You Are Only Mine

You Are Only Mine
Masih dalam suasana syahdu


__ADS_3

bab 58


.


.


.


Hingga sinar mentari sudah meninggi, dua anak manusia itu masih setia dengan posisi yang begitu intim. bahkan Herra mnyembunyikan wajahnya didada bidang Narendra. seakan mendapat kenyamanan, keduanya tertidur dengan begitu pulasnya.


Sesekali Herra mengeliat saat kesadarannya sudah mulai terkumpul.


" ya ampun.. apa semalam kami tidur seperti ini ??" gumam Herra sendiri, wajahnya begitu merona saat mengingat dan menatap wajah Narendra yang nampak begitu tenang dalam lelapnya.


Perlahan Herra membuka tangan Narendra yang melingkar diperutnya, ia hendak bangkit dan membersihkan diri. Narendra hanya mengeliat dan membenahi kepala dengan mata masih tertutup.


Herra pun melangkah menuju kamar mandi guna membersihkan diri.


.


.


Selesai membersihkan diri, Herra sudah memakai pakaian lengkap, namun saat keluar dari kamar mandi Herra masih melihat Narendra tertidue lelap. meski tanpa busana dan tetap pada posisi menggunakan handuk, Nyatanya Narendra begitu nyaman dalam tidurnya.


" kak.. bangunlah..sudah siang." panggil Herra dengan berdiri dihadapan Narendra yang masih berbaring.


hening tak ada jawaban, Narendra masih setia memejamkan mata.


Herra mendekat lebih lagi dan menggoyangkan pundak Narendra.

__ADS_1


" kak..katanya kita berangkat pagi ?? bangunlah, nanti tertinggal pesawat !!"


Narendra memgeliat seraya membuka mata perlahan. senyum yang ia terbitkan saat wajah cantik Herra berada didepannya.


Secara tiba-tiba, Narendra menarik Herra dengan kuat hingga Herra terjerambah diatas Narendra.


" aahhh !!" Herra memekik dengan keras.


" jangan terus begitu. kita akan terbiasa seperti ini.." bisik Narendra pada telinga Herra, deru nafas Narendra yang terasa hangat membuat Herra merasa bergidik.


" kakak jangan begini.." balas Herra yang merasa tubuhnya merinding karna sentuhan Dari Narendra disekitar lehernya


" kau tau, aku ingin sekali menggigitmu jika kau seperti ini.." ucap Narendra.


" seperti apa ?? bahkan aku tidak melakukan apapun." timpal Herra.


Narendra memegang kedua pipi Herra. " pipimu yang selalu memerah dan kau sembunyikan ini yang membuatku ingin menggigitnya.


segera pula Narendra mencegah Herra dengan memegangi pinggang ramping Herra.


" jangan marah. Herra dengarkan aku.." Narendra berkata seraya membenarkan tidurnya bersandar dengan Herra didekapannya


" aku tidak tau apa yang aku rasakan. mungkin ini terlalu cepat, tapi aku merasa cukup nyaman bersamamu. bagaimana denganmu ??" tanya Narendra seraya menunduk menatap Herra yang dengan setia mendengarkan.


" entahlah kak, bahkan selama ini aku tidak pernah dekat dengan pria kecuali dengan kak Joy saja. pengawalan yang selalu kak joy berikan membuat banyak pria berfikir dua kali untuk mendekatiku.. jadi aku belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta dan dicintai, tapi aku cukup nyaman dekat dengan kakak, aku berfikir karna kakak adalah teman sekaligus bosnya kak joy, makanya aku tidak merasa takut. tapi rasa malu terus muncul saat diddekat kakak..aku juga tidak tau kenapa.."terang Herra, sangat jujur dengan wajah polosnya


Narendra mengeratkan pelukannya meresapi harum rambut Herra.


sungguh beruntung dirinya, mendapatkan Herra yang berhati malaikat dan begitu lugu.

__ADS_1


" peluk saja. jangan malu terus." goda Narendra saat tak merasakan Herra membalas pelukannya.


Herra memukul pelan dada Narendra. godaan seperti itulah yang selalu membuat Herra merasa sangat malu.


tokk !!


tokk !!


ketukan pintu membuyarkan suasana menenangkan didalam kamar itu.


" kak aku buka dulu.." aherra hendak bangkit namun tetap saja ditahan Narendra


" aku tau itu Kembar. kalau bukan kembar pasti papa atau kak Zakia." ujar Narendra.


"bagaimana kakak tau, jika mama bagaimana ??!" protes Herra.


" biarkan saja. " timpal Narendra.


" Naren !! herra !! bangun nak !! sudah siang !! kalian bilang akan berangkat pagi.." suara Nada samar-samar terdengar hingga membuat Herra segera memaksa Narendra membuka dekapannya.. "tu kan. mama !!"


Herra berlari membukakan pintu dengan cepat. " maaf ma, kami kesiangan." ucap Herra saat sudah membuka pintu.


" tidak apa sayang. mama mengerti suasana pengantin baru." balas Nada dengan senyum manisnya.


"ya sudah cepatlah turun, kami tunggu dibawah." Nada segera melangkah turun.


Herra bernafas lega saat mertuanya sudah tak terlihat. ia segera menutup pintu kembali.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2