You Are Only Mine

You Are Only Mine
Penuh kemeriahan


__ADS_3

bab 38


.


.


.


Tepukan riuh tamu undangan terus mengiringi langkah pasangan pengantin beda usia itu.


hingga keduanya tiba disebuah singgasana peraduan yang begitu indah dimana MC berada.


atas arahan sang MC, Kedua mempelai diharuskan saling berhadapan.


dan Narendra serta Herra hanya mengikuti saja. Dengan memegang jemari Herra dan saling tatap Narendra menatap Herra yang dibalas oleh Herra.


MC memberikan microfon pada Narendra agar bisa mengatakan semua isi hatinya disana. itulah biasa dilakukan ritual pengantin saat dimalam resepsi.


Narendra menerima dengan tenang. ia sangat pandai menyembunyikan ketegangan dalam dirinya.


" Aku tidak bisa mengatakan apapun karna aku bukan pria romantis seperti pria diluar sana. dengan segala kekuranganku, terima kasih telah menerimaku menjadi suamimu." ucap Narendra dengan singkat tanpa melepas pandangannya dari Herra.


Jika tidak malu, Herra mau berteriak saja, sebab detak jantungnya sudah tidak bisa dikondisikan.


Mc kembali mengarahkan Agar Herra menjawab Ucapan ungkapan hati Narendra barusan.


Ragu-ragu Herra menerima microfon dan mengatur nafasnya.


hening suasana, menunggu Herra berbicara. meski sudah terkonsep, namun nyatanya grogi yang dirasakan Herra membuyarkan semuanya.

__ADS_1


Zakia dan Sikembar bahkan Joy begitu ingin berlari membantu Herra berbicara.


"Aku juga tidak tau akan berkata apa. ini seperti mimpi, aku merasa kau adalah penjaga hati yang dikirim Tuhan untuk menempati ruang yang kosong didalam hati, semoga aku bisa menjadi istri yang baik, yang bisa membahagiakan suami dalam segala apapun." ucap Herra. suaranya yang lembut begitu menyentuh hati Yang mendengar.


Senyum yang dilayangkan Narendra membuat Herra membuat kata sendiri diluar konsep.


hingga Mc Melanjutkan dengan acara mencium mempelai wanita. Sontak Herra yang mendengar cukup terkejut.


Narendra mendekatkan wajahnya pada Herra seraya berbisik. "tenanglah, aku tidak melebihi batasan."


Herra bisa bernafas lega. ia seketika memejamkan mata kala Narendra menempelkan bibirnya dikening Herra.


tepukan riuh kembali memenuhi ruangan itu.


Hingga Herra tertunduk saat Narendra menyudahi ciuman dikeningnya.


.


.


Nada Dan Revandra menghampiri putra dan putri mereka.


Tanpa berkata Nada memeluk Herra dengan erat. tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat putra kesayangannya kini telah menemukan kebahagiaannya.


" selamat sayang.. selamat datang dikeluarga Ambara.." ujar Nada.


" terima kasih nyonya..saya..-"


" Herra.. kau sudau resmi menjadi menantu kami, panggil mama sayang.."Nada menyela ucapan Herra.

__ADS_1


" maaf ma..Herra belum terbiasa.."balas Herra sembari tertunduk.


Nada meraih tangan Herra dan memeganginya. "Herra, Narendra adalah pria dingin dengan sikap cuek yang ada pada dirinya. mama Harap kau bisa memahaminya. tapi jika memang dia menyakitimu, kau jangan sungkan mengatakannya pada mama, Mama tidak akan membelanya meski dia anak mama, kau jangan pernah sungkan berbagi cerita pada mama ya ??"


Kelembutan tutur kata Nada membuat Herra terenyuh dan bisa kembali merasakan hangatnya sentuhan dan kasih sayang seorang ibu.


.


.


Sementara Revandra memeluk Narendra tanpa berkata apapun.


" papa tidak memberiku selamat ??" tanya Narendra.


" untuk apa ?? bahkan papa yakin kau tidak akan berani membuka segelnya malam ini." bisik Revandra dengan jahilnya ia menggoda sang putra.


mata Narendra mendelik dengan godaan sang papa. bahkan ia tidak habis fikir dengan orangtua itu.


" aku akan memberimu selamat jika kau berhasil membobol gawang pertahanan Herra nanti." kembali bisikan iblis berwujud papanya terdengar ditelinga Narendra.


Revandra malah terus menggoda dengan memainkan alisnya naik turun seakan terus mengejek putranya.


Narendra mendegus kesal lalu menatap kearah lain.


Ia memilih langsung meraih tangan sang mama dan memeluk mamanya yang sudah selesai dengan Herra.


.


.

__ADS_1


__ADS_2