
"Sejak era kebangkitan Kerajaan, Perdana Menteri Negeri ini menggunakan sistem dua tonggak. Kerajaan Li memiliki dua orang Perdana Menteri. Oleh karena itu, jika bukan dengan Liu Xingsheng, maka sistem kedua Perdana Menteri ini tidak ada artinya lagi bagi diriku." - Huan Ran.
...***...
Ling Xiao sedikit mendekat pada Liu Xingsheng, dan pria itu memperhatikan tanda hitam di dada Liu Xingsheng dengan teliti. Bagaimana pun sebenarnya ini pertama kalinya Ling Xiao melihat tanda kutukan Tengkorak Putih yang sangat jelas. Seolah hanya dengan dikupas kulitnya saja baru tanda itu alam menghilang. Itu pun jika tanda ini tidak melekat ke jantung Liu Xingsheng.
Tak lama setelah Ling Xiao mendekat, Liu Xingsheng mendadak membuka matanya. Hal tersebut membuat Yi Hua terkejut, dan Huan Ran tampak sedikit bereaksi. Namun Ling Xiao ternyata lebih tenang daripada yang seharusnya. Pria itu memperhatikan mata Liu Xingsheng yang berpandangan kosong, dan setelah sekian lama tatapan Liu Xingsheng tampak berubah seperti resah.
Huan Ran merentangkan tangan kanannya di antara Ling Xiao dan Liu Xingsheng. "Apa yang Anda lakukan, Peramal Ling?" tanya pria itu dengan tatapan tajamnya.
Ling Xiao bangkit dan mengangkat kedua tangannya di udara. "Saya hanya mencoba menakutinya. Sebab, meski orang yang tak sadarkan diri sekalipun, tetapi jiwanya masih ada maka dia akan bereaksi dengan keadaan sekitarnya."
"Jadi, maksud Peramal Ling jiwanya masih ada di dalam dirinya?" tanya Yi Hua yang bingung. Pasalnya, Xiao mengatakan jika Liu Xingsheng kehilangan jiwanya.
Xiao menghela napasnya pelan. "Memangnya kau bisa hidup tanpa jiwa? Itu bisa membuatmu menjadi Cangkang Manusia. Akan tetapi, Liu Xingsheng sejak awal tidak terlihat seperti Cangkang Manusia. Dia lebih seperti orang yang masih hidup dan bernapas, tetapi tak memiliki tenaga untuk bangkit seperti biasanya*. Rohnya masih ada, tetapi kesadarannya tidak pada tempatnya."
^^^*Istilahnya kayak koma gitu kalo bahasa modernnya.^^^
Apakah masuk akal jika Liu Xingsheng dibuat menjadi Cangkang Manusia oleh seseorang? Seperti Selir Qian begitu?
Pemikiran Yi Hua ialah bagaimana jika saat terkena bubuk mayat sebenarnya Liu Xingsheng sudah mati. Kemudian, karena kita sangat mengetahui betapa Liu Xingsheng ini dicintai oleh kakaknya, Selir Qian melakukan ritual untuk membangkitkan adiknya. Sayangnya, kejadiannya sama seperti cerita Cangkang Manusia yang terkenal, orang yang dihidupkan tetap hidup sayangnya tak berbeda dari mayat.
Tapi, bagaimana menjelaskan hadirnya tanda dari Tengkorak Putih ini?
Xiao mendadak lelah dengan otak liar Yi Hua. "Bagaimana bisa kau memikirkan hal yang sangat rumit seperti itu? Kau sendiri yang dulu mengatakan bahwa Liu Xingsheng tak akan mati hanya karena keracunan bubuk mayat. Apalagi kau sudah memberikan penanganan yang tepat saat itu."
Melamunnya Yi Hua tampak membuat Ling Xiao tertarik. Seperti Yi Hua mengerutkan keningnya terlalu banyak. Dan, itu membuat Yi Hua terlihat berubah-ubah ekspresi. Terkadang seperti menganggukkan kepalanya, dan terkadang wajahnya cemberut saat pemikirannya tak sampai. Entahlah. Hanya itu yang bisa Ling Xiao prediksi.
"Apakah Peramal Yi memiliki pendapat tentang ini?" tanya Ling Xiao pada akhirnya.
Huan Ran juga turut menatap pada Yi Hua yang seperti terkejut.
__ADS_1
"Silahkan dilanjut," ucap Yi Hua dengan senyum manisnya. Dia bertanya bukan karena dia tahu, tetapi lebih pada penasaran.
Siapa sangka Ling Xiao adalah tipe orang yang bertanya kembali saat ditanya. Sebenarnya ini adalah metode mengajar yang membuat murid takut. Apalagi murid yang sering melamun seperti Yi Hua. Mendadak ia mengingat kembali tentang masa mudanya di Pelatihan Awan. Dan, Ling Xiao masih sama seperti sebelumnya. Seorang guru yang tak pernah memberi kemudahan pada muridnya.
"Ini seperti saat kalian tertidur dan bermimpi. Mimpi yang sangat panjang yang bahkan kalian tak tahu bagaimana awalnya. Ketika kalian menjalani mimpi itu, terasa sangat menyakitkan. Namun mimpi itu terus berulang-ulang, dan tidak ada akhir," jelas Ling Xiao yang berjalan untuk memperhatikan pada lukisan yang ia gantung di dinding.
Yi Hua yang mabuk karena otaknya tak bisa menangkap maksud Ling Xiao langsung mengangkat tangannya. "Maaf saya tidak terlalu pintar, Peramal Ling. Hanya saja saya berpikir jika Perdana Menteri Liu bukan sakit secara fisik, tetapi hatinya."
Namun Huan Ran tampak seperti memahami ucapan Ling Xiao. Mendadak Yi Hua merasa tak ingin bergaul dengan orang-orang ini lagi.
Ling Xiao mengangguk seperti setuju pada ucapan Yi Hua. "Seperti itulah. Mungkin ada sesuatu di masa lalunya yang hadir dalam mimpi pria ini. Lalu, mimpi itu terus datang tanpa henti. Hingga fisiknya tak bisa bangun karena kesadarannya terus bermimpi."
Huan Ran mendadak angkat bicara. "Dahulu saat kecil saya pernah mendengar cerita. Katanya, saat kita tertidur maka jiwa kita akan berjalan-jalan keluar dari tubuh. Jiwa kita pergi ke tempat atau mengalami hal yang kita pikirkan sebelum tidur. Saat waktunya terbangun, maka tubuh kita akan kembali. Itulah mengapa saat kita bermimpi terkadang apa yang kita inginkan sebelum tertidur bisa terjadi di mimpi itu. Atau, terkadang saat kita pergi ke suatu tempat kita merasa seperti pernah melihatnya. Mungkin itu bukan kita pernah melihatnya secara nyata, tetapi itu mimpi."
Ya ampun, tenyata mulutnya tak ada batas dalam bicara!
Awalnya Yi Hua mengira jika Huan Ran ini seperti suatu sistem yang punya batasan berbicara. Akan tetapi, sekarang Huan Ran bicara cukup banyak. Dan, sejauh yang Yi Hua tahu, Huan Ran tak akan banyak bicara saat itu bukanlah persoalan penting.
Bukannya sangat menakjubkan saat kita tertidur dan bangunnya sudah di akhirat?
Xiao berdecak karena pikiran Yi Hua yang melantur. "Bisakah kau serius, HuaHua? Kenapa kau malah takjub pada Huan Ran yang banyak bicara?"
" ... Selir Qian?"
Karena kebanyakan melamun, Yi Hua hanya mendengar ucapan Ling Xiao ketika menyebut Selir Qian. Bagaimana pun Huan Ran dan Ling Xiao tampaknya berbicara cukup banyak saat Yi Hua tengah berbicara pada Xiao. Dan, mereka sudah sampai pada pembicaraan ini.
Ling Xiao mengerutkan keningnya. "Saya tak berpikir jika Selir Qian memiliki saudara."
Huh? Apa-apaan cerita ini?
Baru saja Ling Xiao ingin melanjutkan bicara, suara langkah Yue Yan terdengar. Pria itu sepertinya marah hingga berjalan menghentak dengan keras. Yi Hua langsung berlari menuju pintu dan membukanya dengan cepat. Tepat saat itu Yue Yan sudah membawa semangkuk air.
Yue Yan merenggut. "Ini airmu!"
__ADS_1
Dasar manusia kasar! Bagaimana bisa dia selalu membentak saat bicara?
Yi Hua menyentuh pinggir mangkuk itu. "Sepertinya air ini belum siap."
"Apa maksudmu belum siap, Yi Hua?" tanya Yue Yan kesal. Bagaimana pun Yue Yan bukanlah pemilik rumah ini.
Walau pun Ling Ling tak punya kediaman yang besar, tetapi siapa yang tahu jika ada jebakan di rumah ini. Ditambah lagi Yue Yan disuruh mencari air minum, yang padahal Yue Yan sendiri adalah tamu di sini. Akhirnya, Yue Yan harus menghabiskan cukup lama untuk membuka beberapa kendi di dapur. Siapa yang menyangka jika Ling Xiao punya banyak kendi air, yang di dalamnya berisi berbagai macam tanaman herbal.
Dan, setelah masa-masa perjuangan itu, Yi Hua mengatakan jika airnya tak siap! Bukankah ini pengaturan yang sangat sialan sekali?
"Menurut standar kesehatan dari Tabib Kerajaan Li, air minum yang baik adalah yang sudah direbus dengan suhu yang tinggi. Air ini belum siap. Kau harus memasaknya di tungku api hingga mendidih. Kemudian, menunggunya dingin baru bisa dikonsumsi," jelas Yi Hua dengan wajah yang serius.
"Yi Hua, kau ..." Yue Yan ingin mengomel saja tak bisa tuntas.
Sebab, Yi Hua sudah mendorong Yue Yan keluar lagi. Kemudian, menutup pintu itu dengan pelan. Bahkan Yi Hua nyaris memindahkan lemari besar untuk menutupi pintu itu karena takut Yue Yan memaksa masuk. Akan tetapi, Yue Yan kali ini menuruti ucapan Yi Hua, walau dengan menyebut nama-nama binatang di belakangnya.
Ya ampun.
Yi Hua bisa mendengar langkah kaki Yue Yan yang menjauh lagi.
Setelah itu, Yi Hua berbalik untuk bertanya pada Ling Xiao. Tepatnya pernyataan Ling Xiao tentang Selir Qian. Bagaimana pun apa yang terjadi setelah kematiannya (sebagai Li Wei), Yi Hua tak mengetahuinya. Sehingga keberadaan Selir Qian adalah beberapa saat setelah Li Shen naik tahta.
Namun yang bertanya justru Huan Ran. "Apa maksud Anda dengan mengatakan jika Selir Qian tidak memiliki saudara?"
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1