
bab 119
.
.
.
Narendra duduk termenung disisi Herra berbaring dengan tangan terus menggenggam jemari Herra.
Candrika yang baru saja berbicara dengan dokter yang menangani istri kakak sepupunya masuk perlahan.guna menghibur sang kakak. ia cukup prihatin dengan kondisi Herra saat ini.
" Cand.. kenapa dia tidak bangun ??" tanya Narendra saat Candrika sudah didekatnya.
" sabarlah kak..Kak Herra pasti sedang ingin istirahat saja. oh ya, selamat ya, kau akan menjadi seorang papa..semoga anak kalian perempuan agar aku punya teman.." hibur Candrika.
Narendra tersenyum kecut dengan ucapan Candrika barusan.
"kakak tenang saja. aku sudah minta ijin mengambil alih perawatan kak Herra disini. jadi selama kak Herra dirawat aku yang akan menanganinya." Candrika kembali berkata.
" terima kasih.."balas Narendra lirih.
tatapannya tak lepas dari Wajah pucat Herra yang terbaring dengan mata terpejam. sesak dirasakan Narendra jika membayangkan apa saja efek dari kehamilan yang sangat rentan ini.
.
.
Joy baru tiba dirumah sakit saat mendapat kabar jika adiknya tengah berada dirumah sakit. kekawatiran beradu dengan argumen joy sendiri, apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya.
__ADS_1
dengan langkah cepat Joy memasuki rumah sakit yang sudah diberitau Narendra.
namun baru saja akan menekan tombol lift, Ponsel Joy bergetar kembali. dengan wajah tak bersahabat joy mengangkat panggilan yang sangat mengganggu baginya.
" ada apa ??!!!" ucap Joy dengan tegas.
" tuan rumah besar terbakar !!"lapor anak buah Joy.
" apa ???!! bagaimana bisa ??!!!" Joy mengepalkan kuat tangannya saat mendapat laporan dari anak buahnya.
" ada beberapa anggota menyerang kami, mereka menggunakan bahan peledak, semua pelayan mati tuan. bahkan sebagian dari kami juga sudah tak bernyawa." terang anak buah Joy lagi. baru saja Joy akan mendengar penuturan dari anak buahnya terdengar sangat jelas ditelinga Joy sebuah tembakan.
dorr !!
" aakkkhhh !!!"
" aahhh !!! sial !!!aku kecolongan !!!" umpat joy dengan amarah yang meninggi. ia memutar tubuh dan tak jadi menemui sang adik.entah bagaimana nanti Joy menjelaskan pada Narendra, yang terpenting menyelamatkan harta benda yang berada dirumah.
.
.
" bagaimana ?? aku hebat kan ???!!" ucap Giana dengan memamerkan pekerjaannya yang dirasa sudah berjalan lancar.
Wanita dihadapannya tersenyum penuh kelicikan. "aku tidak menyangka otakmu cerdas juga Giana.."
" aku kan sudah bilang. kau bisa mengandalkanku ?!! hanya menghancurkan Narendra, sangatlah gampang bukan..??" cibir Giana dengan penuh percaya diri.
Wanita dihadapanya tersenyum penuh kemenanganan.
__ADS_1
"setelah ini kau akan mulai dimana lagi ??"
" aku rasa kau pasti sudah tau.." balas Giana seraya duduk dengan meneguk minuman kesukaannya.
Wanita itu berjalan menuju jendela yang mana ia bisa melihat keramaian jalanan kota Bali. wajah yang semula tersenyum berubah menjadi penuh amarah. "hancurkan perlahan..dan perlahan..aku ingin dia merasakan penderitaan dulu.."
" hey, Jika kita menghancurkan kekayaannya, lalu bagaimana dengan perasaanmu ?? kau bilang kan kau menyukai dia sejak pandangan pertama ??! lalu, apa kau mau melihat pria yang kau cintai hidup menderita??!!" Giana bertanya dengan jelas.
" itu sebelum aku tau, jika dia adalah mantan kak Granda. pria yang membuang kak Granda hingga kakakku menghilang entah kemana.." balas Wanita itu dengan berapi-api.
Giana hanya mengangguk. lalu bangkit dari duduknya. "baiklah. mana bayaranku.. sepertinya kau wajib memberiku bayaran mahal. sebab aku bisa dengan mudah menghancurkan tuan Narendra."
Wanita nampak tak suka saat Mendengar Giana mengatakan bayaran. namun ia tak mungkin bersilat lidah. Wanita itu langsung berjalan menuju laci kamarnya dan mengambil sebuah kertas cek. sejumblah nominal dibubuhkan disana. lalu dengan sigap, Wanita itu mengulurkan kertas cek kepada Giana.
Buru-buru Giana menerimanya. nilai nominal uang yang tertera.dicek itu bagi giana sangat tinggi.
Giana pun tersenyum puas. "ini baru impas !!! ah..setelah ini aku harus terlihat biasa saja.." ucap Giana dengan santai dan penuh kepuasan.
" baiklah. aku pulang dulu, aku harus kerumah sakit menjenguk istri tuan naren.." pamit giana. namun baru beberapa langkah saja Giana kembali berbalik. "this fantastic."
Wanita itu hanya diam seraya melipat kedua tangannya. membayangkan bagaimana kondisi diri dan mental Narendra saat semua harta berharga milik Narendra harus hangus sedikit demi seperti keinginannya.
"aku tidak akan berhenti sebelum aku melihatmu menjadi gembel dijalanan tuan Narendra. rasa sakit didadaku masih belum kering, sama saat kau dengan mudahnya menolakku" gumam wanita itu dengan penuh kebencian serta dendam.
.
.
.
__ADS_1