Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Perdana Menteri Baru 2


__ADS_3

BRAK!!


Yi Hua dengan semangat memakan mie dari mangkuk yang masih mengepul di depannya. Ia bahkan tak perduli pada sosok yang baru datang itu. Ditambah lagi sosok ini datang dengan penampilannya yang agak berbeda.


Yue Yan datang dengan penampilan lebih rapi dari biasanya.


"Yi Hua, kau menipuku sialan! Katanya, kau mau memberikan Lingkaran Mawar itu padaku!" teriak Yue Yan yang berkoar-koar karena marah.


Sesuatu yang sudah Yi Hua duga.


Kali ini Yi Hua mengangkat lagi untaian mie panas di depannya dengan sumpit. Sebelum memasukkannya ke dalam mulut, ia mempersilahkan Yue Yan duduk di hadapannya dengan sopan. Bagaimana pun suatu saat nanti Yue Yan ini akan menjadi Perdana Menteri. Kalau Yue Yan selesai dilatih sepertinya.


"Karena kau naik jabatan, mie ini kau yang bayar." Setelah itu Yi Hua memasukkan mie itu ke dalam mulutnya. Menyeruputnya dengan keras tanpa memperdulikan Yue Yan yang siap mengamuk.


Yue Yan baru saja ingin menggebrak meja langsung ditatap tajam oleh Paman pemilik kedai mie. Pasalnya, Yue Yan ini adalah seorang petarung. Pukulannya tidak sama dengan orang biasa. Sehingga jika Yue Yan menggebrak meja sekali lagi maka meja itu mungkin akan retak.


"Saat aku datang ke tempat yang kau maksud, kau tidak ada di sana. Tapi ada Raja Li Shen! Setiap kali aku ingin bicara, para prajurit di sana menekan kepalaku untuk menunduk! Yi Hua sialan, apa kau mempermainkan aku?" Bentak Yue Yan yang selalu membawa sumpah serapah di dalam ucapannya.


Yi Hua sudah tahu jika Yue Yan pasti akan merusuh di sana. Oleh karena itu, ia meminta Wei Qionglin menyiapkan pasukan. Yah, itu tidak aneh, bukan?


Yue Yan tak tahu dimana jatuhnya hujan langsung diminta menadah air. Pria itu tak tahu apapun, dan Yi Hua langsung menyarankan dirinya menjadi Perdana Menteri. Ini seperti makhluk yang sering hidup di hutan seperti Yue Yan disuruh menjadi pejabat.


Yi Hua meletakkan sumpitnya di samping mangkuk. Isi mienya telah habis hanya tersisa kuah yang masih hangat. Akan tetapi, ia perlu menjelaskan semuanya pada Yue Yan.


"Jadilah Perdana Menteri untuk menggantikan Perdana Menteri Huan ... Ah tidak ... Kau tahu bukan jika Bao Jiazhen sudah ketahuan?" tanya Yi Hua sambil mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan.


Tatapannya langsung pada Yue Yan yang menggelengkan kepalanya. Siap mengamuk lagi.


"Yi Hua sialan, apa kau pikir aku ini bodoh? Tipuan macam apa yang kau beri itu? Kau tidak mengucapkan terima kasih atau apapun setelah aku membantu kalian di tempat bajing*n Bao Jiazhen itu!" maki Yue Yan keras.


Ini susah sekali!


Xiao di telinga Yi Hua seperti biasa juga ikut-ikutan mengeluh. "Apa kau yakin ini disebut membantu adikmu? Bukannya kau malah membuat hancur Kerajaan Li dengan meletakkan bandit tak jadi seperti Yue Yan?" tanya Xiao tak habis pikir.


Yi Hua meminum kuah mienya sampai tandas. Makanan lebih utama dari segalanya. Dan, setelah itu ia kembali berbicara.


"Ini bukan main-main, aku memang menyarankan agar kau dilatih menjadi Perdana Menteri," ujar Yi Hua tenang.


Yue Yan siap mengeluarkan ular-ularnya jika Yi Hua masih berbicara tak jelas. Namun Yi Hua sudah menarik kertas jimatnya, pertanda Yi Hua juga siap membekap mulut Yue Yan dengan segel penutup.


"Apa orang-orang terhormat di Kerajaan Sialan ini tak ada lagi? Mengapa kau menyuruhku masuk ke Kerajaan ini? Kau tahu sistem seperti ini membuat aku ..."


Ucapan Yue Yan terhenti ketika Yi Hua mengetuk meja dengan jari telunjuknya. "Lalu, apa semua berlalu hanya dengan kau hidup bersama ular-ularmu? Kemudian akan ada akhir bahagia, dan kau tak pernah mengerti mengapa Shen Qibo melakukan semuanya sampai di sini?" tanya Yi Hua dengan nada tenang.


Pada kenyataannya semua seperti kembali ke awal. Sejauh apapun mereka menyelediki banyak hal, tetapi 'apa' yang diketahui Shen Qibo tetap menjadi misteri. Setelah itu, Selir Qian juga pergi begitu saja padahal wanita itu seperti telah membuka gambaran besar.


Metode Cangkang Manusia ... Itu seperti peningkatan hasil. Dimulai dari kegagalan Hua Yifeng. Berlanjut pada percobaan yang dilakukan orang-orang karena mereka keingintahuan. Kemudian, keberhasilan Liu Xingsheng dihidupkan kembali.


Shen Qibo yang disebut menghabisi penduduk satu desa ternyata mengungkapkan fakta bahwa ada banyak tulang belulang manusia yang tersembunyi. Mengapa dahulu Tentara Malam sebisa mungkin menyembunyikan hasil korbannya?


Tidak mungkin kan Tentara Malam membunuh hanya untuk kesenangan? Memangnya mereka gila?!


Kebanyakan dari mereka memiliki keluarga, walau keluarga mereka sendiri tak tahu jika salah satu anggota mereka adalah seorang Tentara Malam. Lalu, Shen Qibo membantai pasukan Tentara Malam pada waktu itu. Atas dasar apa?


Ini seperti semua 'mulut' berusaha untuk ditutup.


Bukankah itu sedikit memberi gambaran kasar bahwa semua ini seperti tindakan yang berulang?


Kemudian, Yi Hua yang 'kata' Shi Heng, ayahnya, sudah mati di penjara. Hanya dalam beberapa saat hidup kembali. Hidup dengan anugerah Dewa Phoenix, ia hidup kembali setelah kematian. Hidup dengan cara yang sangat sempurna. Tanpa luka dan cacat apapun. Setidaknya hal yang membuat Yi Hua mati pun tak terlihat jejaknya di tubuh.


Dan ... Ia terlahir kembali di tubuh Yi Hua ini.


"Mengapa kau menyangkut-pautkan Shen Qibo dalam hal ini?" tanya Yue Yan dengan nada mengancam.


Yue Yan masih seperti bertemu musuh jika mendengar nama Shen Qibo. Walau Yi Hua yakin Yue Yan tak lagi menyimpan dendam. Mungkin kebenciannya pada Shen Qibo adalah cara Yue Yan menjalani hidup.


"Apa kau masih ingin membunuhnya? Kau sudah membunuhnya," ujar Yi Hua yang mengangkat tangan.


Memesan lagi. Ia sedang lapar, dan itu lebih penting dari segalanya.


Kali ini Yi Hua memesan lagi untuknya, sekaligus untuk Yue Yan. Juga ...

__ADS_1


"Tolong tiga."


Seseorang dengan pakaian lusuh duduk di dekat Yi Hua. Dari gayanya mungkin orang ini adalah pengemis. Cara jalannya yang pincang membuat Yi Hua mengangkat sebelah alisnya.


Yue Yan menghela napasnya. Siap menyuruh pengemis ini duduk di meja lain. Ia tak masalah jika ada pengunjung baru dengan rupa apapun. Masalahnya ia sedang berbicara penting dengan Yi Hua.


Namun Yi Hua menggelengkan kepalanya. "Dia juga perlu tahu."


Apa maksudnya?


Yi Hua menyangga dagunya, masih dengan tangannya yang menggenggam sumpit. Ini hanyalah kebiasaan karena Yi Hua perlu melakukan sesuatu di saat ia berpikir. Seperti menggaruk kepala atau melompat-lompat serta kayang jika perlu.


"Saat Selir Qian dipanah, apa kau melihat pemanahnya?" tanya Yi Hua langsung pada intinya.


Yang lain mungkin lalai untuk melihat, tetapi mata Yue Yan adalah pengecualian.


Masalahnya adalah mengapa Yi Hua membicarakannya di tempat umum?


"Orang itu tidak berbau apapun," ujar Yue Yan menjelaskan.


Tentang bau ini Yi Hua mengerti. Sebab, ular-ular Yue Yan akan resah jika ada aura iblis atau sejenis makhluk lain. Namun yang dimaksud tidak berbau?


"Aku juga tak bisa melihatnya," jelas Yue Yan lagi.


Bukannya Yue Yan berbohong. Hanya saja ia memang tak tahu tentang pemanah itu. Ia rasa saat itu kekuatan matanya sedang lelah. Karena kekuatan semacam ini memang menarik energi begitu banyak.


Yi Hua menganggukkan kepalanya. "Itu sangat wajar."


"Tapi sesuatu yang bisa disembunyikan seperti itu biasanya memiliki kekuatan luar biasa. Seperti Tuan Iblis Kehancuran dan Perdana Menteri Huan Ran itu. Saat mereka menyamar, mereka tak memiliki aura iblis," jelas Yue Yan yang sebenarnya sudah Yi Hua duga.


Untuk saat ini, dalam legenda Lima Bencana, yang tersisa adalah Iblis Kehancuran Hua Yifeng, Tengkorak Putih Huan Ran, dan Tirai Berdarah Zhang Yuwen. Mereka bertiga adalah iblis dengan kekuatan paling terkuat di masa sekarang.


Yi Hua menatap Yue Yan dengan was-was. "Apakah ada kehancuran yang lebih kuat dibanding Hua Yifeng?" tanya Yi Hua.


"Salah satu ciri dari terbentuknya kekuatan iblis tingkat kehancuran ialah adanya bencana besar yang menjadi akibat. Tapi tidak ada yang pembantaian atau bencana kutukan baru-baru ini, Yi Hua kep*rat. Hanya lima bencana besar yang paling ditakuti," jelas Yue Yan yang tidak membenarkan pendapat Yi Hua.


TAP!


Keheningan melanda mereka. Yi Hua bahkan tercekat tanpa ia sadari. Tenggorokannya mendadak kering. Jika ada bencana keenam lagi, akan ada banyak kesakitan dan kematian lagi.


"Mie datang!" teriak pemilik kedai mie dengan semangat. Sekaligus memutuskan keheningan mereka.


Yi Hua menerima mangkuk mie baru dan langsung melahapnya.


"Itulah mengapa kau perlu berada dekat dengan Kerajaan," ucap Yi Hua sambil meniup-niup mangkuk mienya yang mengepul. Ia hanya bisa memikirkan ini agar Yue Yan bisa mengawasi.


"Kau tidak dengar Yi Hua sialan?! Mataku tidak bisa melihatnya juga," ucap Yue Yan tak terima.


"Kau bisa 'melihat' dan mencium aura dari setiap orang, bukan?" tanya Yi Hua retoris.


Yue Yan menatap lekat pada Yi Hua. "Apa harus ku katakan jika jiwamu tidak sesuai dengan tubuhmu? Atau api aneh yang tersembunyi di sana?" tanya Yue Yan yang sebenarnya sudah menyadari.


Hanya saja Yue Yan tak mengerti apa yang terjadi pada Yi Hua. Jika selama ini kalian mengira Yue Yan takut pada sifat galak Yi Hua, maka kalian sedikit salah. Memang benar Yue Yan agak ngeri jika Yi Hua sudah mengomel, tetapi Yi Hua ini memiliki sesuatu yang kuat di dalam dirinya. Tapi sesuatu yang kuat ini tidak akan menyakiti makhluk lain seperti Pohon Iblis Hua Yifeng.


Intinya seperti itu.


"Maka, kau hanya perlu menemukan ketidakadaan itu," lanjut Yi Hua sambil memasukkan potongan daging isian mie ke dalam mulutnya.


"Kau tahu aku agak kurang pintar."


Yi Hua tersenyum tipis. "Kau tahu ... Orang yang bodoh dan tak berpengalaman bisa diajarkan bagaimana agar pintar dan berpengalaman. Itu tergantung waktu. Tetapi orang yang tak jujur dan pengkhianat akan lebih sulit dipercaya."


Yue Yan berdecih. "Kau pikir aku tak akan berkhianat? Bagaimana jika aku menjual informasi kerajaan ini ke Kerajaan Bawah?" tanya Yue Yan dengan mengejek.


"Aku hanya ingat seseorang yang tak melarikan diri saat membantuku mencari obat untuk Perdana Menteri Liu," jelas Yi Hua pelan.


Nyatanya ... Yue Yan tak pernah meninggalkan kelompok mereka. Walau saat paling pelik sekalipun. Meski berisik, tetapi Yue Yan adalah orang yang tak memiliki siapapun dalam hidupnya.


Hanya Shen Qibo yang mengerti dia, dan pria itu sudah tiada.


Biasanya orang yang tak pernah memiliki apapun akan menjaga hal yang ia miliki lebih erat. Karena ia tahu betapa sakitnya saat ia tak memiliki siapapun.

__ADS_1


Yue Yan tak berkata apapun, dan itu berarti Yue Yan setuju bekerja sama.


Aku tak menyangka sekarang aku membentuk aliansi dengan pawang ular ini.


***


Yi Hua merentangkan tangannya ketika keluar dari kedai. Di belakangnya ada Yue Yan yang sudah berwajah gelap. Tatapannya siap membunuh Yi Hua.


"Yi Hua sialan! Kenapa aku yang harus membayar makanan kalian?" tanya Yue Yan yang jengkel.


"Terima kasih," ujar Yi Hua yang bersiap kembali ke istana untuk bekerja.


Sedangkan Yue Yan tak lama lagi akan dijemput oleh pasukan Wei Qionglin. Yah, Yue Yan harus mengikuti segelintir latihan serta ujian. Tentu saja pemilihan menjadi Perdana Menteri tidak bisa diputuskan dengan mudah. Sehingga Yue Yan harus bersaing dengan para bangsawan lainnya.


Yue Yan menarik kerah pakaian Yi Hua ketika Yi Hua berniat melarikan diri. "Apa telingamu berpindah ke kaki?" tanya Yue Yan kesal.


"Kau mencuri uang itu dari orang-orang yang melewati Lembah Debu. Setidaknya aku mengajarkan padamu bagaimana mendapatkan pahala kebaikan setelah berbuat dosa," jelas Yi Hua yang menunjuk pada Wei Qionglin dan dua orang pengawal yang baru datang.


Ada gunanya aku agak kenal dengan Jenderal Besar. Setidaknya Yue Yan ada yang mengamankan.


Yue Yan mendera marah. "Sialan Yi Hua! Kalau kau tak mau memberiku Lingkaran Mawar, setidaknya beri aku sepotong bagiannya."


Suara Yue Yan begitu nyaring sehingga orang-orang di sekitar mereka menatap Yi Hua dan Yue Yan dengan ganjil. Apalagi ketika Yue Yan menyebut tentang Lingkaran Mawar. Itu seperti menyebut dosa paling besar di dunia ini.


Yi Hua melemparkan kertas jimat tepat ke dahi Yue Yan. Itu sama seperti kertas jimat untuk menghentikan mayat berjalan. Namun itu jelas tak berefek pada manusia. Hanya saja Yue Yan yang pendek hati jelas-jelas tak terima.


"Kau ini ..."


Jenderal Wei Qionglin menundukkan tubuhnya dengan elegan. "Tuan Yue, pelatihan akan segera dimulai."


Namun Yue Yan lebih semangat untuk menjambak Yi Hua. Sehingga Yi Hua memberi isyarat agar Wei Qionglin membawa Yue Yan pergi. Mau tak mau dua pengawal menyeret Yue Yan untuk dibawa ke Pelatihan Awan.


Yah ...


Menjadikan Yue Yan sebagai Perdana Menteri seperti menjadikan sapi terbang sebagai kenyataan.


Itu sudah sekali dipercaya, tapi Yue Yan punya kemampuan.


HAH!


Lelah sekali.


Xiao berucap. "Yi Hua, pengemis tadi ..."


Yi Hua mengeluarkan kertas jimatnya lagi untuk mengejar pengemis yang awalnya pincang itu. Tetapi sekarang pengemis itu sudah berjalan seperti nyaris berlari. Ya ampun! Dikiranya Yi Hua akan tertipu.


"Ikat," perintah Yi Hua dan kertas jimatnya mengikat sosok pengemis itu hingga tegak seperti orang-orangan sawah.


Yi Hua dengan cepat mengejar pengemis itu dan pengemis itu berucap dengan suara parau. "Tuan ... Saya hanya meminta belas kasih Tuan. Saya hanya meminta makanan."


Orang-orang di sekitar Yi Hua berbicara dan berbisik-bisik. Seolah akan muncul keributan. Apalagi tokoh yang menimbulkan keributan ini adalah Yi Hua. Si Peramal Palsu yang sering berbuat onar.


Percayalah Yi Hua bahkan lebih terkenal dibandingkan isu-isu masyarakat tentang siapa kandidat Selir yang akan menjadi Permaisuri kelak.


"Kita bertemu lagi ..."


Yi Hua melirik pada pengemis itu yang terlihat tersenyum tipis. Bukan senyum yang licik. Namun senyum hangat dan kadang kekanakan yang Yi Hua kenal.


"Liu Xingsheng."


Jika kau sudah kembali, maka kau sudah mulai mengerti.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2