
Jadi, hari ini Yi Hua sampai pada kegiatannya. Sebuah pertunjukan yang dimaksud jelas untuk ditampilkan di alun-alun. Dimana kerajaan biasanya mempersiapkan pertunjukan untuk meramaikan perayaan terhadap Dewa.
Seperti yang sudah terjadi, Liu Xingsheng yang harus menangani itu semua. Hal itu karena Huan Ran tak ada di istana. Sehingga Yi Hua hadir di sini untuk membantu.
"Itu pun jika kau juga ada fungsinya," sanggah Xiao tiba-tiba.
Yi Hua yang sedang menyiapkan obor bambu langsung berhenti bekerja. Ia sedang berpikir bagaimana mematikan fungsi Xiao secara sementara. Sehingga ada kalanya Xiao tak akan masuk dan mengganggu pemikirannya.
Yah, sayangnya satu-satunya cara untuk membuat Xiao diam ialah dengan kehadiran Hua Yifeng.
"Aku masih penasaran, mengapa saat ada An, kau tak bisa menyadarinya juga, Xiao? Apa inderamu tumpul dimakan sapi?" tanya Yi Hua yang lebih pada mempertanyakan kerja Xiao. Tentu saja Yi Hua berbicara di dalam hati. Ia tak mau para pelayan kerajaan yang turut membantu pekerjaan ini melihat Yi Hua bicara sendiri.
"Sudah aku bilang, HuaHua. Pria itu benar-benar pandai menyembunyikan kekuatannya sendiri. Ibaratnya saat ia menjadi An, kekuatan yang ia perlihatkan itu hanya seperti satu tangkai bunga di antara daun-daun yang lebat. Dia bahkan tak mempan pada air suci yang diberikan oleh Huan Ran dahulu," jelas Xiao yang tak ingin disalahkan.
Yi Hua melanjutkan pekerjaannya. Tangannya menggantung beberapa lentera untuk menghiasi jalan. Sebenarnya Liu Xingsheng tak menyuruh Yi Hua untuk mengerjakan ini, tetapi karena Yi Hua kurang kerjaan, ia langsung ikut menata alun-alun. Sedangkan Liu Xingsheng, dia sedang menyiapkan pertunjukkan.
Lebih jelasnya lagi biasanya pertunjukkan ini bukan hanya ditampilkan dengan orang-orang. Kau juga bisa menyiapkan semacam boneka kertas, ini jika kekuatanmu cukup kuat, untuk membuat cerita. Yi Hua pernah mendengar jika ada pejabat yang menyampaikan cerita dengan cara bersyair. Ini adalah acara yang bebas, dan hanya untuk menghibur masyarakat.
"Katanya An itu bukan cangkang manusia, tetapi kenapa kau bilang bahwa An hanyalah segelintir kekuatan Hua Yifeng?" tanya Yi Hua yang tak mengerti.
Xiao hanya mengasihani otak Yi Hua yang kurang berjalan. "Dia menyembunyikan kekuatannya, Yi Hua. Itu sama seperti kau menyembunyikan wajahmu dengan penutup kain. Apakah dengan menyembunyikan wajahmu di sana, kau bukan Yi Hua lagi?" jelas Xiao dengan nada agak tinggi. Jika Yi Hua tak mengerti lagi, maka Xiao ingin pura-pura tuli nantinya.
Jelas itu hanyalah kedok agar tak ada yang menyadari jika dia adalah Hua Yifeng. Lagipula, kekuatan Hua Yifeng terlalu besar hingga bisa menyegel pohon iblis. Tentang pohon iblis. Katanya, pohon itu adalah sumber kekuatan yang terlarang. Jika energi pohon iblis itu bocor sedikit, maka kejahatan akan semakin besar di dunia ini.
Apa yang membuat pohon ini bocor? Yaitu, semua energi buruk, seperti kemarahan, dendam, kebencian, rasa sakit, pengkhianatan, dan sebagainya. Semakin besar dosa akibat penyakit hati manusia, maka itulah akhir dari dunia. Itulah mengapa saat kerusuhan di Kerajaan Li Pohon Iblis mengamuk keras.
Banyak yang mengatakan bahwa Pohon Iblis hadir untuk menghukum manusia. Entahlah. Tak ada yang tahu kebenarannya, sebab hanya sebagian yang manusia ketahui tentang isi dunia ini.
Akan tetapi, semenjak Hua Yifeng menjadi Iblis Kehancuran, Hua Yifeng mampu mengendalikan Pohon Iblis. Itulah yang membuat orang-orang Kerajaan Li ketakutan. Jika Hua Yifeng bisa mengendalikan Pohon Iblis, maka dia bisa menghancurkan dunia ini dengan kekuatan itu.
Nyatanya Hua Yifeng tak melakukannya. Namun orang-orang selalu menuduh Hua Yifeng penyebab dari semua masalah di Kerajaan Li.
Mendadak Yi Hua ingat kata-kata Hua Yifeng padanya. Pria itu meminta dirinya untuk mempercayainya. Itu semua karena Hua Yifeng jelas tak perlu membunuh Yi Hua asli untuk mendapatkan kekuatan. Pria itu jelas tak memerlukan tungku iblis dari Yi Hua.
Lagipula, ...
Tangan Yi Hua yang menggantung lentera mendadak terhenti di udara. Ia sangat ingat jika Hua Yifeng meminta maaf karena menjadikan raganya dulu (maksudnya tubuh Li Wei) sebagai cangkang manusia. Apa yang bisa Yi Hua pikirkan adalah Hua Yifeng mungkin mengambil mayat Li Wei di istana, dan menjadikannya sebagai cangkang manusia. Namun Hua Yifeng yang menghancurkan cangkang manusia yang ia buat sendiri.
Mengingat itu Yi Hua jadi aneh sendiri. Masalahnya meski informasi itu ia ketahui, tetapi dia belum mengingatnya. Ia belum mengingat tentang rasa sakit dari semua kejadian itu.
SRET!
"Peramal Yi, kapan Anda akan menggantung lentera itu?" Seorang pelayan menghampiri Yi Hua yang melamun.
__ADS_1
Yi Hua tersadar dari lamunannya dan melihat lentera-lentera yang ia pasang. Sebagiannya terpasang miring, dan bahkan ada yang terbalik hingga bahan bakarnya tumpah. Yi Hua langsung mengumpulkan lentera-lentera itu lagi.
"Maaf saya tertidur sebelumnya," ucap Yi Hua asal.
"Sambil berdiri?" tanya pelayan wanita itu untuk memastikan pendengarannya.
Yi Hua langsung memasang wajah sombongnya. "Apa yang salah jika tidur dengan berdiri? Saya juga biasanya bisa tidur sambil melompat-lompat seperti sapi."
Pelayan itu menatap tak mengerti pada Yi Hua yang semakin lama semakin aneh. Ia pernah mendengar jika Yi Hua ini sering bicara sendiri. Mendadak ia mulai berpikir jika Yi Hua ini memiliki peliharaan. Bukankah Yi Hua semakin hebat akhir-akhir ini?
Yi Hua menghela napasnya saat ia mulai merasa lapar lagi. Sebelumnya dia hanya memakan sepiring kue mawar di ruangan para peramal. Itu jelas tak cukup, karena belum tengah hari pun Yi Hua sudah lapar kembali.
Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Liu Xingsheng, tetapi Perdana Menteri itu tak ada lagi di tempatnya. Mungkin Liu Xingsheng sedang bersembunyi untuk menghindar dari pekerjaan. Ayolah! Kapan selesainya jika yang ingin mengadakan pertunjukkan tak bekerja?
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Yi Hua meletakkan lentera yang ada di tangannya pada si pelayan. Ia juga tak perduli jika pelayan itu mengatainya. Lagipula, meski Yi Hua berbuat baik pun, orang-orang akan mengiranya hanya mencari muka dan sebagainya. Itu seringkali terjadi.
Yi Hua menyusuri lorong di istana kerajaan. Ia harus mencari Liu Xingsheng untuk meminta makan siang pada Perdana Menteri itu. Seingatnya pelayan sebelumnya mengatakan jika Liu Xingsheng kembali ke kediaman Perdana Menteri.
Lalu, ...
SRET!
Langkah Yi Hua terhenti ketika angin meniup dengan agak keras. Kala itu daun-daun yang berserakan di tanah juga naik menuju ke arahnya. Ia tak tahu mengapa dia terlihat pada momen yang seperti itu. Namun ia sangat tahu jika dedaunan itu sekarang menempel di rambutnya.
Yi Hua mengambil daun kering yang melekat di kuncir kudanya.
Ini pertama kalinya Yi Hua memasuki istana setelah ingatannya kembali.
Entah mengapa ia bisa melihat dirinya yang duduk di tempat ini. Sejauh yang bisa Yi Hua ingat, tempat ini dahulu adalah kediaman milik Puteri Li Wei. Ia pernah tinggal di tanah ini.
Lalu, kediaman Li Wei dihancurkan dan yang tersisa hanya tanah kosong yang ditanami oleh pepohonan dan bunga. Semua itu karena Li Shen yang memerintahkan untuk menghilangkan apapun yang bisa membuat mereka ingat pada Li Wei. Yi Hua hanya bisa menarik sedikit senyum di wajahnya.
"Aku pulang," bisik Yi Hua pada angin.
***
Liu Xingsheng memperhatikan air yang tampak tenang di dalam wadah perak. Ia memerintahkan para pelayan untuk menyediakan karena ia ingin membasuh wajahnya. Belum lagi dengan rasa debu yang menumpuk, dan karena itu Liu Xingsheng memutuskan untuk kembali ke kediamannya.
"Hanya pertunjukkan ..." bisik Liu Xingsheng, dan jelas bayangannya di atas air juga mengatakan hal yang sama.
Namun tatapan Liu Xingsheng yang biasanya riang mendadak berubah. Ada sedikit kelam di matanya, tetapi dengan cepat Liu Xingsheng merusak bayangannya sendiri di atas genangan air. Ia menyangga air di telapak tangannya kemudian membawa air itu untuk membasahi wajahnya yang pias.
__ADS_1
Liu Xingsheng melakukannya beberapa kali hingga pakaian yang ia kenakan basah. Hal itu membuat Liu Xingsheng berhenti. Ia harus segera mengganti pakaiannya dan kembali mempersiapkan acara.
Kala itu tangannya membuka ikatan tali jubah luarnya. Kemudian, dari sana terlihat segaris luka yang cukup panjang. Namun itu bukanlah berasal dari pedang. Itu lebih pada goresan panjang seperti tanda lahir. Entahlah.
Melihat luka itu, Liu Xingsheng selalu merasa menjadi orang yang bersalah. Setiap kali mendengar detak napasnya, ia pun merasa sangat bersalah. Tak lama air matanya menetes begitu saja terutama melihat wajahnya sendiri di dalam genangan air.
PRANG!
Tangan Liu Xingsheng langsung membuang perkara sebenarnya. Ia membuang isi air dalam wadah perak itu hanya agar tak pernah menjadi cerminnya lagi. Lalu, tak lama ...
"Perdana Menteri Liu, ini saya Yi Hua," seru suara dari luar.
Mendengar itu Liu Xingsheng kembali berubah ekspresi dengan cepat. Ia menghela napasnya, dan melepaskan jubah bagian luarnya dengan cepat. Kemudian, menggantinya dengan jubah yang baru. Sembari ia berteriak untuk menenangkan Yi Hua di luar. Jika tidak peramal itu pasti akan menghancurkan pintu kediamannya untuk bisa masuk.
"Sebentar, Yi Hua. Aku sedang berganti pakaian," seru Liu Xingsheng sambil merapikan pakaiannya.
Setelah itu, ia menampilkan wajah hangat seperti biasanya. Wajah yang dipikir orang lain sebagai manusia tanpa beban. Tak bertanggung jawab, dan sebagainya.
Sebab, itu lebih baik dari segalanya.
GRAK!
Ketika Liu Xingsheng membuka pintu, wajah jengkel Yi Hua terlihat. Hal itu membuat Liu Xingsheng ikut-ikutan berwajah jengkel.
"Kau meninggalkan pekerjaanmu, Yi Hua. Aku tak mau membayarmu!" omel Liu Xingsheng sambil menutup pintu kediamannya lagi.
Kemudian, Liu Xingsheng menyadari jika tatapan Yi Hua tertuju pada dada Liu Xingsheng. Entah mengapa Liu Xingsheng menyadari bahwa Yi Hua seperti mengetahui sesuatu. Namun di satu sisi, Yi Hua akan terlihat seperti orang yang paling tak berguna.
Lalu, mata sinis Yi Hua langsung berpindah seolah peramal ini tak perduli.
"Saya lapar hingga saya berpikir bisa menelan satu sapi secara utuh," jawab Yi Hua seadanya sambil membalikkan tubuhnya.
Liu Xingsheng menatap punggung Yi Hua yang berjalan terlebih dahulu. Itu berlangsung cukup lama hingga ia menyusul langkah Yi Hua yang agak cepat. "Kau pendek, tetapi mengapa jalanmu cepat sekali."
BRAK!
Pintu kediaman Liu Xingsheng tertutup karena angin yang menimpanya. Menutup semua yang telah terjadi.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~