
SRAT!
Lalu, pemandangan di sekitar Yi Hua berubah. Lebih tepatnya ini seperti sebuah mimpi yang terpotong-potong. Tidak ada hal yang jelas dari semua itu. Yang ia tahu bahwa dia dilanda rasa mual yang cukup dalam.
Namun ketika pandangannya lebih jelas lagi, rasa mual yang melanda semakin kencang. Itu bukan lagi prahara sederhana, terutama ketika ia melihat sesosok gadis tengah duduk di sebuah bangku. Rasa dingin melanda hati Yi Hua.
Mengapa tiba-tiba dia di sini?
Bukan! Ini bukan yang Yi Hua alami, melainkan Fang Yin.
Jika bukan karena bubuk tulang rawan ini, Fang Yin mungkin akan dengan mudah melarikan diri. Namun siapa sangka jika bubuk tulang rawan itu ternyata bercampur dengan pewarna bibirnya. Sepertinya salah satu pelayan yang melakukan hal ini padanya.
Dengarkan semua ini ...
Bubuk tulang rawan biasanya jika digunakan cukup banyak, maka itu bisa membuat sapi tak bisa berlari lagi untuk sementara waktu. Sehingga jika diberikan pada manusia, jelas akan membuat efek yang sangat besar. Hal itu yang membuat Fang Yin hanya bisa mengedipkan matanya seperti orang bodoh.
Atau ...
"Nona, jangan menyalahkan apapun."
Mata Fang Yin menyipit pada sosok yang ia selalu panggil Paman itu. Bagaimana pun dia tumbuh dengan melihat kebaikan hati dari pria itu. Akan tetapi, sepertinya dia telah cukup salah paham tentang ini semua.
"Ini semua hanya karena dia tak mencintai saya." Pria itu menunjuk ke arah sosok gadis yang menggunakan pakaian yang agak terbuka.
Sekali melihat saja Yi Hua bisa menebak identitas gadis itu. Pasti dia salah satu pekerja rumah cinta. Sebab, sangat jarang seorang kecantikan menampilkan bagian tubuhnya dengan mudah. Apalagi dengan gaya berpakaian sekarang yang cukup tertutup, dan berlapis-lapis.
Bukankah gadis yang terikat di atas bangku itu adalah kecantikan pertama yang hilang?
Yi Hua ingat tentang identitas kelima belas korban yang tercatat. Orang pertama adalah gadis rumah cinta yang terkenal. Akan tetapi, Yi Hua tak menyangka jika korban pertama ini akan berhubungan dengan Fang Yin, korban kedua dari kasus ini.
Ini cukup gila sesuai dengan apa yang Yi Hua pikirkan.
Ia bisa melihat gadis rumah cinta itu meneteskan air matanya. Memohon untuk dilepaskan, tetapi Fang Yin jelas tak bisa melakukan apa-apa. Dia sudah merasa lemah akibat bubuk tulang rawan. Jangankan mengangkat pedang, untuk menyumpahi paman itu saja Fang Yin tak bisa.
"Saya telah membuat keributan besar hingga saya tak bisa membawa Nona Mu pergi dari Kerajaan Li. Oleh karena itu, ..."
Dia hanya ingin menimbulkan keributan besar lainnya agar bisa mengalihkan perhatian. Itulah yang dipikirkan oleh Paman ini. Sayangnya, dia cukup berani ketika meletakkan hidung pada Nona-nya ini. Terutama dia menculiknya di hari pernikahan Fang Yin dengan Pejabat Tinggi Zhang Yi.
Apa yang harus ku lakukan?
Yi Hua bisa mendengar apa yang diutarakan Fang Yin di dalam pikirannya. Dia sangat mengerti bahwa Fang Yin begitu frustasi dengan ini semua. Ditambah lagi ia sudah berjanji akan bertemu dengan Zhang Yi di altar pernikahan mereka.
SRET!
Fang Yin memiliki kemampuan yang sedikit memadai. Yi Hua melihat Fang Yin berusaha mengangkat jarinya untuk menggerakkan boneka kertas di sakunya. Walau sesekali kertas itu terjatuh, tetapi Fang Yin adalah orang yang berkemauan keras.
KRAT! KRAT!
Selagi Paman itu menjelaskan banyak hal tentang betapa cinta dan gilanya ia pada gadis yang ditangkapnya itu, Fang Yin berusaha mengarahkan boneka kertas untuk mencari penawar di sekitar ruangan. Sayangnya, itu terjadi cukup lama, dan Fang Yin yakin bahwa Paman ini tidak menyimpan penawarnya.
Dia hanya orang yang cukup berani memberi bubuk berbahaya itu tanpa ada penawarnya.
Satu-satunya cara ialah menunggu keadaannya pulih, dan Fang Yin akan menyerangnya. Akan tetapi, Paman ini juga bukannya orang biasa. Dia juga memiliki kemampuan untuk bertarung. Sehingga ...
"Mengapa kau tak pernah mengerti?!"
Jangankan Fang Yin, Yi Hua yang masih ada di sana juga ikut terkejut. Terutama ketika melihat Paman itu dan Nona Mu, gadis rumah cinta, tengah berdebat. Karena Fang Yin tak terlalu fokus mendengarkan, dia tak tahu apa yang terjadi. Sedangkan Yi Hua, dia hanya mengikuti sudut pandang Fang Yin.
Kenapa bisa mereka terlibat dalam perdebatan cinta seperti ini?
Yah, gadis rumah cinta itu selalu menyajikan cinta pada para tamunya. Sehingga Yi Hua tak bisa menyalahkan Nona Mu yang tak mencintai Paman itu. Dia hanya memberi musim semi dengan penuh cinta jika dibayar. Cinta yang diberikan Nona Mu dalam musim semi mereka hanyalah semu. Itu hanya berdasar dari pelayanan. Tidak ada cinta sungguhan di sana.
Dengan kata lain, Paman ini begitu terhanyut oleh cinta sehingga ingin memiliki kecantikan ini sendirian.
Sebenarnya ini bukanlah urusan Fang Yin ataupun Yi Hua. Hanya saja ini menjadi sedikit menjengkelkan karena Fang Yin harus terlibat dalam hal ini. Akan tetapi, tak semua orang tahu kapan dia akan sial. Itu yang Yi Hua pahami.
Namun Yi Hua bisa melihat bahwa Fang Yin sudah lebih baik dari sebelumnya. Ini sudah cukup lama setelah ia diberi bubuk tulang rawan, sehingga Fang Yin tak begitu lemah seperti sebelumnya. Hal itu membuat Fang Yin segera menarik kembali boneka kertasnya.
"Potong," bisik Fang Yin pada boneka kertas yang bergerak lincah itu.
Sungguh gadis yang bertalenta. Sayangnya, Yi Hua sudah tahu bagaimana akhir dari ini semua.
Bukankah ini sedikit aneh saat kau melihat saat-saat kematian orang lain?
KRAT! KRAT!
Suara gigitan itu seperti suara gigitan tikus. Itu terjadi sangat kecil, hingga tak akan menggangu atau membuat bising. Apalagi Paman itu masih mengguncangkan bahu Nona Mu yang terikat. Belum lagi dengan suara bentakan dari paman itu yang bising.
"Kau gila, Tuan!" bentak Nona Mu yang sebenarnya sudah sangat jengkel dengan ini semua.
Ditambah lagi dengan rasa takut yang dimilikinya. Paman ini sudah cukup gila hingga membuat Nona Mu merasa ketakutan. Pada akhirnya, Nona Mu hanya menatap pada Fang Yin yang berusaha bertingkah seperti sebelumnya.
__ADS_1
Ia tak boleh membiarkan Paman itu tahu bahwa Fang Yin sudah mulai terlepas dari efek bubuk tulang rawan.
SRET!
"Paman, hentikan!" ucap Fang Yin lemah. Suaranya masih belum kembali seperti normal, tetapi ia rasa itu cukup untuk menghentikan tindakan gila Paman itu.
Pasalnya, Paman itu sudah merenggut kepala Nona Mu hanya untuk dipukulkan ke tembok. Itu terjadi dengan cukup kuat hingga Fang Yin bisa melihat aliran darah di pelipis Nona Mu. Meski begitu, Paman itu masih cukup gila untuk melakukannya secara berkali-kali.
"Dia tak mencintaiku, Nona. Mengapa dia tak mencintaiku?"
Orang ini ...
Yi Hua hanya menjadi kesadaran yang tak memiliki kuasa untuk bertindak sendiri. Akan tetapi, dia cukup jengkel dengan apa yang terjadi. Sulit rasanya berbicara dengan orang yang tak bisa mengerti bahasa manusia dengan baik.
Jika ada Xiao di sini, dia mungkin bisa mengomentari orang ini dengan lebih hebat.
Sayangnya, Yi Hua hanya bisa menjadi penonton dari adegan buruk ini. Terkadang orang seperti Paman inilah yang perlu diberikan komentar terjujur yang pernah ada. Dia perlu disadarkan agar tidak terlalu banyak menginjak awan.
Selain letaknya di langit, tetapi juga dia hanya partikel yang tak bisa dipijak. Pada akhirnya, kejatuhan akan selalu terjadi jika terus menginjak dan percaya pada awan yang mengambang. Entah bagaimana perihal ini bisa terpikir di dalam otak Yi Hua, tetapi dia merasa sekarang dia perlu orang jujur untuk menanggapi Paman ini.
Namun di atas segalanya, ia menyadari bagian pentingnya belum datang. Sejak awal dia memasuki kenangan ini, dia sudah tahu bahwa akan ada akhiran yang buruk untuk ini semua.
Namun yang ia pikirkan ialah bagaimana dengan Zhang Yi yang tengah menunggu Fang Yin di altar pernikahan?
SRET!
Tali yang mengikat Fang Yin perlahan terlepas. Dengan kekuatannya yang tersisa, Fang Yin menggerakkan boneka kertas itu untuk menyerang Paman itu. Akan tetapi, Paman itu dengan mudahnya menghindar.
Itu seperti yang sudah Fang Yin duga. Paman ini bukanlah orang biasa yang tak bisa berkultivasi.
"Harusnya saya tahu bahwa Nona tak mungkin akan kalah hanya karena bubuk tulang rawan itu."
Fang Yin berusaha menegakkan tubuhnya sambil berpegangan pada dinding. Matanya menatap Paman itu dengan tajam, walau sejatinya itu tak begitu mengintimidasi. Paman itu sudah cukup gila untuk memberi hormat pada Nona yang dilayaninya ini.
"Lepaskan dia, Paman. Paman membuatnya terluka. Biarkan dia berbicara dengan Paman, dengarkan dia," ucap Fang Yin yang kali ini menyesal karena dia tak membawa pedang.
Ini semua karena dia tengah mengenakan gaun pengantin. Lagipula, siapa yang pernah berpikir jika dia akan memerlukan pedang saat hari pernikahannya sendiri. Sehingga Fang Yin hanya bisa bertarung dengan benda-benda yang ada di sekitarnya.
"Nona, saya sudah bicara. Dia yang tak mendengarkan saya!" tunjuk Paman itu pada Nona Mu yang bersimbah darah di wajahnya.
Gadis rumah cinta itu masih terlihat sadar, tetapi itu tak cukup untuk mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Kepalanya pasti sudah cukup pusing karena terbentur. Ditambah lagi sekarang dia mengalami pendarahan di kepalanya.
Fang Yin mengarahkan boneka kertasnya untuk menjauhkan Paman itu dari Nona Mu. Hal itu berhasil dilakukan, dan Paman itu menjauh. Fang Yin segera mendekat ke arah Nona Mu, tetapi terhenti ketika Paman itu menyerang Fang Yin dengan pedangnya.
Gadis itu berhasil mengelak, dan pedang itu hanya menebas udara. Fang Yin mundur lagi hanya untuk memberikan tendangan pada Paman itu. Dan, itu mengenai dadanya.
Sekarang pakaian pengantin serba merahnya sudah tak rapi lagi. Namun Fang Yin tak begitu perduli dengan keadaannya. Dia hanya berpikir bahwa dia hanya ingin kembali pada seseorang.
Seseorang yang telah memegang janji bersamanya. Mereka akan bertemu di altar pernikahan.
Paman itu terjatuh di lantai yang kotor. Hal itu membuat Fang Yin segera memerintahkan boneka kertasnya untuk membebaskan Nona Mu dari tali yang mengikatnya. Setelah itu, di saat Fang Yin berpikir semuanya telah berakhir, ia segera menekan titik beku milik Paman itu.
Yi Hua mendadak ingin bertepuk tangan dengan adegan ini. Fang Yin seperti apa yang diceritakan. Dia adalah kecantikan yang sangat istimewa, sehingga tak aneh jika Zhang Yi langsung mencintainya di kali pertama mereka bertemu.
Namun tatapan Fang Yin menjadi teralih tiba-tiba ketika di sisi kirinya tampak gerakan. Itu memang tak cukup cepat dan jelas tak terlatih. Akan tetapi, Fang Yin sebenarnya tak menyangka ini akan terjadi.
CRASH!
"Tidak!!" Tanpa sadar Yi Hua berteriak, meski tak ada yang tahu bahwa dia berteriak. Tak ada yang mendengarnya.
Fang Yin terpaku ketika melihat pedang yang tampak bersemi di dadanya. Pedang itu menarik warna merah yang sangat serasi dengan warna pakaian pengantinnya. Rasa sakit menumpulkan inderanya, dan pandangan Fang Yin langsung mengabur.
Bukankah sudah pernah aku katakan sebelumnya?
Kau tak pernah tahu kapan kau akan begitu sial. Terkadang kau takut pada sesuatu yang besar dan agak menakutkan, tetapi itu seringkali membuatmu bisa mengatasi karena kau takut. Namun apa kau pernah mendengar bahwa kau cenderung harus waspada pada seseorang yang panik?
Entah kapan Nona Mu meraih pedang yang terlempar ke lantai. Akan tetapi, seharusnya Fang Yin tak begitu ceroboh dan memilih untuk memeriksa Nona Mu. Sehingga ia bisa memastikan bahwa gadis rumah cinta ini tidak membuat masalah dari kepanikannya.
"Aku tidak ..."
Nona Mu tampak bergetar ketika tahu apa yang ia lakukan. Selain wajahnya yang berlumuran darah, kini tangannya juga berlumuran darah. Dirinya yang diliputi oleh kepanikan dan rasa takut, berniat untuk menyerang pria itu.
Jelas ini ketidaksengajaan. Dan, itu terasa sangat menyebalkan untuk disebut lagi.
BRUK!
Hey, apakah benar ini terjadi dengan begitu konyolnya?
"AKHHH!!!" Nona Mu berteriak sambil menjauhkan dirinya dari Fang Yin yang terduduk di lantai.
__ADS_1
Yi Hua menatap tak percaya pada pemandangan di depannya. Ia bisa melihat air mata Fang Yin yang mengalir. Wajahnya menampilkan bentuk ketidakpercayaan pada takdir. Meski begitu, dia tak bisa apa-apa.
Ia tak bisa meraung, dan mengubah takdir yang ada.
"Aku tak bisa menepati janjiku, Pejabat Zhang Yi," bisik Fang Yin sebelum terjatuh ke lantai.
Darah bersimbah di lantai membentuk keindahan yang begitu menakjubkan. Warna merah yang kontras membuat sosok Fang Yin yang cantik terlihat begitu bersinar. Meski begitu, apa yang indah dari sebuah kematian?
"Maafkan aku! Aku tidak sengaja! Tidak!" Teriakan Nona Mu terus melebur di telinga Fang Yin.
Ia menyadari bahwa suara itu terus menjauh hingga ia tak tahu lagi siapa yang bersuara.
Lagipula, kata maaf itu sejatinya tak bisa mengubah apa-apa. Lalu, apa arti dari kata maaf ini sebenarnya?
Yi Hua tak tahu. Fang Yin juga begitu.
Pada akhirnya, dia tak bisa mengatakan maaf untuk Zhang Yi.
Fang Yin tak bisa datang ke altar pernikahan mereka. Tak akan pernah bisa.
***
"Maafkan aku."
Yi Hua menangis dalam tidur tenangnya. Namun ia tak pernah tahu darimana munculnya perasaan sedih ini. Apakah itu dari Fang Yin yang bersedih? Atau karena Yi Hua sendiri yang tengah bersedih.
Lebih tepatnya ketika kesadaran Yi Hua kembali padanya, ia menyadari bahwa ia telah membasahi bantal yang menampung kepalanya. Yi Hua perlahan bangkit hanya untuk mengusap air matanya sendiri.
Setelah itu, ia mengedarkan pandangannya hanya untuk mengingat kejadian sebelum ia dibawa ke pengalaman kebatinan. Yah, dia menyebutkan begitu karena nyatanya jiwanya yang terbawa dalam kenangan itu. Sehingga dia bisa mengatakan bahwa mungkin Fang Yin sekadar ingin menunjukkan apa yang terjadi sebenarnya.
"Yi Hua, saat kau menangis, aku pikir kau kerasukan." Itu adalah ucapan pertama Xiao ketika Yi Hua sadar.
Namun ini tak hanya selesai di persoalan Fang Yin. Lima belas korban yang berjatuhan itu sebenarnya bukanlah jumlah yang sedikit. Yi Hua harus kembali untuk menyelesaikan kasus ini.
"Apa kau sudah sadar?"
Tatapan Yi Hua teralih pada sosok cantik dengan pakaian putihnya. Dari riasannya, Yi Hua sudah mengenalinya dengan baik. Terutama dengan nada sombong yang ia dengar dari bibir wanita itu.
Ini Selir Qian.
"Selir Qian ... Hamba ..."
SRET!
Ucapan Yi Hua terhenti ketika Selir Qian menuju ke arahnya. Lalu, wanita itu menempelkan telapak tangannya di dahi Yi Hua. Merasakan suhu badan dari Yi Hua.
"Kau sudah membaik. Beruntung kau masih kembali 'utuh', walau kau diberikan afrodisiak," sindir Selir Qian untuk mengingatkan kembali Yi Hua pada kejadian itu.
Yi Hua menghela napasnya. Ia tak tahu bagaimana berkomentar tentang ini semua.
Namun ...
Bukankah saat Yi Hua dalam pengaruh afrodisiak, An ada di sana?
Yi Hua mencoba mengingat apa yang terjadi. Namun yang tampil di pikirannya hanyalah bayangan-bayangan aneh. Terutama saat An mendekatkan wajahnya pada Yi Hua yang menggebu-gebu dilanda panas. Dia sangat terpancing karena afrodisiak, walau An, dalam ingatan Yi Hua cukup tenang.
Namun ...
An memegang rahangnya. Kemudian, pria itu juga seingat Yi Hua mengusap bibirnya, dan ...
Mulut Yi Hua terjatuh begitu saja. Ia tak bisa mengingat apa-apa lagi setelah itu.
Apa yang terjadi setelah itu?
Apa aku ... Tidak, kami ...
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Maaf cerita ini sangat lambat up-nya. Sekali lagi ... Banjir di tempatku masih belum surut. Hanya tersisa beberapa jari sebelum air masuk ke rumah. Yah, anggap saja itu alasan yang membuat cerita ini lambat up. Walau ada alasan lainnya, yaitu aku kurang piknik.
Tidak ada ide.
Makanya, jika chapter ini jatuhnya semakin kacau, mohon dimaafkan. Kita masih dalam suasana Idul Fitri loh. Jadi, harap bersabar dengan keanekaragaman yang aneh di cerita-cerita author ini.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1