Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Seorang Penari 4: Bertemu Lagi


__ADS_3

Ketika Yi Hua masuk ke dalam aula penginapan yang cukup besar itu, dia sudah disambut dengan warna-warni memancing mata. Tentu saja itu dihasilkan dari tirai-tirai dengan warna yang mencolok. Belum lagi dengan banyak meja kecil yang berjejer di dalam ruangan.


Sepertinya penginapan ini menyediakan tempat makan untuk mereka yang menginap di tempat ini. Beruntung Yi Hua sempat memesan tempat di sini. Itu semua karena banyak orang yang tertarik dengan para penari tersebut.


Kali ini Yi Hua tetap dengan penutup kepalanya. Jelas ia harus menyembunyikan identitasnya. Dan, ... Begitu juga kedua orang yang mengikutinya ini.


"Apakah Anda kesulitan, Perdana Menteri ... Ah, maksudku Huan Ran?" tanya Yi Hua yang menahan geli.


"Yi Hua, jangan memancing kemarahannya lagi. Bagaimana jika Kakak Huan menggulingkan kita ke jurang?" bisik Liu Xingsheng dengan nada ketakutan yang berlebihan.


Bagaimana pun ia tak pernah mengajak kedua Perdana Menteri ini untuk ikut. Hanya saja Liu Xingsheng adalah orang yang tertarik dengan aktivitas bersantai seperti ini. Sehingga Liu Xingsheng langsung mengikuti Yi Hua dalam penyelidikan.


Dan, jika Liu Xingsheng ikut maka pengasuhnya juga akan ikut.


Huan Ran pasti tak akan membiarkan Liu Xingsheng bekerja sendirian. Liu Xingsheng pasti diberkati langit, karena dia selalu memiliki orang-orang yang protektif padanya. Meski begitu, Liu Xingsheng harusnya punya hati yang tabah. Huan Ran memang tak menyeramkan seperti Selir Qian, tetapi sekali bicara Huan Ran akan menyakiti hati seseorang.


"Bagaimana jika mereka sama sekali tak ada hubungannya dengan kasus ini?" tanya Huan Ran langsung pada poinnya.


Penampilan pria itu hampir sama dengan Yi Hua. Huan Ran terlihat seperti petarung jalanan dengan gaya pakaiannya yang sekarang. Baju serba biru gelap, serta penutup kepala dengan warna senada. Sedangkan, Liu Xingsheng memakai pakaian berwarna biru muda lengkap dengan penutup kepalanya.


Yi Hua? Tentu saja dia tetap dengan pakaian putihnya dan penutup kepala usang miliknya.


Yah, mungkin dibanding kedua Perdana Menteri ini Yi Hua lebih terlihat seperti pelayan mereka saja.


SRET!


Makanan.


Mata Yi Hua langsung berbinar ketika melihat hidangan yang disajikan di tiap meja untuk para tamu. Sehingga ia hanya menjawab Huan Ran dengan asal, "Jika tak ada hubungannya, maka anggap ini mengistirahatkan diri."


Liu Xingsheng mengangguk-angguk untuk menyetujui ucapan Yi Hua. Sedangkan, Xiao di telinga Yi Hua memberikan nasihat bijak.


"Jangan biarkan kerakusan dirimu membuat lengah. Itu yang pernah aku dengar dari kata tetua zaman dulu. Kau terlihat seperti sapi yang siap memakan meja, HuaHua," ucap Xiao tanpa ada niat menyembunyikan sindirannya.


Dengar, Xiao. Entah di zaman mana tetua yang kau sebut itu muncul. Namun di zaman yang lebih 'cerdas', aku percaya tak ada sapi yang bisa makan meja.


Xiao nyaris memberi Yi Hua siraman air suci hanya agar kepala konyol Yi Hua normal kembali. Nyatanya mereka hanya saling melempar sindiran untuk satu sama lainnya. Sayangnya, kedua makhluk ini, Yi Hua dan Xiao ini sama-sama tak ingin kalah dalam menyindir.


"Yi Hua." Kali ini perhatian Yi Hua teralih pada Huan Ran yang menyerukan namanya dengan penuh ancaman.


Mungkin Huan Ran selalu memiliki pola hidup yang serius. Itu jelas tak searah dengan gaya hidup Yi Hua yang seperti nyamuk. Sejatinya, nyamuk hidup hanya dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, mereka senantiasa makan dan berkeliaran sebanyak yang ia inginkan. Bahkan terkadang darah yang mereka ambil bisa membuat mereka mati.


Dan, nyamuk terus hidup seperti itu. Makan mereka mati, dan jika tak makan mereka juga akan mati. Dan, Yi Hua jelas lebih baik bertindak, dibanding lenyap begitu saja.


Sebuah prinsip hidup yang aneh, tetapi Yi Hua tetap menjalaninya.


"Tenang saja, Kakak Huan. Meski masih panjang yang harus kita selidiki, tetapi aku yakin bahwa kita akan menemukan sesuatu di balik kelompok tari ini," ucap Yi Hua yang menanggalkan formalitas. Mereka di sini tak bisa saling menyapa dengan hormat. Mereka tengah menyamar.


Mata Huan Ran tetap terlihat tajam, dan itu membuat Yi Hua tertawa aneh. Jelas itu hanya tindakan agar dia tak terlihat seperti orang yang bersalah. Ia juga melirik Liu Xingsheng untuk meminta pertolongan, tetapi pria itu malah terbatuk-batuk aneh. Sehingga Yi Hua mengira Liu Xingsheng tersedak batu sungai di tenggorokannya.


"Saya ... Maksudnya, aku bertaruh dengan seluruh uang yang aku bawa hari ini, Kakak Huan. Ini pasti berguna," ucap Yi Hua sambil mengangkat satu tangannya ke udara.


Sebenarnya Yi Hua agak takut juga ketika memanggil Huan Ran dengan sebutan kakak. Dan, karena itu Yi Hua hanya menarik senyum selebar yang ia bisa. Seolah Huan Ran akan kasihan dengan wajah melaratnya.


Huan Ran terdiam sejenak. Sebelum pria itu membuang wajahnya untuk tak memandang wajah Yi Hua, dan menjawab dengan singkat.


"Terserah kau saja."


Sayangnya, uang yang Yi Hua bawa sudah habis untuk biaya perjalanan ke Kota Zhu. Semoga Huan Ran dan Liu Xingsheng tak mengetahuinya. Meski begitu, Huan Ran terlihat duduk dengan tenang di depan meja kecil. Sudah dipastikan bahwa Huan Ran tak akan mempermasalahkan mereka yang menonton pertunjukkan ini lagi.


Liu Xingsheng bahkan nyaris bertepuk tangan saat Yi Hua berhasil membujuk Huan Ran. Ini jelas tak biasa saat Huan Ran mengalah begitu saja. Liu Xingsheng harus segera meminta Yi Hua membagi ilmunya ini.


Namun ketika ia menoleh pada Yi Hua, peramal kecil itu sudah asik dengan potongan besar daging sapi di mangkuknya. Bahkan Yi Hua terlihat tak tertarik dengan pertunjukkan yang hampir mulai. Padahal beberapa gadis dengan pakaian yang indah layaknya teratai telah berdiri di bagian depan ruangan. Ia lebih tertarik pada daging sapi berbumbu yang dipanggang di atas meja


"Makanlah dengan tenang. Tidak ada yang akan mengambil makananmu," protes Liu Xingsheng yang tengah meminta semangkuk teh pada pelayan.


"Aku hanya tak ingin ada yang curiga jika kita tidak menikmati makanan," jawab Yi Hua seadanya.

__ADS_1


Ketika makanan di depan Yi Hua mulai lenyap satu persatu, Liu Xingsheng langsung melindungi makanan miliknya secara spontan. Ia hanya tak menyangka jika Yi Hua akan makan seperti reinkarnasi sapi.


CRING!


Kali ini perhatian Yi Hua teralih. Terutama ketika suara alat musik itu begitu menarik perhatiannya. Itu nyaris seperti suara perak yang berdeting. Hal tersebut mengingat Yi Hua pada seorang pria yang juga datang dengan suara yang sama.


Pria dengan topeng perak yang tak pernah Yi Hua lihat wajahnya dengan jelas. Hua Yifeng.


Namun ketika melihat asal suara, Yi Hua segera mengomeli dirinya sendiri.


Di depan sana ...


Ada sekitar lima gadis yang memberikan senyum cantik di depan sana. Namun pesona yang lebih membuat orang lain terpaku ialah seseorang dengan pakaian merah pudarnya. Sosok itu terlihat sangat menarik, terutama saat wajahnya hanya terlihat separuh dari balik cadar dengan warna merah pudar. Hanya mata phoenixnya yang tampak menantang angin.


CRING!


Sekali lagi suara itu menimbulkan kesan yang manis untuk sosok yang juga sangat menarik. Setelah itu, sosok dengan cadar merah itu berputar dengan pakaiannya yang indah. Gerak tangannya sangat cepat dan halus.


Jika bukan karena diberitahu oleh Xiao, Yi Hua juga akan terpana dengan sosok itu.


"Yi Hua, dia adalah pria yang kerumunan itu," ucap Xiao di telinga Yi Hua.


Yi Hua hanya bisa mengasihani dirinya sendiri ketika mengetahui fakta itu. Nyatanya sosok cantik yang menari indah di depan sana ialah pria biawak waktu itu.


Bagaimana ini bisa terjadi?


Yi Hua yang memakai pakaian pria, dan pria biawak itu memakai pakaian indah seperti teratai. Belum lagi dengan tariannya yang sangat menarik mata. Meski begitu, Yi Hua tak sepenuhnya merasa 'kalah'.


Sebab, ada hal lain yang menarik matanya. Terutama ketika beberapa anak-anak dengan pakaian yang cantik tampak mengitari para penari. Anak-anak itu terlihat membawa keranjang yang dipenuhi bunga. Mereke kemudian menaburi bunga-bunga itu untuk para penari.


Itu sangat indah untuk dilihat. Seperti guguran bunga plum ketika musim bersemi. Terutama saat kau melihat anak-anak mengitari mereka seolah tengah bersenda gurau.


Akan tetapi, ...


Wajah anak-anak itu ditutupi topeng kayu.


KRAK!


SRING!


Sebuah pedang melintas di depan wajah Yi Hua. Jika saja Yi Hua tak punya gerakan yang cepat, mungkin kain penutup kepalanya akan teriris oleh pedang. Meski begitu, tak ada kericuhan karena serangan itu. Sebab, tebasan pedang itu adalah bagian dari tarian.


Dasar! Dia pikir wajahku ini batang pohon saja hingga dia pikir ingin menebang.


Lalu, mata Yi Hua bertemu dengan mata pria itu, Wei Fei. Seingat Yi Hua, pria itu dipanggil dengan nama Wei Fei kemarin.


Lalu, Wei Fei memutar lagi dengan gerakan yang sangat halus. Bahkan gerakan itu jelas mustahil Yi Hua lakukan. Jika Yi Hua menari seperti itu mungkin akan muncul suara seperti patahan kayu di pinggangnya. Jelas sekali karena Yi Hua tak akan anggun seperti itu.


"Aku tak pernah salah menilai kecantikan," bisik Wei Fei ketika menarik pedangnya.


Bisikan itu jelas hanya bisa di dengar oleh Yi Hua yang berada di depannya. Pria ini masih mengingat Yi Hua. Entah karena apa. Mungkin saja Yi Hua asli pernah berhutang pada pria ini sebelumnya. Atau, pria ini mungkin saja adalah seseorang yang pengingat.


Yah, entahlah. Dia hanya menduga.


Meski pria ini bercadar, tetapi entah mengapa Yi Hua bisa membayangkan senyum pria ini yang khas.


Hanya saja.


Yi Hua kurang menyukai senyum dari pria ini.


***


Ketika pertunjukkan berakhir, Yi Hua menyadari bahwa ia kehilangan ***** makannya tiba-tiba. Hal itu membuatnya menyerahkan sisa makanannya ke arah Liu Xingsheng. Sehingga ia mendapat tatapan maut dari pria itu.


"Habiskan, Yi Hua! Kau mau tumbuh besar atau tidak?" tanya Liu Xingsheng sambil mendorong kembali potongan daging besar yang tersisa itu pada Yi Hua.


Namun Huan Ran memang lebih serius dari orang lain. Sehingga ketika orang-orang di sekitarnya ramai membicarakan kecantikan para penari, pria itu mendekat ke arah Liu Xingsheng dan Yi Hua. Seperti biasanya mereka harus membicarakan sesuatu yang mereka lihat hari ini.

__ADS_1


"Apakah Anda mengenalnya, Tuan Yi?" tanya Huan Ran yang kembali menjadi formal.


Kebiasaan memang sulit untuk dibuang. Itu yang membuat mereka tetap berbicara dengan cara yang sama. Entah apa fungsinya mereka bersandiwara sebelumnya, sebab tak ada orang yang mencurigai mereka sejak tadi. Mereka jelas lebih terpaku pada kecantikan para penari.


Dan, itu memang benar.


Bahkan Wei Fei saja terlihat sangat cantik!


"Kau ini merasa tersaingi ya? Bahkan Perdana Menteri Liu Xingsheng ini saja lebih cantik daripada dirimu," ujar Xiao yang memang memiliki kejujuran di atas rata-rata.


Yi Hua malas untuk menjawab Xiao menyebalkan ini.


Ia hanya berbisik kembali pada Huan Ran. "Saya tak sengaja bertemu dengan pria itu kemarin, Perdana Menteri Huan."


Liu Xingsheng mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu dengan pria, Yi Hua? Maksud Kakak Huan ialah penari dengan cadar merah pudar itu."


Namun belum sempat Yi Hua menjawab, Liu Xingsheng yang histeris sendiri.


"Hey, maksudmu ..."


SRET!


Yi Hua dengan mengesampingkan masalah kesopanan langsung memasukkan potongan daging sapi ke mulut Liu Xingsheng. Terutama saat Perdana Menteri berisik ini nyaris berteriak. Setelah itu, Yi Hua memperhatikan sekitar, dan beruntung tak ada yang begitu perduli pada keributan mereka.


"Dari informasi yang didapat para prajurit, kelompok penari ini datang sekitar dua hari yang lalu. Namun beberapa hari sebelumnya mereka telah melakukan pertunjukkan di Kota Selatan. Pria itu adalah pemimpin dari kelompok penari itu," jelas Huan Ran yang menuang air dari kendi yang ada di atas meja.


Jelas mereka hanya bertingkah seperti tengah berbicara dengan santai. Walau Liu Xingsheng masih takjub sendiri dengan fakta yang ada. Terutama saat Huan Ran terlihat tak terkejut sama sekali.


"Bukankah kasus ini mulai diatasi oleh kerajaan ketika ditemukannya mayat seorang anak di Kota Selatan?" tanya Yi Hua memastikan.


Ia pikir kebetulan di dunia ini tak begitu banyak. Sehingga jika bukan kebetulan, maka itu adalah kemungkinan.


Huan Ran mengangguk. Namun mata pria itu tampak mengawasi ke seluruh penjuru ruangan. "Anak-anak itu terlihat aktif menari. Tidak ada tanda-tanda seperti terpaksa, atau ketakutan pada sesuatu."


"Jika seperti itu, bukankah mereka tidak sedang diculik? Yang membuat aneh itu ialah karena mereka ditutupi topeng," ujar Liu Xingsheng memberikan pendapatnya.


Huan Ran menghela napasnya sebelum menegak minuman yang dituangnya sebelumnya. "Itu belum tentu, Xingsheng. Terkadang ada beberapa orang yang pandai menyembunyikan ekspresi."


"Tapi, Kakak Huan. Mereka hanyalah anak-anak. Mereka tak akan mungkin bisa menyembunyikan ketakutan sebaik orang dewasa," bantah Liu Xingsheng cepat.


Yi Hua semakin tertarik dengan minuman yang ditegak oleh Huan Ran. Oleh karena itu, ia meraih kendi itu dari hadapan Huan Ran.


"Apakah mungkin mereka melakukan sesuatu pada anak-anak itu? Mungkin kita bisa mencurigai si pemimpin mereka," ucap Yi Hua masuk akal.


Yi Hua mendadak ikut-ikutan menuang air dari kendi yang sama seperti Huan Ran. Ia hanya sedikit heran dengan aroma air itu yang agak berbeda. Akan tetapi, sebelum Yi Hua sempat menuangnya, sebuah tangan menghentikannya.


"Itu tak baik untukmu. Kau bisa mabuk." Suara itu terdengar sangat dekat dengan telinga Yi Hua.


Baru saja dibicarakan, dan biawak ini muncul!


Ketika itu Yi Hua segera menarik tangannya dengan cepat. Ia hanya tak begitu nyaman ketika tangannya digenggam oleh pria ini. Hal itu membuat pria itu menarik bibirnya lebih lebar lagi. Seperti biasa Yi Hua melihat gigi taring pria itu di balik senyumnya yang lebar.


"Apakah saya boleh bergabung?" tanya pria itu dengan sapaan yang sopan.


Yang ada di sana adalah orang yang mereka bicarakan. Pemimpin kelompok penari jalanan, Wei Fei.


"Yi Hua, aku mencium aroma kematian dari pria ini," ucap Xiao di telinga kiri Yi Hua.


Apa maksudnya? Apa pria ini bukan manusia?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2