
Eh?
Jangankan Yi Hua, Yue Yan sendiri juga terkejut saat peliharaannya itu malah menggelinding di pasir. Mendadak mereka bermain layaknya kucing yang bertemu bola. Yi Hua bahkan mendengar Yue Yan berkata pada para ularnya untuk bersiap menyerang.
Akan tetapi, ular itu malah menjadi manis seperti anak sapi baru menetas.
Salah seorang dari pedagang dengan wajah pucat bertanya pada Jenderal Wei, "Dia jadi menyerang atau tidak?" tanyanya dengan wajah bingung.
Entah mengapa ketegangan di sekitar mereka menjadi sedikit kaku.
Lah! Mengapa semuanya jadi fokus pada kegagalan Yue Yan memanggil anak-anaknya itu?
Yi Hua menunjuk ke arah pintu lubang bawah tanah yang sudah mulai terlihat. "Lebih baik kalian lanjut menggali. Biarkan dia selesai melatih anak-anaknya dengan baik," saran Yi Hua yang kini melihat Yue Yan duduk berjongkok untuk memerintahkan ular-ularnya.
Seperti yang selalu Yi Hua katakan tentang Yue Yan. Pria itu tidak bisa bertarung secara langsung dan fisik, karena Yue Yan terbiasa memerintah para ular. Hal itu yang membuat Yue Yan tak bisa apa-apa jika ularnya tak bisa diperintah lagi.
Anggap saja itu sebagai kelemahan.
BRUK!
"Yi Hua," panggil Wei Qionglin saat mereka berhasil membuka kembali jalan menuju lubang bawah tanah di Lembah Debu.
Wei Qionglin jujur saja baru pertama kali melihat lubang ini. Saat di kasus sebelumnya, dia tak melewati lubang itu untuk masuk ke bawah tanah. Jadi, Lembah Debu seperti memiliki jalan bawah tanah dengan berbagai pintu. Siapa yang tahu apa saja yang tersembunyi di lubang bawah tanah Lembah Debu ini. Hanya sebagian jalan bawah tanah yang pernah mereka lewati. Sisanya tak ada yang tahu.
SRET!
Yi Hua mulai merasa pusing, dan matanya juga mulai buram. Ini adalah efek racun yang sudah mulai membutakan mata Yi Hua. Walau Yi Hua tahu jika efek ini akan hilang apabila mereka menemukan obatnya, tetapi tanpa pandangan yang jelas tentu saja akan sangat berbahaya. Jika Xiao tak ada sebagai penentu jalan, mungkin Yi Hua sudah menabrak orang lain saat berjalan.
"Jenderal Wei, bawa mereka semua masuk terlebih dahulu. Di permukaan tidak aman. Mungkin sebentar lagi akan terjadi badai debu," ujar Yi Hua yang sulit menyeimbangkan kepalanya yang sakit.
BRAK!
SYUHHHH!!
Benar saja seperti yang Yi Hua katakan sebelumnya. Akibat pertarungan gila dari An dan Shen Qibo mungkin akan menyebabkan badai besar. Para pedagang ini mungkin tak akan selamat jika tertimbun pasir. Lebih baik mereka masuk ke terowongan bawah tanah.
Yue Yan berseru sambil menarik pedangnya ketika melihat Yi Hua ingin masuk ke dalam lubang. "Peramal pendek! Tunggu ... Kau ..."
Peramal pendek katanya?!! Itu hanya karena kalian lebih tinggi saja, batang kayu!
Jujur saja Yi Hua cukup sensitif ketika disebut-sebut tentang tinggi badan. Hal itu yang membuat Yi Hua membakar selembar kertas jimat untuk menyerang Yue Yan. Walau serangan itu tak akan bertahan lama, karena kertasnya pasti akan terbakar habis, tetapi ia yakin Yue Yan tak akan bisa menyusul ke dalam.
Akan sangat bahaya jika orang pendendam ini masuk ke dalam lubang juga. Bagaimana pun Yue Yan adalah orang yang tak berpikir dua kali ketika ingin membunuh. Lalu, Yi Hua merasakan ada hembusan angin di belakangnya.
Xiao berseru, "Cepat melompat, HuaHua! Ada kekuatan besar yang datang."
Siapa lagi yang datang? Ayolah mengapa musuh mereka tak pernah henti-hentinya datang, padahal mereka sudah dalam situasi pelik. Apalagi sebenarnya yang berselisih itu hanyalah Shen Qibo dan Yue Yan. Mereka hanya terlibat lagi dalam situasi ini.
Kalau dua orang ini ingin bertarung sampai mati ya silahkan. Jangan melibatkan orang lain ke dalam pertarungan.
TRAK!
Ketika Yue Yan menebas jimat itu menjadi dua agar tak menghalangi jalannya, keadaan di Lembah Debu sudah sepi. Bahkan pertarungan antara Shen Qibo dengan seseorang juga telah berakhir. Entah bagaimana bisa pertarungan itu selesai. Yi Hua sudah melompat ke dalam lubang, dan ...
SRING!
Yue Yan memperhatikan ke sekeliling Lembah Debu. Matanya terpaku pada perisai yang terlihat di sekitar lubang. Siapa yang menciptakan perisai perlindungan setebal ini?
Bahkan jika Yi Hua yang melakukannya, perisainya tak akan begitu kuat. Apalagi perisai ini cukup gelap, dan itu berarti perisai ini dipasang oleh orang yang sangat kuat. Yue Yan mengusap darah yang mengalir dari tangannya.
Perisai ini juga menyerang siapa saja yang menuju ke arah lubang itu.
Satu hal yang terpikirkan oleh Yue Yan, yaitu Shen Qibo dan lawannya bertarung juga ikut masuk ke dalam lubang Lembah Debu. Keduanya mungkin masuk ke dalam tanpa diketahui oleh siapapun. Atau, bisa jadi mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk saling bertarung lagi.
***
DUGH!
Ketika Yi Hua mencapai permukaan tanah yang padat ia hanya bisa mengeluh. Bagaimana pun pinggangnya sudah sangat sakit akibat mendarat tanpa persiapan. Itu semua karena Yi Hua melompat begitu saja ketika angin keras berhembus di belakangnya. Seperti yang Xiao katakan ialah adanya kekuatan besar yang datang.
Entah siapa yang bisa mengeluarkan kekuatan sebesar itu.
__ADS_1
Juga, ...
"UGHH!" Yi Hua menekan dadanya yang terasa sakit. Ini sangat buruk saat dia belum mendapatkan penawar racun ular itu.
Wei Qionglin merasa bahwa dia melihat pada Yi Hua terlalu banyak hari ini. Namun dari sana ia tahu jika Yi Hua sedang tak baik-baik saja. Ditambah lagi dengan darah yang mengalir dari hidung Yi Hua. Setahu Wei Qionglin itu adalah persoalan yang serius.
Tangan pria itu mengambil sapu tangannya yang biasanya memang jarang Wei Qionglin gunakan. Akan tetapi, kali ini ia memberikannya pada Yi Hua. Tanpa bermaksud untuk menyentuh pada Yi Hua sedikit pun. Wei Qionglin tersenyum tipis ketika memberikan sapu tangan itu pada Yi Hua.
Yi Hua langsung mengambil sapu tangan itu untuk mengelap darah yang mengalir dari hidungnya. Ia berucap pelan, "Sepertinya saya alergi terhadap debu, Jenderal Wei."
Mendengar itu Wei Qionglin menghela napasnya. Ia tak mengerti mengapa Yi Hua begitu keras pada dirinya sendiri. Akan tetapi, ia tak ingin merusak apapun yang Yi Hua tentukan dari hidupnya. Bagaimana pun Yi Hua seperti tak ingin bergantung pada siapapun.
SRET!
Setelah mengusap darah yang mengalir dari hidungnya, Yi Hua langsung mengembalikan sapu tangan itu pada Wei Qionglin. Ini bukan tentang persoalan kebersihan dan lain-lain. Masalahnya adalah Yi Hua tahu bahwa kain itu cukup mahal, sehingga dia tak ingin merusaknya. Jika di tangan Yi Hua, sapu tangan selembut itu hanya akan menjadi pengganjal lemarinya yang sering terbuka pintunya.
"Terima kasih, Jenderal Wei. Tolong disimpan lagi sapu tangan itu, dan anggap milik sendiri," ucap Yi Hua sambil melewati Wei Qionglin yang masih terpaku.
"Aku yakin dia merasa menyesal karena menawarkan sapu tangan itu padamu," timpa Xiap yang menjawab pertanyaan di kepala Yi Hua.
Akan tetapi, tak lama Wei Qionglin menatap sapu tangan yang terlihat agak kusut itu dengan senyum kecut. "Kau tahu ... Dahulu sekali aku pernah memberikan sapu tangan pada seseorang. Namun dia hanya mengusap keringatnya, dan mengembalikannya padaku begitu saja. Kau tahu karena apa ..."
Yi Hua menggelengkan kepalanya. Ia sebenarnya ingin menjawab jika sosok yang diceritakan oleh Wei Qionglin mungkin hanya malas. Meski begitu, ia tak ingin menghancurkan nostalgia Wei Qionglin dengan sapu tangan.
"Katanya, jika kau mencucinya maka semuanya akan bersih dan tak akan tertinggal lagi kenangan di sana," lanjut Wei Qionglin dengan nada kecut. Seolah pria ini tengah memikirkan sesuatu, tetapi Yi Hua enggan untuk bertanya.
Bukankah ucapan itu lebih terlihat seperti alasan agar tak mencuci sapu tangan pinjaman ini?
Yi Hua mencengkeram tangannya, tetap melewati Wei Qionglin. "Namun Anda tak memberikannya pada saya, Jenderal Wei."
Wei Qionglin menatap punggung Yi Hua yang kecil dan tertatih-tatih.
"Yahh ... Itu mungkin ..." bisiknya pelan entah pada siapa.
***
"Di mana jamurnya, Xiao?" tanya Yi Hua sambil berusaha bertumpu pada dinding lubang bawah tanah.
Katanya, jamur penawar racun ular dari Yue Yan adalah sesuatu yang langka dan dianggap hanya sekadar cerita. Orang-orang Kerajaan Li tahu tentang tumbuhan tersebut, tetapi menganggapnya sebagai ucapan semata. Hal itu karena mereka tak pernah melihatnya, walau sebenarnya jamur itu ada.
Ditambah lagi ...
Yi Hua menatap pada Paman yang tengah berbincang dengan Ping. Paman itu terluhat sangat baik-baik saja. Terlalu baik daripada orang yang terlihat nyaris mati sebelumnya. Mungkin banyak yang mengira jika Paman itu terkapar bohongan.
Namun itu lebih baik ...
Sebab, lebih baik mereka berpikir bahwa mereka baik-baik saja, sehingga mereka tak akan gempar. Yah ... Begitu ...
BRUK!
Apalagi ini?
Wei Qionglin berlari menuju ke arah pria yang pingsan. Tangannya segera memeriksa pada Paman yang pingsan itu. "Dia keracunan," bisik Wei Qionglin sambil menatap pada Yi Hua.
Para pedagang mulai berpikir dengan kalut. "Jika kita terperangkap di dalam lubang ini, maka ular-ular itu tak akan bisa kita hindari."
Bagaimana pun sangat aneh jika mereka malah bersembunyi di tempat yang seperti sarang ular. Dan, lubang ini juga sama gelapnya seperti di permukaan tanah. Mereka juga telah kehilangan pemandu mereka. Yah, mereka mungkin tak pernah tahu siapa pemandu mereka, dan mengapa pemandu mereka bertarung sebelumnya.
Masalahnya adalah ... Yi Hua menghela napasnya.
"Ini memang sarang ular," ujar Yi Hua yang sudah sangat malas untuk berdebat.
"Kau memang sengaja membawa kami kemari! Apa kau salah satu rekan dari Pendeta Buta itu?" tuduh salah satu pedagang dengan keras.
Pria itu berseru dengan tatapan marah. Mungkin sejak awal mereka tak pernah ingin mempercayai Yi Hua. Hanya saja mereka cukup takut dengan perintah Jenderal Wei yang selalu mendukung Yi Hua.
Yi Hua sungguh malas menghadapi hal itu. Ditambah lagi dengan kepalanya yang berdenging. Bagaimana pun dia tak punya pilihan lain, selain mengatakan.
"Tentu saja sengaja! Apa kau tahu jalan di Lembah Debu itu? Lebih baik kita bersembunyi di sini sebelum bertemu dengan penguasa Lembah Debu," jelas Yi Hua malas-malasan.
Apa mereka lupa situasi genting di permukaan tanah sebelumnya. Bahkan mereka hanya beruntung saat Yue Yan kehilangan kendali pada para ularnya. Jika mereka tak segera masuk ke dalam lubang ini, maka entah berapa orang yang akan keracunan lagi.
__ADS_1
Apalagi mereka masih belum menemukan penawarnya.
Yi Hua mengingat ucapan dari Xiao bahwa jamur itu pun sulit ditemukan di gua. Itu karena jamur itu adalah makanan para ular peliharaan Yue Yan. Dan, jumlahnya juga tak banyak karena selalu dikonsumsi para ular. Jika pun ada, mungkin mereka akan berebut dengan para ular.
Jadi, jika ingin menemukannya, maka mereka harus lebih cepat daripada ular-ular itu.
Yi Hua menerbangkan sisa jimatnya ke permukaan bagian langit-langit lubang. Akan tetapi, ...
SRET!
Jika Yi Hua tak menghindar, maka kepalanya mungkin akan dipukul oleh seorang pedagang dengan wajah marah. Hal itu membuat Wei Qionglin maju untuk membawa Yi Hua berdiri di belakamhnya. Mungkin orang ini sudah sangat sebal dengan ketidaktahuannya. Apalagi Yi Hua sedikit pun tak berniat mengatakan apa-apa.
"Bisakah kita tenang sekarang, Tuan? Kita tak boleh sedikit pun panik di saat seperti ini?" saran Wei Qionglin, tetapi tatapan pria ini begitu tajam.
Lalu, Wei Qionglin memperhatikan Yi Hua dengan lekat hanya agar tahu bagaimana keadaan peramal itu. Namun ia malah melihat Yi Hua menatap ke arah dinding di sebelah mereka. Kemudian, ...
BRUK!
GRAK!
Wei Qionglin cukup terkejut ketika Yi Hua menendang dinding tersebut. Itu adalah tendangan yang sangat kuat, dan mencengangkan. Bagaimana pun mereka sangat tahu jika dinding lubang bawah tanah ini kokoh. Akan tetapi, Yi Hua menciptakan retakan dari tendangannya. Jangan-jangan dugaan Wei Qionglin benar. Yi Hua memang reinakrnasi dari sapi di kehidupan sebelumnya.
"Yi Hua, jangan terpancing dengan keadaan. Jika kau memukul pria ini, dia tak akan sanggup menahan pukulanmu," ujar Wei Qionglin yang menahan mulutnya yang ingin berkata jika Yi Hua cukup bar-bar.
Pria yang sempat ingin memukul Yi Hua menunjuk dengan semakin marah. "Lihatlah dia memang ingin kita terkubur di sini!"
Akan tetapi, Yi Hua terlihat sangat fokus pada apa yang tengah dilakukannya sekarang. Tangannya mengorek pada retakan pada dinding lubang. Lalu, berkat tangannya yang kecil, sehingga ia bisa mengambil sesuatu yang terkubur dari sana.
Seperti yang dikatakan Xiao di telinganya. "Jika kau ingin mencari benda yang langka, maka kau tak bisa mencari di tempat yang tak bisa dilalui orang lain."
Jika tempat yang sering dilalui oleh orang lain, maka itu pasti mudah ditemukan. Itulah kata kuncinya.
Yi Hua awalnya tak berpikir tentang ini, tetapi ia melihat adanya celah di dinding ruangan bawah tanah ini. Apalagi ular-ular milik Yue Yan adalah ular berukuran kecil, sehingga mereka bisa menyelinap ke dalam retakan ini. Dan, dugaan Yi Hua benar.
"Apakah ini jamurnya, Xiao?" tanya Yi Hua ketika di tangannya telah menggenggam sebutir jamur dengan warna hijau.
Sekali melihat saja, orang-orang akan mengiranya sebagai jamur beracun. Namun itu adalah ciri-ciri dari jamur langka ini. Sehingga ketika Yi Hua mengambilnya salah seorang dari pedagang langsung mengenalinya. Bahkan Xiao pun belum menjawabnya.
"Itu adalah jamur penawar racun. Katanya, itu mahal!" ujarnya dengan keras.
Yi Hua menghela napasnya. Ia memilih untuk menuju pada Paman tua yang berada di samping Ping dan ayahnya. Tanpa banyak berkata Yi Hua meraih lengan pria tua itu, meski Paman itu terlihat ragu dengan Yi Hua.
Akan tetapi, tangan Yi Hua lebih kuat lagi untuk menarik tangan Paman itu. Lalu, Yi Hua mengusapkannya ke bekas gigitan ular.
Xiao memberitahu di telinga Yi Hua, "Yi Hua, kau tahu bukan jika Paman ini akan menatapmu dengan aneh. Karena sejak awal dia tak kesakitan."
Tentu saja karena paman ini tak tahu jika dia sebenarnya akan segera mati. Itu semua karena Yi Hua telah mengambil rasa sakitnya. Sehingga apa yang dilakukan Yi Hua sekarang cukup aneh di mata mereka. Mengapa Yi Hua mengobati Paman itu yang nyatanya sehat-sehat saja?
SRET!
Yi Hua melemparkan sisa dari jamur kecil itu pada Wei Qionglin. Itu adalah jamur yang sangat kecil seperti baru tumbuh. Sehingga mereka harus memanfaatkannya dengan baik. Mereka punya satu orang lagi yang dipatuk ular.
"Obati orang itu, Jenderal Wei. Atau, dia akan segera menjadi mendiang tak berapa lama lagi," ujar Yi Hua yang sedang berusaha menormalkan keadaannya.
Akan tetapi, ...
BRUK!
"Ada jamur di dinding ini. Ayo kita cari! Bukankah harganya mahal?" Lalu, orang-orang bodoh ini mulai ingin menghancurkan dinding bawah tanah.
Orang-orang ini ....!!
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1