You Are Only Mine

You Are Only Mine
mencari kesempatan


__ADS_3

bab 103


.


.


Setelah perdebatan kecil dengan Candrika, akhirnya Dirya diperbolehkan pulang. Dirya terus memaksa bahkan tak ada lelahnya menghubungi Candrika yang masih disibukkan dengan banyaknya pasien.


Candrika dibuat kesal dengan perbuatan saudaranya itu. hingga ia mengizinkan Dirya untuk pulang saja.


" dokter kenapa ?? ada masalah ??" tanya Qiara yang memperhatikan Candrika sejak tadi menggerutu dengan wajah kesal.


" aku kesal sekali dengan Dirya !! sejak tadi membuat ponselku berbunyi terus !! jika bukan kakak keponakanku aku sudah memukulnya !!!? dia saja pasienku yang begitu cerewet !! " Candrika mengeluarkan uneg-unegnya pada Qiara. ya, kedekatan candrika dengan Qiara melebihi partner kerja, melainkan sampai seperti sahabat.


" tuan Dirya ?? memang kenapa dok ?? " Qiara


" dia memaksa pulang. dengan terus menghubungi ponselku.!! ah..sudahlah, kau buka Infusnya dan biarkan dia pulang !! aku malas meladeni dia !!" pinta Candrika masih dengan mode kesalnya.


" dokter, apa tidak.bisa yang lain ?? " tawar Qiara.


" aku tidak percaya orang lain Suster..karna Dirya itu keluargaku..jadi hanya kau yang boleh memegangnya.." balas Candrika.


Qiara tak punya alasan lagi menolak, ia kemudian segera mempersiapkan alat-alatnya guna melaksanakan tugasnya.


.


.


.

__ADS_1


Dirya terus saja mengirim pesan sampai menghubungi nomer Candrika.berulang-ulang agar diperbolehkan pulang. ia tidak mau sampai membuat sang mama kawatir. sebab Zakia sudah mengatakan jika kedua orangtua mereka akan kembali malam nanti.


" anak itu !! mentang-mentang usianya lebih tau sedikit saja sudah tidak menghargaiku !! "gerutu dirya.


Draka yang pergi karna harus memeriksa beberapa laporan membuat Dirya menggunakan kesempatan itu untuk mendesak Candrika agar diperbolehkan pulang.


tokk..


tokk..


ceklek..


Dirya mengulas senyum saat ia fikii Candrikalah yang masuk keruangannya.


" nah begitu dong..-" Ujar Dirya seraya menatap kearah pintu. namun sontak ia mematung saat suster Qiaralah yang berdiri dengan nampan berisi alat medisnya.


" candrika memperbolehkanku pulang ?? kau yakin ?? " Dirya seakan tak percaya.


Qiara berjalan mendekati Dirya dan meletakkan nampan diatas meja nakas, kemudian beralih pada tangan Dirya.


" saya tidak akan berani tuan. Dokter sedang sedikit sibuk, makanya saya yang disuruh kesini. kita priksa tekanan darah tuan dulu ya.." UJar Qiara dengan penuh kelembutan


Selama pemeriksaan Dirya tak melepaskan pandangannya pada Qiara. seolah ingin menikmati wajah cantik Qiara.


kagum atau hanya sekedar ingin tau, Bahkan Dirya sendiri tak bisa menjabarkannya. jika pun suka, itu hal yang mustahil. mereka bahkan baru saling kenal, itupun tidaklah sengaja.


" sudah tuan." Ujar Qiara saat pekerjaannya selesai.


" lalu bagimana saya pulang ?? " tanya Dirya.

__ADS_1


" kembaran tuan tidak ada ya ?? seharusnya dia yang mengurus keperluan yang lain.." terang Qiara.


" apa kau tidak bisa membantuku ??"balas Dirya.


" membantu apa tuan ?? " Qiara.


" bantu aku keluar dari kamar ini.. kau bilang dokter muda itu sudah menyuruhku pulang kan ?? " dirya.


" tapi..-"


" Aku rasa Cand tidak akan keberatan jika kau membantuku dulu.." timpal Dirya lagi.


qiara membuang nafasnya dengan kasar. semua memang pekerjaannya.


" baiklah. mari silahkan saya bantu. apa saja yang perlu saya siapkan ?? " tanya Qiara penuh sopan seraya melihat sekeliling mana.yang harus dibawa.


" tidak ada yang perlu disiapkan. bantu aku berjalan saja. untuk yang lain biar diurus kembaranku" balas Dirya dengan santai.


Qiara kebingungan mau menjawab apa, bahkan tanpa sadar, Qiara hanya melongo mendengar penuturan Dirya barusan.


"jika berjalan saja masih butuh bantuan, untuk apa pulang ??!! kenapa aneh sekali sih orang ini." batin Qiara seorang diri.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2