
bab 129
.
.
.
" Bravo !!"
Puji Yohan kegirangan. saat mereka masuk lantai keramik yang tadinya berwarna putih, sudah berubah menjadi merah karna darah-darah segar dari korban amarah Revandra.
Romi hanya menggelengkan kepalanya. Anak buah mereka pun sudah berhasil melumpuhkan anak buah betrand.
nampak disudut pria kekar yang masih merintih kesakitan. mati tidak namun sebelah tangannya sudah tidak ada.
" ya ampun.. kenapa tuan Revandra senang sekali dengan tangan.." ucap Yohan kembali.
Romi melayangkan tatapan tajam pada Yohan agar menghentikan ocehannya.
Sementara Papa Revandra terus mendekati Betrand.
" mati kau pak tua !!!" teriak Betrand seraya melayangkan timah panas dari senjata laras panjangnya.
dorr..
Bahu Papa Revandra terkena timah itu, namun Bukannya kesakitan justru papa Revandra malah tersenyum tipis penuh ejekan.
Mata betrand membulat sempurna. Timah yang ia gunakan adalah yang terbaik. tapi tidak berpengaruh apa- apa pada Papa Revandra.
" sudah ??!! kenapa tidak terasa.." ucap Papa Revandra. seraya melempar tangan Pria kekar yang sejak tadi ia seret mendekati betrand.
cukup terkejut betrand mendapat tangan manusia yang dibuat mainan oleh orangtua dihadapannya.
__ADS_1
" si..siapa kau ini ??!!"betrand memberanikan diri bertanya dengan waspada.
Bahkan Romi dan Yohan sudah dikedua sisi Revandra. tak ada lagi anak buah bahkan tangan kanan Betrand yang tersisa. semua sudah terkapar dengan bersimbah darah.
" kau ingin tau ??" Papa Revandra membalikkan tubuhnya diikuti Romi dan Yohan. memperlihatkan jaket kulit yang mereka gunakan bergambar Elang berbenang emas.
" jika kau memang seorang mafia. kau pasti tau lambang ini" lanjut Revandra.
mata Betrand membulat bak bola. ia teringat ucapan papanya yang sudah meninggal. jika ada sebuah kelompok mafia terbesar yang tak terkalahkan meski sampai kapanpun yakni kelompok mafia yang berlambang Burung Elang.
Revandra kembali menghadap Betrand. "jadi kau sudah tau berurusan dengan siapa ??"
"a..aku hanya disuruh !! aku sama sekali tidak tau tentang anda !!" ucap Betrand yang sudah terkepung.
bahkan anggota EangleBlood milik Revandra juga melingkari dirinya.
" tuan. kondisi Tuan muda sudah cukup serius. biar kami yang selesaikan disini.."bisik Romi.
Papa Revandra mendegus kesal. "baiklah. bawa dia !!?" sembari berbalik.
dorr !!
dorr !!
" aahhhkkk !!!" Pekik betrand.
" seret dia !!!" perintah Revandra yang langsung meninggalkan semuanya keluar.
" itu baru namanya ketua mafia anak ingusan !!!" ucap Yohan dihadapan betrand.
" yohan !!!" tegur Romi.
" baiklah !! aku diam !!! bawa dia kemarkas." perintah Yohan pada anak buah mereka.
__ADS_1
.
.
papa Revandra menatap nanar kondisi sang putra. ia pun segera masuk kedalam mobil guna membawa putranya menuju rumah sakit.
" pa.." panggil Narendra yang masih sadar meski tubuhnya lemah.
" diamlah nak..kita kerumah sakit." balas Revandra yang langsung menancapkan pedal gasnya.
.
.
Sementara dirumah sakit Herra tak henti hentinya menitikka air mata. mendengar penuturan Darren dan Mayra, sang paman dan bibi jika suaminya tengah mendatangi sebuah markas anggota mafia yang membakar pabrik dan Rumah besar mereka, darren dan Mayralah yang baru saja melindungi Herra juga dari bahaya. Candrika bahkan tak habis fikir jika saja tidak diberitau paman dan bibinya Herra pasti sudah tinggal jasad tanpa nyawa.
atas saran darren dan Mayra, Herra sudah dipindahkan diruangan khusus dilantai tertinggi rumah sakit itu. bahkan Darren dan Mayra sudah mengamankan dua wanita yang mencari masalah dengan keponakan mereka berdua.
Mayra mendekati Herra dirajangan rumah sakit seraya menggenggam jemari Herra yang tertunduk diam sembari bersandar. " tenanglah anakku..Naren pasti baik-baik saja.. papa mertuamu tidak terkalahkan.."Mayra mencoba membuat herra tenang.
" bibi may benar Kak, kakak jangan terlalu bersedih. kasihan kandungan kakak.." timpal Candrika.
"kenapa mereka jahat sekali bi..apa salah kami.." ujar Herra suaranya terdengat bergetar.
Mayra mengusap surai rambut panjang Herra. "inilah kehidupan sayang..bahkan jika pun kita berbuat baik, tetap salah jika dimata orang yang tidak menyukai kita.."
Herra tak kuasa menahan tangis..hingga saat Mayra memeluk dirinya, tangis Herra pecah seketika. seolah menjadi sandaran, mayra membiarkan keponakannya meluapkan kesedihan dan kekawatiran dalam pelukannya.
.
.
.
__ADS_1
.