Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Makam Keluarga Wei


__ADS_3

SRET!


"Naik," perintah Yi Hua sambil membungkuk di hadapan Liu Xingsheng.


Hal itu membuat Liu Xingsheng menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa naik di punggung Yi Hua yang kecil ini. Bagaimana jika ia tak sengaja mematahkan tulang rusuk Yi Hua karena tubuh beratnya.


"Yi Hua, aku rasa kau hanya perlu memapahku. Meski tubuhmu kuat seperti sapi, tetapi kau perlu tenaga untuk bertarung," ujar Liu Xingsheng sambil membentangkan kipasnya. Setidaknya ia bisa menjauhkan para mayat ini jika mereka mendekat.


Yi Hua bangkit kembali. Seperti yang dikatakan oleh Liu Xingsheng, mereka perlu tenaga untuk bertahan. Ia hanya berharap semua penduduk yang tinggal di dekat alun tidak membuka pintu kediaman mereka. Itu akan menambah masalah baru nantinya.


Yi Hua memerintahkan sambil memapah Liu Xingsheng, "Periksa jalan, Xiao."


Liu Xingsheng jelas mendengarnya, tetapi ia tak bisa bertanya apa-apa pada Yi Hua. Jelas sekali ia juga sudah terbiasa dengan Yi Hua yang sering bicara sendiri. Ia hanya berusaha menegakkan tubuhnya yang lemah. Sebisa mungkin menahan beban tubuhnya.


Tinggi Yi Hua hanya sampai di leher Liu Xingsheng. Hal itu membuat Liu Xingsheng tertawa kecil. "Dengan tubuh kecilmu ini, jika suatu saat kau mengaku jika kau seorang gadis, aku akan langsung percaya," ujar Liu Xingsheng dengan tawanya.


Aku memang gadis, Liu Xingsheng! Hanya saja kau yang sering bercanda, tetapi benar itu.


Xiao memberi arah, "Terus saja ke arah kiri, HuaHua. Di sana ada rumah penduduk yang paling terdekat dengan jarakmu. Kau bisa meminta beras untuk mengobati keracunan bubuk mayat Liu Xingsheng ini."


Yi Hua mengangguk sambil menyesuaikan pandangan melalui cahaya minim. Mungkin ada lentera yang terjatuh ke tanah sehingga menimbulkan api. Dan, terima kasih, karena berkat itu ada sedikit cahaya di malam tak berbintang ini. Mungkin tak lama lagi hujan.


SRAK!


SRAK!


"HuaHua, di sebelah kananmu ada mayat berjalan." Xiao segera memberitahu Yi Hua.


Yi Hua melepaskan Liu Xingsheng sebentar, dan berharap Perdana Menteri itu tidak ambruk. Lalu, Yi Hua menuju ke arah mayat berjalan itu untuk menendang kepalanya.


BUKH!


Tendangan Yi Hua cukup keras, tetapi tak bisa memecahkan kepalanya. Hal itu yang membuat Yi Hua harus memukulnya lagi dengan pedang Li Wei yang masih terbalut kain. Darah hitam memercik di kain putih yang dililitkan Yi Hua di pedang Li Wei.


"Kejam sekali. Aku tak percaya jika ada gadis yang begitu kejam dalam memecahkan kepala seperti dirimu," komentar Xiao.


Namun Yi Hua hanya merespon dengan santai. "Lalu, apa nyawa bisa terselamatkan jika hanya ketakutan dan menangis?"


Jelas tidak bisa.


Sejak awal ia hidup kembali sebagai Yi Hua, ia memiliki banyak peristiwa mengerikan. Ditambah lagi ketika ia tahu bahwa dirinya adalah Li Wei. Ia sangat yakin bahwa banyak hal mengerikan yang akan dia alami di kemudian hari.


Kemudian, ... Dia tak bisa bergantung pada penyelamatan orang lain. Ia harus bisa bertarung.


Oh iya ... Liu Xingsheng, dimana dia?


Jangan sampai Perdana Menteri itu sudah dikoyak-koyak oleh mayat hidup. Namun seingat Yi Hua, Liu Xingsheng itu cukup berisik. Sehingga jika dia melihat atau disentuh oleh mayat hidup, dia akan berteriak. Akan tetapi, di sekitar Yi Hua cukup sepi.


BUGH!


Yi Hua mendengar pukulan yang tak jauh dari tempatnya. Ia menerbangkan kertas jimatnya lagi. Beruntung Yi Hua selalu membuat kertas jimat yang cukup banyak. Ia harus siaga jika terjadi situasi seperti sekarang.


Lalu, ...


Yi Hua melihat Liu Xingsheng berdiri di dalam gelap. Ia segera berlari menuju Liu Xingsheng, dan ia menyadari jika di depan Liu Xingsheng ada mayat berjalan yang sudah pecah kepalanya. Lalu, Liu Xingsheng menoleh padanya, tetapi tatapannya agak serius. Berbeda dengan biasanya.


"Perdana Menteri Liu, apa Anda baik-baik saja?" tanya Yi Hua yang tengah menghampiri Liu Xingsheng.


Liu Xingsheng langsung bersandar di bahu Yi Hua. "Tubuhku rasanya panas, Yi Hua. Sepertinya aku benar-benar keracunan."


Sepertinya katamu! Kau bahkan sebelumnya bertindak seperti petarung sejati.


Yi Hua memapah Liu Xingsheng lagi. Ia memperhatikan kipas putih yang ada di tangan Liu Xingsheng. Dari sana ia sudah tahu jika kipas itulah yang digunakan Liu Xingsheng untuk melawan mayat berjalan yang tergeletak itu. Tapi, sekarang Liu Xingsheng bertindak lagi seolah dia tak berguna.


Liu Xingsheng ini sebenarnya tidak sederhana. Mengapa dia menyembunyikan kemampuannya? Dia jelas-jelas bisa bertarung.


Namun Yi Hua tak ingin meributkan banyak hal. Ia segera memapah Liu Xingsheng lagi, dan ... Tiba-tiba mayat berjalan berlari kencang menuju ke arah Yi Hua. Dengan posisinya sekarang Yi Hua jelas tak bisa mengambil pedang. Ia masih memapah Liu Xingsheng.


Tak cukup cepat!


KRASHH!

__ADS_1


Yi Hua terpaku ketika sebuah kipas berputar di depan Yi Hua. Lalu, kipas itu dilemparkan lurus menuju ke arah dahi lembek mayat berjalan. Kipas itu menusuk dahi lembek mayat berjalan hingga memecahkan kepalanya.


Pandangan Yi Hua teralih pada Liu Xingsheng yang menundukkan kepalanya. Pria ini tidak pura-pura keracunan. Hanya saja Liu Xingsheng mampu bertarung dalam keracunan ini. Dengan kata lain, Liu Xingsheng cukup kuat untuk menahan racun bubuk mayat itu.


"Cepat, Yi Hua," bisik Liu Xingsheng dengan sangat lemah.


Keringat pria itu mengalir cukup deras hingga Yi Hua yakin rasa sakit dari kutukan mayat hidup itu masih ada. Yi Hua hanya berusaha berjalan lagi di tengah gelap. Suara pertarungan terdengar agak jauh di belakang. Sepertinya jarak antara mereka dengan pasukan Jenderal Wei cukup jauh.


Yi Hua harus segera mengatasi ini.


"Itu rumah penduduk," ucap Yi Hua sambil menunjuk rumah sederhana di depannya.


Ada cahaya lilin dari dinding rumah yang bercelah. Sepertinya memang ada orang di dalam sana. Yi Hua hanya perlu mengobati Liu Xingsheng.


DUG! DUG!


"Paman ... Bibi ... Kakak ... Adik kecil. Tolong buka pintunya. Ini Perdana Menteri, Liu Xingsheng," teriak Yi Hua untuk memberitahu. Setidaknya dengan gelar Liu Xingsheng mereka bisa memiliki akses lebih cepat.


Apalagi jika penduduk ini takut dengan keributan di luar. Mungkin dia tak akan membuka pintunya.


GRAK!


Benar saja. Tak berselang waktu cukup lama, seorang paman yang agak tua membuka pintu. Wajahnya terlihat ketakutan, dan hanya berani mengintip di celah pintu yang terbuka. Akan tetapi, ketika yang dilihatnya adalah manusia, dan ia juga mengenali sosok Liu Xingsheng, Paman itu langsung terlihat senang.


"Peramal Yi, Perdana Menteri Liu, apa yang terjadi di luar?" tanya Paman itu yang mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk ke dalam rumah.


Yi Hua mendudukkan Liu Xingsheng di lantai kayu. Kemudian, ia meminta Paman itu untuk mendekatkan lilin ke arah mereka. Setelah mendapat penerangan, Yi Hua membuka pakaian Liu Xingsheng di bagian bahu.


Di sana memar hitam sudah menyebar, bahkan menuju ke arah dada Liu Xingsheng. Yi Hua ingin membuka lebih lebar lagi untuk memeriksa sampai dimana penyebarannya. Namun luka panjang yang membentang di dada Liu Xingsheng membuat Yi Hua terpaku.


"Aku sudah bilang jika aku melihat bekas kesakitan di tubuh Liu Xingsheng," ujar Xiao yang menegaskan lagi kata-katanya saat itu.


Saat Yi Hua menghampiri Liu Xingsheng kemarin, Yi Hua ingat Xiao mengatakan hal yang sama. Akan tetapi, Yi Hua tak mengerti apa maksudnya. Ternyata yang dimaksud oleh Xiao sebagai bekas kesakitan itu ternyata adalah luka. Dari goresannya Yi Hua tahu jika luka itu cukup dalam di sana.


GREP!


Yi Hua tersentak ketika Liu Xingsheng menahan tangan Yi Hua keras. Mata Liu Xingsheng menjadi agak tajam untuk menatap pada Yi Hua. Liu Xingsheng mendadak menjadi sangat terganggu ketika Yi Hua yang melihat lukanya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Liu Xingsheng sambil mencengkeram tangan Yi Hua.


"Mengobati," ujar Yi Hua.


Yi Hua beralih pada Paman tua yang berdiri di sebelah Yi Hua. "Paman, apakah Paman sendiri?" tanya Yi Hua sambil memperhatikan keadaan rumah yang kosong.


"Istri dan anak saya tengah bersembunyi di dalam kamar, Peramal Yi. Ketika Anda mengetik, kami mengira itu adalah orang yang membuat keributan di luar," jelas Paman itu.


Yi Hua menganggukkan kepalanya. "Bolehkah saya meminta beras dan batu untuk menumbuk?" ucap Yi Hua yang memutuskan pandangannya dengan Liu Xingsheng..


Ia tak tahu apa yang Liu Xingsheng pikirkan. Akan tetapi, pria itu tak mengatakan apa-apa, tetapi ia tak mencengkeram tangan Yi Hua lagi.


Setelah itu, Paman itu pergi ke dapur untuk mengambil beras dan batu seperti apa yang diperintahkan Yi Hua. Lalu, Liu Xingsheng langsung berkata, "Kau tak ingin bertanya apapun tentang luka itu?" tanya Liu Xingsheng pada Yi Hua.


"Jika Anda tak ingin memberitahunya, maka tidak usah diberitahu," jelas Yi Hua sambil membersihkan bahu Liu Xingsheng dengan kain.


Ia harus memastikan tak ada lagi bubuk mayat yang tertinggal di sana.


"Itu adalah luka dari kumbang merah. Saat kecil aku bertemu dengan kumbang merah beracun, dan hampir mati tersengat," ujar Liu Xingsheng.


Kumbang merah?


"Itu adalah kumbang yang diberi makan oleh darah. Biasanya jumlahnya tak banyak, dan akan mati saat dia menyerap darah. Jika sudah tergigit di kulit manusia dia akan masuk ke kulit. Mengigit terus-menerus tanpa bisa dilepaskan, dan kulit orang yang digigitnya akan habis nantinya. Kemudian, kumbang itu akan keluar dari tubuh manusia dalam keadaan kenyang dan mati. Aku hanya terkesan dengan Liu Xingsheng yang bisa selamat setelah disengat oleh kumbang itu. Itu hanya satu ekor kumbang merah yang bekerja," ujar Xiao untuk menjelaskan. Ini adalah pengetahuan bagi Yi Hua yang tak bisa ingat banyak hal.


Seperti nyamuk, tetapi dalam serangan yang lebih kuat.


"Kumbang darah itu ... Bagaimana Anda bisa tersengat?" tanya Yi Hua pelan.


Mendengar dari ucapan Liu Xingsheng ini, Yi Hua bisa menyimpulkan jika kumbang darah ini bukanlah hewan alami. Ini seperti hewan yang dibuat dengan ritual berdarah. Hanya seperti menciptakan senjata untuk membunuh orang lain. Juga, bagaimana cara Liu Xingsheng bisa selamat dari brutalnya kumbang darah.


Xiao kemudian memberi informasi lagi, "HuaHua, biasanya Keluarga kerajaan Xin yang katanya bisa mengendalikan kumbang darah ini?"


Kerajaan Xin? Itu adalah kerajaan yang sudah hancur itu. Yang merupakan tempat darimana Cerita Perayaan berasal. Tempat kediaman Si Anak yang Diberkahi Dewa. Bagaimana bisa kumbang darah masih muncul, sedangkan orang-orang Kerajaan Xin sudah tiada lagi. Bahkan wilayahnya sudah jadi milik Kerajaan Li.

__ADS_1


"Ini beras dan batunya, Peramal Yi." Suara itu mengejutkan Yi Hua.


Ia menoleh dan menyadari jika Paman itu sudah mengambil semangkuk beras dan batu sebesar kepalan tangan. Yi Hua mengambilnya dan langsung mengarahkan lilin ke arah beras dalam mangkuk. Membakar beras itu hingga hangus.


"Yi Hua, bukankah biasanya beras hanya perlu ditumbuk untuk ditaburkan di bekas bubuk mayat ini?" tanya Liu Xingsheng yang tak mengerti dengan tindakan Yi Hua.


Yi Hua masih fokus membakar beras dalam mangkuk hingga hangus sepenuhnya. "Itu bisa digunakan jika kondisi Anda baik-baik saja. Namun Anda sudah teracuni cukup lama. Beras yang hangus mungkin penawar yang paling cepat agar tak menyebar lagi."


"Aku tak percaya jika Yi Hua mengerti hal seperti ini," ucap Liu Xingsheng yang meminjamkan matanya. Pria ini benar-benar sudah sangat parah.


Yi Hua menghela napasnya. "Hanya menduga-duga, Perdana Menteri Liu. Semoga memang benar obatnya."


Sebenarnya bukan karena menduga-duga, tetapi lebih ke dirinya sebagai Li Wei. Puteri Li Wei sepertinya benar-benar orang yang terpelajar. Ketika ingatannya kembali, ia mulai bisa mengingat banyak hal. Seperti gaya bertarungnya, dan apa yang Li Wei pelajari. Apalagi dalam hal seperti ini. Mungkin mereka perlu melakukan eksperimen untuk menciptakan obat yang paling baik.


Mungkin dia agak cerdas di masa lalunya.


TUK! TUK!


Liu Xingsheng menatap Yi Hua yang tengah menumbuk beras. Paman tua yang sebelumnya duduk dengan tenang di sudut ruangan. Tak berani mengatakan apa-apa jika tak diperintahkan bersuara. Apalagi ada Liu Xingsheng di tempat ini. Jelas Paman tua itu tak akan berani membuka mulut, meski dia penasaran sekalipun.


"Serangan mayat berjalan ini sepertinya dari sumber yang sama, Yi Hua," ucap Liu Xingsheng yang tengah berpikir.


Yi Hua mengangguk sambil mengambil bubuk beras yang sudah ia tumbuk. Kemudian, Yi Hua menaburkannya di bahu Liu Xingsheng yang membiru. Itu sudah sangat menyebar hingga Yi Hua mengira jika kulit Liu Xingsheng berubah warna.


"Anda benar-benar sial hari ini, Perdana Menteri Liu. Biasanya mayat berjalan jarang mengeluarkan bubuk mayat jika tak sedang bertarung, apalagi jika hanya menyentuh. Mengapa kebetulan sekali dia meletakkan kutukannya pada Anda," ucap Yi Hua yang tak mengerti dengan apa yang terjadi.


Liu Xingsheng menghela napasnya. "Mungkin karena memang sedang sial."


Sesekali Liu Xingsheng meringis ketika rasa sakit mulai muncul di bahunya lagi. Apalagi saat ditaburi dengan bubuk beras ini. Belum lagi dengan rasa gatal yang mendadak muncul karena butiran beras hangus itu.


Setelah membalurkan seluruh bubuk beras itu di bahu Liu Xingsheng, Yi Hua membantu Liu Xingsheng untuk bersandar di dinding dengan nyaman. "Jangan sampai Anda kehilangan kesadaran, Perdana Menteri Liu. Atau, Anda juga akan kehilangan pikiran sebagai manusia juga."


Liu Xingsheng tertawa konyol. "Aku pikir suara cempreng Yi Hua sudah cukup untuk membuat keributan di sini. Aku tak akan pingsan dengan mudah."


Mendadak Liu Xingsheng membuka matanya. "Cangkang manusia ... Mayat berjalan ... Seperti yang kita diskusikan dengan Jenderal Wei, bukankah ini agak aneh? Darimana bisa ada mayat sebanyak itu, Yi Hua? Kita tidak dalam situasi perang besar atau bencana besar dimana akan ada banyak berceceran."


Yi Hua menghela napasnya, "Jelas bukan dari kerajaan lain, Perdana Menteri Liu. Dimana mereka akan menyembunyikan mayat berjalan ini jika diambil dari tempat jauh. Lain halnya mayat berjalan bisa diberitahu untuk bersembunyi."


Mayat berjalan itu benar-benar seperti tubuh yang berkeliaran ke sana-sini. Jelas tak memiliki akal dan pikiran. Berbeda dengan cangkang manusia, yang masih bisa meniru manusia dalam gerakannya. Walau sebenarnya otaknya tak memikirkan apa-apa.


^^^*Perbedaannya adalah mayat berjalan itu kayak zombie. Dia soalnya udah mati lama, tapi hidup lagi dan berjalan dengan tubuh yang udah busuk. Kalau cangkang manusia, itu tubuh manusia yang masih belum busuk, lalu dibuat 'hidup' lagi. Masih seperti manusia, tetapi gak ada pikiran lagi karena jiwanya sebenarnya udah gak ada.^^^


Sebentar ...


Jika tak bisa dari tempat yang jauh, "Apakah ada rumah pemakaman yang dekat dari sini?" tanya Yi Hua pada Paman tua yang nyaris tertidur karena tak ada yang mengajaknya bicara.


Paman tua itu langsung terbangun, "Jika untuk penduduk biasa, rumah makamnya ada di luar Pusat Kota."


"Aku sempat melihat lambang keluarga yang dimiliki oleh mayat itu. Itu tersemat dari gelang giok mereka," ucap Liu Xingsheng yang menatap Yi Hua lekat.


Di kerajaan mereka, setiap keluarga besar bangsawan akan memiliki tempat pemakan masing-masing. Itu seperti para bangsawan membangun rumah untuk keluarga mereka yang sudah meninggal. Biasanya juga mereka meninggalkan lencana atau simbol di keluarga mereka untuk menandai makamnya.


"Itu adalah simbol keluarga Wei," ucap Liu Xingsheng dengan nada serius.


Keluarga Wei? Wei Qionglin, Jenderal Wei. Ini adalah mayat berjalan yang ada di rumah makan keluarga Wei.


"Dimana rumah makamnya?" tanya Yi Hua yang masih cukup terkejut.


Liu Xingsheng menunjuk ke arah selatan, "Di bagian selatan Pusat Kota. Itu tak begitu jauh dari alun-alun."


Pertanyaannya adalah bagaimana bisa ada yang memanfaatkan mayat dari makam keluarga Jenderal Besar Wei? Padahal makam keluarga bangsawan biasanya dijaga ketat. Juga, di bawah perintah penjagaan kepala keluarganya.


Kepala keluarga Wei yang sekarang ialah Wei Qionglin, Jenderal Besar Kerajaan Li.


Ya ampun. Kepalaku! Tolong selamatkan kepalaku yang pusing dan bingung ini. Mau hidup kembali dengan tenang saja susah!


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2