut akan menyembur ke wajar Selir Qian.
Bagaimana bisa dia membuat obat dengan rasa seperti muntahan sapi?
"Aku tak menyangka jika kau pernah merasakan muntahan sapi. Bahkan kau bisa membedakannya," cetus Xiao iseng.
Yi Hua menyadari bahwa Xiao itu jelas-jelas musuhnya yang sebenarnya.
"Ugh ... Tentang Tuan An." Yi Hua benar-benar mual sekarang. Akan tetapi, ia lebih penasaran tentang tata cara Selir Qian mengusir An dari ruangan ini.
Ia sangat tahu bahwa An sulit diatasi.
"Aku menyuruhnya untuk mengambil obat di Huan Ran. Aku mengatakan bahwa aku menyuruh Huan Ran untuk mengantar obat, tetapi dia tak kunjung datang," jelas Selir Qian seenaknya.
Yi Hua segera sadar bahwa alasan mengapa An belum kembali ke ruangan pengobatan ini adalah karena ada 'perang' kecil di sana. Selir Qian sangat pandai memicu api di antara umat manusia. Bukankah wanita ini berbahaya?
Yah, meski dia sebenarnya baik.
"Kau harusnya beristirahat sekarang, atau kau akan tergeletak di jalan. Untuk sementara ini, jangan berurusan pada hal yang berbahaya, Yi Hua. Apa kau tahu bahwa tubuhmu itu lemah?" ucap Selir Qian dengan mata menggurui.
Yah, sejatinya Yi Hua bahkan terlihat seperti penyakitan sombong. Dia terlihat kurus seperti batang gandum. Jika dia sejak kecil tak disebut-sebut sebagai seorang pria, maka orang lain akan segera tahu identitasnya. Sehingga ketika Yi Hua dewasa, embel-embel pria lemah melekat padanya.
Namun Yi Hua sangat ingat tentang masa lalu dari Luo MeiYin yang ia lihat. Di sana ia melihat Yi Hua asli saat masih kecil. Yi Hua asli terlihat sangat sehat, dan segar. Bahkan kemampuan cenayangnya hebat.
Lalu, mengapa Yi Hua bisa terlihat lemah dan penyakitan sekarang?
"Selir Qian, bolehkah hamba bertanya?"
Selir Qian tak mengatakan apa-apa, tetapi dia berwajah serius. Seolah tak ada masalah untuk mendengarkan pertanyaan Yi Hua. Bagaimana pun seperti yang Yi Hua katakan, meski Selir Qian memiliki sikap yang buruk, tetapi dia baik.
"Apakah tubuh lemah itu bisa membuat seseorang tidak bisa berkultivasi?" tanya Yi Hua sambil menekan dadanya sendiri.
Dan, Xiao tak mengatakan apa-apa tentang pertanyaan Yi Hua.
^^^(Sedikit penjelasan. Kultivasi adalah metode untuk mendapatkan kekuatan dengan kekuatan dan keabadian dengan menggunakan latihan pernapasan. Ada tingkatan-tingkatan dalam kultivasi, dan aku malas menjelaskan tentang tingkatannya. Akan tetapi, dalam novel ini bukan cerita kultivasi yang tinggi. Sehingga karakter-karakter dalam novel ini yang memiliki kemampuan dan inti emas belum mencapai keabadian. Mereka yang berkultivasi hanya berumur panjang sesuai dengan kemampuan bela diri mereka, tetapi tidak abadi. Yang abadi dalam cerita ini hanyalah para iblis seperti Hua Yifeng, karena dia memiliki keabadian secara sesat bukan secara taoism. Jadi, jika ingin melihat pertarungan dengan 'mana' atau 'sihir' itu masih jarang. Makanya, Yi Hua terkejut saat dia melihat An melakukan sihir. Padahal An terlihat seperti seorang pengawal biasa)^^^
"Kau tahu bukan jika inti emas atau inti qi ini memerlukan latihan yang panjang. Tak mudah untuk membentuk kekuatan dan ketangkasan dalam tubuh manusia. Sebab, kau tahu tak ada yang instan di dunia ini," jelas Selir Qian.
Akan tetapi, Selir Qian sepertinya gemar menjelaskan. Sehingga dia tak bermasalah untuk berbicara panjang lebar. Mungkin bakat bicara terus-menerusnya ini dimulai dari sering mengomel pada Liu Xingsheng. Belum lagi Selir Qian memang orang yang ahli dalam bidang kesehatan dan pengobatan.
"Namun kau terlihat tak punya pondasi itu sejak awal. Tubuhmu tak bisa menahan tekanan dari latihan itu, Yi Hua. Kecuali, jika ada sebuah senjata atau benda yang bisa memberikan kekuatan. Namun hal seperti itu jelas tak ada," ucap Selir Qian malas.
Yah, ... Sebenarnya ada. Hanya saja itu tak diketahui banyak orang.
Tungku iblis yang ada di tubuh Yi Hua bisa memberikan kekuatan secara instan. Itu adalah sesuatu yang sangat aneh, dan sangat langka. Dia bisa meningkatkan kemampuan jika di'berikan'. Yi Hua masih tak tahu metode apa saja yang bisa membuatnya membagi kekuatan ini.
Namun dari pengalamannya, ia bisa melihat bahwa Yi Hua bisa memberi kekuatan pada Luo MeiYin melalui sentuhan fisik. Bahkan Yi Hua kelelahan terlihat tak mudah kelelahan ketika berlari. Dia terlihat sangat tangkas untuk seorang anak seusianya. Jelas sekali Yi Hua seperti bisa menggunakan kekuatannya tungku itu sendiri untuk tubuhnya. Seperti tenagamu selalu terisi tanpa henti, meski telah terpakai berkali-kali.
Namun Yi Hua yang sekarang tak sama seperti dahulu. Dia tak bisa menggunakan kekuatan tungku itu, sehingga kekuatannya terus menumpuk di dalam tubuhnya. Itu seperti penyakit yang terus membesar dan membesar, tanpa bisa kau keluarkan. Dan, tubuh Yi Hua jelas tak bisa menampungnya dan akhirnya hancur.
Itulah mengapa sebenarnya Yi Hua harus 'mengeluarkan' energi di dalam tungkunya. Namun jika sekali dikeluarkan, energi itu akan merembes seperti darah yang tak bisa dihentikan. Yi Hua juga akan mati pada akhirnya. Sehingga jika Yi Hua ingin seseorang 'menyedot' kekuatannya, dia harus mencari orang yang bisa mengendalikan kekuatannya.
Apakah sudah jelas sekali kesialan dalam hidupnya ini sebagai Yi Hua yang malang ini?
Yi Hua menatap Selir Qian dengan penasaran. "Ini seandainya saja. Seandainya yah ... Itu jika inti kekuatan itu ada dalam tubuh, apakah inti yang sudah ada itu bisa hilang begitu saja? Seperti seluruh kekuatan di dalam diri hamba itu bisa hilang seperti embun? "
"Apa maksudmu dengan hilang?" tanya Selir Qian dengan wajah dingin.
Sejatinya ini seperti emas yang kau simpan di dalam lemari. Apakah emas itu bisa hilang begitu saja jika 'hanya' di dalam lemari seperti disihir?
Yi Hua tahu bahwa sesuatu yang dikatakan 'hilang' berarti ada perbuatan di sana. Entah itu diambil, dihancurkan, atau dipindahkan.
Pertanyaannya adalah ... Bagaimana bisa 'emas' ini menghilang?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1