
Yi Hua mundur dengan cepat untuk menjauhi batang pohon kering itu. Terutama saat tunas dari pohon bertumbuh dengan cepat. Tak lama tunas itu berubah seperti ranting-ranting hijau dan terus memanjang.
"HuaHua, Pohon Phoenix ini telah merasakan energi iblis di tubuhmu. Dia akan mengejar," ujar Xiao yang mulai menyadari apa yang terjadi.
Yi Hua berseru pada Liu Xingsheng yang masih duduk di atas batang pohon. "Perdana Menteri Liu, pohon ini hidup. Menjauh segera," teriak Yi Hua.
Liu Xingsheng segera menjauh secepat yang ia bisa. Sayangnya daerah tempat mereka berpijak ini adalah daerah berlumpur. Sehingga Liu Xingsheng tak bisa berlari begitu jauh. Dan, Huan Ran harus mendekat agar memastikan ranting-ranting pohon itu tak menjangkau Liu Xingsheng.
KRAK!
KRAK!
Ranting-ranting itu mengeluarkan suara seperti tulang-tulang yang patah. Dan, terus bertumbuh seperti tangan-tangan panjang yang mengerikan. Huan Ran menebas ranting pohon yang berada paling dekat dengannya.
TAK!
Huan Ran menatap tak percaya pada pedangnya yang tak bisa melukai ranting pohon itu. "Ranting ini tak bisa dipotong," ucapnya memberitahu, dan segera menarik Liu Xingsheng untuk mengikutinya.
Jika tak bisa menggunakan senjata, maka mereka tak bisa bertarung. Apalagi bertarung di wilayah berlumpur ini. Mungkin saja akar dari batang pohon ini juga hidup kembali. Sifat akar yang bisa menembus tanah itulah yang Huan Ran takuti. Mereka akan kesusahan jika akar pohon mengikat kaki mereka yang setengah tenggelam di batang pohon.
"Mundur dahulu," perintah Huan Ran pada Yi Hua dan An.
Yi Hua mengangguk dengan cepat, tetapi An terlihat lebih tenang ketimbang Huan Ran. Pria itu dengan mudahnya menghindar saat ranting pohon menuju ke arahnya.
Yi Hua berpikir untuk menghentikan gerakan Pohon Phoenix ini terlebih dahulu. Baru mereka akan keluar dari sungai yang telah mengering. Jika mereka harus bertarung, mereka akan kesulitan di tempat ini.
Namun benar saja seperti yang dikatakan oleh Xiao. Ranting-ranting itu terus memanjang, dan pada akhirnya menemukan apa yang ranting itu inginkan. Aura tungku iblis tak bisa disembunyikan begitu saja. Dan, ranting itu sudah tahu kemana dia akan mencari 'makan'.
"Selamat, Yi Hua. Mereka akan menyerang dirimu secara bersamaan," komentar dari Xiao.
Yi Hua berdecih di dalam hati. Selamat katanya!
Ranting itu menyatu seperti gulungan besar. Ujungnya menyerupai kepala ular, dan dengan serangan cepat ranting itu menyerangnya. Hanya pada Yi Hua, tentu saja. Karena ranting layu itu ingin menyerap energi iblis dari Yi Hua. Salah-salah jika Yi Hua tak mundur, mungkin dia akan segera ditusuk oleh ranting yang baru bertumbuh itu.
Tangan Yi Hua meraih salah satu jimat dan melemparkannya ke arah pohon. "Diam," perintah Yi Hua pada jimatnya.
SRET!
Ranting kayu yang ditempeli oleh jimat tentu saja berhenti. Akan tetapi, tunas yang tumbuh dari batang pohon itu cukup banyak. Sehingga Yi Hua tak mungkin mengeluarkan semua jimatnya. Itu karena hanya dengan menyentuhnya saja, Yi Hua sudah memberi Pohon Phoenix ini banyak energi. Jimatnya tak akan bisa menahan pohon ini begitu lama.
Baru kali ini Yi Hua memahami betapa kuatnya tungku iblis di dalam dirinya.
CRING!
Yi Hua menatap ke arah suara. Lebih tepatnya pada suara perak yang berdeting dari sisi kirinya. Namun belum lebih jelasnya lagi Yi Hua melihat ke arah suara, An sudah bergerak cepat untuk menebas ranting pohon yang menuju ke arah Yi Hua.
STAB!
"GRAHHHH!" Ranting pohon itu anehnya mengeluarkan suara seperti hewan buas.
Lalu, ranting-ranting itu kembali menyusut dan mengering akibat tebasan dari An.
Bukankah tadi Perdana Menteri Huan Ran berkata jika ranting ini tak bisa ditebas?
Namun Yi Hua tak memiliki banyak waktu untuk memikirkan itu semua. Selama batang Pohon Phoenix telah tenang, Yi Hua harus segera naik ke pinggiran yang lebih tinggi. Tak ada yang tahu jika kesialan datang lagi padanya, dan akan muncul masalah baru.
Di pinggiran bagian seberang Liu Xingsheng berteriak. "Apa kau tidak apa-apa, Yi Hua?" tanyanya pada Yi Hua.
Yi Hua hanya menjawabnya dengan anggukan. Lalu, tatapannya menuju ke arah ranting yang terpotong pedang An. Yi Hua mengambil ranting yang sudah terpotong itu untuk mengamati.
"Xiao, apa itu berarti Pohon Phoenix ini benar-benar dihuni sesuatu?" tanya Yi Hua pelan sambil mengamati ranting itu.
Itu sama seperti ranting pohon pada umumnya. Mungkin yang berbeda ialah Yi Hua pernah melihat ranting ini memiliki tangan untuk merobek lawannya.
__ADS_1
Xiao segera menjawab, "Kau sudah melihatnya, bukan? Hanya karena kau menyentuhnya, batang pohon itu kembali hidup. Mungkin benar pemilik pohon itu kehilangan kekuatannya."
Yi Hua menghela napas saat dia menyadari betapa berbahayanya menjadi inang dari tungku iblis. Selain karena tungku iblis ini sangat liar dan bisa menghancurkannya, tetapi tungku iblis ini bisa membuat Yi Hua selalu diincar oleh energi buruk.
"Kenapa kau tidak memperingatkan aku sebelumnya, Xiao?!" tegur Yi Hua pada sistemnya yang semakin buruk sifatnya.
Lalu, seperti biasanya Xiao akan membantah dengan cepat. "Aku sama sekali tak merasakan tentang makhluk yang menghuni Pohon Phoenix ini. Mungkin kekuatannya memang hampir habis."
"Apakah ranting itu akan hidup lagi?" tanya Yi Hua pada An yang mendekat padanya.
An tetap terlihat tenang seperti biasanya. Pria itu memperhatikan Yi Hua dengan cermat. Hanya untuk memeriksa jika peramal kecil itu terluka. Setelah melihat Yi Hua masih utuh tanpa tergores sedikit pun, An segera menjawabnya.
"Meski rantingnya sudah menyurut, itu tak berarti sudah mati," jelas An sambil menunjuk pada batang pohon yang kembali seperti semula.
Hanya batang pohon yang kering.
Liu Xingsheng dan Huan Ran telah bergabung kembali dengan mereka berdua. Di sana Liu Xingsheng terlihat agak kusut karena takut. Perdana Menteri ini pada awalnya hanya menduga-duga jika memang ada makhluk lain di dalam pohon itu. Namun ia tak menyangka jika tebakannya benar.
"Apa kita perlu menghancurkan batang pohon ini agar tak kembali hidup?" tanya Huan Ran meminta pendapat.
An menjawab dengan tenang. "Pohon itu hanyalah wadah. Mungkin seseorang yang seperti Anda, yang bisanya hanya menebas sana-sini tak akan memahaminya. Namun jangan menciptakan kemarahan baru. Kita adalah orang baru yang masuk ke Desa Yi."
Wajah Huan Ran jelas mengeras karena marah. Ia tak bisa membantah ucapan An, karena nyatanya pedangnya tak bisa menebas batang pohon itu. Mereka harus menjauh dari tempat ini untuk mencari informasi tentang Pohon Phoenix ini.
Mungkin kali ini mereka akan berurusan dengan seorang Dewa?
Mengapa Dewa?
Sebab, jika sesuatu dipercayai oleh banyak orang dalam waktu yang lama, maka dia akan memiliki banyak kekuatan. Walau mereka masih tak tahu mengapa Pohon Phoenix ini layu, tetapi penduduk masih percaya tentang adanya Dewa di pohon ini. Mereka tak bisa menghancurkan apa yang dipercaya masyarakat setempat.
"Katanya, masyarakat di sini percaya jika Pohon Phoenix itu seperti pelindung Desa Yi. Itulah mengapa Desa Yi ini sangat jarang terkena musibah. Apalagi desa ini masih sangat murni sumber daya alamnya," jelas An yang masih sering Yi Hua pertanyakan tentang asal-muasal pengetahuan An ini.
Pria itu seperti tahu banyak hal, seolah ada buku yang bisa menjawab semua pertanyaan. Namun An juga tak terlihat seperti orang yang sering membaca buku. Dia lebih terlihat seperti tukang pukul ketimbang seorang pelajar yang sering membaca buku.
Jika memang Pohon Phoenix ini melindungi, mengapa malah timbul bencana. Atau, apakah karena kekuatannya berkurang sehingga tak sanggup lagi menahan bencana?
An melirik ke arah batang kayu yang sudah rusak karena tebasannya. "Bisa jadi Dewa setempat dan Pohon Phoenix ini adalah dua hal yang berbeda."
Apa maksudnya?
Belum sempat Yi Hua bertanya pada An, suasana di sekitar mereka mendadak berubah. Angin menderu dengan kencang seolah akan segera hujan. Ia menatap ke langit, dan matahari tetap terik di sana. Dan, mata Yi Hua langsung sakit karena menatap matahari terik secara langsung.
Namun ia berpikir jika Dewa setempat dan Pohon Phoenix ini adalah individu yang berbeda. Mungkin saja yang menyerang mereka sebelumnya adalah salah satunya. Yang jelas ... Mungkin dewa yang dipercaya mereka telah benar-benar hilang, dan yang tersisa adalah ...
"Yi Xia."
Yi Hua memperhatikan ke sekelilingnya untuk mencari ke arah suara. Akan tetapi, ia tak menemukan siapa pemilik suara ini. Meski begitu, suara itu terdengar seperti suara seorang pria.
Mendadak pandangan Yi Hua mengabur, dan tak lama ia bisa melihat seseorang dengan pakaian putih. Itu adalah pakaian seorang peramal Kerajaan Li. Sosok itu adalah seorang pria yang tengah membelakanginya.
"Aku akan memanggilmu Yi Xia. Bagaimana?" sosok itu bertanya padanya.
Padanya?
Bukan.
"HuaHua, jangan terbawa akan suara itu. Dia berusaha untuk mengambilmu," teriak Xiao di telinga Yi Hua.
Jadi, sedari tadi aku melamun? Mengapa rasanya seperti sangat mengantuk?
"Yi Hua."
Pandangan Yi Hua benar-benar mengawang. Ia seperti melihat kilasan-kilasan aneh yang sangat mengganggu. Meski begitu, ia tak bisa melepaskan kilasan itu dari kepalanya.
__ADS_1
"Tolong. Kembalikan Nona kami. Jika dia tak pernah bertemu dengan manusia itu, maka dia tak akan menjadi lemah," Suara itu bergemuruh seperti berada dekat dengan telinga Yi Hua.
Dirinya tak tahu lagi suara mana yang ingin didengarkannya. Namun terakhir kali yang ia lihat adalah seorang wanita yang duduk di atas ranting pohon. Dia tak terlihat seperti hantu dari negara seribu pulau, maksudnya hantu dengan pakaian serba putih dan tertawa terus-menerus. Wanita itu memiliki wajah yang cukup Yi Hua kenal.
Tentu saja. Siapa yang tak mengenal wajahnya sendiri. Dan, wanita itu mirip dengan wajah Peramal dari Kerajaan Li, Yi Hua.
Bagaimana bisa?
Apa itu dirinya? Entahlah.
Wanita itu menjulurkan tangannya pada Yi Hua. "Apakah kau bisa melihatku, Manusia?"
Lalu, Yi Hua tanpa sadar menjulurkan tangannya pada sosok itu. Namun sisi pandangannya beralih. Kini dia melihat seorang pria yang sebelumnya. Itu adalah pria dengan pakaian Peramal Kerajaan Li yang berdiri di sana.
Wanita cantik itu ...
Yi Hua agak aneh mendeskripsikan ini karena ketika ia melihat sosok ini ia merasa sangat cantik. Bagi dia sosok ini cantik, berarti Yi Hua ini juga cantik karena mereka berdua sangat mirip. Bedanya hanya Yi Hua sangat jarang tersenyum manis, sedangkan sosok itu seringkali tersenyum.
Lalu, ketika sosok pria itu menjawab, Yi Hua mulai mengerti kenangan siapa yang ia lihat ini.
Sosok pria peramal itu adalah penampilan muda dari seseorang. Meski Yi Hua hanya pernah melihat ayah-nya di kehidupan ini sekali, yaitu di dalam kenangan Yi Hua asli, tetapi ia yakin siapa sosok yang ia lihat ini. Bagaimana pun sosok itu tak begitu sulit untuk dikenali, meski waktu telah memakan wajah muda itu.
Pria yang berpakaian Peramal Kerajaan Li itu menyahut. "Aku Shi Heng," ujarnya sambil menyambut uluran tangan dari wanita cantik itu.
Ini ...
TAP!
TAP!
TAP!
Suara derap itu datang dengan angin. Yi Hua menatap ke belakangnya, dan angin berhembus hingga Yi Hua berpikir ia akan terbawa angin tersebut. Meski begitu, dia masih bertahan berdiri di tempatnya.
Lalu, sebuah akar melintas lagi menuju ke arah Yi Hua dengan sangat cepat. Bahkan lebih cepat daripada tangan An yang berusaha untuk meraih Yi Hua yang oleng.
SRAT!
Tubuh kecil Yi Hua langsung dilingkupi oleh segerombolan akar. Dan, akar-akar itu menarik Yi Hua untuk masuk ke dalam tanah. Hal itu terjadi dengan sangat cepat dan juga mengerikan. Kemudian, Yi Hua dibawa oleh akar itu untuk masuk ke dalam tanah. Seolah Yi Hua tak lagi berbentuk dan mudah diselipkan ke dalam belahan tanah.
Setelah itu, tanah kembali tenang seperti tak pernah diterobos oleh akar.
Suasana di sekitar mereka terasa sangat menegangkan. Bahkan Liu Xingsheng kehilangan suaranya. Perdana Menteri itu hanya bisa menunjuk ke arah hilangnya Yi Hua. Juga, Huan Ran yang tangannya masih berada di atas ganggang pedang. Huan Ran bahkan tak sempat menarik pedangnya untuk bertarung.
Bukankah mereka terlihat tak berguna sekarang?
"Apa Yi Hua ..." ucapan Liu Xingsheng tertahan di udara. Lalu, dia menyadari bahwa ini pertama kalinya ia sangat takut untuk menatap mata seseorang.
Dengan kakaknya, Selir Qian, meski dia takut, tetapi Liu Xingsheng masih berani untuk berada di sekitarnya. Akan tetapi, kini ia merasa tak ingin berada dekat dengan An. Terutama ketika melihat mata An yang begitu tajam seolah bisa membunuh orang lain hanya melalui tatapannya.
Tangan pria itu meraih pedang hitamnya untuk menusuk ke arah tanah yang rata itu. Tanah di sana terbelah dengan sangat mudah. Akan tetapi, di sana hanya ada akar-akar dari tunbuhan biasa. Tidak ada akar yang ganas itu.
Dan, tidak ada Yi Hua di sana.
Yi Hua seolah sudah hancur dan lenyap.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~