
bab 207
.
.
.
Malam semakin larut, dan pesta pun sudah usai. para tamu undangan juga telah kembali, hanya tersisa beberapa Keluarga saja.
Narendra pun telah membawa Herra untuk beristirahat. dikehamilan keduanya, Narendra sangat posesif sekali.
Meski Herra terus menolak, tetap saja,Narendra kekeh membawa Herra istirahat.
.
.
Sementara Dirya dan draka membawa istri mereka untuk beristirahat. Sengaja atas kemauan dirya dan Draka, Kamar mereka terpisah cukup jauh.
Dikamar Dirya.
Qiara mendudukkan tubuhnya saat ia sudah tiba dikamar.
perlahan Qiara membuka higheels yang ia kenakan dan memijit mata kakinya yang sedikit memerah.
Dirya yang selesai membuka jasnya segera menghampiri qiara.
" kakimu sampai merah begini.."ujar dirya dengan penuh kawatir.
"tidak apa, besok juga sudah sembuh." balas Qiara berusaha menyembunyikan sakitnya.
" aku olesi saleb ya ??" tawar Dirya yang kemudian berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam tas miliknya.
lalu dengan segera pula Dirya kembali pada Qiara dan mengolesi mata kaki qiara yang memerah.
" biar aku sendiri saja.." Kata Qiara
" tenanglah. aku ini suamimu sekarang, biarkan aku menjadi suami yang baik."balas Dirya.
Qiara hanya terdiam dengan senyum penuh bahagianya. setidaknya ia kini benar-benar bisa menikah atas dasar cinta dan tanpa terpaksa.
Kepingan-kepingan kenangan terus saja terlintas hingga membuat Qiara menitikkan air mata. namun segera pula ia menghapusnya, ia tidak mau Dirya sampai melihat dan menganggap Dirinya bersedih karna pernikahan itu.
__ADS_1
.
.
Dikamar Draka.
Hasna yang cenderung sudah berpacaran lama dengan Draka tidak malu lagi meminta bantuan Draka membukakan gaun yang ia kenakan. setelah meminta dipijat pada kakinya.
" kau bisa tidak ??!" tanya Hasna.
" tentu saja bisa. sabar dong !!" jawab Draka.
Setelah selesai membuka kancing gaun Hasna, Buru-buru Hasna menuju kamar mandi.
" ya ampun.. dia bahkan tidak coba mengajakku ?!!" ujar Draka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
.
.
Qiara sudah selesai membersihkan diri. dan sungguh sesuatu yang spesial, Qiara memakai piyama tidur pendek tanpa mengenakan hijabnya lagi. dan Dirya yang duduk sembari memainkan ponselnya tak sengaja menoleh kearah Qiara berada dibuat terpana dan kagum dengan kecantikan Qiara yang alami. rambutnya yang nampak panjang dan kulit putih bersih sungguh indah ciptaan Tuhan,.
Menyadari Dirya menatapnya intens, Qiara sedikit kikuk. " kenapa ?" tanya Qiara ragu-ragu.
Dirya tersadar dan kemudian mengedipkan mata beberapa menyadarkan diri. "kau cantik sekali.." puji Dirya.
Melihat istrinya nampak malu, Dirya pun segera berdiri dan menghampiri istrinya.
perlahan Dirya mengangkat wajah Qiara. "kenapa malu ?? toh kita sudah sah kan ??"
terlihat sekali pipi qiara memerah akibat ucapan Suaminya itu.
" maaf. aku belum terbiasa." balas Qiara lirih.
" tidak apa. aku juga masih menyesuaikan." balas Dirya yang memilih menarik tubuh Qiara dalam dekapannya.
sesuatu yang sejak dulu sangat ingin dilakukannya. Qiara pun dengan senang hati menerima dekapan hangat dari Dirya.
" aku bahagia sekali.." ucap Qiara.
" apa lagi aku.. ini adalah sesuatu yang aku tunggu sejak dulu.." balas Dirya yang menghujani pucuk kepala Qiara dengan kecupan mesra.
saat pelukan terbuka, netra keduanya saling beradu memancarkan bias cahaya cinta yang tercurah dari hati dua anak manusia itu.
__ADS_1
Dengab perlahan dirya mendekatkan wajah pada Qiara. netranya terus menatap bibir merah jambu yang entah mengapa malam itu ingin sekali ia lahap.
Saat bibir mereka saling beradu, Qiara langsung memejamkan mata, Entah naluri atau apa, Dirya yang memang tidak pernah melakukan ciuman sebelumnya, perlahan mengais bibir Qiara dan memperdalam ciumannya. nampak kaku sekali jika terlihat, Dirya pun merasa Qiara juga tidak selihai dirinya.
"apa dia tidak pernah dicium pria brengsek itu dulu ??" batin Dirya.
Nafas keduanya memburu saat pangutan terlepas, Wajah Qiara kembali bersemu merah saat sadar apa yang telah mereka lakukan.
" apa kau siap ??" tanya Dirya seakan meminta ijin.
" si..siap ?? a..apa ??" tanya Qiara yang masih belum mengerti. ia bahkan mengedipkan matanya beberapa kali. dan itu sangatlah lucu bagi Dirya. Dirya pun mendekatkan bibirnya ditelinga Qiara.
" malam pertama sayang.."
Qiara sedikit mendorong dada Dirya yang baginya sangatlah vulagar sembari menunduk.
" kenapa ?? malu lagi ??" tanya Dirya yang berhasil membuat istrinya malu-malu.
" tapi, kau jangan..-"
" shutt.." Dirya meletakkan jari telunjuknya dibibir Qiara. "apapun dan bagaimanapun, aku akan menerimanya." ucap Dirya.
senyum Qiara seketika terlihat dan perlahan ia mengangguk. dan Dirya pun segera mengangkat tubuh Qiara guna membawanya diranjang yang sudah dihias begitu indah .
Belaian dan sentuhan hangat dari Dirya membuat tubuh Qiara meremang hingga saat kembali ciuman mereka beradu dengan tangan Dirya yang mulai mencari tempat yang pas dimana ia harua berada.
Naluri hasrat keduanya menggebu seiring dengan serangkai de sa han yang tertahan dari Qiara.
dan entah sejak kapan keduanya sudah tak memakai sehelaipun. Qiara yang bisa melihat tubuh Dirya yang berotot dibagian perutnya cukup malu melihatnya, ia pun mengalihkan pandangannya kesisi lain sembari menggigit bibir bawahnya.
Sadar istrinya tak nyaman, Dirya pun meraih selimut dan menutup tubuh mereka saat ia hendak melakukan penyatuan.
" bisakah.. kau baca bissmillah ya ?? setidaknya kita melakukan atas Ridho dari allah. ??" pinta Qiara.
" pasti sayang.." balas Dirya dengan suara seraknya .
" Bissmillahirrohmanirrohiim.." Dirya mengucapkannya dengan memejam kan mata. begitupun dengan Qiara.
cukup sprot jantung, saat menyadari Apa yang akan terjadi padanya.
" aaahhhh !!! sakit !!!" pekik Qiara saat sesuatu yang keras memaksa memasuki dirinya.
.
__ADS_1
.
.