
bab 211
.
.
putranya berangkat.
" Andika.. nanti pulangnya jangan terlalu sore ya, nanti malam kita akan kerumah bibi Nurra." pesan sang mama.
" untuk apa ma ??" tanya Andika yang membenarkan sepatunya.
" tentu saja untuk Candrika. bukannya kau menyukai dia ??" terka sang mama.
Andika menatap mamanya dengan cukup serius. "mama mau apa menemui Cand ?? jangan bilang tentang perjodohan ??!! aku tidak mau !!"
" why ?? Cand cantik sayang, ??" tanya Mama Sonia.
" intinya jangan kesana untuk membicarakan perjodohan. aku tau mama akan menjodohkanku dengan Cand, tapi aku benar-benar tidak menyukai dia, aku dan dia hanya berteman selama ini, dan aku tidak mau pertemanan kami sampai renggang hanya gara-gara perjodohan." tutur Andika seraya berdiri dari duduknya dan mencium tangan sang mama dan papa.
" An berangkat dulu ma, pa.."
" hati-hati nak.." balas papa Romi.
Andika melenggang keluar dengan langkah cepat
" bagaimana bisa Andika tidak menyukai Cand ??" tanya Sonia pada suaminya.
" perasaan tidak ada yang tau, meski sering bertemu dan bersama belum tentu suka."balas papa romi.
" tapi aku bisa merasakan jika Andika suka pada Cand pa ??!!" protes mama Sonia.
__ADS_1
papa Romi meletakkan sendok dan menatap istrinya. "jangan memaksakan kehendak putra kita. biarkan dia mencari tambata hatinya sendiri."
mama Sonia berdecak beberapa kali. "lalu bagaimana aku bicara pada Nyonya Nurra ?? aku sudah janji akan kesana nanti malam ??!"
" makanya jangan kebiasaan janji. aku harus kemarkas." pamit papa Romi.
" huh.. papa.. selalu saja.." gumam Mama sonia yang bingung harus bagaimana.
namun ia memilih berkirim pesan dengan Nurra jika akan membatalkan kunjungan mereka. entah apa yang akan dikatakan Nurra, Setidaknya Sonia akan menjelaskannya nanti.
.
.
.
Siang itu, semua keluarga Papa Revandra kembali kerumah besar papa Revandra kecuali dua pasang pengantin baru itu. Mereka dibiarkan bebas menginap dihotel itu selama masa cuti mereka. namun Dirya memilih menempati apartemennya begitupun dengan draka.
.
.
" Kak Naren pasti akan mengejekku nanti.." gumam Candrika sendiri an diruangannya saat istirahat
.
.
" kakak.. cepatlah memilih, mana yang kau suka ??!" protes Herra yang sudah cukup bosan menemani sang kakak memilih cincin untuk melamar Candrika.
" iya. apa kau mau pelit ?? uangmu kan juga banyak, harga segitu tidak akan membuatmu miskin Joy !!" tambah Narendra yang lebih jenuh. jika bukan permintaan Herra. tidak akan mungkin narendra mau menemani Joy seperti itu.
__ADS_1
" bukan begitu..tapi ini terlalu mewah..aku tidak mau yang mewah-mewah.." balas Joy.
" ya sudah belikan saja cincin imitasi. apa susahnya !!" timpal Narendra sekenanya.
" kakak nanti malam hari spesialmu, setidaknya beri yang spesial untuk Candrika.." saran Herra.
" mbak, ada tidak yang desain sederhana namun masih nampak kesan mewahnya ??" tanya Herra pada pelayan toko.
" ada nona. edisi terbaru. kami akan ambilkan." balas pelayan itu dengan ramah.
tak lama pelayan keluar dengan membawa dua model cincin yang diinginkan Herra.
dan benar saja, Joy langsung tersenyum lega saat melihat cincin itu nampak elegan dan sederhana,namun tidak meninggalkan kesan mewahnya.
" bagus Her.." ucap Joy pada Herra.
" aku tau selera kakak tidak jauh beda denganku."balas Herra.
" cih.. jelek sekali.." umpat Narendra.
Herra mencubit pinggang suaminya yang tak berhenti bergumam karna sudah cukup bosan.
" sudah..sudah cepatlah dibayar. aku sudah lapar sekali.." ucap Narendra.
" kakak.. bukannya tadi kita baru makan ??!! kenapa sudah lapar lagi ??!" tanya Herra keheranan.
" ya aku tidak tau. perutku berbunyi terus sayang..." balas Narendra seraya bermanja pada zherra.
Joy membuang nafasnya dengan kasar. melihat tingkah adik iparnya yang kolokan layaknya anak kecil pada Ibunya.
.
__ADS_1
.