
TENG!
TENG!
Lagi-lagi Yi Hua berada di tempat pekerjaannya. Walau dia sebenarnya tak tahu apa fungsi dia berada di sini. Kebanyakan para peramal hanya bertugas untuk menentukan hari baik, atau bahkan meramal masa depan anak yang baru lahir, dan sebagainya. Masalahnya adalah Yi Hua tak bisa melakukan itu.
Ia, karena terlahir sebagai Yi Hua yang sebenarnya anak Dewa Phoenix, tetapi kemampuannya bukan pada meramal. Dia bisa melihat kejahatan, dan terkadang dia bisa melihat masa lalu. Sehingga ia sebenarnya hanya bisa mengamati rekan-rekannya yang lain.
Apalagi setelah di masa lalu, kekacauan tercipta akibat Ling Xiao yang katanya salah memberikan ramalan. Ling Xiao yang adalah seorang Peramal Kerajaan Li yang paling tersohor, jelas mencoreng nama dunia ramal-meramal. Jika yang 'dianggap' paling hebat pun salah, apalagi bawahannya.
Lagipula ... Yah, baik atau buruknya ramalan itu bukan tergantung siapa yang meramal. Para peramal hanya menyebut, tergantung yang mendengar ingin percaya atau tidak. Sudah! Cukup sampai di sini.
"Yi Hua, kau dipanggil oleh Perdana Menteri Kiri," panggil salah satu rekan Yi Hua yang tak bisa ia ingat namanya.
Kala itu Yi Hua baru saja menghabiskan kue mawar yang disediakan oleh juru masak kerajaan. Bahkan peramal yang duduk di sebelah Yi Hua ingin mencuri piring di depan Yi Hua. Tentu saja untuk menghentikan Yi Hua yang akan menghabisi seluruh jatah camilan mereka.
Dan, ... Perdana Menteri Kiri? Liu Xingsheng.
Kenapa orang itu tak pernah bisa bekerja sendiri? Jika aku tak sayang dengan kepalaku, maka aku akan menyuruh Perdana Menteri itu turun jabatan.
Rekan peramal Yi Hua yang terlihat seumuran dengannya, Cao Han. Mengapa Yi Hua mengenalnya?
Itu karena Cao Han adalah anak dari seorang Pejabat terkemuka Cao. Pejabat itu merupakan orang yang bertanggung jawab pada Pusat Kota. Yi Hua sering melihatnya Pejabat tua yang gemar tertawa sambil membusungkan dadanya. Dari gesturnya saja Yi Hua sudah bisa menilai betapa sombongnya perangai pejabat Cao ini. Apalagi anaknya Cao Han, yang sering Yi Hua dengar tentang tingkah lakunya.
"Peramal Yi, saya yakin menjilat pada orang atas tak akan bertahan lama," ujar Cao Han tanpa angin tanpa hujan.
Padahal jelas-jelas ini adalah kali pertamanya Cao Han mengajak Yi Hua bicara. Itu semua karena Yi Hua biasanya sering berkeliaran di luar istana. Mungkin banyak yang sudah mendengar tentang keikutsertaan Yi Hua dalam tugas-tugas penting. Walau tak ada yang paham apa fungsi Yi Hua di sana.
Sebab, seperti yang sering Yi Hua sebutkan. Semenjak ramalan yang salah dan menyebabkan kekacauan, orang-orang mulai takut untuk bergantung pada ramalan. Yah, memang tak ada salahnya juga.
"HuaHua, Cao Han adalah yang pertama menyebarkan tentang rasa cinta Yi Hua asli pada Yang Mulia Raja Li." Seperti biasa Xiao akan menjelaskan setiap kali ada tokoh baru yang akan ditemuinya.
Jika seperti itu ... Yi Hua mendadak tersenyum, dan Cao Han langsung menatapnya aneh. Terlihat sekali jika pria ini benar-benar tak menyukai Yi Hua. Yah, tentu saja dia memandang Yi Hua dengan jijik.
Masalah sebenarnya adalah mereka yang tak tahu tentang identitas asli dari Yi Hua. Ditambah lagi Yi Hua memang makhluk paling dibenci abad ini. Sehingga yah, wajar saja dia akan selalu dikelilingi oleh orang yang gemar membuat darah tinggi.
Namun ...
Yi Hua mengigit sisa terakhir dari kue mawar yang ada di tangannya. "Memang menjilat bukanlah hal yang baik, Peramal Cao. Namun yang lebih tak baik lagi ialah mencampuri urusan orang lain."
Cao Han terlihat memerah. Jelas sekali orang ini tahu jika Yi Hua memang bermulut kasar. Hanya saja ia tak menyangka jika Yi Hua masih akan punya muka untuk menjawabnya.
"Kau pikir kau siapa, Yi Hua? Hanya menunggu waktu untuk kau masuk lagi ke dalam penjara. Apalagi kau benar-benar mengganggu Yang Mulia dengan kehadiranmu di istana ini!" tegas Cao Han sambil memandang Yi Hua remeh.
Asal kau tahu, Li Shen itu sebenarnya adikku jika mengingat kehidupan masa laluku.
Namun itu akan terus menjadi rahasia. Setidaknya sampai Yi Hua menemukan semua bagian-bagian yang hilang dari prahara hidupnya. Ia hanya yakin ada hal yang tak sederhana di hidupnya itu.
Bukannya ia menolak untuk disebut pendosa. Ia yakin dirinya di masa lalu punya penyesalan yang luar biasa, dan karena itu dulu dirinya memutuskan untuk menebas lehernya sendiri. Akan tetapi, tak semua orang punya kesempatan untuk hidup kembali dan memperbaiki hidup kacaunya.
Yi Hua mengangkat tangannya dengan gestur mengejek. "Benar sekali, Peramal Cao. Saya bukanlah siapa-siapa. Terganggu atau tidaknya Yang Mulia bukanlah apa yang bisa saya ubah. Bagi saya ... Melihat orang yang dicintai dari dekat itu sudah cukup," ujar Yi Hua yang sengaja ingin memancing emosi Cao Han.
Bukan karena ia menyukai Raja Li Shen. Itu adalah perasaan Yi Hua asli. Sesuatu yang tak bisa dirinya ubah. Walau pada akhirnya Yi Hua asli juga dihancurkan oleh perasaannya sendiri. Percayalah jika Yi Hua asli tak pernah ketahuan menyukai Raja Li Shen mungkin dia tak akan menjadi bahan ejekan orang lain. Ditambah lagi dengan Yi Hua asli yang tak bisa menahan bicaranya dan selalu dianggap pembohong.
Benar saja, Cao Han semakin geram padanya. Cao Han terlihat seperti siap untuk mengajak Yi Hua untuk berduel. Peramal itu mengirimkan boneka kertasnya untuk menyerang Yi Hua. Akan tetapi, dengan mudahnya Yi Hua merobek boneka kertas yang terbang ke udara itu.
Tentu saja dengan kertas jimatnya. Yi Hua tak akan kalah dari Cao Han ini. Beberapa peramal lainnya berusaha untuk memisahkan Cao Han dan Yi Hua. Jelas bukan karena mereka perduli, tetapi lebih pada mereka tak mau ruangan kerja mereka berantakan.
"Yi Hua, orang yang tak bisa bela diri sepertimu bagaimana bisa menggunakan kertas jimat?" tanya Cao Han dengan tatapan menuduh.
Lalu ia mencoba menyerang lagi ke arah jantung Yi Hua.
TAS!
Yi Hua menepisnya dengan meminjam gulungan kertas di lemari samping Yi Hua. Akibat tepisan Yi Hua itu, boneka kertas milik Cao Han mendarat pada buku-buku di belakang mereka. Tentu saja itu berkenaan dengan pembelajaran tentang perbintangan dan pembelajaran ramal-meramal.
BRAK!
Cao Han semakin berang dengan Yi Hua. Bukankah peramal ini tampak berbeda dari biasanya? Dia lebih aktif dan terlihat ... memiliki kekuatan di dalam dirinya. Akan tetapi, jelas-jelas Yi Hua tak lulus dalam pelatihan bela diri sebelumnya.
__ADS_1
"Berhenti kalian berdua! Jika ingin bertarung, lanjutkan di luar," ucap peramal senior pada mereka berdua.
Cao Han menghentikan penyerangannya, dan memberikan gestur untuk penghormatan. "Saya meminta maaf atas kekacauan ini, Senior Jang. Hanya saja saya ingin memberi pelajaran pada Yi Hua yang lancang ini."
Bukankah sejak awal Cao Han yang memulai?
Namun jelas-jelas para rekan di ruangan ini akan menyalahkan Yi Hua juga. Entah mengapa Yi Hua merasa maklum. Ia hanya mengangkat bahunya tak perduli.
"Peramal Yi, jaga sikap kau di sini. Jangan sampai keburukan dirimu merusak pekerjaan orang lain," sindir Senior Jang pada Yi Hua.
Yi Hua membungkukkan tubuhnya dengan cara yang sama seperti Cao Han. Jelas karena Yi Hua dikenal sebagai seorang pria di Kerajaan Li. Sehingga dia terbiasa memberi penghormatan dengan gaya pria.
"Maaf karena merusak hari baik ini, Senior Jang. Yi Hua mengaku bersalah," jawab Yi Hua seadanya.
Cao Han menatap penuh kemenangan pada Yi Hua. Akan tetapi, ketika Yi Hua menegakkan tubuhnya, Yi Hua langsung memberikan wajah sombongnya yang biasanya.
"Hanya saja saya merasa di ruangan ini sangat kurang kerjaan, sehingga kalian sangat mudah mencampuri urusan orang lain," balas Yi Hua dengan dagu terangkat.
Ini bukanlah apa yang disengaja olehnya. Dia hanya bertingkah menjadi Yi Hua.
"Kau ..."
Yi Hua melambaikan tangannya dengan malas. "Lagipula, berbicara tentang bukan apa-apa di Kerajaan Li. Bukankah kalian sama? Anda juga bukan siapa-siapa. Jika kalian memang menganggap saya menggunakan koneksi hingga berperan dalam misi besar, maka anggap saja begitu."
Ia tak perduli.
Lagipula, meski Yi Hua menjelaskan apapun pada mereka, tak akan ada yang mengerti. Sebab, mereka tak akan mencari cerita yang sebenarnya. Yang mereka cari hanyalah cerita dan rumor untuk menjatuhkan.
"HuaHua, aku rasanya ingin menulis daftar orang-orang yang ingin membunuhmu. Mungkin suatu saat anak cucuku bisa tahu jika ada makhluk seperti dirimu," ujar Xiao yang selalu mengesalkan seperti biasanya.
Kau bahkan tak jelas asal-usulmu. Bagaimana tentang anak cucumu, Xiao? Apakah dia sistem juga?
Xiao malas berdebat dengan Yi Hua karena dia tak punya jawaban sebenarnya.
"Yi Hua, jika kau berniat lebih dekat dengan misi penting Kerajaan hanya agar dekat dengan Yang Mulia, maka hentikan. Hanya menunggu waktu hingga Yang Mulia akan memberi perintah untuk memenggal kepalamu," teriak Cao Han yang terima.
Namun Yi Hua mengorek telinganya seolah mendapat suara buruk. "Setidaknya saya berusaha, Peramal Cao. Anda tak tahu bukan jika saya punya kesempatan." Yi Hua sepertinya sangat senang untuk membuat Cao Han darah tinggi.
Yi Hua mengangkat bahunya tak perduli. Ia melenggang pergi menuju pintu untuk menemui Liu Xingsheng. Sebelum Perdana Menteri rusuh itu mendatanginya karena ia lambat bergerak.
DRAK!
Lagipula, adik tercintanya yang pendendam itu tak akan tahu ...
Yi Hua yang baru membuka pintu langsung terpaku. Terutama ketika mata tajam Li Shen tertuju padanya. Namun tak terlalu bengis seperti dulu. Mungkin Li Shen telah menurunkan kadar kemarahannya pada Yi Hua.
Akan tetapi, ... Jika Li Shen sejak tadi ada di luar ruangan ini, mungkin pria ini mendengar pembicaraan mereka.
Ya ampun. Salah paham! Yi Hua langsung menempel ke pintu karena dia ketakutan sendiri. Wajahnya mau ditaruh dimana setelah berkata hal memalukan itu. Di depan orangnya lagi.
Li Shen membuang pandangannya hanya agar tak bertemu dengan Yi Hua. "Bukankah setiap kali aku melihatmu kau bertambah lincah, Peramal Yi?"
"Emm ... Hamba sedang mencoba untuk mengukur ketebalan pintu ini," jawab Yi Hua asal sambil menggosok-gosok pintu karena kurang kerjaan.
Bukankah peramal ini tampak semakin berbeda dari biasanya? Entah karena apa, tetapi peramal ini bisa menarik pandangan orang lain dengan tingkahnya. Apa yang salah dengan peramal ini?
Senior Jang mendekat ke arah Li Shen. Wanita setengah baya itu menundukkan tubuhnya, "Kesejahteraan menyertai Yang Mulia Raja Li. Semoga Yang Mulia panjang umur. Maafkan kelancangan peramal kami, Yang Mulia. Dia memang bermulut kotor."
Jelas sekali Senior Jang sengaja menimbulkan kesalahan Yi Hua. Itu semua agar menyulut kemarahan dari Li Shen. Memang susah sekali jika memiliki musuh dimana-mana.
Yi Hua menundukkan tubuhnya, "Kesejahteraan menyertai Yang Mulia Raja Li. Semoga panjang umur."
Ia jelas tak berani mengangkat kepalanya. Yi Hua tak tahu bagaimana ekspresi dari Li Shen. Salah-salah Li Shen akan menebas kepalanya langsung di tempat. Apalagi dengan ucapan Yi Hua tadi. Itu bukan apa, tetapi lebih ke malunya itu loh! Ini terlihat jika Yi Hua masih berharap Li Shen membalas cintanya.
Li Shen memperhatikan pucuk kepala Yi Hua yang masih menunduk. "Aku hanya melewati tempat ini."
Dari sekian banyak kawasan istana, mengapa harus lewat di depan ruangan kerja peramal?
Yi Hua ingin mengomel pada Li Shen ini. Namun dia jelas tak mau mengorbankan hari baiknya ini. Baru saja ia menikmati hari tenangnya setelah kekacauan sebelumnya.
__ADS_1
TAP!
TAP!
Lalu, Li Shen pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Hal itu membuat Yi Hua mengerutkan keningnya tak mengerti. Bukankah Li Shen biasanya akan menatap Yi Hua seperti ingin mencekiknya?
Apa Li Shen tak mendengar pembicaraan mereka di dalam ruangan? Namun ruangan para peramal ini tak terlalu tebal dindingnya. Sehingga tak mungkin Li Shen tak mendengarnya.
"HuaHua, pria itu berada cukup lama di luar ruangan. Aku bisa merasakan kehadirannya," jelas Xiao.
Kenapa kau tak bilang?
"Kau tak bertanya."
Dan terjadi lagi. Xiao memang terkadang mengesalkan seperti ini.
"Aku pikir semuanya perlu dipikirkan terlebih dahulu, Peramal Yi," ujar Li Shen sebelum benar-benar pergi dari hadapan Yi Hua.
Hal itu membuat Yi Hua ingin menangis. Apa maksudnya perlu dipikirkan?
Xiao ... Aku padahal hanya bercanda, mengapa dia menganggap serius?
Yi Hua hanya ingin mengamuk ketika bertemu dengan Liu Xingsheng. Ditambah lagi ketika ia datang, wajah menjengkelkan Liu Xingsheng. Tentu saja Liu Xingsheng tak menyia-nyiakan bantuan apapun dari Yi Hua. Termasuk ...
"Dalam beberapa hari lagi merupakan perayaan lentera untuk para Dewa. Kau harus membantuku karena kerajaan seringkali mengadakan pertunjukan untuk sebagai hiburan. Dan, pada perayaan kali ini aku ditunjuk, Yi Hua. Kau harus membantuku! Benar! Kau harus membantuku," ujar Liu Xingsheng yang mengguncang bahu Yi Hua.
BRAK!
Baru saja Yi Hua ingin menjawab, peserta baru masuk ke dalam ruangan. Tanpa menoleh pun Yi Hua tahu siapa yang datang. Apalagi jika Liu Xingsheng membuat keributan, maka pengasuhnya akan mengamuk.
"Liu Xingsheng, aku mendengar jika kau yang diperintahkan untuk mengatur pertunjukan istana. Mengapa dari sekian banyak orang, kau yang diperintahkan?" teriak Selir Qian yang membuat Liu Xingsheng semakin tersudut.
Yi Hua hanya bisa menghela napasnya saat dihadapkan oleh situasi ini.
Liu Xingsheng membawa Yi Hua untuk ikut-ikutan duduk bersila agar bisa diadili oleh Selir Qian. Yi Hua sebenarnya bingung mengapa Liu Xingsheng membawanya untuk ikut merenung. Masalahnya adalah ini pasti karena pejabat yang menekan Liu Xingsheng. Seperti menguji kesanggupan Liu Xingsheng dalam mengatur acara. Kemudian, Liu Xingsheng dengan mudahnya terpancing untuk menyetujui itu semua. Memang seperti itu Pengadilan Tinggi. Jika terlalu panas dan tak bisa mengendalikan diri, kau bisa terbakar di sana.
Selir Qian jelas mendengar tentang hal itu, dan langsunh mendatangi Liu Xingsheng.
Yi Hua langsung menuju pada pembicaraan yang sebenarnya, "Jadi, apa yang ingin ditampilkan oleh Perdana Menteri Liu nantinya di perayaan?"
Selir Qian juga menatap Liu Xingsheng. Hal itu membuat Liu Xingsheng langsung menjawab. Namun tatapan Liu Xingsheng agak berbeda kali ini.
"Aku ingin mengadakan pertunjukan persembahan Dewa," jelas Liu Xingsheng tiba-tiba.
Selir Qian menghela napasnya. "Mengapa kau ingin mengambil cerita itu sebagai pertunjukkan?"
Yi Hua mendengarkan dengan baik penjelasan dari Xiao tentang cerita itu. Ia hanya ingin tahu mengapa ekspresi Selir Qian menjadi agak berubah.
"Katanya, ada anak di salah satu desa di Kerajaan Li yang memiliki keberuntungan yang sangat besar. Misalnya di musim menanam padi, dan tahun itu harusnya gagal panen, tetapi karena anak itu menyentuh tangkai padinya, maka tidak akan mungkin gagal panen. Jadi, dalam cerita mulut ke mulut ialah banyak yang ingin bertukar nasib dengannya. Apalagi saat persembahan Dewa tak diterima hingga menyebabkan banjir besar. Lalu, anak ini diminta untuk mewakili persembahan Dewa, sehingga persembahan ini diterima," jelas Xiao dengan penjelasannya yang seringkali menimbulkan pertanyaan baru.
Jika anak itu benar-benar ada, aku ingin memintanya untuk menarik kesialan di hidupku.
"Baiklah. Kau bisa meminta Huan Ran untuk membantumu juga," perintah Selir Qian lagi.
Liu Xingsheng menampilkan wajah sedih. Mungkin inilah mengapa Liu Xingsheng kalah berdebat di Pengadilan Tinggi. "Kakak Huan punya pekerjaan lain, kak. Dia tak akan kembali ke Kerajaan hingga sampai perayaan selesai."
Yi Hua berpikir beberapa hari ke depan akan sangat sibuk. Padahal Yi Hua ingin pergi ke Gunung Hua. Sebab, di malam Perayaan Lentera, gerbang Gunung Hua terbuka lagi. Yi Hua perlu datang ke sana untuk mengembalikan pedang sekaligus membakar Istana Awan milik Hua Yifeng.
Sayangnya, Yi Hua harus menundanya terlebih dahulu.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1
***