
bab 8
.
.
.
Dua anak buah kindal yang memegangi tangan Herra tergeletak begitu saja saat dua timah panas melayang dan tepat mengenai kepala mereka berdua.
Kindal dan Yusuf terkejut bukan main, bahkan Herra langsung memejamkan mata karna ketakutan.
Kindal menoleh kearah mana timah itu berasal.
mata Kindal membulat saat melihat Narendra berdiri santai dengan pistol masih terarah pada Dirinya. dan Joy yang berada disisinya.
" sialan, siapa kalian !!!?" teriak Kindal.
" Joy.." gumam Yusuf begitu terkejut.
" Tua bangka gila !!! kau ini Orang atau hewan ??! anak sendiri mau dijual !!!" ujar Narendra dengan wajah masih nampak santai.
Herra langsung membuka matanya. Bahagia hanya itu yang dirasakan Herra. " kakak !!" panggil Herra.
" Herra.." Joy hendak berlari mendekati herra, namun dengan cepat kindal merengkuh Leher Herra dari belakang Dan mengarahkan belati pada Leher Herra.
" aahhh !! kakak !!" pekik Herra ketakutan.
" jangan mendekat !!!" ancam Kindal.
" yusuf urus mereka !! kau mengacaukan pestaku !!" perintah Kindal.
" joy, biarkan adikmu dibawa." ujar yusuf pada Joy.
Joy yang marah langsung mendekati sang Ayah dan..
bukk..
bukk..
bukk..
" kau ini bapak macam apa hah !!!?" teriak Joy melampiaskan kemarahannya.
bukk..
__ADS_1
bukk..
bukk.
Yusuf babak belur dengan pukulan dari Joy, putra kandungnya sendiri.
" aku menyesal dulu tidak membunuhmu bajingan !!!" teriak Joy lagi
dagg..
dagg..
dagg..
dagg..
" Joy..joy.. dengarkan dulu.. akkhh !! joy.." Yusuf berusaha berbicara namun Joy sama sekali tidak memberi kesempatan. pukulan dan tendangan terus dilayangkan joy.
Kindal keheranan dimana anak buahnya yang bertugas diluar.
Narendra tersenyum simpul saat melihat kindal celikungan.
" kau mencari siapa mafia amatir ??" tanya narendra.
" Kau habisi anak buahku ??!!" terka Kindal.
mata Kindal membulat sempurna, " Brengsek !!! kau tidak tau sedang bermain dengan siapa !!"
" kau yang tidak tau sedang berurusan dengan siapa.!!" balas Narendra mulai melangkah mendekat.
" hah.. mendekatlah jika kau ingin dia mati !!" senyum psikopat kindal terlihat saat dirinya sudah terpojok.
" kakak !!" pekik Herra saat Kindal hendak menggoreskan belati yang dipegangnya.
" jika kau menggores satu goresan saja, aku akan memotong lehermu sekali tebas mafia amatir !!!" ancam Narendra dengan wajahnya yang mulai serius.
" dia sudah milikku !! aku membelinya dengan mahal !!" Kindal.kembali beralasan.
" Dia bukan barang bodoh !!!" bentak Narendra yang mulai tak sabar. perlahan Narendra terus mendekat dan mendekat.
"berhenti disana !!! atau kau akan melihat dia mati !!" ancam Kindal.
Herra nampak begitu ketakutan.
sementara Narendra beralih menatap Herra dan mengedipkan salah satu matanya.
__ADS_1
Herra keheranan, dengan maksud Teman kakaknya itu.
Narendra mengangkat salah satu kakinya sedikit dan mengarahkan kebelakang. Sementara Herra terus melihat. dan herra faham maksud Teman kakaknya.
dengan sisa keberaniaannya Herra menendang kebelakang dan tepat mengenai barang berharga pria tua itu.
dagg !!!
" aakkhhh !!!" Pegangan Kindal mulai longgar dan dengan cepat Narendra melayangkan tembakan.
Dorr !!
dorr !!
Herra merunduk dan menutup telinganya.
Kindal tergeletak bersimbah darah, timah panas Narendra tepat mengenai kepala dan dada Kindal.
" berdirilah. dia sudah mati." ujar Narendra yang entah sejak kapan sudah disisi Herra yang tertunduk.
Herra membuka matanya dan menatap Narendra.
Narendra langsung berbalik dan memanggil Joy yang terus memukuli ayahnya yang sudah tak berdaya.
" lanjutkan nanti Joy !! pesta Mamaku sudah dimulai !!" ujar Narendra.
" baik tuan " Joy menghentikan aksinya dan melempat tubuh sang Ayah begitu saja.
" urus dia !!" perintah Joy pada anak.buahnya.
Joy langsung berlari kearah herra yang berdiri mematung.
" kau baik-baik saja ?? ada yang terluka ??" Joy meneliti sekujur tubuh adiknya.
tak ada jawaban Herra langsung berhambur kepelukan sang kakak. tangisnya pecah seketika dalam sandaran yang selalu melindungi dirinya.
" aku takut kak.. aku takut.." gumam Herra dalam tangisannya.
" tenanglah.. kakak sudah disini.. kau aman sekarang.."Joy mengusap kepala adiknya penuh kelembutan.
Narendra membiarkan asistennya menenangkan sang adik dan memilih melangkah keluar terlebih dulu.
.
.
__ADS_1
.