
bab 118
.
.
.
Candrika berjabatan dengan beberapa petinggi rumah sakit yang ia kunjungi setelah selesai mengadakan seminar disana.
Senyum penuh keramahan nampak pada wajah Candrika. beberapa dokter muda bahkan sangat terpukau saat melihat kecantikan Candrika.
Saat candrika menatap kesisi lain, tak sengaja netranya melihat pasien yang terbaring dibrankar tengah dalam kondisi serius. dan yang membuat mata Candrika terfokus, adalah Narendra yang berlari disisi Brankar itu.
" em.. saya permisi dulu prof.." pamit Candrika. saat sudah mendapat persetujuan, Candrika berlari menyusul pria yang sangat ia yakini adalah Narendra. sang kakak.
Perawat membawa Herra yang terbaring tak sadarkan diri dibrankar menuju ruang IGD guna mendapat perawatan.
Narendra pun sangat ingin ikut masuk namun segera ditahan oleh para perawat. "maaf tuan. anda tidak diperbolehkan masuk... silahkan tunggu disini.." ucap perawat yang langsung menutup pintu begitu saja.
meski cukup kecewa, namun Narendra tak mungkin melanggar peraturan yang ada, yang ia mau hanya satu, istrinya segera ditangani dan semoga tak terjadi apa-apa.
" kak Naren ??!!" panggil Candrika saat sudah didekat Narendra yang bersandar dipintu ruang IGD.
Narendra membuka mata dengan malas dan menatap sumber suara yang memanggil namanya.
" Cand ?? kau disini ??!" Narendra pun segera menghampiri adik sepupunya itu.
__ADS_1
" ternyata benar kakak.. aku fikir aku salah orang.. kakak sedang apa disini ??" tanya Candrika
Narendra tertunduk dan langsung duduk dengan lemas. Candrika sangat yakin kakaknya sedang tidak baik-baik saja. ia pun turut duduk dikursi dimana sudah disediakan.
" Herra pingsan dirumah Cand, aku tidak tau kenapa. bahkan dia baik-baik saja sejak pagi.." ucap narendra lirih.
" jadi yang dibawa dibrankar tadi kak Herra ??" Candrika memastikan.
Narendra pun mengangguk pelan.
" ada apa dengan kak Herra kak ??" tanya Candrika dengan kawatir.
Narendra terdiam sesaat dengan wajah penuh kesedihan.
Candrika mengusap punggung kakak sepupunya dan langsung berdiri saat lampu IGD sudah mati dan tak lama pintu sudah terbuka.
" dokter Candrika.." sapa perawat yang baru keluar.
tak lama Dokter yang menangani Herra sudah keluar.
" dokter Candrika, apa sudah selesai mittingnya ??" sapa dokter pria itu saat melihat Candrika berdiri dihadapannya.
" bagaimana keadaan istriku ??" tanya Narendra yang sangat tidak sabar.
dokter pria itu menatap Narendra dengan tersenyum ramah. "bisa kita bicara berdua tuan ??"
Narendra pun mengangguk segera. dan mengekor dibelakang sang dokter.
__ADS_1
" dokter Cand, saya permisi dulu.." pamit dokter pria itu.
Candrika mengangguk dengan penuh hormat seraya menatap kepergian Narendra dan dokter yang memang Candrika kenal.
.
.
.
" silahkan duduk tuan.." sang dokter mempersilahkan.
Narendra menurut dan segera duduk dengan wajah penuh harap.
" begini tuan. ada yang ingin saya sampaikan. berupa kabar baik dan kabar buruk. saya harap tuan berbesar hati menerimanya." terang sang dokter.
Jantung Narendra seolah akan jatuh seketika, meski belum mendengar penjelasan dokter dihadapannya.
" Saya sampaikan kabar baik dulu ya.. Nona Herra saat ini tengah mengandung, usia kandungannya baru masuk 2 minggu." terang sang dokter.
Entah sejak kapan bulir air mata mengalir begitu saja dikedua pipinya.
" untuk kabar buruknya,..Setelah saya periksa kandungan nona Herra cukup lemah, mungkin faktor usia dan hormon. Nona Herra harus istirahat total dirumah dan jangan sampai kecapaian. untuk saat ini kami masih memantau perkembangan dan kondisi nona." tambah Dokter lagi.
Tak ada yang diucapkan Narendra. entah ia akan senang atau sedih mendengar kabar yang baik dan buruk itu.
.
__ADS_1
.
.