Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Mulai Muncul


__ADS_3

Keributan besar terjadi di Pusat Kota.


Selain karena rencana kudeta yang dibuat oleh Pejabat Wen dan beberapa Pejabat lainnya, tetapi juga karena kasus pembantaian di Istana Kediaman Putra Mahkota. Di mana di sana saksi utama ialah Raja Li Shen sendiri. Suatu kejadian yang sangat berbeda dari biasanya.


Opini orang lain bermunculan. Di mana bagaimana seorang Raja bisa membiarkan kejahatan terjadi di depan matanya?


Kembali lagi pada pandangan bagaimana pun Raja ini juga memiliki kelemahan. Namun lagi-lagi ini kembali pada pandangan bahwa Raja ini memang tidak becus memerintah. Bahkan yang selamat dalam kejadian itu hanyalah Li Quon dan Raja sendiri.


Kemarahan Pejabat Wen bertambah lagi ketika tahu Putrinya tewas dalam kejadian di kediaman cucunya sendiri.


Mereka semakin gencar untuk meruntuhkan kerajaan. Menendang Raja yang dipandang tak berguna dan lemah. Meski begitu, beberapa orang yang masih percaya pada Raja tidak membelot.


Kala itu Pengadilan Tinggi berlangsung dengan sedikit dingin. Di mana sekarang kepercayaan tampak terbagi. Kebanyakkan mereka menyudutkan Raja, sehingga tanpa sengaja seperti meminta Raja turun dari tahtanya. Termasuk di dalamnya Pejabat Wen, yang dipandang sebagai pelopor dari kudeta


BRAK!


"Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas kematian putri hamba, Yang Mulia?" tanya Pejabat Wen setelah menggebrak meja di depannya.


Wang Zeming menatap tajam pada Pejabat Wen. "Jaga sopan santun Anda, Pejabat Wen."


Di kala kesalahan dan kelemahan pemimpin muncul, maka pihak kontra akan menggunakan itu untuk melemahkan.


Raja Li Shen terlihat mengepalkan tangannya. Akan tetapi, ia tak bisa mengatakan apa-apa. Apalagi yang dicari oleh orang-orang sialan ini bukanlah kebenaran, tetapi justru kelalaiannya. Tempat di mana Raja Li Shen sendiri tidak bisa membela dirinya.


"Terutama Peramal Yi Hua! Bagaimana bisa Yang Mulia mempercayakan dia untuk menyembuhkan Pangeran Li Quon? Sekarang dia membunuh banyak orang!" bentak Pejabat lainnya.


Tapi dari ucapannya saja kita sudah tahu di kubu mana ia berada.


Jenderal Wei menghela napasnya. "Namun Yi Hua yang menyembuhkan Putra Mahkota saat itu. Tidak mungkin ..."


"Apanya yang tidak mungkin? Dia adalah Yi Hua! Dia menyebabkan banyak kerusuhan dahulu. Apa yang membuat dia tidak mungkin melakukannya?" bentak Pejabat Wen.


Lihatlah. Bahkan saat ini mereka tak bisa membalas ucapan para pengkhianat ini.


"Ini karena kita memilih Raja yang tidak sesuai dengan perintah Dewa," Suara bisik-bisik itu terdengar di sekitar mereka.


Raja Li Shen bahkan tak bisa membela dirinya sendiri.


Wang Zeming sebagai Penasihat Kerajaan menenangkan keramaian. "Jadi, bagaimana pendapat para Pejabat Tinggi tentang tindakan selanjutnya?" tanya Wang Zeming untuk membuka diskusi.


"Buat Peramal Yi mendapatkan balasan atas perbuatan terkutuknya," jelas Pejabat Wen.


Tangan Raja Li Shen tanpa sadar mengepal. Bagaimana pun Yi Hua memberinya perasaan akrab tentang kerinduannya terhadap seseorang. Akan tetapi, ia adalah seorang Raja. Ia tahu peraturan kerajaan. Tidak ada bukti yang bisa melindungi Yi Hua. Raja memang ada di sana, tetapi posisi Raja saja sudah tidak dipercayakan pada Li Shen.


Ia ingin membela diri, tetapi tak ada cara untuk membela diri. Tahta yang Li Shen pegang sejatinya mejatuhkan dirinya sendiri.


Dengan kata lain Li Shen tak berguna. Ia mengakui itu sendiri.


Wang Zeming melirik Li Shen yang seperti tidak ada di tempatnya. Pria itu berdehem sebentar sebelum membuka suaranya.


"Namun Yang Mulia mengatakan jika pembunuhnya bukanlah Peramal Yi. Jangan pandang sebagai Raja lagi, tetapi Yang Mulia adalah saksi," jelas Yue Yan yang entah ada angin apa, tetapi dibawa Wang Zeming ke Pengadilan Tinggi.


Berkat pelatihan Yue Yan lebih bisa mengontrol mulut jujurnya. Sehingga sekarang dia bisa berbicara dengan lantang dan baik. Itulah yang diharapkan sebagai calon Perdana Menteri.


Pejabat lain yang berada di kubu pembelot tentu saja tak setuju dengan ide itu. Ia membantah. "Yue Yan, kau belum punya hak berbicara di depan Pengadilan Tinggi!" bentaknya keras.


"Lalu, kalian orang-orang sial ... Tidak maksud saya orang yang pandai menghakimi tanpa bukti jelas saja yang pantas bicara di sini?" Yue Yan menolak tunduk di bawah tekanan orang lain.


"Yue Yan kau ..."


"Hentikan!" ucap Wang Zeming menghentikan perdebatan. Ia melirik Yue Yan untuk menghentikan ucapan pria itu. Akan tetapi, Yue Yan tetap pada jalannya.


"Apakah saya salah Penasihat Wang? Saya diajarkan dengan semua pelatihan memuakkan itu. Saya diajarkan tata krama dan aturan-aturan kerajaan yang sialannya hanya ada di sana, tetapi hanya sedikit yang memahaminya. Sejauh yang saya ingat peraturan kerajaan tak pernah membenarkan adanya pemberian hukuman tanpa bukti yang jelas! Atau ... Apa hanya saya yang dipaksa mempelajari hal ini? Dan Pejabat Yang Terhormat memegang jabatan tinggi tanpa mengetahui ini?" tanya Yue Yan dengan menggebu-gebu.


Yue Yan bisa melihat kelemahan mereka karena Yue Yan terbiasa membaca ekspresi. Semenjak mata ini dianugerahkan padanya, ia seperti melihat sisi lain dari orang lain. Yue Yan mulai mengerti mengapa Shen Qibo memilih menutup matanya dan bertindak seolah dia adalah pembunuh yang membantai siapa saja.


Padahal Shen Qibo adalah orang yang dengan jiwa nasionalisme tinggi. Dimana ia memberantas orang-orang Lembah Debu yang dahulu ingin melakukan kudeta besar-besaran. Namun karena membunuh adalah sesuatu yang dianggap salah dan pendosa, Shen Qibo menanggung itu semua.


Pejabat Wen sedikit bergetar ketika berbicara. "Lancang kau! Kau itu ..."


"Kenapa jika saya hanya seorang Yue Yan? Lalu, saya tak pantas bicara begitu? Saya tak pantas mengajukan pemikiran saya terhadap kalian yang menjalankan Kerajaan? Jika seperti itu tidak perlu diadakan Pengadilan Tinggi sialan ini, dan tentukan sendiri tanpa harus bertukar pikir. Karena pendapat yang lain juga tak didengar!" bentak Yue Yan yang kelepasan banditnya.


Li Shen menoleh pada Yue Yan dan mengerti jika Yue Yan sebenarnya memiliki ucapan yang sangat jujur. Saat di wilayah Bao Jiazhen saat itu, Yue Yan juga tak pernah meninggalkannya. Ia mulai mengerti mengapa Yi Hua menyarankan Yue Yan menjadi bagian dari kerajaan.


Dia tidak pintar tetapi dia tak bermuka dua.

__ADS_1


Wang Zeming melihat ada kesunyian di Pengadilan Tinggi. Bukan karena mereka takut pada ucapan Yue Yan, tetapi mereka lebih takut jika mereka terlihat semakin buruk. Sebagian dari mereka hanya menjaga wajah dibanding mengutarakan pendapat.


"Jika seperti itu ... Bukankah lebih baik kita menunggu bukti yang jelas dan pengakuan dari Peramal Yi terlebih dahulu?" tanya Wang Zeming yang merasa sudah punya celah untuk menengahi.


Pejabat Wen tak bisa berkata apa-apa. Hanya saja ...


Raja Li Shen menyipitkan matanya. Meski di Pengadilan Tinggi ini Raja Li Shen tak bisa dijatuhkan, tetapi pengkhianat ini pasti punya cara lain lagi. Li Shen menganggukkan kepalanya kepada Jenderal Wei.


Jenderal Wei yang melihat itu menganggukkan kepalanya juga. Setelah itu, pria Wei itu keluar tanpa diketahui oleh orang lain. Perintahnya adalah jelas dan Jenderal Wei sangat mengerti.


Menjalankan rencana yang seharusnya Li Shen pikiran sejak dulu tetapi tak bisa dilakukan. Dengan potensi Yue Yan, sekarang ia bisa melakukannya.


Mungkin.


Raja Li Shen memberi perintah untuk mengakhiri Pengadilan Tinggi hari ini.


"Kerahkan para prajurit untuk menyisir di seluruh Pusat Kota. Tutup gerbang Pusat Kota, sebab Peramal Yi pasti belum keluar jauh. Jangan ada yang menyebarkan cerita pada penduduk untuk mencegah kepanikan. Pastikan keselamatan penduduk sebagai prioritas," perintah Raja Li Shen yang berdiri dari tahtanya.


Lalu, Raja Li Shen memerintahkan pada pihak keamanan Kerajaan. "Perketat penjagaan untuk Putra Mahkota."


"Baik, Yang Mulia."


Li Shen melanjutkan, "Urus pemakaman Selir Wen. Berikan dia pemakaman terbaik. Kirimkan emas dan perhiasan ke kediaman Wen sebagai ucapan maaf dariku."


Raja Li Shen melirik tajam pada Pejabat Wen, "Apakah masih ada yang perlu dibicarakan di Pengadilan Tinggi hari ini?"


Seorang Pejabat yang cukup pendiam, tetapi di pihak netral angkat bicara. "Tidak, Yang Mulia. Hamba rasa sudah selesai dan kita memulai pencarian."


Karena itu Raja Li Shen berjalan keluar dari ruangan Pengadilan Tinggi. Di belakangnya mengikuti beberapa pengawal pribadi beserta Wang Zeming. Yue Yan juga keluar dan mengikuti Wang Zeming.


Wang Zeming berucap pada pengawal pribadi Li Shen. "Pastikan keselamatan Yang Mulia."


"Baik, Penasihat Wang."


Setelah itu, Wang Zeming menyeret muridnya, Yue Yan untuk menuju ke tempat belajar lagi. Yang tentu saja dibalas teriakan Yue Yan yang tidak terima dengan aksi penindasan ini.


***


Di salah satu kediaman yang sudah sangat hancur.


Namun Yi Hua masih ingat tempat ini.


Dahulu ia dan Li Shen bersembunyi di rumah ini saat Kerajaan Xin memburunya. Tentu saja kediaman Yi Hua sudah tak bisa menjadi tempat persembunyian. Pasti prajurit sudah menggeledah tempat itu.


Dan lucunya sekarang Yi Hua juga bersembunyi di tempat ini dari kejaran prajurit Kerajaan Li.


Ia tidak sendirian. Ada Zhang Yuwen, Si Tirai Berdarah dan Wei Wuxie ada di sana.


Seperti mengulang kisah lama.


"Jadi, Tuan Putri sekarang terlahir kembali dan kembali dikejar-kejar?" tanya Zhang Yuwen pada akhirnya.


Wei Wuxie yang memang sedingin permukaan wajah sapi, hanya melirik Yi Hua. Gadis itu ... Yah ... Mereka tahu jika Yi Hua adalah seorang gadis. Tentu saja mereka bertanya-tanya mengapa bisa Li Wei terlahir kembali menjadi seorang pria, Yi Hua?


Namun Yi Hua dengan santainya mengatakan jika dirinya sebenarnya perempuan. Yi Hua yang asli hanya menyembunyikan identitasnya. Dengan alasan yang tentu saja Yi Hua tak jelaskan.


Jadi intinya, gadis berpakaian pria itu malah menggelinding seperti ikan keluar dari air di lantai yang kotor. Sepertinya di saat genting Yi Hua berhasil datang ke rumah ini dan tidur.


Sial!


Sia-sia Zhang Yuwen khawatir.


Yi Hua meliukkan badannya yang terasa pegal. "Wei Wuxie, aku lapar."


Mau tak mau Wei Wuxie menghela napas. "Tuan Putri, Anda harusnya sedikit panik."


Tak lama senyum Yi Hua muncul. "Terima kasih."


Zhang Yuwen mengerutkan keningnya. "Apa yang perlu di terima kasihkan tentang ini, Putri?"


"Setidaknya di saat semua penghormatan padaku usai, kalian tetap memanggilku Putri," ucap Yi Hua sambil menepuk pakaiannya yang kotor.


Jangan lupa jika Yi Hua sedang mengenakan pakaian putihnya.


Wei Wuxie dan Zhang Yuwen hanya diam.

__ADS_1


"Kemana perginya Tuan Iblis Kehancuran?" tanya Zhang Yuwen pada Wei Wuxie.


"Menangkap ayam di Pusat Kota."


Huh?


Yi Hua tertawa pelan. "Memangnya kita sangat melarat ya sampai harus menangkap ayam orang?"


Namun tawa Yi Hua tak bertahan lama ketika ia mengingat kejadian di masa lalu.


Alur yang sama.


Wei Wuxie berucap dengan serius. "Ada seseorang yang melontarkan panah ke arah Yue Yan. Tuan Iblis Kehancuran mendapati ada surat di sana, dan di sana sama seperti dahulu. Diminta mencari ayam dengan surat yang terikat di kakinya."


Zhang Yuwen lebih penasaran tentang siapa yang disebut Yue Yan ini.


^^^*Ingat kan kalo Zhang Yuwen gak kenal Yue Yan. Yue Yan kan temannya Yi Hua dengan Liu Xingsheng.^^^


Terjadi kematian orang penting kerajaan. Bencana alam besar, yang sekarang berganti dengan serangan mayat berjalan di istana Putra Mahkota. Lalu, ... Ayam dengan surat di kakinya.


Yi Hua menegakkan tubuhnya ketika sosok tinggi Hua Yifeng masuk ke dalam.


Abaikan ayam yang digendong Hua Yifeng dengan mesra, Hua Yifeng menunjukkan surat yang terikat di ayam itu. Di belakang Hua Yifeng ada Liu Xingsheng yang menyusul. Sepertinya Yi Hua tahu siapa yang menangkap ayamnya. Karena yang kusut dan kotor itu Liu Xingsheng.


"Kertasnya kosong," ucap Hua Yifeng dengan wajah datar.


Yi Hua menatap Liu Xingsheng yang berjalan lelah. Lalu, Liu Xingsheng duduk di samping Yi Hua dan merebahkan kepalanya di pangkuan Yi Hua. Baru saja Liu Xingsheng ingin bicara, Yi Hua yang bicara terlebih dahulu.


"Sepertinya kita semakin dekat dengan Bencana Besar keenam," ucap Yi Hua.


Iblis Kehancuran, Hua Yifeng.


Tengkorak Putih, Bao Jiazhen.


Tirai Berdarah, Zhang Yuwen.


Pendeta Buta, Shen Qibo.


Putri Hitam, Li Wei.


Mereka adalah Lima Bencana Kerajaan Li. Setiap kelahiran mereka adalah bencana besar di dunia ini.


Lalu, seperti yang dikatakan Liu Xingsheng, menurut penelitian Selir Qian, memang akan terlahir bencana baru.


Hanya saja. Tak ada yang tahu seberapa besar kehancurannya.


***


Kemudian Kerajaan Li mulai masuk musim hujan.


Hujan dengan deras membasahi Pusat Kota dan kota-kota kecil terdekat. Tentu saja itu anugerah bagi kerajaan. Namun karena hujan deras, awan selalu mendung. Sehingga tak ada yang begitu menyadari jika mendung kali ini lebih mendung dari hujan yang biasanya.


Seolah sangat gelap seperti menjelang malam.


Akan tetapi, yang terjadi di Pusat Kota cukup buruk. Mendadak terjadi bencana alam yang sebenarnya tak begitu besar. Hanya saja gunung di sekitar Pusat Kota. Tepatnya di dekat Makam Keluarga Wei mendadak longsor akibat hujan deras.


Hal tersebut menyebabkan akses di sana tertutup. Tidak ada korban jiwa. Tidak ada juga jumlah yang luka. Karena kebetulan longsor di gunung tersebut terjadi di saat malam hari. Sehingga pasukan relawan kerajaan datang di siang hari untuk membersihkan jalan.


Hanya agar tahu jika benar-benar tidak ada korban jiwa di sana.


Yang ditakutkan ialah jumlah air hujan sekarang yang bisa saja mempengaruhi air laut.


Meski selalu hujan, tetapi orang-orang masih bisa berkumpul untuk berbicara dan membahas satu sama lainnya. Entah mengapa sekarang berita kematian Selir Wen seringkali dibicarakan. Padahal kerajaan belum bisa mengumumkan berita itu karena belum ada 'penyebab'. Sehingga lagi-lagi keributan besar terjadi.


Mereka bertanya-tanya bagaimana Selir Wen bisa mati dengan keadaan tercabik-cabik.


Apakah ada binatang buas yang berkeliaran? Atau ... Serangan mayat berjalan muncul lagi?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2