
Wuxie ... Mati pun kau masih akan terus dibahas.
Yi Hua mengusap tangannya yang terasa masih sakitnya. Meski laba-laba itu bisa menjadi penawar, tetapi bukan berarti rasa sakitnya hilang seperti belum pernah tergigit. Sehingga Yi Hua hanya menahan rasa sakit itu sambil memikirkan persoalan baru yang ada di depannya ini.
"Wu ... Maksud saya ... Mendiang Jenderal Wei Wuxie, apakah menghilang?" tanya Yi Hua pelan. Hanya untuk memastikan.
Siapa tahu jika ini hanya jebakan di antara jebakan lainnya. Itu semua karena struktur makam keluarga Wei ini sangat sesuai dengan rencana menuju kematian. Bahkan datang untuk melayat dan berdoa ke makam keluarga Wei saja harus berhadapan dengan hantu air, jebakan, dan juga laba-laba iblis.
Akan tetapi, Jenderal Wei Qionglin menatap tajam ke arah peti. "Setahuku kakak memang dimakamkan di sini."
Mengapa pria ini malah menjawab dengan kata yang tak pasti maknanya? Intinya Jenderal Wei juga tidak ada saat pemakaman Wei Wuxie, bukan?
Intinya ada sesuatu yang di luar sepengetahuan Jenderal Wei.
"Saat kecil kerabat yang memakamkan Kakak Wuxie mengatakan bahwa makamnya ada di sini," ucap Jenderal Wei mengingat-ingat.
Jadi, Jenderal Wei sendiri pun belum pernah melihat tubuh Wei Wuxie.
Apakah ini perbuatan Zhang Yuwen?
SRAK!
"HUWAAA!!!"
BRUK!
Baru saja dipikirkan, Zhang Yuwen muncul dengan senar menyebalkan itu. Pria itu merentangkan tali senar dan menarik beberapa prajurit yang tengah memakamkan kembali para mendiang keluarga Wei. Akibatnya, para prajurit yang terkena terpelanting seperti layaknya ditabrak sapi.
Yi Hua hanya bisa menghela napasnya sebal. Siapa sangka setelah sekian waktu berlalu Zhang Yuwen menjadi semakin menyebalkan. Atau memang pria ini menyebalkan sejak dulu, hanya saja karena dirinya yang lemah lembut dan baik hati, makanya dia mengabaikan sikap menyebalkan Zhang Yuwen.
"Tirai Darah*!" teriak para prajurit yang tersisa.
*Mengingatkan lagi, siapa tahu lupa. Tirai Darah itu julukannya Zhang Yuwen. Itu karena Zhang Yuwen biasanya menggantung mayat di pepohonan dalam jumlah banyak. Nah ... Di situ Zhang Yuwen melukai mangsanya dan membiarkan darah mereka menetes ke bawah seperti membentuk tetesan darah atau tirai darah. Masing-masing dari Lima Bencana punya julukannya, termasuk Hua Yifeng. Hayo masih ingat gak?!
Siapa saja pasti tahu betapa kejamnya Zhang Yuwen ketika membunuh manusia. Sehingga mereka tak mau menjadi koleksi hujan darah Zhang Yuwen. Ditambah lagi mereka pasti tak ingin mati dengan cara yang mengerikan.
Zhang Yuwen tersenyum manis, terutama ketika mereka terlihat ketakutan. Percayalah untuk Zhang Yuwen itu sangat menarik. Akan tetapi, pandangannya beralih pada seseorang yang berwajah jengkel. Terutama saat sosok itu tengah mengusap tangannya sendiri sambil menatap Zhang Yuwen jengkel.
Peramal kecil ini sungguh tak takut padanya?
"Hey, kau pria kecil sialan! Aku sebenarnya tak ingin menyakitimu karena kau terlihat seperti sebatang lilin lemah. Tapi karena kau ada di sini, ..."
SRET!
Zhang Yuwen melayangkan senarnya lagi pada Yi Hua, tetapi senarnya menyangkut pada ke udara. Tepatnya pada jimat Yi Hua yang terbakar sebagai tamengnya. Yi Hua melirik ke sampingnya, dan tak melihat Hua Yifeng ada di sana.
Ke mana pria itu pergi? Apa Hua Yifeng tak ingin ikut campur dan berurusan dengan Zhang Yuwen?
Mendadak Yi Hua teringat pada penjelasan An. Yah, pria itu sendiri yang menjelaskannya, maksudnya saat Hua Yifeng menyamar menjadi An. Pria itu pernah mengatakan bahwa Lima Bencana Besar Kerajaan Li biasanya tak saling 'mengganggu'. Mereka selalu berdiam dan mengurus yang ada di wilayah mereka, dan tak bersinggungan satu sama lain.
Seperti Putri Li Wei, yang menyebarkan kutukannya hanya di beberapa tahun silam. Setelah itu, Putri Li Wei mati dan kutukan usai. Begitu juga dengan Zhang Yuwen yang punya wilayah hutan tersendiri untuk berburu. Shen Qibo yang hanya membunuh di wilayah Lembah Debu. Bao Jiazhen yang hanya menguasai di wilayah laut selatan. Serta, Hua Yifeng yang menguasai wilayah pegunungan, terutama Gunung Hua.
Mereka tak saling bersinggungan. Tak mengganggu. Juga, tak perduli satu sama lainnya. Itulah yang dikatakan dalam sejarah Kerajaan Li. Walau Yi Hua masih tak mengerti mengapa Hua Yifeng begitu melekat padanya. Serta dalam ingatan yang kembali padanya, Hua Yifeng tak pernah ada dalam kenangannya.
"Kau berani melamun saat bertarung denganku gadis peramal! Akan ku gantung kau lebih lama daripada orang lain," ucap Zhang Yuwen yang kini menarik senarnya lebih kuat.
SRAT!
Mendadak Yi Hua tertarik beberapa langkah ke depan karena kekuatannya yang tak sebanding dengan Zhang Yuwen.
"Maaf Tuan Tirai Darah, mata Anda pasti di lutut, makanya tak melihat. Saya pria yang gagah .... ughh .... dan berani," ucap Yi Hua yang kesusahan menahan senar iblis Zhang Yuwen dengan jimatnya. Yi Hua bahkan terus tertarik ke arah Zhang Yuwen sedikit demi sedikit.
Melihat itu, Jenderal Wei bergerak untuk membantu Yi Hua, tetapi peramal itu berteriak.
"Periksa keadaan bawahan Anda, Jenderal Wei. Saya bisa mengatasinya," ucap Yi Hua yang menahan sakit.
"Tapi ..." Jenderal Wei jelas mengkhawatirkan Yi Hua. Namun pedang Jenderal Wei tak bisa menebas senar ini. Itu tak akan berguna.
Yi Hua meringis ketika merasa lengannya yang dilingkari oleh senar iblis Zhang Yuwen. Pasalnya, baru saja dirinya mengalami 'kembali ke awal'. Ini sama istilahnya tubuhnya baru membaik, setelah hampir mati sebelumnya. Belum lagi dengan racun laba-laba yang belum sepenuhnya netral di dalam tubuh Yi Hua.
Jika Xiao sadar sekarang, mungkin dia akan mengkritik tindakan Yi Hua yang memaksa kekuatannya saat ini. Sebab, jika terlalu banyak menyerap energi di sekitar, tungku iblis di dalam tubuhnya akan meledak. Dirinya sudah sangat mengerti situasi serba salah itu.
Oh iya. Xiao! Mengapa aku lupa pada peliharaan ku itu?
Jika di sini tak ada Hua Yifeng, Xiao bisa aktif kembali. Sehingga Yi Hua bisa meminta saran dari sistem itu. Walau terkadang bekerja kurang baik, tetapi Xiao juga bisa memberitahu keadaan Yi Hua saat ini. Setidaknya Yi Hua tahu batasan dari tubuhnya sendiri. Ia bisa berhenti sebelum meledak dengan konyolnya.
"Xiao, kau masih hidup atau tidak? Bisa kerja, tidak?" tanya Yi Hua dalam hati.
Tidak ada jawaban.
Hey, ini sistem pasti belum pernah dicium sapi! Yi Hua jadi ingin menendang kepala Xiao, jika makhluk itu berwujud. Di saat seperti ini Xiao masih betah menghitung sapi dalam mimpi. Rasanya Yi Hua memiliki banyak kalimat 'cinta' di dalam benaknya. Jika dikeluarkan mungkin isinya bisa menceritakan nama-nama binatang.
"Xiao ... Katanya Li Wei dahulu memiliki ucapan yang seperti kutukan. Kalau ku kutuk kau menjadi sapi, apa kau ..."
Belum sempat Yi Hua meneruskan ucapannya, Xiao yang ada di telinganya mendadak menguap seperti orang yang baru bangun tidur.
"Hoam ... Ini dengan Xiao System. Ada yang bisa dibantu? Jika ingin berlangganan atau menjadi anggota silahkan mati dahulu," ucap Xiao yang suaranya membuat Yi Hua ingin membanting seonggok makhluk.
Seperti yang Yi Hua duga, Hua Yifeng tak ada di dekatnya. Entah mengapa Yi Hua merasa ...
"Hey, ini bagaimana?" tanya Yi Hua yang tanpa sadar berucap nyaring. Sebenarnya itu hanya untuk menghilangkan semua yang berkeliaran di pikirannya.
Hal tersebut membuat Zhang Yuwen yang awalnya ingin menyerang Yi Hua menjadi batal. Entah mengapa dia lebih penasaran dengan apa yang Yi Hua lakukan. Ditambah lagi ... Peramal kecil ini adalah orang yang bisa menggunakan pedang Li Wei.
Ia yakin Yi Hua bukan orang sembarangan. Ditambah lagi dengan ekspresi sombongnya yang tak kenal takut. Akan tetapi, ketika dilihat-lihat lagi peramal ini terlihat aneh dan sering mengomel tak jelas.
Zhang Yuwen mengarahkan serangan ke sisi lain, dan Xiao yang seperti biasa menjadi petunjuk dengan cepat memperingatkan.
"Yi Hua, sebelah kiri," ucap Xiao yang sebenarnya tak berguna.
Yi Hua sudah terjebak pada senar Zhang Yuwen, sehingga ia tak bisa menghindar.
__ADS_1
SRAP!
BRAK!
"Yi Hua!"
Jenderal Wei menatap tak percaya ketika Yi Hua terbanting ke arah peti. Jelas-jelas Yi Hua terlempar karena serangan Zhang Yuwen. Pria itu menarik pedangnya dan bergegas menuju ke arah Yi Hua yang berusaha bangkit dari tanah.
Dengan cepat Jenderal Wei membantu Yi Hua untuk bangkit. Di sana ia melihat lengan Yi Hua yang memiliki goresan luka seperti dililit beberapa kali. Sejak awal pertarungan ini berat sebelah.
Yi Hua mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. "Kita tak bisa bertarung, Jenderal Wei," ucap Yi Hua pelan.
Ini jelas-jelas tak seimbang.
Peramal itu memperhatikan ke sekelilingnya. Para prajurit yang dibawa Jenderal Wei terluka. Ditambah lagi Jenderal Wei yang terluka parah akibat hantu air sebelumnya. Jika mereka ingin keluar hidup-hidup, maka mereka harus melarikan diri. Yi Hua mungkin hanya perlu menjaga kepalanya, tetapi Zhang Yuwen memiliki metode membunuh yang merepotkan.
Zhang Yuwen biasanya menyayat leher korbannya, dan menggantungnya terbalik. Sehingga Yi Hua tak bisa pura-pura pingsan. Ia juga tak bisa membiarkan Jenderal Wei mati di sini.
Dahulu ia tak bisa membawa Wei Wuxie pulang, dan akan sangat menyedihkan jika itu terjadi juga pada adik Wei Wuxie, Wei Qionglin.
Mendadak Yi Hua memperhatikan ke arah peti yang masih terbuka. Juga ... Ternyata Hua Yifeng meninggalkan pedangnya.
SRET!
Yi Hua dengan sempoyongan menuju ke arah pedang itu. Tak lama ia menatap ke arah Jenderal Wei, "Apakah Anda ingat dengan aliran air di dalam gua?" tanya Yi Hua dengan nada lemah.
Jenderal Wei yang bingung hanya bisa mengangguk.
"Perintahkan semua bawahan Anda untuk melompat ke aliran itu segera. Cari bagian air yang banyak memiliki dedaunan yang terapung di atasnya," ucap Yi Hua yang berusaha berdiri sambil memegangi lengannya yang sakit.
"HuaHua, apa kau ingin mengorbankan diri? Itu percuma! Kau akan dibunuh oleh sahabatmu yang sinting ini, bahkan hanya saat kau melangkah satu kali," protes Xiao atas ucapan Yi Hua.
Huh? Sejak kapan Yi Hua memiliki nilai-nilai kepahlawanan seperti itu?
Akan tetapi, mereka tak punya cara lain.
"Kau pergi bersama para bawahanku. Aku akan menahan Tirai Darah di sini," ucapan Jenderal Wei yang memberi isyarat pada bawahannya yang tersisa.
Beberapa dari mereka masih bisa berjalan dengan baik. Sehingga masih bisa membawa rekan lainnya yang terluka.
Namun Yi Hua menggeleng. "Tidak ada yang menahan atau mengalihkan perhatian, Jenderal Wei," ucap Yi Hua sambil menyalakan beberapa jimat di udara.
Apa yang direncanakan oleh Yi Hua?
Zhang Yuwen yang merasa terhibur tertawa keras. "Tak ku sangka kau masih bisa bertarung. Ku dengar namamu Yi Hua. Baiklah, Yi Hua ... Mati di usia muda tak ada salahnya."
"Yi Hua, hanya satu serangan. Jika kau terlalu memaksa, tungku iblis akan menyulitkan tubuhmu," ujar Xiao memperingatkan.
BRAK!
Pertama Yi Hua melemparkan pedang hitam milik Hua Yifeng itu ke arah Zhang Yuwen. hal tersebut yang membuat Zhang Yuwen mundur ke belakang. Meski ia tahu lemparan Yi Hua tak akan mengenainya, tetapi yang lebih ia takutkan ialah kutukan pedang Li Wei ini.
Namun apa yang direncakan oleh Yi Hua ini?
Tak lama setelah itu, Yi Hua berteriak seperti suara terkejut yang dibuat-buat.
"Peti Mendiang Jenderal Wei!" teriak Yi Hua sambil menatap tak percaya pada peti yang mulai terbakar akibat jimat Yi Hua yang terjatuh.
Jenderal Wei Qionglin juga terkejut, tetapi Yi Hua memberi kedipan sebelah mata padanya.
"Katakan, 'Oh tidak ... Peti kakakku!'" ucap Yi Hua yang berbisik.
Huh?
Jenderal Wei berkata, tetapi dengan nada bingung. "Oh tidak ... Peti kakakku!"
Mana ekspresinya?! Mengapa datar sekali?!
Yi Hua menyadari jika Jenderal Wei tak pandai bereaksi. Terutama saat memang peti itu kosong. Jelas tak akan menyakiti hati Jenderal Wei ketika melihat itu terbakar.
Akan tetapi, Yi Hua tahu Zhang Yuwen memiliki rasa persaudaraan dengan Wei Wuxie. Melihat peti mati Wei Wuxie terbakar jelas Zhang Yuwen tak akan membiarkannya. Api dari jimat yang terbakar menyala dengan kuat. Yi Hua sendiri berharap Zhang Yuwen tidak cukup pintar untuk menyadari tipuan ini. Terutama mengingat tentang garis kehidupan dan reinkarnasi.
Katanya, jika makam seseorang dirusak atau apa, itu akan mengganggunya ketika bereinkarnasi. Seperti jika makam seseorang dibakar, maka di kehidupan selanjutnya, dia mungkin akan mati dengan cara terbakar. Hal semacam itu adalah kepercayaan mereka.
Zhang Yuwen mengarahkan senarnya untuk membungkus habis peti mati Wei Wuxie. Akibat terbungkus erat, api berhasil dipadamkan. Ketika itu Zhang Yuwen menarik potongan kayu yang gosong dari permukaan peti.
Di sana ... Hanya ada arang dari kayu peti mati. Ia dikelabui oleh peramal kecil yang suka bicara sendiri itu.
Zhang Yuwen mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan peramal kecil itu sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan orang-orang yang bersamanya. Hanya ada mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar peti-peti yang terbuka. Para prajurit belum selesai mengembalikan mereka ke dalam peti. Sepertinya selain sombong, peramal kecil itu juga penipu licik.
"Aku sangat ingin mencekik peramal licik itu sampai ia tak bisa berpikir lagi," ucap Zhang Yuwen jengkel.
Baru saja Zhang Yuwen ingin mencari Yi Hua dan yang lainnya, pedang hitam Li Wei bergerak. Pedang itu terbang melintas pergi menuju ke arah pintu makam. Tanpa Zhang Yuwen ikuti pun ia tahu ke mana arah pedang itu pergi.
Belum lagi ...
Zhang Yuwen menjilat darah yang mengalir di senar miliknya. Dari aromanya saja Zhang Yuwen tahu betapa kaya 'darah' itu akan kekuatan. Peramal itu ... Identitasnya tak sederhana. Hanya dengan darahnya saja, Zhang Yuwen sudah bisa memulihkan kondisinya setelah bertarung dengan Hua Yifeng.
STAP!
Zhang Yuwen melirik pada bahunya yang mendadak terluka. Darah hitam mengalir dari pakaiannya yang berwarna hijau lumut. Itu bukannya tak ada sumbernya, tetapi Zhang Yuwen tahu siapa yang datang.
"Kau benar-benar berada di pihak mereka, Hua Yifeng?" tanya Zhang Yuwen sambil menyiapkan senarnya.
SRAT!
Sebuah aliran kekuatan berwarna merah terang menuju ke tangan Zhang Yuwen. Tanpa bisa dihindari kekuatan itu mematahkan tangan kanan Zhang Yuwen. Hal tersebut membuat Zhang Yuwen meraung kesakitan. Ia tak menyangka jika serangan Hua Yifeng begitu mendadak.
"Jangan kejar mereka," ucap Hua Yifeng tenang.
Pria itu sejak tadi tak terlihat. Akan tetapi, di saat seperti ini ia muncul untuk mencegah Zhang Yuwen mengejar Yi Hua. Zhang Yuwen mendadak tertawa.
__ADS_1
"Jangan bilang kau tertarik dengan peramal itu? Oh ... Aku tak menyangka jika perasaan seseorang mudah berubah. Jangan bilang kau sudah melupakan Putri Li Wei," ejek Zhang Yuwen sambil memegangi bahunya yang sudah buntung.
Ini bukan masalah serius. Sebagai iblis ia bisa menumbuhkan lagi tangannya. Walau dia harus mengambil jiwa orang lain sebagai gantinya. Lebih dari segalanya ia harusnya tak melawan Hua Yifeng.
Ingatlah Iblis Kehancuran ini dikenal sebagai kehancuran bukan hanya karena dia membunuh manusia. Namun dia juga bisa membunuh iblis yang kuat sekalipun. Sangat berbahaya.
SRAP!
BLAM!
Tubuh Zhang Yuwen terlempar ke dinding makam. Di sana Hua Yifeng menekan kepala Zhang Yuwen ke dinding. Tatapan Hua Yifeng tampak tenang, tetapi mata merahnya semakin pekat. Pria ini marah.
"Kau menyakiti Yi Hua," ucap Hua Yifeng ketika menekan kepala Zhang Yuwen dengan keras.
Maka, balasannya akan sama.
***
"Puahh!"
Yi Hua muncul di permukaan air sungai ketika ia berhasil keluar dari celah gua di dalam air. Seperti yang Yi Hua duga, adanya dedaunan di air dalam gua menandakan pasti ada lubang di dalam air. Sebab, di sekitar air itu tidak ada tanaman apa-apa. Sehingga dedaunan yang muncul itu pasti berasal dari pepohonan di luar makam.
Jenderal Wei mengulurkan tangannya untuk membantu Yi Hua keluar dari air. Dan, Yi Hua menyambutnya dengan cepat. Ia tak mau mengambil resiko untuk berlama-lama di air sungai. Siapa yang tahu isi sungai ini.
Masih syukur mereka bisa berenang-renang seperti katak di sungai ini.
"Biar ku beritahu padamu, HuaHua. Isi sungai ini adalah sahabat karibnya si Jenderal Biawak ini," ucap Xiao yang tampak selalu santai.
Lihatlah. Mau bilang buaya saja Xiao masih sempat-sempatnya berucap sembarangan. Ia tak tahu bagaimana bisa Xiao tercipta dengan mulut yang pedas seperti ini. Entah darimana asalnya.
Yi Hua meremas ujung pakaiannya dengan tujuan untuk mengeringkan. Ia memperhatikan Jenderal Wei yang kembali ke arahnya. Pria itu memeriksa bawahannya, dan kembali untuk memberikan jubah luarnya pada Yi Hua.
Akan tetapi, Yi Hua menolak untuk memakai pakaian luar Jenderal Wei.
Peramal itu bangkit dengan cepat. "Saya harus kembali ke kediaman saya. Sepertinya pekerjaan ini sudah selesai," ucap Yi Hua yang tersenyum tipis.
"HuaHua, kau menghancurkan jiwa biawak Jenderal Wei," ucap Xiao yang muncul aktif sekarang.
Jenderal Wei hanya bisa menatap pakaian yang ada di tangannya. Mau tak mau Jenderal Wei memakai kembali pakaian bagian luarnya. Percayalah, ini pertama kalinya ia ditolak oleh seseorang. Walau ini juga pertama kalinya Jenderal Wei berlaku lembut pada seorang 'pria'.
"Kita kembali ke istana untuk mengobati lukamu," ucap Jenderal Wei sambil memberi isyarat agar pasukannya berjalan terlebih dahulu.
Mereka yang terluka perlu diatasi segera.
Akan tetapi, Yi Hua menggelengkan kepalanya. Peramal itu berjalan sambil memegangi tangannya, "Saya tak apa. Pria biasa hidup dengan luka, Jenderal Wei. Saya kembali. Kirimkan bayaran saya segera." Yi Hua melambaikan tangannya sambil berjalan menuju kediaman tercintanya.
"Yi Hua ...
SRET!
Yi Hua berhenti berjalan. Bukan karena panggilan Jenderal Wei, tetapi lebih pada apa yang ingin Yi Hua sampaikan.
"Tentang Iblis Kehancuran, kami hanya tak sengaja bertemu di jalan. Saya harap ..."
Jendera Wei menghela napasnya. "Aku tak akan mengatakan apapun tentang itu."
"Terima kasih."
Lagipula, mungkin Yi Hua akan menghindari pria itu. Ia jelas tak mau jika tungku iblisnya dimanfaatkan oleh Hua Yifeng.
Juga ...
"Tentang tubuh Jenderal Wei Wuxie yang menghilang, bisakah Anda merahasiakannya?" tanya Yi Hua tanpa membalikkan tubuhnya.
"Apakah ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Jenderal Wei yang terlihat serius.
Ini menyangkut tulang-belulang kakaknya yang tak ada di makamnya. Itu jelas bukan sesuatu yang sederhana.
Yi Hua mengingat tentang keanehan di sekitarnya. Bukankah mayat berjalan yang menyerang pusat kota saat itu sudah sangat aneh?
Lebih aneh lagi bagaimana bisa mayat berjalan itu berasal dari para mendiang keluarga Wei?
"Yang saya takutkan adalah seseorang memanfaatkan tubuh mendiang Jenderal Wei Wuxie," ucap Yi Hua tak yakin.
Sepertinya seseorang sangat suka bermain dengan para mayat.
***
Namun beberapa hari kemudian timbul keributan baru.
Itu adalah karena Liu Xingsheng, Perdana Menteri Kiri, yang katanya sakit parah itu mendadak menghilang. Selir Qian mengerahkan para prajurit untuk mencari adiknya itu. Akan tetapi, Liu Xingsheng menghilang begitu saja.
Padahal Yi Hua hari itu menuju ke kediaman Perdana Menteri untuk menagih upahnya. Bagaimana pun Liu Xingsheng berjanji akan membawa Yi Hua makan daging atas jasanya yang mengobati Liu Xingsheng saat terkena racun mayat.
Namun Yi Hua hanya bisa menelan ludahnya saat mendengar menghilangnya Liu Xingsheng.
Apa Liu Xingsheng kabur karena tak mau membeli makanan untukku?
Dan, Xiao menjawab. "Mungkin karena dia ingat bahwa daya tampung perutmu itu seperti sapi."
Sialan.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi..
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1