
bab 121
.
.
.
Herra menatap serius sang suami yang senyumnya luntur saat mendapat panggilan dari joy.
Kediaman Narendra saat menurunkan ponsel dari telinganya, bahkan tak terdengar percakapan apapun.
" kak.. ada apa ??" tanya Herra yang sangat penasaran.
Narendra perlahan menatap Herra dengan tatapan tak bisa diartikan lagi. Herra sangat yakin telah terjadi sesuatu.
Narendra menelan ludahnya beberapa kali, ia ingat betul kondisi sang istri. buru-buru ia menerbitkan senyum agar Herra tak curiga dengan apa yang terjadi.
" ehem..e..Tidak ada sayang.." balas Narendra berusaha tenang. dan duduk disisi sang istri yang berbaring dengan bersandar.
" kakak.bohong !!? tadi saja langsung diam. kak.Joy kenapa ?? apa terjadi sesuatu ??" tanya Herra dengan rasa ingin taunya.
Narendra mengusap kepala Herra dan memeluk Herra dengan erat.
" tidak ada apapun.yang terjadi sayang..semua baik-baik saja..percayalah padaku..." Narendra mencium pucuk kepala Herra untuk memberinya kekuatan.
Herra tak berani lagi bertanya. meski sejujurnya dalam.hati ia sangat yakin suami dan kakaknya sedang dalam masalah.
Tak ingin menambah beban fikiran suaminya, Herra hanya mampu menikmati pelukan Narendra.
Narendra terus mengeratkan pelukannya untuk menetralkan amarah yang membuncah didalam hati, tatapannya seakan hendak membunuh siapa saja yang ia lihat
__ADS_1
"kalian salah mencari lawan..aku sudah bersabar dan saat ini waktunya kalian berakhir.!!" batin Narendra dengan penuh kemarahan.
narendra menatap lekat wajah Herra dan tak lups mencium bibir Herra penuh kehangatan.
" jangan fikirkan apapun. fikirkan dia.. buah cinta kita, " Ujar Narendra seraya mengusap perut Herra yang masih rata.
Herra membalas dengan senyum diwajah pucatnya.
" apa kau mau membantuku ??" tawar Narendra dengan terus menatap lekat Herra.
" apa ??" Herra pun segera menanggapi.
" bisakah kau menungguku disini ?? aku harus menyelesaikan beberapa masalah dikantor. kasihan Joy dia sejak kemarin sendiri menyelesaikan pekerjaanku," pinta Narendra. tatapan yang begitu dalam bisa dirasakan Herra.
Dengan perlahan Herra menggangguk pelan menyetujuinya.
" maafkan aku yang membuatmu mengabaikan pekerjaan" ucap Herra lirih.
" aku tau kau akan seperti itu..aku sangat mencintaimu.." balas Herra.
Narendra tersenyum tipis saat mendengar pengakuan istrinya, ia tak henti-henti menciumi kepala Herra beberapa kali seakan ingin mengatakan jika ia juga sangat mencintai Herra.
" Candrika disini. dia akan menemanimu selama aku tidak ada. kau mau bersabar kan ??" terang Narendra.
" kenapa tidak pulang saja ?? aku merasa tenang jika dirumah.." balas Herra.
Senyum kembali terlayang oleh Narendra. "kondisimu masih dipantau Candrika. aku harap kau mau bersabar dan menurut. semua demi dia.."tak henti-hentinya Narendra mengusap perut istrinya.
"baiklah.. tapi jangan lama-lama ya ??" Tawar Herra.
" tidak akan. jika sudah selesai aku dan Joy akan kesini bersama. aku berjanji.." balas Narendra.
__ADS_1
Herra mengangguk pertanda mengerti.
Narendra terus mengusap perut Herra dan kemudian menunduk menciumi perut Herra yang masih rata. Ciuman mendalam dengan segenap hati. "sayang..papa mohon jaga mamamu dengan baik disini..tak ada yang bisa papa percaya selain kau.." Narendra berkata dalam hati. seakan mengajak bicara janin yang tertanam diperut Herra.
Ketukan pintu membuyarkan suasana Haru yang dirasakan Herra. Narendra pun menyudahi ciuman berulang pada perut Herra.
Tak lama pintu terbuka nampak Giana berdiri dengan senyumnya dengan keranjang buah ditangannya.
" selamat sore tuan dan nona..maaf menganggu saya mau menjenguk Nona Herra.." sapa Giana dengan sesopan mungkin.
" terima kasih sekretaris Giana..silahkan masuk.." Herra membalas dengan keramahan.
Giana melangkah masuk dan meletakkan keranjang buahnya diatas meja.
"bagaimana keadaan Nona ??" tanya Giana
" saya sudah baik..kau sudah pulang kerja ??" tanya Herra balik.
" sudah nona..hanya beberapa pekerjaan penting, dikerjakan tuan Joy dikantor. dia kan tidak mau jika dibantu saya.." balas Giana menjelaskan.
" sayang.. aku pergi dulu ya," pamit Narendra yang mencium kening Herra dengan amat mesra. tanpa memperdulikan Kehadiran Giana.
" iya.. hati-hati..jika sudah selesai segera kembali.." balas Herra.
Narendra mengangguk. sebelum keluar ia menatap Giana dengan tatapan dingin. hingga membuat Giana menunduk.
.
.
.
__ADS_1
.