
Setiap adegan yang ada di cerita ini hanyalah murni imajinasi. Tidak ada hasil yang konkret atau fakta sejarah yang melandasi cerita ini. Kesamaan nama, adegan, tempat, bahkan dialog hanyalah kebetulan semata. Yah, bisa aja ternyata otak kita sering sama imajinasinya. Fondasi cerita juga berasal dari imajinasi author. Bijaklah saat menjadi pembaca.
Ada adegan di luar otak manusia. Maklum kalau lagi imajinasi sering melintas tiga dunia, makanya semakin aneh ini cerita.
Wokehhh ... Cekidott!!
***
Ini mengerikan!
Bagaimana bisa Yi Hua terbangun dengan mimpi yang mengerikan, lalu saat ia bangun ... Tatapannya langsung tertuju dengan tengkorak di hadapannya?
Jika kewarasan Yi Hua itu selembut bulu sapi, maka dia bisa melayang kapan saja!
Tapi, sebelumnya aku mimpi apa?
Katanya, tak semua orang mengingat tentang mimpinya sendiri. Itu juga yang Yi Hua rasakan. Ia mencoba mengingat-ingat, dan ... Jika diingat kembali, itu mungkin tidak terlalu mengerikan.
Ketika mengalami lebih menakutkan dibanding mengingat 'apa' yg pernah dialami. Sebab, semengerikan apapun itu, semuanya sudah berlalu. Entah mengapa Yi Hua sekarang tumbuh dengan mengerti pahit, asam, manis, dan asinnya dunia. Dikasih bubuk cabai pasti lebih sedap lagi. Sehingga ia terkesan bisa menerima bagaimana dunia berjalan.
Meski sesakit apapun, dunia tetap berjalan. Dan, kita harus berdiri kokoh.
Apakah Yi Hua harus bangga karena terbiasa menderita?
SRAT!
UGHH ... Pandangannya menjadi gelap lagi.
"Emm ... Ada apa dengan tangan ini?" tanya Yi Hua yang bertanya-tanya tentang tangan yang menutupi matanya.
"Yi Hua." Suara Hua Yifeng selalu diliputi keputus-asaan yang sama tiap kali ia melihat Yi Hua menderita.
Yi Hua juga menumpukkan telapak tangannya di atas telapak tangan Hua Yifeng. Rasanya dingin. Tangan Yi Hua menggenggam telapak tangan Hua Yifeng lemah. Tidak terlalu menekan, tetapi bertahan lama di sana.
"Saya di sini."
***
Yue Yan menggaruk lehernya yang mendadak gatal. Sebenarnya mereka sudah bertahan lama di tempat ini, dan hanya memperhatikan Hua Yifeng dan Yi Hua yang masih tutup-menutup mata. Huan Ran dan yang lainnya tidak banyak bicara.
Akan tetapi, karena Yue Yan sedikit menderita geli hati dan kurang tahu lokasi, Yue Yan langsung memutuskan aura penuh kerinduan antara Hua Yifeng dan Yi Hua.
"Kenapa kau bisa hidup lagi, Yi Hua? Apa Peramal Ling salah?" tanya Yue Yan yang menjauh dari Huan Ran.
Pasalnya saat Yue Yan hilang takutnya, ia baru ingat jika dirinya menggantung di tubuh Huan Ran. Ini Huan Ran sedang dalam sikap baik. Jika tidak, maka Huan Ran akan mengubur Yue Yan hidup-hidup di ruangan ini.
Meski begitu, Ling Xiao tak mungkin salah memeriksa. Ia benar-benar merasakan jika Yi Hua sudah tak bernyawa lagi. Bukan hanya Ling Xiao, tetapi Hua Yifeng dan Wei Wuxie juga sudah memeriksa. Mata ajaib terbaru milik Yue Yan juga melihat jika Yi Hua sudah mati.
Lalu, ...
Yi Hua segera menyingkirkan tangan Hua Yifeng dari wajahnya. Peramal itu bangkit dengan susah payah sambil menyentuh dadanya sendiri. Ada rasa panas di sana, dan Yi Hua tahu ...
Ini adalah tahap terkuat dari kemampuan "Kembali ke Awal". Biasanya Yi Hua tak pernah sampai ke tahap seburuk ini, sehingga hanya sedikit kekuatan Tungku Iblis yang dikeluarkan. Namun sekarang kondisi Yi Hua sangat parah, dan Tungku Iblis bekerja tepat pada waktunya.
Untung saja.
Kekuatan yang selama ini Yi Hua pertanyaan fungsinya, tetapi ternyata berfungsi di saat yang tepat.
Nyatanya selama kepala Yi Hua masih melekat di tubuhnya, maka ia tak akan mati dengan mudah. Seperti Phoenix yang akan terus terlahir dari api jika dirinya mati. Yi Hua punya tungku iblis yang terbentuk dari kekuatan inti Phoenix.
"Itu aku hanya latihan. Nanti ketika nanti terjadi sungguhan aku sudah ahli," jawab Yi Hua seadanya.
"Kau bicara seolah kau pernah saja," ejek Yue Yan pada Yi Hua.
Sebenarnya pernah. Hanya saja aku tak ingin bicara takut dikira 'bangga' dengan kesialan.
"Setidaknya apa yang Peramal Yi miliki ternyata berguna," ujar Ling Xiao dengan nadanya yang tenang.
Orang ini ...
Ling Xiao menatap lekat pada Yi Hua.
"Apakah ada yang terjadi saat Peramal Yi berada di sini bersama Selir Qian?" tanya Ling Xiao tanpa memperdulikan Yi Hua yang mendadak gatal kepalanya.
Bicara dengan Ling Xiao itu cukup tenang dan damai, seperti bicara dengan kapas. Lembut.
Oh iya ... Mimpinya.
Yi Hua kini bangkit menuju ke arah peti yang berisi tengkorak. Setelah Yi Hua bangun, getaran aneh di sekitar mereka usai. Entah ini berhubungan atau tidak, meski begitu Yi Hua mengenali pemilik tengkorak ini.
"Selir Qian ... Saat Perdana Menteri Liu muncul di Kerajaan Li, apakah Yang Mulia tidak merasa aneh? Seperti, mengapa Selir Qian tidak pernah menceritakannya atau apa?" tanya Yi Hua yang tanpa meminta izin untuk bicara pada Raja Li Shen.
Beruntung sekarang bukan di Pengadilan Tinggi. Jika tidak, maka Yi Hua akan mendapat cemoohan lagi dari para pejabat karena sikapnya.
Raja Li Shen seperti bisa memahami apa yang Yi Hua maksud. Akan tetapi, jauh di dalam hatinya ia tak percaya jika hal seperti itu bisa terjadi. Dan ... Qian-nya adalah orang di balik itu semua.
"Aku hanya percaya padanya. Dan, sekarang ... Siapa pemilik peti ini?" tanya Li Shen yang sepertinya enggan membahas tentang sikap dan keputusannya sendiri.
Inilah kata orang-orang cinta bisa membuat manusia melakukan segalanya. Tapi tak ku sangka 'bodoh' juga termasuk di dalam bagiannya.
"Mengapa peti mati ini bertuliskan nama Liu Xingsheng, itu karena memang Liu Xingsheng pemiliknya," jawab Yi Hua dengan napas berat.
Raja Li Shen menatap marah pada Yi Hua. "Apa maksudmu? Lalu, Liu Xingsheng yang kita lihat itu, apa itu orang lain?" tanyanya penuh antisipasi.
__ADS_1
"Pertama kali Selir Qian datang ke Kerajaan Li, wanita itu datang sendiri. Itu adalah masa dirinya mencari obat, dan bertemu Yang Mulia. Kemudian, Selir Qian mempelajari tentang metode Cangkang Manusia yang terkenal di masa itu. Karena Hua Yifeng yang membuat Cangkang Manusia untuk pertama kalinya." Untuk hal ini Yi Hua tak menatap pada Hua Yifeng.
Yi Hua melirik pada Huan Ran, "Tapi berbeda dengan Hua Yifeng yang gagal, Selir Qian bisa membuat Cangkang Manusia. Dengan kekuatan dari darah Klan Bao, jiwa Perdana Menteri Liu berhasil kembali ke tubuhnya sendiri."
"Apa-apaan." Yue Yan kehilangan kata-katanya.
Seingatnya Liu Xingsheng memang terlihat lemah, tetapi Yue Yan tak menyangka jika dia adalah Cangkang Manusia. Hidup seperti sediakala.
Itu nyaris disebut mustahil.
Sebenarnya Yi Hua tak perlu terkejut begitu banyak. Jelas-jelas dahulu Yi Hua pernah meramal telapak tangan Liu Xingsheng. Dan, di sana ia memang melihat takdir usia Liu Xingsheng yang pendek.
Bukannya hebat, tetapi itu rasanya menakutkan. Seperti melanggar batasan antara kehidupan dan kematian. Mengorbankan Bao Jiazhen untuk memanggil jiwa Liu Xingsheng. Pertukaran jiwa yang menyebabkan Bao Jiazhen menyimpan dendam yang besar.
Yi Hua menghela napasnya. "Cerita Perayaan Dewa itu tidak benar sepenuhnya. Anak kecil yang 'beruntung' itu adalah Bao Jiazhen. Dia bukan dewa, tetapi darahnya memang istimewa. Sehingga bagi orang biasa itu sangat hebat. Saat aura Bao Jiazhen membuat binatang tunduk. Lalu, seperti yang sering dilakukan oleh orang lain, Klan Bao dimanfaatkan dengan cara yang mengerikan."
"Keji sekali," ucap Wei Wuxie yang mengingat apa tentang putri Zhang Yuwen yang juga seorang Bao. Bao Tian juga mati tragis karena orang-orang memanfaatkan darahnya.
Huan Ran menatap pada tengkorak itu dengan tatapan tak terbaca. "Lalu, yang berakhir di dalam peti mati ini adalah Bao Jiazhen. Cerita yang memuakkan."
Tunggu sebentar.
Yi Hua tersenyum tipis, "Tapi saya belum mengatakan apapun tentang tengkorak ini, Perdana Menteri Huan."
Huan Ran menatap Yi Hua tenang.
"Lalu, mengapa Anda bisa tahu jika tengkorak ini adalah milik Bao Jiazhen?" tanya Yi Hua langsung pada intinya.
"Aku hanya menduganya. Apa karena aku menjawab seperti itu kau akan menuduhku sebagai penyusup?" tanya Huan Ran sambil mengangkat bahunya.
Yue Yan berpikir. "Semua mulai aneh sejak kita menggambar tulisan mantra perpindahan. Lalu, kita terlempar di tempat ini, padahal kita sudah menggunakan darah Liu Xingsheng. Menurut Peramal Ling dengan bantuan Lingkaran Mawar dan Pedang Li Wei, perpindahan ini tak akan salah tempat. Bukankah begitu Peramal Ling?" tanya Yue Yan yang mendadak pandai menjabarkan seluruh permasalahan.
Yi Hua mendadak bangga dengan perkembangan Yue Yan.
Ling Xiao mengangguk. "Itu benar. Namun jika ada yang mengubah garis atau tulisan, itu akan membuat masalah. Kita mungkin akan hancur karena lonjakan kekuatan. Tapi kita muncul di sini dan dengan sehat. Dan ... Ada kerangka Bao Jiazhen. Sehingga daripada salah lokasi, ini lebih pada sesuatu 'mengatur' kita untuk sampai di sini."
"Menurut dari kekuatannya, mungkin saja Bao Jiazhen. Akan tetapi, bagaimana Bao Jiazhen bisa merusak garis jimatnya? Yang menulisnya hanya kalian bertiga." Tatapan Li Shen mengarah pada Yi Hua, Ling Xiao, dan Huan Ran secara bergantian.
Huan Ran mengangkat bahunya. "Hamba hanya menulis berdasarkan apa yang diberitahu Peramal Ling. Sehingga jika ada yang mengarahkan tulisan itu untuk salah, maka Peramal Ling ikut dalam hal ini."
Pada akhirnya, mereka hanya bisa saling mencurigai.
"Jika memang kita sengaja diarahkan di sini, maka Qian dalam bahaya," ucap Raja Li Shen dengan pucat.
Yi Hua melirik Hua Yifeng. "Sebenarnya jika Lingkaran Mawar itu benar-benar dibawa oleh Selir Qian, maka kita bisa menemukannya dengan benda itu."
"Yi Hua." Tatapan Hua Yifeng tampak memperingatkan. Sebelumnya, Hua Yifeng tak begitu perduli.
"Benda itu sangat penurut dengan pemiliknya," ucap Yi Hua sambil tersenyum menenangkan pada Hua Yifeng.
Sekarang Yi Hua ingin 'memanggil' senjata spiritualnya. Lingkaran Mawar, atau yah ... Sarung pedang Li Wei itu akan mengikuti perintah dari pemiliknya. Dahulu dirinya pernah memanggil senjata itu untuk melawan Xin Wantang.
Namun itu pertama dan terakhir kalinya Li Wei memanggil senjatanya.
Setelah itu, Lingkaran Mawar menciptakan cerita aneh dimana katanya 'Li Wei' berkeliaran di Pusat Kota untuk membantai orang-orang di sana dengan kejam. Cerita ini beredar dan membuat Li Wei ditakuti oleh masyarakat. Sehingga pembantaian yang dilakukan Li Wei juga menjadi salah satu penyebab orang-orang mengutuknya. Meski Li Wei sudah tiada.
Walau nyatanya Li Wei sendiri tak tahu, apakah itu benar dirinya atau tidak.
Akan tetapi, selalu ada resiko dari sebuah benda spritual seperti ini.
Lingkaran Mawar sama seperti Pedang Li Wei. Jika tidak bisa dikendalikan, maka itu akan sangat mengerikan dampaknya.
Dan ... Yi Hua ingin mencoba memanggilnya sekarang.
Bagaimana jika Lingkaran Mawar ini tak bisa ia kendalikan?
Akan tetapi, Hua Yifeng mendadak berjalan menuju Yi Hua. Pria itu menunduk hanya untuk meletakkan dahinya di bahu Yi Hua. Karena perbedaan tinggi mereka, Hua Yifeng harus membungkuk cukup banyak.
Meski begitu, ... Yi Hua tak menolaknya.
"Jika itu yang kau mau lakukanlah. Aku akan selalu mendukungmu. Namun berjanjilah ... Kau akan baik-baik saja?" ucap Hua Yifeng dengan nada pelan. Jika pria itu tidak menumpukkan dahinya di Yi Hua, mungkin ia tak bisa mendengarnya.
Namun Yi Hua mendengarnya. Walau ia tak tahu bagaimana menjawabnya.
***
Yue Yan menatap takut-takut pada Yi Hua yang ada di belakangnya.
"Hey, kenapa aku malah disuruh menempel di dinding seperti ini?" tanya Yue Yan yang protes, tetapi tak berani keluar dari barisan.
Pasalnya, Yi Hua menyuruh Yue Yan untuk melihat dengan 'mata' yang katanya Yue Yan miliki. Ini baru Yi Hua tahu, dan Yi Hua langsung memanfaatkannya. Ia memerintahkan Yue Yan untuk menggambar tentang jalur retakan tanah.
Berdasarkan dari melarikan dirinya Selir Qian dan fakta bahwa ada ruangan tersembunyi di sini, Yi Hua yakin ada ruangan bawah tanah yang memajang di sini. Yi Hua yakin Selir Qian mengetahui jalannya, dan melarikan diri dari mereka. Mustahil kan Selir Qian dahulu melakukan percobaan, dan masuk ke ruangan ini melalui seperti cacing.
Pasti ada pintu masuknya. Mereka masuk ke ruangan ini karena retakan tanah di bagian permukaan, sehingga mereka tak tahu keseluruhan dari ruangan bawah tanah ini. Yang pastinya ruang bawah tanah ini adalah milik Kerajaan Xin.
Setiap kerajaan biasanya memiliki ruang bawah tanah. Dimana mereka bisa melarikan diri melalui ruangan ini atau bersembunyi apabila terjadi penyerangan mendadak. Sayangnya, jika musuh tahu pintu keluarnya, maka itu akan menjadi 'selesai' untuk mereka yang bersembunyi di sana.
Mengapa Yi Hua menyuruh Yue Yan mencari jalan?
Tentu saja untuk menemukan Selir Qian, sekaligus jalan keluar. Juga, Yi Hua merasa ada sesuatu yang masih tersembunyi di ruang bawah tanah ini.
Masalahnya adalah ...
__ADS_1
Manusia bisa salah mengambil keputusan, tapi tidak untuk Ling Xiao.
Pria itu nyaris seperti bukan manusia, karena apa yang dia putuskan selalu yang terbaik. Yi Hua yakin bukan tanpa alasan mereka sampai ke tempat ini. Mungkin memang ada campur tangan dari Bao Jiazhen.
Namun ...
Yi Hua memperhatikan Ling Xiao yang berkonsentrasi dengan kertas jimatnya.
Saat Yi Hua melihat ke arah Ling Xiao, pria itu langsung menganggukkan kepalanya. Entah karena mereka satu pemikiran, atau Ling Xiao hanya mengangguk-angguk semata.
Di sebelah kanan Ling Xiao ada Hua Yifeng, sedangkan sebelah kirinya ada Wei Wuxie. Hua Yifeng sekarang tak bisa berbuat apa-apa, karena mereka berada di wilayah kekuasaan Bao Jiazhen. Jika Hua Yifeng memaksa kekuatannya itu akan menciptakan sistem pantul. Hal tersebut membuat orang di sekitar Hua Yifeng akan terkena, karena pastinya Hua Yifeng tak akan mudah terluka.
Bao Jiazhen sepertinya tahu situasi dengan baik.
Itulah mengapa aku merasa jika Bao Jiazhen ini memang selalu ada di sekitar kami.
Yi Hua kembali fokus pada Yue Yan yang sedang mencari, dan Huan Ran yang mengetuk batu dinding ruang bawah tanah. Huan Ran melakukannya berpindah-pindah agar tahu dimana jalan terbuka.
Mereka memerlukan getaran dari suara ketukan itu untuk tahu tentang isinya.
Tentu saja tidak akan berhasil jika dilakukan dengan kemampuan biasa dari indera manusia. Akan tetapi, sekarang Yi Hua memiliki kemampuan mata Shen Qibo, yang diwariskannya pada Yue Yan. Walau Yue Yan jelas tak akan sekuat Shen Qibo.
Yah, tapi setidaknya beruntung ada. Daripada tidak sama sekali.
TUK!
TUK!
TUK!
Ssshhh ...
Yi Hua yang agak geli dengan ular mundur beberapa langkah. Pasalnya, ular milik Yue Yan juga bekerja dalam rencana ini. Mereka harus menyusuri setiap lubang tanah untuk memeriksa.
Kini para ular itu sudah kembali ke 'ibu'-nya. Para ular itu melingkari Yue Yan, dan melihat itu bulu kuduk Yi Hua jadi merinding. Dia bukannya takut! Dia hanya geli. Paham itu.
"Aku menemukannya."
Huan Ran berhenti mengetuk dan mendekat pada Yue Yan.
"Kau menemukan Selir Qian?" tanya Raja Li Shen yang sejak tadi diam.
Yue Yan menggaruk kepalanya. "Aku menemukan beberapa ruangan yang tampaknya tertutup jalan masuknya. Tapi wanita itu aku tidak tahu."
"Kau ..."
Baru saja Li Shen ingin bertanya lagi, Yi Hua langsung bertanya. "Ada berapa ruangan yang dekat dengan tempat ini?" tanya Yi Hua.
Cahaya di sekitar mereka sudah mulai menggelap. Pertanda jika di luar sana mungkin sudah hampir malam. Itu akan semakin menyulitkan mereka. Dan itu berarti ...Waktu mereka semakin sedikit.
Jika malam datang mungkin saja ada mayat berjalan di tempat ini.
Tempat ini adalah dimana Selir Qian melakukan percobaan. Siapa yang tahu jika masih ada 'sisa-sisa' dari percobaan. Juga, mereka harus menghindari wilayah berair karena kemungkinan adanya hantu air di sana.
Ada banyak prajurit milik Bao Jiazhen di sini. Itulah mengapa berbahaya.
Yue Yan berpikir dan menghitung. Itulah mengapa Yi Hua berdoa agar Yue Yan ini pandai berhitung. Jika salah kan bahaya.
"Ada sekitar empat. Di sisi kanan yang paling dekat. Jika menghancurkan dinding di sisi kanan, akan ada ruangan panjang di sana," ucap Yue Yan pada Yi Hua.
Yi Hua menganggukkan kepalanya. Lalu, ia beralih pada Hua Yifeng.
"Tuan Hua bisakah Anda menghancurkan dinding sebelah kanan?" tanya Yi Hua sambil menatap Hua Yifeng.
Hua Yifeng hanya mengangguk. Mereka sudah membicarakan tentang rencana ini. Namun Hua Yifeng adalah orang yang bisa diperintah oleh Yi Hua tanpa harus menjelaskan 'mengapa' Yi Hua memerintahkan.
Akan tetapi, Yi Hua melanjutkan.
"Lalu, Anda pergilah ke ruangan itu dan menemukan jalan lainnya. Pergi dari tempat ini, dan ledakkan pintu keluar. Karena menurut perkiraan, di sana pintu keluarnya," ujar Yi Hua dengan nada tenang.
Hua Yifeng menatap tajam pada Yi Hua, "Dan bagaimana dengan Yi Hua? Apa maksudmu aku harus meninggalkanmu di sini, dan mencari pintu keluar sialan itu?" tanya Hua Yifeng tajam.
"Benar. Pergilah."
Yang terpenting adalah saat mereka menemukan apa yang dicari, mereka bisa keluar dari tempat ini. Apa gunanya mereka menemukan sesuatu, tetapi ujung-ujungnya tetap terkurung di tempat ini.
"Yi Hua, kenapa kau selalu menyuruhku pergi darimu?" tanya Hua Yifeng dengan nada dalam dan penuh luka.
...Apakah kau pernah memikirkan betapa ucapan akan lebih menyakitkan dibandingkan senjata?...
***
Selamat membaca 😉
Jika kalian berhasil membaca chapter ini berarti berhasil upload. Jadi begini ... Diriku ini tinggal di wilayah pedalaman Kalimantan Timur. Di sini jaringannya juga menumpang dari jaringan desa lain yang kebetulan dibangun tower-nya. Sehingga kalau lagi bagus ya jaringannya bagus. Kalau gak ya, kita harus bersabar.
Udahlah.
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1