Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Kerusuhan Baru


__ADS_3

Yi Hua berniat untuk kembali ke Pusat Kota segera.


Hanya saja ...


"Anda kenapa?" tanya Yi Hua ketika menyadari wajah Hua Yifeng yang tandus. Entah mengapa dia kembali sopan lagi.


Hua Yifeng terlihat lemah. Ia seperti di padang pasir yang kering. Biasanya Hua Yifeng akan terlihat seperti orang yang rajin merawat kulitnya. Kini Hua Yifeng terlihat lebih pucat dari biasanya dan ...


TEP!


Tangan Yi Hua menempel di dahi Hua Yifeng yang lebih tinggi darinya. Kepala Yi Hua mendongak, "Kenapa panas sekali?" tanya Yi Hua tak percaya.


Selama ini Hua Yifeng memiliki kulit yang lembab dan dingin. Hal tersebut karena sejak awal fungsi tubuh Hua Yifeng tidak seperti manusia. Dia tidak hangat dan aliran darahnya sudah berhenti.


Hua Yifeng membungkuk dan menyandarkan dahinya di bahu Yi Hua.


"Tubuhku lemas," bisik Hua Yifeng pada Yi Hua. Sehingga Yi Hua mengulurkan tangannya untuk mengusap belakang kepala Hua Yifeng yang masih bersandar di bahunya.


Pemandangan tersebut membuat Liu Xingsheng bingung untuk mengalihkan pandangannya. Ia menatap pada Zhang Yuwen yang juga salah tingkah. Sedangkan Wei Wuxie, abaikan dia ... Mana bisa ditebak ekspresinya karena dia menggunakan penutup wajah.


Hanya saja ketika melihat darah hitam serta darah pria tua yang sebelumnya mereka sebenarnya tak yakin.


Hua Yifeng berkata lemah, tetapi pria itu juga yang dengan kejam menyerang dua bunga sebelumnya. Bahkan dua bunga itu seperti nyaris terpecah jiwanya.


"Lebih baik kita kembali ke Pusat Kota sekarang. Mungkin kita bisa mencari Peramal Ling untuk tahu apa yang terjadi dengan para Bencana," ucap Yi Hua yang khawatir. Sambil mengusap dahi Hua Yifeng yang panas.


Namun yang tidak Yi Hua tahu ialah senyum Hua Yifeng yang tipis tersaji di sana.


***


Yue Yan mengalami malam yang agak buruk.


Tubuhnya juga terasa lemah dan pandangannya buram. Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Terutama saat kekuatan mata Shen Qibo ia dapatkan. Mata miliknya harusnya memiliki pandangan yang lebih tajam.


Saat itu ia masih berada di Pelatihan Awan. Seorang Guru yang Yue Yan tak ingat namanya, masih menerangkan beberapa hal yang sebenarnya tak Yue Yan bisa pahami dengan baik. Meski begitu, ada kemajuan saat Yue Yan tak tidur saat pembelajaran.


Kali ini Yue Yan sudah bersama para murid lainnya. Anggap ini kemajuan karena Yue Yan sudah mulai terkontrol. Sejak awal Yue Yan kurang bisa bersosialisasi akibat masa kecilnya. Ia terbiasa berteman dengan para ular dibandingkan manusia.


Shen Qibo ialah teman pertamanya.


Meski ia masih tak bisa akrab dengan yang lainnya, setidaknya Yue Yan tidak akan melemparkan ular-ularnya pada murid lainnya.


Tentang ular peliharaan Yue Yan, seperti biasa ada beberapa ekor ular di dalam pakaiannya.


"Ya ampun ... Kau ini!"


SYUNG!


Yue Yan menoleh ke arah suara dan mendadak matanya menyipit. Tangan Yue Yan perlahan terulur untuk menghentikan benda yang melayang ke arahnya itu, dan BUKK!!


Selembar gulungan kertas mendarat di wajah Yue Yan begitu saja.


Guru yang melempar Yue Yan tampak kesal. "Kau ... Mengapa tidak mendengarkan pembelajaran?" tanyanya.


Yue Yan sebenarnya sudah ingin mengumpat. Akan tetapi, berkat bimbingan dari Wang Zeming, Yue Yan bisa mengendalikan dirinya. Ia berdiri dari duduknya dan menundukkan tubuhnya.


"Maafkan saya," ucap Yue Yan sambil mengepalkan sebelah tangannya yang bergetar.


Tahan ... Tahan! Nanti luapkan semua kemarahan ini pada Si Kecil Keras Kepala itu saja!


Yue Yan sudah berjanji ingin membantu, dan Yue Yan selalu menepati perkataannya. Karena ... Yah, Yue Yan juga tak tahu mengapa.


Lalu, pelajaran kembali berlanjut hingga Yue Yan selesai. Sebenarnya pelatihan di tempat ini nyaris berakhir. Setelah itu, Raja akan memilih siapa yang menjadi Perdana Menteri berikutnya melalui tes kemampuan.


Benar!


Yi Hua pendek itu menyuruhnya untuk menjadi Perdana Menteri. Namun Si Pendek sahabat karib sapi itu tidak bilang tentang prosesnya. Yue Yan merasa ditumbalkan oleh Yi Hua.


Yah, bagi Yue Yan ia hanya perlu menjalani. Lalu setelah ia tidak lulus, ia akan kembali ke kehidupannya yang lama. Aneh sekali motivasi hidupnya. Ia berharap tidak lulus setelah semua pelatihan yang ia lakukan.


Ia masih tak mengerti mengapa Yi Hua perlu memasukkan dirinya dalam Pengadilan Tinggi.


Yue Yan menatap pada langit yang sudah bulan purnama penuh.


Hari perayaan untuk dunia hantu.


Saat ini pintu masuk untuk Gunung Hua terbuka. Para hantu berkeliaran untuk merayakan kebebasan mereka. Sehingga biasanya penduduk Kerajaan Li tidak akan berani melintasi wilayah sepi di masa seperti ini.


Yah, tidak lucu jika mereka tidak sengaja melihat penampakan. Itu pasti jadi mimpi buruk.


"Aku mendengar kau dilempar oleh Guru Yin," ucap Wang Zeming yang baru datang.


Wang Zeming baru kembali dari Pusat Kota. Sebagai Penasihat Kerajaan, Wang Zeming pasti sibuk. Hanya saja karena Raja Li mengikuti permintaan Yi Hua, dan memberi perlakuan khusus bagi Yue Yan, Wang Zeming harus membagi tugasnya. Ia juga mengawasi Yue Yan seperti keledai hitam pilihan yang dijaga seperti anak sendiri.


"Apa Peramal cerewet itu ada di Istana? Suruh dia yang belajar di sini," ucap Yue Yan sambil menggaruk kepalanya yang dikuncir kuda dengan rapi.


Biasanya Yue Yan membiarkan rambutnya terurai begitu saja. Namun karena semua aturan dan kerapian, ia harus menjadi seperti boneka rapi sekarang. Sabar ... Sabar ... Jangan mengingat apapun yang bisa membuat Yue Yan ingin menggulung dunia!

__ADS_1


"Peramal Yi tidak terlihat di Istana hari ini. Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya di luar Istana," ucap Wang Zeming sambil memperhatikan Yue Yan.


Yue Yan tampak mengulurkan tangannya ke arah bulan yang masih purnama sempurna. Cahayanya sangat terang, walau belum bisa mengalahkan matahari. Akibat itu bayangan dari tanah Yue Yan tampak menutupi mata kanannya.


Angin bertiup kencang membuat Yue Yan memejamkan matanya.


Wang Zeming menghela napasnya. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Biasanya kau tak mudah dilempar, karena kau bisa melihat pergerakan orang di sekitarmu dengan mudah," ujar Wang Zeming.


Tak sulit bagi Wang Zeming untuk memahami jika Yue Yan memiliki mata yang tajam.


Dalam latihan memanah Yue Yan bisa melihat buruannya dari jauh. Sayangnya, kemampuan memanah Yue Yan biasa saja, sehingga meski matanya tajam, lontaran panah di tangannya tak bagus. Akhirnya buruannya lari.


Pernah suatu ketika Wang Zeming kehilangan sebuah buku. Saat itu Yue Yan tak sengaja bicara bahwa buku Wang Zeming berada di bagian belakang rak. Hal tersebut membuat Wang Zeming terkejut, karena nyatanya buku-buku terlihat rapi dan penuh di perpustakaan. Akan tetapi, Yue Yan bisa menunjukkan letak buku itu dengan benar sekarang.


Yue Yan menurunkan tangannya dan menatap Wang Zeming.


"Penasihat Wang, lempar sesuatu padaku," ucap Yue Yan.


Wang Zeming menatap Yue Yan tak mengerti, tetapi ia melempar gulungan kertas yang ia bawa ke arah Yue Yan. Lemparan Wang Zeming sangat cepat, sehingga orang biasa tak akan bisa menangkap lemparannya. Namun biasanya Yue Yan bisa.


Tangan Yue Yan terangkat untuk menangkap lemparan itu, dan ...


PLUK!


Bukannya tertangkap, gulungan itu malah melewati kepala Yue Yan.


Hal tersebut membuat Yue Yan menutup sebelah mata kanannya. Ia mulai yakin tentang sesuatu.


Penglihatan sebelah kanannya buram, dan penglihatannya terus melemah.


"Apa aku akan menjadi buta pada akhirnya?" tanya Yue Yan pelan.


Setiap kemampuan selalu memiliki kelemahan.


Yue Yan adalah manusia biasa. Kemampuan Lima Bencana hadir bukan serta merta tanpa pengorbanan. Seperti Hua Yifeng yang yang mendapat kekuatan besar dari pembantaian yang ia lakukan. Bao Jiazhen mendapatkan kekuatannya dari dendam besar, dan korban-korban yang ia tenggelamkan di laut. Zhang Yuwen membunuh banyak manusia, dan menggantungnya untuk dijadikan makanan. Begitu juga dengan asal-muasal kekuatan Shen Qibo, dia membantai satu desa dalam satu malam.


Namun Yue Yan berbeda.


Kekuatan besar seperti itu memakan tubuhnya. Tubuh manusianya tidak sanggup menahan kekuatan besar. Sehingga semakin banyak ia menggunakan kekuatan penglihatan tak biasanya, maka mata aslinya akan lemah.


Yue Yan hanya berharap ia bisa membantu Yi Hua menyelesaikan apa yang peramal itu cari. Setidaknya sampai Yue Yan benar-benar buta setelah ini.


Ketika Wang Zeming ingin menanggapi, keributan terdengar tak jauh dari mereka.


Hal tersebut membuat Wang Zeming berlari menuju ke arah keributan. Yue Yan juga mengikuti Wang Zeming dari belakang. Mereka menyibak keributan, dan mendapati jika dua orang murid tengah berkelahi.


Akan tetapi, kedua murid ... Atau tepatnya hanya satu orang yang bertindak agresif. Ia menindih seorang murid di bawahnya yang sudah terluka parah. Kemudian, tangannya mencakar brutal pada lawannya.


Murid yang ditindih itu tampak cukup bisa bertahan. Ia melindungi wajahnya dari tangan pucat ...


Sebentar ... Ada yang tak beres di sini!


Wang Zeming meraih lengan murid yang bertengkar itu dan menekannya di belakang punggungnya. Ia bisa melihat urat-urat tebal yang tampak di balik kulit tipis. Ketika Wang Zeming menekannya ke belakang punggung, mendadak tangan itu memutar dengan cara yang tak wajar.


Melewati dari batasan kemampuan motorik manusia.


Tangan itu memutar layaknya tak memiliki tulang. Memutar ke arah Wang Zeming untuk mencakar pada Wang Zeming.


Yue Yan yang melihatnya segera menampar lengan itu agar tak mengenai wajah Wang Zeming.


Salah seorang di sekitar mereka berhasil menyelamatkan murid yang hampir dicakar-cakar di bawahnya. Meski begitu, Yue Yan bisa melihat ada bekas cakaran tajam di sana. Sedangkan setahu Yue Yan, kuku murid-murid tidak diperkenankan panjang. Bagaimana bisa cakaran itu menjadi begitu dalam?


"Anak ini sepertinya tak sadar," ujar Wang Zeming yang menimbulkan keributan besar.


Timbul kericuhan di sana. Masalahnya adalah ini sudah larut malam, dan saat itu aura buruk terasa di sekitar mereka. Anak murid yang sempat ditekan Wang Zeming tampak mengamuk.


"GRAHHHH!!"


Suaranya keras seperti geraman bintang buas. Kini mereka bisa melihat jelas kuku-kuku tajam yang menghiasi jemari anak murid itu. Seingat Yue Yan murid ini merupakan anak pintar yang seringkali dipuji para guru.


Sekarang dia bertindak seperti binatang buas yang sulit dijinakkan.


Mata Yue Yan memicing tajam. "Apa dia sedang kerasukan?"


Tangan murid itu berkelok untuk menyerang ke arah Wang Zeming. Hal tersebut membuat Wang Zeming menarik pedangnya. Memotong tangan itu dengan cepat, dan membuat teriakan murid itu begitu kencang.


Teriakan murid lain juga menghujani telinga Yue Yan. Sepertinya mereka tak pernah melihat hal yang mengerikan seperti ini. Apalagi melihat tangan terpotong yang melayang di depan mereka.


Namun yang aneh ialah ... Muncul jaringan kulit baru di tangan murid itu. Perlahan membentuk tangan baru. Walau tidak sempurna, karena masih banyak bagian yang tak tertutup kulit. Hingga tulangnya yang basah tampak.


"Apa dia berubah menjadi iblis?" tanya Yue Yan tak percaya.


Akan tetapi, ular-ular di dalam pakaian Yue Yan sangat tenang. Tidak terlihat ular-ular itu terganggu dengan aura iblis. Biasanya para ular ini akan resah dan memberitahu Yue Yan tentang keberadaan iblis yang dekat dengannya.


Jika begitu ... Maka orang ini masih manusia. Tapi mengapa menjadi seperti monster begini?


Wang Zeming melihat Yue Yang yang melamun hingga tak menyadari jika murid itu menerjang Yue Yan.

__ADS_1


"Awas!"


Ketika Yue Yan kembali fokus, ia melihat Wang Zeming yang berdiri di depannya dan terjatuh ke tanah akibat terjangan.


"Penasihat Wang!"


Sebenarnya apa yang terjadi di kehidupan mereka ini?


***


Ketika Yi Hua dan yang lainnya sampai ke kediaman sederhana milik Yi Hua, ia melihat orang-orang kerajaan berdiri di depan kediamannya. Beruntung Liu Xingsheng sudah mengenakan penutup kepala sejak mereka memasuki Pusat Kota. Sedangkan yang lainnya, yah ... tentu saja menyamar juga.


Hua Yifeng tanpa sadar menarik Hua Yifeng untuk berdiri di belakangnya. Seolah menghalangi orang-orang kerajaan untuk melihat Hua Yifeng. Hal tersebut membuat suara tawa kecil Hua Yifeng terdengar. Ini sedikit lucu saat Yi Hua terlihat melindunginya. Apalagi dengan sosok Yi Hua yang lebih pendek dibandingkan dengannya.


Seperti ...


Dia adalah Hua Yifeng dan Yi Hua tak perlu melindunginya, karena orang-orang di depan mereka sekarang tidak ada apa-apanya dengan Hua Yifeng.


"Ada apa?" tanya Yi Hua dengan wajah sombongnya. Yah, seperti biasa.


Salah seorang dari orang kerajaan itu adalah pengawal di istana timur. Atau ... Istana Pangeran Li Quon. Yi Hua pernah melihatnya karena dulu Yi Hua berusaha lari darinya saat membawa Pangeran Li Quon kabur*.


*Jika lupa, yah itu adalah saat Yi Hua membawa Li Quon jalan. Terus yang Li Quon jatuh dari perahu ke sungai penuh teratai itu.


Pengawal itu memberi penghormatan pada Yi Hua. Wajahnya tegas seperti layaknya pengawal kerajaan lain.


"Yang Mulia Raja Li memerintahkan kami untuk membawa Peramal Yi ke istana," ujarnya cepat.


Yi Hua mengerutkan keningnya. Apa lagi ini?


Baru saja dia mendapat ketenangan, dan sekarang dia seperti siap diseret ke istana. Mau atau tidaknya ia, pasti tak berguna apapun, karena Yi Hua pasti akan dipaksa menghadap sekarang.


"Baik."


Yi Hua memutuskan menjadi masyarakat yang baik. Lagipula jika ia dipanggil ke Kerajaan, mungkin ada hal yang mendesak di sana. Akan tetapi, baru saja Yi Hua berjalan, para pengawal ini kembali menghentikannya.


Lebih tepatnya menghentikan orang-orang yang berjalan di belakang Yi Hua.


"Hanya Peramal Yi yang diperintahkan ke Istana," tegas salah seorang pengawal.


Aduh! Kau tahu siapa orang-orang yang kau perang itu?!


Yi Hua jelas tak mau terjadi pertumpahan darah di sini. Sehingga ia menolehkan kepalanya pada Hua Yifeng_Yang kini menggunakan wajah aslinya. Karena sebenarnya tak ada yang banyak tahu rupa asli Hua Yifeng. Selama ini Hua Yifeng berkeliaran sebagai seseorang bernama 'An'.


"Tidak apa," ucap Yi Hua pada Hua Yifeng. Begitu juga pada yang lainnya.


Liu Xingsheng menggeleng di balik penutup kepala. Ia tak bisa membiarkan Yi Hua pergi sendiri di saat yang genting seperti ini. Akan tetapi, orang-orang yang bersama Yi Hua sekarang bukanlah orang biasa.


Jadi, yah ...


"Saya hanya pergi ke istana. Itu hal yang sering saya lakukan nyaris setiap hari," ujar Yi Hua menenangkan.


Mungkin Raja Li hanya sedang pusing menangani masalah Yue Yan. Anggap saja seperti itu.


Namun dahulu Li Wei datang ke istana. Meninggalkan Wei Wuxie yang sekarat di luar. Li Wei masuk sendiri ke istana Kerajaan Li dan mati di sana.


Sama seperti Yi Hua, Li Wei seringkali masuk ke istana dengan tenang dan ceria seperti biasanya. Hanya saja ... Tak pernah ada yang tahu tentang takdir, dimana tempat yang biasa kau lalui atau biasa kau datangi tak selalu menjadi tempat yang aman.


Yi Hua menoleh ke belakang pada Hua Yifeng. "Aku akan kembali," ucapnya pada Hua Yifeng.


"Tidak."


Yi Hua mendadak mengeluarkan sebuah benda yang berwarna mencolok. Hua Yifeng menatap permata merah yang ada di tangan Yi Hua. Tentu saja Hua Yifeng mengenalnya.


Itu adalah hiasan yang biasanya melekat di pedang Li Wei. Saat itu hiasannya terlepas, dan Yi Hua menyimpannya. Ia yakin benda itu sangat berharga hingga Hua Yifeng menyimpannya sebagai hiasan pedang spiritualnya.


"Aku akan kembali karena benda ini masih ada padaku. Aku pinjam dulu, dan pasti akan ku kembalikan pada pemiliknya," ucap Yi Hua yang menyimpan hiasan permata merah itu ke dalam sakunya.


Ia hidup untuk kedua kalinya, dan itu adalah kesempatan untuk menyelesaikan segalanya.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Maaf baru lanjut lagi.


Jadi ceritanya aku sakit, karena itu agak lambat lanjutnya. Biasanya aku nulis itu malam, tapi karena sakit dan harus minum obat, aku jadi sering tidur cepat. Oleh karena itu, aku gak punya waktu buat nulis.


Kalau siang otakku biasanya mengembara seperti anak sapi baru lepas. Semoga chapter ini menambah kebingunganmu saudara-saudari.


Mari kita kita sukseskan cerita rumit yang sulit dimengerti.


Jaga kesehatan dan terus semangat ya. Yuk ketemu lagi di chapter depan.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2