
bab 146
.
.
.
Seakan tak mau meninggalkan Herra, Narendra setia berada disisi istrinya dengan tatapan kosong seraya terus menggenggam jemari Herra dengan erat.
sesekali Narendra menatap lekat wajah Herra yang nampak sangat pucat, hanya melihat saja membuat hati Narendra amat teriris.
Uhukk !!
uhukk !!
Herra terbatuk saat kesadarannya terasa mulai pulih. Dengan cekatan Narendra bangkit dari duduknya dan segera membantu sang istri.
" sayang.. kau mau minum ??" tawar narendra yang membantu Herra.
Herra hanya menjawab dengan anggukan. tubuhnya yang masih terasa lemah,seolah belum mampu untuk bersuara.
Perlahan Narendra membantu Herra agar bersandar ditubuhnya, Narendra menempatkan Tubuh Herra tepat didadanya. dan segera membantu Herra Untuk minum.
" terima kasih.." ujar Herra amat lirih. nyaris tak terdengar.
cup..
kecupan dilayangkan Narendra pada kepala Herra. "kau mau berbaring ??"
__ADS_1
Herra segera menggeleng pelan, "aku ingin seperti ini sebentar." balas Herra.
Narendra kemudian melingkarkan tangan kedepan dimana Herra kini ada dipangkuannya.
" aku dirumah sakit lagi kak ??" Tanya Herra saat sadar disalah satu tangannya ada selang infus yang terpasang.
" iya sayang.. kau pingsan dirumah, bagaimana perasaanmu ?? apa yang kau rasakan saat ini ??" tanya Narendra.
" tubuhku lemas sekali..perutku juga sedikit sakit." jawab herra mengatakan apa yang ia rasakan.
"apa kau akan menyalahkan dia ??" tanya Narendra seraya mengusap perut Herra.
" tentu saja tidak..bisa dianugrahi seperti ini adalah impian semua wanita kak..meski aku harus mengorbankan nyawaku, aku akan berusaha mempertahankan dia..aku harus kuat menghadapi kehamilanku yang tidak wajar ini ??" terang Herra dengan suara sendu. Narendra memejamkan mata menekan rasa sesak didalam hatinya, belum juga ia mengatakan solusi yang berikan Zakia, tapi sang istri sudah berkata demikian.
" kakak mau kan menemaniku ??"Herra menoleh kesisi kanan dimana wajah Narendra berada.
Senyum tipis pun segera dilayangkan oleh Narendra. dan dengan lembut Narendra mengecup pipi Herra. "tentu saja. apapun itu aku akan selalu ada disisimu.."
Dipintu mama Nada memegangi dadanya. ia ikut bersedih saat tau kondisi kehamilan menantunya.
Niat hendak masuk diurungkan oleh mama Nada. papa Revandra juga dengan cekatan membantu mama Nada untuk duduk agar jangan sampai terjadi sesuatu.
"kasihan sekali mereka..cobaan ini terlalu berat pa.." ucap mama nada seiring dengan menetesnya air mata.
" semua sudah diatur Allah ma, kita hanya tinggal menjalani saja. kita harus bantu mereka dengan doa, agar keinginan mereka mempertahankan janin itu terkabul dan diridhoi."balas papa Revandra seraya meraih pundak istrinya dan membawanya dalam dekapan.
.
.
__ADS_1
.
Zakia tengah berbicara serius dengan beberepa ahli bedah, dan dokter Obgyn dirumah sakitnya, Ia tengah mencari solusi untuk adik iparnya. meski harus mendatangkan dokter ahli dari Luar Negeri, ia akan lakukan apapun itu.
Suster Qiara yang masuk dan membawakan berkas data diri dan sketsa pemeriksaan milik Herra segera meletakkan semuanya diatas meja.
Zakia pun buru-buru membuka.berkas- berkas itu, saat ia mengambil satu lembaran tiba-tiba gambar hasil USG Herra terjatuh.
buru-buru Zakia mengambilnya.
" sus, Ini milik Herra ??" tanya Zakia pada suster Qiara.
" iya dok. dokter lupa sudah melakukan USG pada Nona Herra ??" balas Qiara
Zakia menepuk jidatnya. ia benar-benar lupa karna harus memikirkan kondisi kehamilan Herra.
" aku benar-benar lupa.."
salah satu dokter disana melihat hasil USG itu. "Dokter Zakia. adikmu sepertinya hamil anak kembar.." ucap salah satu dokter.
" benarkah ??" Zakia merampas kembali foto USG itu dan memperhatikannya dengan baik.
" kekawatiranmu sampai membuatmu melupakan ini Dok.." ucap rekan dokter Zakia.
"benarkah ini anugerah..?? jika mereka berdua tau akan sebahagia apa ?? dan apa harus bahagia atau sedih dengan semua ini ??" batin zakia.
.
.
__ADS_1
.
.