
bab 57
.
.
.
Sumpah demi apapun Herra sudah tidak kuat menopang kakinya. Sentuhan Narendra begitu membuat dirinya seperti mengikuti deru nafas Narendra yang terus saja menelisik seluruh kulit tubuh Herra.
Narendra sendiri juga tidak tau kenapa saat dekat dengan Herra begitu tertarik untuk menginginkan lebih, seolah tubuh Herra memiliki magnet untuk dirinya. apalagi tingkah Herra yang begitu lugu membuat Narendra begitu gemas. Masalah Hati bahkan Narendra belum tau apa yang ada disana untuk Herra, namun rasa nyaman dan semakin nyamanlah yang dirasakan Narendra.
sudut bibir Narendra terangkat kembali saat Herra terlihat semakin memejamkan mata.
" ka..ka..-"
mmmptt !!
Ternyata Narendra sudah melahap bibir Herra yang begitu membuatnya gemas sejak tadi.
seketika juga Herra membuka mata dengan lebarnya, melihat Narendra yang memejamkan mata kala bibir mereka saling menempel.
Tak ada pergerakan dari Herra hingga Narendra menggigit bibir bawah Herra agar herra membuka sedikit mulutnya..benar saja, Mendapat gigitan kecil itu, Herra langsung membuka mulutnya, hingga dengan cepat Narendra memasuki rongga mulut zherra mengabsen setiap inci didalam sana.
tangan Herra berusaha mendorong tubuh Narendra yang begitu dekat dengannya. namun entah mengapa seolah tubuh herra sendiri seakan tertarik dan begitu menikmati sentuhan tangan Narendra yang milai bergerilya menelusuri punggung Herra.
Sesaat saling sesap dan pertukaran slavina terus terjadi, sesekali Narendra melepas pangutannya dan berpindah menelusuri leher.jenjang Herra. hati Herra ingin sekali menolak, namun tubuh Herra tak memungkiri rasa yang bergejolak dan menginginkan lebih.
__ADS_1
"aahhh "
******* tertahan dari mulut Herra terdengar ditelinga Narendra saat Narendra berhasil membuat tanda kepemilikan dileher itu.
" kak.. aku..-" Belum selesai Herra berkata Narendra sudah melahap kembali bibir Herra, seakan sudah dikuasai nafsu Narendra begitu bersemangat, hingga ia langsung menggendong tubuh mungil Herra tanpa melepas penyatuan bibir itu.
Dengan perlahan Narendra meletakkan tubuh Herra ditempat tidur dan kembali menghujani wajah Herra dengan ciuman memabukkan.
Herra sudah terkontaminasi dan memejamkan mata saat tubuhnya dijamah oleh Narendra.
namun seketika Herra sadar saat Narendra mulai membuka kanvcing bajunya.
" kak.." cegah Herra.
" kenapa ??kau belum siap ??" tanya Narendra dengan suara berat dan langsung mengusap buah yang masih kencang dan tidak terlalu besar milik Herra.
Narendra tak tahan lagi, ia ******* kembali Bibir Herra dengan tangan yang terus bermain dibuah- buahan yang begitu istimewa itu.
" aahhh !! kak.. aku..aku.. aahhh !!"
desah Herra.
"lepaskan saja Her, suaramu sangat seksi.. tidak akan ada yang mendengar.."balas Narendra yang berpindah bermain dipucuk buah Milik Herra yang berwarna merah jambu dan masih begitu segar.
bagai singa kelaparan, Narendra hendak melahapnya. Herra cepat menahan perlakuan Narendra.
" kak, jangan diteruskan. kau akan kecewan nanti. aku sedang datang bulan.." Ucap.Herra dengan cepat agar tidak dicegah Narendra.
__ADS_1
Narendra langsung menatap Herra dengan wajah serius. "apa ??"
" maaf kak, aku sedang datang bulan."herra mengulangi perkataannya seraya menggigit bibir bawahnya takut jika Narendra akan kecewa.
Narendra langsung menghentikan aktivitasnya, sumpah, bahkan ia sudah berada dipuncak pertahanannya, namun ia tidak mungkin memperlihatkan kekecewaan didepan Herra, ia begitu menjaga perasaan istrinya itu.
" kakak kecewa ya ?? maaf.." ucap herra saat melihat Narendra duduk membelakanginya.
Narendra mengatur nafasnya dan langsung menoleh dan menerbitkan senyum. " tidak.. maafkan aku yang tidak meminta ijin darimu dulu.."
" kakak kan memang suamiku..tidak perlu minta ijin..Herra yang seharusnya minta maaf.." timpal Herra.
Narendra mendekati Herra dan berbaring disisi Herra. menempatkan Herra dilengannya,
" masih banyak malam yang lain. malam ini kau tidak masalah kan tidur seperti ini denganku ??" tanya Narendra seraya menatap Herra yang ada didekapannya.
Herra segera mengangguk dengan membalas senyum Narendra. aroma maskulin dari tubuh Polos Narendra. begitu menenangkan bagi Herra hingga Herra amat nyaman disana.
keduanya saling memejamkan mata setelah malam indah yang tertunda.
.
.
.
.
__ADS_1