
bab 130
.
.
.
Malam yang melelahkan sudah terlewati. bahkan sinar mentari sudah meninggi dengan cahaya terangnya.
Narendra mengerjapkan mata perlahan. perih rasanya disekujur tubuhnya, apalagi bekas sayatan belati sisa semalam.
Jemari Narendra terasa hangat saat digenggam oleh tangan yang begitu halus.
Perlahan Narendra membuka mata dan menatap siapa yang berada bersamanya.
Senyum manis dari wajah pucat sang istri terlihat saat Mata Narendra sudah terbuka dengan sempurna.
Narendra pun membalas genggaman tangan Herra yang baginya terasa amat hangat dengan mata saling beradu, seolah sedang berbicara dalam hati masing-masing.
namun tiba-tiba Herra memukul lengan Narendra.
pukk !!
" aww !! shhtt !!! sayang.. kenapa memukulku ??!!" protes Narendra.
__ADS_1
" itu hukuman untukmu !!! kenapa kau membahayakan diri dengan datang ketempat mengerikan seperti itu ??!! apa kau lupa padaku ??!! bahkan aku sedang mengandung anakmu !!!" balas Herra dengan omelannya.
" maafkan aku sayang..aku hanya ingin tau siapa dalang dari kebakaran rumah dan pabrik kita.."timpal Narendra berusaha menjelaskan.
" untuk apa mencari tau ??!! apa semua akan kembali begitu saja jika kau menemukan pelakunya ??!! lihatlah apa yang kau dapatkan ??!! luka disekujur tubuhmu begini, kau fikir aku tidak kawatir ??!! kau fikir aku kuat jika sampai kehilangan dirimu !!!?" Herra meluapkan semua kekesalan, kekawatiran, dan katakutannya pada Narendra, matanya bahkan sudah tergenang oleh cairan bening yang tanpa permisi berada disana.
Bukannya marah Narendra malah tersenyum. ia berusaha bangkit dari tempat duduk dan perlahan menurunkan kakinya seraya menatap istri tercintanya.
Herra masih duduk dikursi roda dengan jarum infus yang masih terpasang. kondisi Kandungan Herra yang lemah memang mengharuskan dirinya berada dalam pengawasan dokter.
Tangan Narendra perlahan mengayun membelai kepala hingga kewajah Herra.
" maafkan aku membuatmu kawatir.."
" jika sampai kau mengulanginya lagi, aku sendiri yang akan membunuhmu pria tua !!!" ucap Herra dengan sesenggukkan. bahkan air matanya sudah meleleh dengan sendiri meluncur indah dikedua pipi Herra.
seketika pula tangis Herra pecah memenuhi seisi ruangan. Sangat memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Herra pun langsung mengalungkan kedua tangan dipinggang Suaminya. Posisi mereka saat ini adalah Narendra yang berdiri didepan Herra dengan Herra yang duduk dikursi roda lalu memeluk pinggang Narendra dengan menyembunyikan wajahnya diperut Narendra.
Kecupan tiada henti terus dilayangkan Narendra pada pucuk kepala Herra yang masih meluapkan kesedihannya sejak semalam.
" Aku tidak masalah kau tidak memiliki kekayaan, sungguh !! aku tidak masalah kita hidup sederhana !! tapi aku mohon jangan bahayakan dirimu lagi..aku hanya punya kau dan kak Joy..hiks..hiks..hiks.." ucap Herra dalam tangisannya.
Narendra semakin mengeratkan tangannya. "jangan menangis sayang.. aku mohon..kasihan calon anak kita.." bujuk Narendra, sesak rasanya melihat sang istri yang menangis penuh kepiluan dala. dekapannya.
__ADS_1
.
.
.
Sementara Joy yang masih diganti perban oleh Candrika cukup merasa canggung yang berlebihan. hening tak ada yang membuka suara. bahkan Candrika sendiri tak berani berbicara, atau basa basi.
Hingga selesai Candrika masih betah bungkam. perawat yang membantu Candrika sudah selesai membereskan alat-alatnya dan hendak keluar.
" sudah selesai. kami permisi.." pamit Candrika sembari menunduk. entah mengapa ia cukup.malu apa lagi saat mengingat kelakuannya dulu yang menuduk Joy dalam.hal negatif.
tak ingin berlama-lama, Candrika langsung memutar tubuh untuk segera keluar.
" terima kasih.." suara pelan Joy menghentikan langkah Candrika hingga Candrika terpaksa membalikkan tubuh. mengatur ekspresinya agar tidak terlihat jika dirinya tengah gugup.
" sama- sama.." balas Candrika dengan singkat sembari tersenyum. lalu kemudian segera menunduk hormat dan keluar segera.
Kelegaan dirasakan Candrika saat sudah berhasil keluar dari ruangan rawat Asisten Joy.
sementara Joy hanya menyeringai tipis saat melihat Candrika. meski Candrika berusaha menyembunyikannya namun tetap saja Joy bisa melihatnya. "kenapa wajahnya menggemaskan sekali jika memerah begitu.." gumam Joy sendiri.
.
.
__ADS_1
.