You Are Only Mine

You Are Only Mine
Dia baik


__ADS_3

bab 142


.


.


.


Dibali, Joy sudah bersiap untuk kembali keapartemennya. ia mengemas semua barang dan menelfon supir kantor guna menjemput dirinya. meski ia merasa sudah lebih baik, namun rasa lemas masih bisa ia rasakan. tak ingin berlama-lama dirumah sakitlah yang menjadi alasan Joy.


Dering bunyi ponsel membuat joy menghentikan aktivitasnya. ia pun segera mengangkat panggilan yang masuk.


" kau dimana ??" tanya Joy saat panggilan sudah terhubung.


" saya diluar tuan. apa mau saya jemput kekamar rawat tuan ??"jawab sopir dengan menawarkan bantuan


" baiklah tunggu disana saja. saya segera keluar." balas Joy yang dengan semaunya mematikan panggilannya.


Segera Joy mengangkat tas kecil yang ia gunakan untuk tempat pakaiannya. dan dengan langkah pasti Joy segera keluar dari kamar rawat itu.


Sesaat Joy terhenti saat hendak menutup pintu kembali. bayangan Candrika terlintas indah dibenaknya. segera pula ia menepis, apalagi melihat respon Candrika yang sepertinya tidak menyukai dirinya.


menyadari itu. Joy menutup pintu dengan kasar dan langsung melenggang menuju pintu keluar.


Derap langkahnya sangat tegap dan rapi. Sambutan dari sopir tak dibalas apapun oleh Joy, ia hanya langsung masuk kedalam mobil saat tiba dan sudah dibukakan pintu mobil oleh sopir.


.

__ADS_1


.


.


" herra.. kau mau jus ??" tawar mayra. saat makan siang sudah selesai. dan kini mayra tengah memeriksa Herra didalam kamar Herra dan Narendra.


" tidak bibi.. Herra lebih suka air putih" balas Herra dengan sopan.


" baiklah. Rilekskan diri ya ?? tarik nafas dan keluarkan perlahan.." Mayra mencoba memeriksa tekanan darah Herra dan beberapa yang perlu ia periksa.


Narendra terus menatap sang bibj yang amat penuh kesabaran dan kelembutan saat memeriksa istrinya.


" bibi..anakku baik-baik saja kan ?? dia tidak kaget kan naik pesawat ??" tanya Narendra.


Mayra tersenyum seraya melepas stetoskop dan meletakkannya kembali didalam tas besar miliknya.


" dia baik Naren. asal Herra tidak stres dan banyak fikiran dan juga kecapekan, dia akan baik-baik saja." tutur Mayra.


" Nah Herra, kau bisa istirahat lagi. satu jam lagi kita tiba." pesan Mayra.


" terima kasih bibi may, maaf sudah merepotkan.." ujar Herra.


" kau bicara apa, kau juga putriku sayang..sudah, jangan fikirkan apapun..bibi tidak sabar menunggu kelahiran dia.." terang mayra tak lupa ia mengusap lembut perut Herra.


Herra membalas dengan senyum kebahagiaan.


Mayra segera beranjak dari tempat tidur dan segera keluar.

__ADS_1


.


.


Dijakarta, Dirya kini sudah disibukkan dengan mengantar dan menjemput Qiara. karna Candrika tidak kunjung kembali, Qiara terpaksa harus terus tinggal diapartemen Dirya.


sebenarnya ia sangatlah tidak enak, apalagi Dirya tidak mau diberi uang sewa, namun Qiara tak punya pilihan lain, hanya disanalah tempat yang aman dari jangkauan suaminya.


Siang itu, Dirya datang kembali kerumah sakit. alasannya selalu saja bisa membuat Qiara bungkam, yakni mengontrol jika sewaktu-waktu suami qiara membuat ulah.


" tuan saya jadi tidak enak jika anda terus kesini.." tutur Qiara saat berada dikantin rumah sakit bersama Dirya yang amat lahao menyantap makanan dihadapannya.


" memangnya kenapa ?? oh.. kau mau menunggu suamimu yang jahat itu ??!! maaf ya, aku tidak akan membiarkan kau dijamah pria gila seperti itu.." balas Diryaa dengan singkat, masih dengan menikmati makanannya.


" biar bagaimana saya wanita bersuami tuan. saya tidak mau nama baik anda tercoreng.." Qiara mencoba berbicara.


Dirya meletakkan sendok dan meneguk air putih dihadapannya. setelahnya, Dia menatap lekat Qiara yang duduk dihadapannya.


kedua mata mereka pun saling beradu. "bahkan jika harus kehilangan semuanya aku tidak masalah, tapi jangan sampai aku melihatmu dibawa pria jelek itu..apa kau keberatan jika aku berniat melindungi dan menjagamu ??" ucap Dirya.


" ma..maksud tuan ??" Qiara tak bisa mencerna ucapan Dirya. namun saat ditatap Dirya, Qiara sangatlah canggung sekali.


" aku menyukaimu suster Qiara. bahkan aku tidak akan rela kau disakiti pria jelek itu, andai aku bisa aku akan membunuhnya supaya aku bisa bebas memilikimu.." terang Dirya dengan jelas.


Jangan ditanya lagi, Qiara sudah seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Qiara mematung dengan mata membulat serta jantung yang berdetak amat kencang. tak disangka sama sekali, bahkan pria dihadapannya dengan tenang dan jelas menyatakan perasaannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2